
Prolog :
Tidak ada seorangpun wanita didunia ini yang ingin diduakan, dan tidak ada seorang wanita didunia ini yang mau melepaskan cinta terbaiknya, jikapun ada butuh kebesaran jiwa untuk melepaskan cinta terbaiknya . Apakah karena terlanjur untuk mencintai ??
Mampukah Richwan meyakinkan cintanya pada satu pilihan?? Ataukah kehilangan keduanya?? dan apakah hanya satu pilihan terbaik yang menjadi tambatan terakhirnya?? Dan akankah persahabatan ini menjadi sebuah tragedy?? Ataukah sebuah kekuatan cinta dimana harus memilih diantara dua Wanita terbaik . ?? sanggupkah Richwan menjalaninya?? Ataukah hanya sebuah desir – desir mimpi??
XXXXX
Minggu pagi , seperti biasanya Yunita melakukan aktifitas joggingnya ke sebuah taman di dekat komplek rumahnya. Pagi ini Yuni tidak sendiri, ia ditemani Wulandari sahabat kecilnya yang hanya berbeda blok dari rumah Yuni.
Namun bedanya kini, mereka adalah Wanita karir , Yuni adalah seorang karyawati di sebuah bank swasta ternama, sedangkan Wulan bekerja disebuah Rumah Sakit sebagai perawat. Keduanya memang jarang sekali bisa bertemu, karena kesibukan pekerjaan masing – masing. Jika pun harus bertemu, mungkin hanya saat weekend saja. Namun terkadang weekend pun juga tidak bisa bertemu, jika Wulandari mendapat giliran tugasnya di rumah sakit malam hari.
Usai melakukan jogging, keduanya tidak langsung pulang ke rumah, mereka mendatangi sebuah coffee shop langganannya untuk menikmati secangkir kopi. Kalau Yunita lebih menikmati Coffeelatte, sedangkan Wulan lebh menyukai Coffee Expresso. Canda dan tawa menyertai obrolan mereka berdua di coffee shop tersebut. Mereka berdua sungguh sangat menikmati suasana pagi itu.
Usai dari Coffe Shop, mereka melanjutkan Kembali berburu kuliner di sebuah warung pinggir jalan yang menjual bubur ayam.
“ Yun, kamu tau gak? Kemarin ada cowok yang salah sambung telepon aku.”
“ Terus, hubungannya sama aku apa Wulan? “
“ Ya biar kamu tau aja, “
“ iya, terus….”
“ maksudmu Yun?”
“ ya terus ada apa dengan cowok itu ? sehingga kamu terlihat bersemangat sekali menceritakannya untukku “
“ pertama aku tanyakan, dari mana dapat nomorku, dia jawab asal pencet. Terus aku kan gak mudah percaya, mana ada nomor asal pencet. “
“ terus….”
“ kedua , kalau memang salah sambung, dan salah pencet nomornya, masa dia ngajak ngobrol panjang lebar sama aku?
“ terus …” tanya Yunita
“ ya karena penasaran, akupun larut terbawa obrolannya “
“ terus….”
“ ah, kamu Yun…teras terus aja dari tadi”
“ ya kan aku ingin dengar ceritamu sampai tuntas. “ timpal Yunita pada sahabatnya.
“ ketiga, orangnya sepertinya asik diajak ngobrol Yun…”
“ terus….”
“ ya aku penasaran sampai sekarang siapa sesungguhnya lelaki diseberang teleponku itu “ jelas Wulandari
“ cuman itu ceritanya ?? “
“ iya, “
“menurutmu gimana Yun? “ Wulandari balik bertanya.
“ menurutku ?? “
“ iya dong, aku kan perlu referensi juga dari kamu .” tandas Wulan
__ADS_1
“ udah abaikan aja, gak perlu diseriusin . toh kan orang nyasar salah sambung, “
“ tapi kan…”
“ gak usah tapi – tapian, pilih yang pasti – pasti aja . kan ada Yayan , ada Sebastian , ada Gusti yang selama ini berusaha mencuri hatimu .”
“ iya juga sih, ada benernya juga omonganmu. Ngapain dengan yang gak jelas. “ ucap Wulandari.
“ kamu sendiri sekarang gimana Yun? “ tanya Wulandari Kembali.
“ aku ya apa adanya aku sekarang, belum terfikir untuk cari pacar. “
“ masa sih Yun, canda aja kali kamu ini…”
“ serius wulan…”
“ ya gak semudah yang kita bayangkan untuk memilih pasangan hidup seusia kita saat ini, kita ini kan bukan anak SMA lagi Wulan, perlu pemikiran yang matang untuk kedepannya. Kalau sekedar cari pacar aja sih ya mudah, besok juga bisa . tapi aku gak mau yang seperti itu “ jelas Yunita kepada sahabatnya itu.
Begitulah kisah panjang pagi itu diantara kedua sahabat itu, menghabiskan waktu pagi itu. Sembari jalan santai menyusuri jalan komplek perumahan tersebut, dan berpisah di sebuah blok menuju rumah masing – masing, dengan sebuah janji bahwa malam nanti mereka berdua sepakat untuk Kembali berjumpa di rumah Yunita.
X X X X
Pukul 18.00 wib, Wulandari menuju kerumah Yunita, sesuai dengan janjinya pagi tadi saat berolah raga pagi .
Yuni yang sedari tadi menanti kehadiran Wulandari, tengah asik menunggu di kursi teras rumahnya.
“ hai Yun, yuk kita otw langsung , “ ucap Wulan.
Tanpa banyak ucap, setelah Yunita berpamitan dengan mamahnya mereka berduapun langsung bergegas pergi dengan menggunakan sepeda motor Vario milik Wulandari.
“ Kemana kita Yun? “ tanya wulandari
Sambil menikmati makanan yang telah disajikan oleh pramusaji, keduanya asyik dalam obrolan malam itu. Dan tiba – tiba suara dering nada panggilan dari ponsel Wulandari berbunyi. Wulandari mengambil ponselnya dari tas kecilnya, dan melihat siapa gerangan yang menelponnya. Dibiarkannya telpon tersebut.
“ kenapa gak diangkat ?’ tanya Yunita
“ itu cowok yang tadi pagi kuceritakan. “ jawab Wulan.
“ angkat aja, “
“ gak ah”
“ katamu kan tadi pagi gak usah diladeni, ntar malah baper “
“ coba aja angkat, kasian tuh “
“ gak ah, ntar aku baper “
“ coba aja, aku pengen denger juga…siapa tau aku juga naksir hehehe…” canda Yunita
“ beneran kamu juga pengen denger?? Entar malah kamu yang falling in love “
“ Nggak lah, dijamin rasa ini tak kan mudah untuk sekedar dengar suara aja”
Kembali nada dering ponsel milik Wulandari berbunyi. Mata Wulandari tertuju pada Yunita, seolah – olah meminta restunya. Yunita kemudian menganggukan kepalanya tanda menyetujui Wulan untuk mengangkat handphonenya.
“ Halo….” Ucap dari seberang phonsel.
“ halo juga “ jawaban sederhana dari wulandari.
__ADS_1
“ kamu lagi dimana? “ tanya lelaki itu
“ makan “ ucap Wulandari.
“ oh lagi makan, kenapa gak ajak – ajak ? “ ucap pria dari seberang phonselnya itu
“ sebentar, kamu ini siapa? Kok sok kenal sok deket gitu…apalagi aku juga belum kenal kamu , siapa namamu , dari mana asalmu.” Kata Wulandari.
“ iya karena aku ingin mengenalmu, “
“ secepat itu? “
“ iya, apa aku salah jika ingin mengenalmu?”
“ nggak sih, cuman gak tepat caramu itu “
“ baiklah kalau begitu , kapan kita bisa bertemu ?” tanya pria itu.
“ sekarang aja, berani nggak? “
“ siapa takut, dimana ? “ tanya pria itu Kembali
“ di café 99 “
Pikiran Wulandari agak berkecamuk , lantaran jika benar lelaki itu datang, pastilah akan membuat dirinya canggung untuk menemuinya secara langsung. Namun disatu sisi ia juga ingin mengetahui secara langsung siapakah gerangan lelaki yang selama ini selalu menerornya melalui handphonenya.
“ aku yakin, pasti lelaki itu tidak menepati omongannya “ kata Yunita pada Wulandari sahabatnya itu.
“ masa sih Yun? “
“ kita lihat saja nanti. “ celetuk Yuni.
Setengah jam berlalu, lelaki itu belum juga muncul dan bahkan tanpa ada kabar lebih lanjut dari pria yang tadi menelponnya. Bolak – balik Wulandari mengamati handphonenya.namun belum ada tanda – tanda pemberitahuan lebih lanjut dari lelaki tersebut, yang belum ia kenal namanya.
“ tuh kan apa aku bilang, gak bakalan datang deh…di PHP in aja kamu Wulan “ ucap Yunita
“ kita tunggu lima menit lagi ya …” rayu Wulandari pada Yunita
“ baiklah, kalau 5 menit lagi tidak ada datang, kita pulang aja, udah jam 9 malam soalnya “
“ iya deh. “
Lima menit penantian yang dinantikan, lelaki yang diharapkan tiba untuk menepati janjinya pun tiada kunjung tiba. Rasa kesal dan sesal dalam hati Wulan semakin menjadi. Ngapain harus menunggu pria yang gak jelas , pikir Wulandari dalam hatinya.
“ udah yuk, kita pulang aja, yakin aja deh ntar pasti ada telepon kamu lagi Wulan “ ucap Yunita menenangkan pikiran Wulandari yang lagi kesal.
“ kenapa lelaki kok kaya gitu…”
“ hahaha…kamu baru nyadar ya ? udah deh jangan dipikirin , entar makin nyesek didada. “
“ ya udah yuk Yun, kita pulang aja… buang kelaut aja . bikin pusing kepala aja mikirin yang gak jelas “ ucap Wulandari.
Setibanya dirumah, tiba – tiba dering handphone Wulandari berdering Kembali. Dibiarkannya telepon itu berkali – kali, namun tetap saja telepon itu berdering, nomor yang selama ini menelponnya tanpa memberitahukan namanya. Dan setiap kali ditelepon, Wulandari merejectnya Kembali, sampai akhirnya kesabaran Wulandari tidak terbendung , ia menyambut telepon itu.
“ Hei kamu, ini sudah malam. Jangan kamu ganggu aku paham ! “ bentak Wulandari dari handphonenya, dan kemudian dimatikannya handphone.
Ah, kenapa dia selalu mengusik aku terus…tetapi kenapa aku juga terus kepikiran ya…pikiran Wulandari berkecamuk . tapi aku salah , kenapa aku seperti anak remaja ya terlalu cepat emosi dan kurang kontrol.
bersambung....
__ADS_1