2 Wanita , 2 Cinta Dan Diantara 2 Pilihan

2 Wanita , 2 Cinta Dan Diantara 2 Pilihan
Episode #3 Lelaki Misterius - bag.3


__ADS_3

Strategi pun dimulai , Wulandari mulai melakukan pengamatan terhadap setiap rekan pria sejawatnya.


Aku harus berhasil mengungkap lelaki misterius ini. Jika benar lelaki ini ada diruangan ini, awas dia, sudah pasti ku maki - maki. ucapnya dalam hati.


Setelah menyelesaikan tanggung jawab pekerjaannya pagi itu di Rumah Sakit, Wulandari mulai melakukan penyelidikannya terhadap lelaki misterius yang sering kali menelpon dan nge chat dirinya. sassaran pertamanya adalah Andrew, si pria tampan, yang gemuk itu.


Andrew memang memiliki paras wajah yang tampan, namun dirinya tidak masuk kriteria Wulandari, karena porsi tubuhnya yang terlalu gemuk dipandangannya.


Kecurigaan Wulandari terhadap Andrew memang berdasar, karena beberapa bulan terakhir Andrew selalu mengajaknya makan siang , bahkan sampai membelikan makanan yang sebenarnya tanpa diminta atau disuruh oleh Wulandari.


" kita makan siang yuk Wulan," ajak Andrew yang menghampiri Wulandari yang duduk di kursi sofa ruang perawat itu.


Wulandari pun tidak menolak kali ini , karena dia juga punya tujuan menyelidiki Andrew.


Sembari memesan makan siang di kantin Rumah Sakit, obrolan santai pun terjadi diantara mereka berdua. dengan sesekali Andrew menatap ke wajah Wulandari.


Wulandari memang seorang wanita yang memiliki paras wajah yang cantik, dan putih, selain itu juga postur tubuhnya yang ideal membuat wanita single seperti Wulandari ini menjadi primadona para lelaki .


" Wulan kamu memang cantik..." pikir Andrew dalam hatinya...khayalan tingkat tinggi Andrew mulai berkecamuk di otaknya.


" hei Andrew, kenapa melamun? tuh makanan sudah datang ". ucap Wulan yang membuyarkan khayalan tingkat tinggi Andrew.


" oh iya - ya , ayo kita santap mumpung lagi panas " balas Andrew sambil menyantapakan siang yang telah dipesannya tadi .


keduanya membisu tanpa sepatah katapun, sambil terus menikmati makan siang mereka sampai selesai.


" kok diem Drew?" tanya Wulandari memecah keheningan, dan memulai pembicaraan kembali.


" ya kan tadi masih makan " alasan Andrew memberikan jawaban pada Wulandari.


" yuk balik ke ruangan lagi " ucap Wulan kembali


" hhhmmm....cuman itu" timpal Andrew


" iya, kan sudah selesai makan siang kita, " balas Wulandari memancing reaksi Andrew selanjutnya.


" ya kan waktu istirahatnya masih ada setengah jam lagi, kita ngobrol aja dulu sambil santai di kantin "


" ada yang penting nggak yang pengen di obrolin? " Wulandari menegaskan.


" Nggak ada , tapi kan...."


" udah ngobrolnya diruangan aja ntar, kerjaan siang menumpuk Drew, nanti pa Richwan ngomel - ngomel lagi "


" iya deh, iya...ayo balik ke ruangan kalau begitu" balas Andrew yang hanya bisa mengikuti arahan Wulandari.


ah, andaikan kamu memahami aku Wulan...lirih Andrew dalam hati.


" Wulan, kamu weekend kemana? " tanya Andrew.


" gak kemana - mana, dirumah aja " jawab Wulandari singkat.


"ohhh, gimana kalau kita dinner ? "


" dinner?? gak lah kalau cuman berdua. rame - rame aja lah" celetuk Wulandari.


" waduh, kalau banyak orang gak asik"


" ohh , jd kamu pengen yang asik...ya sama pacar kamulah " ucap Wulandari.


Andrew berusaha membujuk Wulandari untuk dinner di akhir pekan. namun usahanya tidak membuahkan hasil yang signifikan. Wulandari jelas sudah menyatakan menolak untuk dinner bersama dirinya.

__ADS_1


" Maaf ya Andrew, kali ini aku gak bisa dinner sama kamu" ucap Wulandari.


" iya ,gak apa - apa. lain kali bisa kan?"


" kita lihat saja nanti ya, gak janji dulu deh "


Akhir yang tidak diharapkan oleh Andrew hari ini. Ah, rugi besar aku hari ini, sudah keluar uang, gak dapat hasilnya. ucap Andrew dalam hatinya. sembari meninggalkan Wulandari dan berlalu menuju meja kerjanya kembali.


" Kamu baru diajak makan siang sama Andrew ya " ucap Rina . Wulandari hanya menganggukkan kepalanya.


" Hati - hati Lo sama Andrew, "


" kenapa Rin ?"


" Eh dia itu tipe lelaki yang pelit ,"


" masa sih? buktinya tadi dia traktir aku. " jawab Wulan.


" iya , tapi ada efeknya diujungnya. pasti dia ngajak kamu jalan - jalan atau apa gitu " kata Rina menjelaskan tentang sifat dan kelakuan Andrew.


" Aku ini salah satu korbannya, jadi kamu harus hati - hati " ucap Rina.


Benarkah seperti yang dijelaskan Rina barusan? masa tipe cowok ganteng dan mapan seperti Andrew penuh perhitungan? apalagi memang Andrew terlahir dari orang kaya. masa sih pelit dan perhitungan?? dalam pikiran Wulandari berkecamuk berusaha mencerna yang disampaikan oleh Rina rekan seruangannya itu.


" yang jelas aku gak ada ngelarang kamu untuk dekat dengan Andrew, tapi kamu perlu teliti dulu sebelum membeli " ucap Rina pada rekan kerjanya itu.


" aku dengan Andrew itu hanya berteman aja Rin, gak lebih gak kurang " jelas Wulandari.


" Sebentar Rin, kesini dulu ada yang ingin kutanyakan lagi ." ucap Wulandari memanggil Rina kembali.


" apa lagi Wulan?"


" Kamu kan pernah berteman karib sama Andrew , sepengetahuan kamu dia punya berapa nomor handphonenya?"


" coba dong liat keempat nomor yang mungkin kamu masih save di handphonemu." pinta Wulandari kepada Rina.


Rina mengambil handphonenya dari tasnya, dan memperlihatkan satu persatu nomor Andrew yang masih tersimpan di phonselnya.


" sepertinya bukan nomor Andrew , " ucapnya pada Rina.


" emang kenapa?" tanya Rina kembali.


" Gak apa - apa Rin, mungkin orang salah sambung aja kali ya" jelas Wulandari.


pembicaraan pun terhenti ,ketika pak Richwan keluar dari ruangannya.


" Rina , bisa keruangan saya sebentar ?" kata pak Richwan sembari memanggil Rina.


" oh iya, pak"


" kapan pak? " tanya Rina kembali.


" ya sekaranglah Rina. " tegas Richwan , sambil sesekali memandang ke arah Wulandari, dan selanjutnya masuk ke ruangannya.


Rina kemudian menyusul keruangan pak Richwan.


Tumben pak Richwan memanggil Rina, ada apa ya? Wulandari bertanya dalam hatinya.


Lima belas menit kemudian, keluarlah Rina dari ruangan pak Richwan, dan kembali ke meja kerjanya, sambil bergegas membersihkan meja kerjanya .


" Kok lesu gak bersemangat gitu sih? ada apa? apa kamu dimarahi pak Richwan ?" tanya Wulandari

__ADS_1


" Nggak ada apa - apa Wulan." balas Rina yang selanjutnya pergi meninggalkan ruang kerjanya.


Wulandari kemudian menyusul Rina, dia berusaha mencari tau apa yang sebenarnya terjadi kepadanya. Rina tidak bergeming atau mengeluarkan sepatah katapun pada Wulan.


selanjutnya , demi rasa persahabatan dan sesama kaum hawa, dengan keberanian penuh Wulandari menggedor pintu ruang kerja Richwan.


" Buka pintunya pak Richwan yang terhormat ". ucap Wulandari sambil terus mengedor gedor pintu ruang kerja pak Richwan.


Pak Richwan dengan santainya membuka pintu ruangannya.


" Ada apa Wulan? kok seserius gitu, gak malu dilihat sesama rekan kerja yang lain ?" ucap pak Richwan berupaya menenangkan diri Wulan yang emosi tanpa sebab.


" Masuklah dahulu, biar kita bisa ngobrol dengan hati yang tenang dan pikiran yang jernih " komentar pak Richwan .


Wulandari kemudian masuk keruangan kerja pak Richwan.


" Silahkan duduk dulu, " ucap pak Richwan sambil menyodorkan minuman kemasan dingin.


" Sebenarnya ada apa Wulan? "


" pak Richwan apakah teman saya Rina ? kenapa dia begitu keluar dari ruangan bapak langsung pergi meninggalkan pekerjaannya.


" oh itu, hehehe..."


" gak usah becanda pak, jangan seenaknya mempermainkan wanita " ucap Wulan meninggi.


" Tenang dulu Wulan, saya tidak apa - apakan Rina. "


" Terus kenapa dia begitu keluar ruangan ini begitu sedih ?"


" oh itu....bisa jadi karena dia baru saja...."


" oh, jadi pak Richwan baru saja melakukan hal yang tidak pantas ya dengan Rina? " ucap Wulandari memotong pembicaraan atasannya tersebut.


" dengarkan saya dulu Wulan, sebenarnya Rina itu sedang mendapat kabar duka, bahwa ibundanya meninggal dunia akibat serangan jantung, oleh sebab itu saya menyampaikan info ini untuknya, berhubung saat saudaranya yang di Surabaya menelpon Rina , handphonenya tidak aktif." demikianlah penjelasan pak Richwan pada Wulandari.


Wulandari yang mendengarkan penjelasan pak Richwan , akhirnya merasaa malu sendiri. Apalagi ketika pak Richwan menelpon Rina, untuk membuktikan ucapannya. Wulandari jadi salah tingkah.


" hhhhmmmm.....Wulan minta maaf ya pak? kebawa emosi tadi "


" Nggak apa - apa Wulan, "


" habisnya Rina tadi juga pas saya tanya, gak ada memberikan penjelasan kongkrit, jadinya ya sesama wanita harus saling solidaritas pak"


" Ya udah gak apa - apa Wulan, saya bisa maklumi . "


" maaf ya pak " ucap Wulan sambil menyodorkan tangannya kepada pak Richwan. dan tanpa canggung pak Richwan pun menyambut sodoran tangan Wulan sebagai tanda permintaan maaf dari Wulan.


Mereka sempat saling bertatapan.


Semoga ini menjadi awal yang baik untukku , ucap Richwan dalam hatinya.


Kenapa pak Richwan menatapku begitu ya, dalam hati Wulandari berucap.


" Eh, maaf pak kelamaan jabat tangannya " ucap Wulandari sembari berusaha melepaskan tangannya dari genggaman tangan Richwan.


" oh iya, maaf keasikan jabat tangannya " balas Richwan yang selanjutnya melepaskan genggamannya.


Andaikan kamu jadi milikku Wulan, aku akan menjagamu dan mencintaimu sepenuh hatiku. tapi apakah kamu mampu memahami dan menemukan pria misteriusmu yang sesungguhnya adalah diriku?


bersambung.....

__ADS_1


XXXXXX


__ADS_2