3 PENDEKAR

3 PENDEKAR
Bab 3 : Hari Sebelum Itu


__ADS_3

Huhhh, entahlah aku sangat tidak ingin berpisah dengan ibuku, tapi ya bagaimanapun aku harus menuruti apa yang dikatakannya, dan tentu nya ini adalah untuk kebaikan ku juga tentunya


Saat ini aku hanya bisa duduk termenung di sungai yang tak jauh jaraknya dari rumahku, sembari merendam setengah kaki ku di dalam air sungai tersebut, aku merasakan setiap arus yang memijit - mijit halus kaki, aku berkata pada air sungai tersebut


Sungai terima kasih kau telah menemaniku selama ini, aku selalu menganggapmu hidup, kau adalah tempat dimana aku berdiam diri ketika aku merasa bosen dan tak enak, kau akan selalu menjadi tempat favoritku, aku akan selalu merindukanmu, tunggu lah aku akan kembali sebelas tahun lagi


Setelah itu aku pun membaringkan tubuh ku diatas tanah, rasanya ingin sekali kurasakan setiap butiran tanah itu menempel mesra dibawah punggungku, selama bertahun-tahun aku tidak pernah bertemu dengan siapapun kecuali dengan ibuku dan juga paman lao, aku tidak pernah berinteraksi langsung dengan orang lain, di setiap harinya aku hanya bermain dengan alam dan hewan, berbicara padanya dan juga tertawa, walau sebetulnya aku juga tidak yakin pasti bahwa mereka bisa mengerti apa yang aku bicarakan, tetapi hal yang terpenting adalah mereka tetap setia menemani ku dan menghiburku di saat bosan.


" kau sedang berbicara dengan mereka ? " tanya paman lao


" tentu saja, mereka sangat menyenangkan bukan " jawabku


" hmm, tunggu sebentar "

__ADS_1


Paman lao pergi ke dalam rumah dan terlihat seperti mencari sesuatu.


Hah, aku sedang berpikir bagaimana cara untuk aku berinteraksi kepada yang lain, semoga paman lao bisa mengajari ku hal itu lebih lanjut, sebelumnya ibuku pernah mengajarkanku jual beli tapi sepertinya aku belum terlalu memahaminya, ibuku juga pernah mengajarkan tentang adab-adab kepada sesama dan hal apa saja yang tidak boleh dilalukan kepada orang lain, seperti ; memukulnya, menendang bokongnya, mematahkan lehernya dll, padahal hal itu sangat kusukai keteka sedang berburu rusa, sepertinya bermain dengan manusia akan sangat membosankan.


" hah, akhirnya ketemu juga ini barang " ucap paman lao.


Aku sangat penasaran dengan benda yang tadi diambilnya, sepertinya benda itu benda berharga


" Paman lao, bolehkah aku melihatnya ? " pintaku


yah, memang sudah biasa paman lao seperti itu, aku sudah terbiasa dengan sikapnya yang menyebalkan, walaupun disatu sisi aku lebih menyebalkan dibandingkan dirinya, sepertinya, sikap ku berbanding terbalik dengan sikap ibuku yang kalem dan tenang, hahaha, ngomong-ngomong tentang ibu, aku jadi ingin menemuinya dan ingin berbincang-bincang sedikit dengannya.


" heii, mau kemana kau ? " tanya paman lao

__ADS_1


" huh, bukan urusanmu " jawabku dengan jengkel


Aku melihat ibu sedang menyiapkan perbekalanku untuk hari esok dan seterusnya, ia tampak sangat letih, dan kulihat ada tetesan air mata yang berlinang diwajahnya.


" ibu, kenapa menangis, bukannya ibu kuat ? " tanya ku dengan bodohnya


" tidak mungkin kan binatang hutan melukaimu ?" lanjutku lebih bodoh lagi


Ibuku pun mengusap air mata dipipinya dan berkata " Te, kau akan beranjak remaja, aku tidak tau kapan kita bisa bertemu lagi " ujarnya


" aku hanya berharap kau baik-baik saja, ngomong-ngomong kau tidak akan melupakan ibu kan ? " tanyanya dengan sisa sisa air mata yang masih mengalir di kelopak matanya


" tentu saja, aku tidak akan melupakan ibu, dan aku mau kita berjanji, sepuluh tahun kemudian kita akan bertemu lagi " pintaku dengan penuh janji

__ADS_1


Setelah itu ibuku pun memelukku erat, dan mengalungkan syal keleherku seraya berkata " ya akan ibu pegang janji itu, turuti apa yang diintruksikan paman lao, dan amalkan apa yang telah ibu ajarkan padamu, kuharap janji kita ini bisa terwujudkan "


Tanpa kusadari air mataku mengalir di pelukan erat ibuku, tangan ku memeluknya balik tanpa intruksi, aku benar-benar merasa hangat, dan kini kehangatan itu akan terjeda sepeluh tahun lamanya.


__ADS_2