3 PENDEKAR

3 PENDEKAR
Bab 4 : Memulai Perjalanan


__ADS_3

Aku menggendong carangka kecil yang berisi buah dan sayuran sebagai perbekalan kita, begitu juga dengan paman lao, hanya saja carangka yang digendong jauh lebih dibanding punyaku dan juga bobotnya lebih berat, kami berpamitan dengan ibu, aku tak pernah memikirkan bahwa hal ini akan terjadi, akan tetapi aku harus kuat menghadapi ini, karena diriku adalah harapan baginya


" Isyana, ngomong-ngomong kau akan bertugas dimana ? "


" lao, sepertinya aku akan berjalan ke arah selatan dan aku akan bertugas disana "


" jaga Te baik-baik, aku mempercayakan semuanya padamu "


Kemudian setelah itu kami pun berpisah


Kami berjalan kesebelah barat dan ibuku berjalan kesebelah selatan, kami berjalan bersama-sama meninggalkan rumah yang penuh kenangan dan makna kehidupan, kita sudah berjanji akan bertemu lagi di rumah tua itu sepuluh tahun kemudian, sekarang umurku berusia lima belas tahun, dan berarti kita akan berkumpul lagi di usiaku yang ke duapuluh lima tahun.


" sampai jumpa ! " seru diriku pada ibuku


" jaga diri kalian baik-baik ya " jawab ibuku sambil melambaikan tangan ke arahku.


...****************...


Kami terus berjalan ke arah barat, disana kami melewati hutan yang lebat, matahari menaik dan sinarnya mulai mebembus kedalam hutan, kami berjalan merasa sedikit dan kemudian beristirahat dibawah pohon besar yang rindang daunnya, kami memakan sedikit perbekalan kami untuk menambah sedikit tenaga yang sudah mulai melemah karena jarak yang panjang.


" heii, kau jangan terlalu banyak memakannya, perjalanan kita masih sangat panjang " celetus paman lao


" kau ingin aku mati ? " ucap diriku sambil melempar apel bekas gigitanku ke arahnya, namun paman lao berhasil menghindarinya.


" bahkan dijarak lempar yang begitu dekat pun kau tidak bisa mengenaiku, hahaha " celetusnya lagi.


" aku bisa mengenaimu nanti, lihat saja "


Aku pun merasa kesal dan kembali memakan perbekalan yang berada didalam carangka itu.


disaat aku hendak menggigit buah, kulihat ada seekor kupu-kupu indah sedang lewat didepan mataku, tubuhku pun bergerak dan hendak menangkapnya, namun dengan sigap paman lao menghentikanku.


Tringggg

__ADS_1


Hentakan pedang yang saling beradu terdengar begitu nyaring, seseorang pemakai topeng tiba-tiba saja menyerangku, namun beruntung bisa dihalau oleh paman lao.


" peraturan nomer tiga seorang pendekar yaitu jangan menyerang orang lemah " ucap paman lao sambil tersenyum sinis.


Si pemakai topeng itu pun terus mengayunkan pedangnya dengan brutal, gerakannya sangatlah cepat, paman lao terus bergerak untuk melindungiku dari serangan pedang dari si pemakai topeng tersebut, paman lao terlihat begitu serius menghadapinya dan bahkan terlihat sesekali kewalahan menghalau serangan miliknya.


Si pemakai topeng itu mengeluarkan seekor kupu kupu didalam lengan bajunya, kupu kupu itu bergerak sangat lambat menghampiriku.


" te, tetap disana jangan bergerak, dan tutup hidung dan mulutmu, kupu kupu itu menyebarkan racun lewat udara " jelas paman lao.


Kemudian si pemakai topeng pun kembali menyerang dan kini ia berfokus ke paman lao, serangannya semakin membabi buta, bahkan aku tidak bisa melihatnya dengan jelas.


" sepertinya memang harus ku bunuh kau terlebih dahulu " geram si pemakai topeng kepada paman lao.


Entah apa yang terjadi dedaunan dipepohonan berjatuhan dan seperti berkumpul menjadi bola raksasa, paman lao menatap dengan tajam kearah dedaunan yang sudah membola tersebut


Paman lao bergumam " ini tidak bagus "


Ia bersiap atas semua konsekuensi yang akan didapat hari ini, ia berdiri tegak menghela napas dengan dalam, dan berkonsentrasi penuh, mungkin akan ada serangan kuat yang harus dihadang.


" kau tidak apa-apa ? " tanya paman lao


" ya, aku tidak apa-apa " jawabku


" paman lao, kau terluka " ujar ku yang khawatir dengan kondisi tubuhnya yang bersimbah darah.


Namun serangan tidak sampai disitu saja, si pemakai topeng itu muncul dari atas dan hendak menebas tengkuk paman lao, saat itu aku berteriak memanggil namanya, syukurnya paman lao berhasil menghindarinya dan menebas balik rusuk si pemakai topeng itu.


Pertarungan pun selesai, si pemakai topeng itu tak mampu bertarung lagi, ia kabur melarikan diri.


" sekarang kau tau kan kenapa kau harus menjadi lebih kuat " tegur paman lao.


Setelah itu aku pun berjanji pada diriku sendiri untuk bisa lebih kuat lagi, aku tidak mau merepotkan dan membuat terluka orang lain lagi.

__ADS_1


Paman lao pun mengumpul kan kembali perbekalan kami yang sudah berserakan sehabis pertarungan yang tadi terjadi, ia pun menggunakan teknik nya sehingga bisa mengumpulkan semuanya dengan cepat, ia hanya menggerakkan buah-buahan dan sayuran tersebut masuk kedalam carangka dengan intruksi tangannya saja.


" paman lao kau sangat hebat " puji ku padanya


" berhentilah memuji, bawa ini dan kita lanjutkan perjalanan lagi " ujarnya


Kami pun kembali melanjutkan perjalanan


Aku sungguh tidak menyangka dengan kejadian yang tadi itu, aku sungguh merasa menjadi bebannya saja, oh ya ngomong-ngomong si pemakai topeng tadi itu adalah orang pertama yang aku jumpai setelah paman lao dan ibuku, seharusnya tadi aku menanyakan namanya, tapi ah sudahlah lain kali saja.


" paman lao, bagaimana dengan lukamu " tanyaku


" hahaha, ini cuman luka kecil " jawabnya


" lihatlah lukanya sudah sembuh " lanjutnya sambil menunjukannya padaku.


Aku yang melihatnya pun terheran-heran, luka gores yang tadi begitu banyaknya bisa sembuh dengan begitu cepat.


" bagaimana kau melakukannya ? " tanyaku


Dia tidak menjawab dan hanya melanjutkan kembali perjalanan.


Setapak demi setapak sejengkal demi sejengkal jalan kamu lalui, hari mulai sore, tetapi kaki-kaki kami menolak untuk berhenti.


" te, kita harus terus berjalan, hutan ini akan segera kita tembus " ujar paman lao


" hmm, baiklah lagi pula aku tidak punya banyak pilihan "


Saat itu paman lao mengatakan padaku bahwa kami akan sampai di suatu pedesaan kecil dan bermukim sementara di tempat tersebut.


Ia juga mengatakan padaku untuk tidak berbuat ceroboh dan harus mengamalkan apa yang telah ia ajarkan.


" te, kau akan mulai berinteraksi dengan para manusia yang sama seperti dirimu, oleh karena itu kurahap kau tidak berbuat hal yang tidak-tidak " himbaunya

__ADS_1


Ya aku pun hanya bisa mengangguk dan menuruti apa yang dihimbaunya.


__ADS_2