525.600 Menit

525.600 Menit
Bab 1- Perkenalan


__ADS_3

Terbitnya matahari adalah gambaran tentang awal kehidupan di setiap hari, ketika kita memulai membuka mata, menyiapkan cerita bahkan secangkir kopi hangat sebagai temannya.


Tentang betapa penatnya hari kemarin, atau rasa sakit yang meleset dari maut, terlepas dari itu semu, hari ini tetap berisi harapan tentang kebahagian yang sempurna.


***


Senyum tipis terlihat di wajahnya, di taman kota yang tak sejuk pagi itu karena, yah ... namanya juga kota, siapa yang gak tau? Polusi tak pernah tidur meski kalian tengah menikmati mimpi.


Arkham Ferdiansyah, laki-laki berusia 27 tahun yang selalu semangat menjalani hidup, meski tak serupa yang tampak terlihat di wajah itu dengan apa yang ia rasakan di dasar hatinya. Namun kebahagiaan terus berusaha Arkham tunjukan.


Berasal dari keluarga yang kurang mampu, berekonomi menengah ke bawah jadi jelas Arkham bukan seorang sarjana. Dapat lulus SMP saja, Arkham sudah sangat bersyukur karenanya.


Arkham lahir dari seorang ibu bernama Intan Ayushita. Ia di besarkan oleh seorang ibu dengan ayah yang meninggalkan mereka tanpa memberi ucapan perpisahan. Selain itu, ia di tuntut untuk bertahan hidup dan mempertahankan kehidupan keluarga kecilnya itu selepas lulus dari Sekolah Menengah Pertama. Bekerja selain untuk dirinya sendiri, ia pun harus membiayai sekolah adiknya yang sekarang duduk di bangku sekolah menengah kejuruan yang setahun lagi menemui ujian kelulusannya.


Akhyar Hermansyah, adik satu-satunya yang menjadi harapan Arkham, dapat meninggikan drajat keluarga, hanya adiknya itu yang bisa Arkham andalkan nanti di masa yang akan datang.


***


Bekerja sebagai karyawan di sebuah Percetakan kecil di tengah kota, dengan gaji yang di bilang masih di bawah standar UMR, karena namanya juga Percetakan. Tapi, Arkham selau sabar dan menikmati pekerjaannya itu.


Ia tak pernah mengeluh dan tak pernah putus asa dengan keadaan yang membuatnya terkadang harus menghela nafas panjang dan sesekali menangis di dalam hatinya.


"Ya, Tuhan!"


"Sampai kapan aku seperti ini terus? Jujur saja, aku lelah dengan keadaan ku."


"Ingin rasanya aku seperti orang-orang seusiaku. Menikmati masa muda, tertawa, bercanda dan bercinta."


Akhir bulan ini hampir berlalu, Arkham yang duduk di depan Ruko Percetakan melihat riuh kendaraan yang terus memadati jalan tanpa henti. Bersaut suara klakson seakan menjadi lagu pengiring pejalan kaki yang terkesan lebih cepat sampai tujuan, ketimbang mereka yang terjebak macet.


Duduk dalam lamunannya, Arkham mengangkat tangan kanannya. Di sana ia menggenggam ponsel, dimana tertera sebuah pesan yang kemudian ia baca.


[Kak, pertengahan bulan nanti aku ujian semester. Kekurangan administrasinya gimana? Udah ada belum? Wali kelas dah nanyain terus, malu tau kak.] Pesan dari Akhyar.


Arkham hanya bisa membacanya, tanpa bisa membalas pesan sang adik sembari sesekali memijit kening dan menggaruk tepi mulutnya.


"Huh! Kapan aku bisa hidup kek orang-orang kebanyakan? Mereka santai tanpa beban."


"Sedangkan aku saat ini? Bahkan buat makan harus hitung-hitung dulu biar cukup untuk satu bulan, dan biar kebutuhan lain juga bisa terpenuhi."


Hidup Arkham hanya sebatas bergelut dengan imajinasi saat mencoba membahagiakan dirinya, hanya itu yang bisa ia buat ketika lelah menghampiri.

__ADS_1


Terlihat tenang, namun didasar hatinya ia meraung, menangis dan memberontak sejadi-jadinya karena beratnya tekanan hidup.


***


Siang itu seperti biasa Arkham menunggu Percetakan sembari duduk didepan, di bangku panjang yang terbuat dari kayu, dengan secangkir kopi yang menemaninya dengan setia.


Sahabat sejatinya yang selalu hadir dan tak pernah habis walau selalu ia minum hingga tetes terakhir namun pasti akan ada lagi dan lagi.


"Andai saja saat ini aku memiliki teman hidup seperti kopi ku ini. Ah! Tapi jangan dulu lah. Aku takut tak mampu buat dia nyaman dengan keadaan ku saat ini."


"Yang ada, aku malah jadi beban buat dia. Beban hati, pun beban pikiran."


"Huh! Terima nasib oh nasib!"


"Menghayal terus! Ntar kalau ada yang mau cetak kamu gak liat, Bro?" Suara berat itu mengagetkan Arkham.


"Maaf, Bos." Arkham menjawab sambil nyengir. Tergagap ia mengambil kopi dan meminumnya pelan, sambil melirik bosnya yang berlalu masuk ke dalam Percetakan. Arkham ikut masuk, membuntuti atasannya itu.


Bang Arif--bos Arkham melakukan pengecekan semua barang untuk memastikan ketersediaan barang-barang di Percetakannya itu.


"Gimana Ar, stok kertas HVS kita aman atau butuh tambahan?"


"Untuk A4, A3 sama B5 aman, F4 kayanya harus di tambah stok deh, Bos. Konsumsi F4 kan lebih banyak dari kertas-kertas lain, ya minimal satu banding tiga baru sesuai."


"Ya udah, gini aja lah. Nanti kamu belanja ke toko koh Ahong. Kamu belanja kebutuhan percetakan kita, nanti struk tagihan biar saya transfer aja. Gimana, Ar?"


"Siap lah, Bos! Paling nanti dua hari lagi kita perlu belanja stok barang. Untuk persediaan sekarang sih masih aman, Bos."


"Okelah, Ar! Kamu atur aja, ya."


Perbincangan basa-basi itu sudah sering Arkham dan bang Arif ucapkan, tapi selalu saja seperti itu dan tak pernah bosan mengulang.


Entah karena mereka lupa dan akan mengulang hal yang sama, atau memang gak ada perbincangan lain. Sehingga hanya itu-itu saja yang terlintas ketika mereka bertemu.


Arkham satu-satunya karyawan di Percetakan itu, bahkan sejak lama dan bosnya juga sudah percaya penuh pada Arkham lebih dari seorang sahabat.


***


Dua hari berlalu.


Hari ini adalah hari dimana Arkham pergi untuk berbelanja keperluan Percetakan di Ruko Koh Ahong. Di sana Arkham bertemu dengan seorang gadis yang biasa saja, tapi menarik perhatiannya.

__ADS_1


Gadis, berperawakan tidak terlalu tinggi dan juga tidak pendek, berambut lurus sebahu, berkulit sawo matang, dan berpenampilan sederhana. Berada tepat pada jangkauan mata Arkham.


Arkham menarik ponsel dari saku bajunya, lalu mencoba memotret gadis itu yang tengah sibuk dengan mesin foto copy.


"Ekhem!" Suara Koh Ahong mengagetkan dan sontak membuat Arkham melirik ke arahnya. Pria itu tersipu malu karena ternyata Koh Ahong yang sedari tadi sudah memindai kelakuannya.


"Karyawan baru, Koh? Cantik."


"Eh, lu orang naksir ya, Ar?"


"Mana ada, Koh. Aku bilang cantik bukan berarti naksir juga. Ada-ada aja Koh Ahong!" Arkham tersenyum getir.


"Naksir juga gak apa, loh. Itu orang masih gadis juga belom nikah." Tambah Koh Ahong tersenyum kecil dan menoleh ke arah gadis itu.


"Sya! Ada yang mau kenalan, nih! Dia naksir lu orang katanya." Teriak Koh Ahong kepada gadis itu, sehingga membuat muka Arkham merah padam.


Gadis yang bernama Trisya itupun menoleh dan menyunggingkan senyum kecil ke arah Arkham, yang membuat pria itu semakin salah tingkah.


Setelah ngobrol-ngobrol singkat dengan Koh Ahong, akhirnya Arkham mengemas barang belanjaannya dan berpamitan untuk kembali ke Percetakan, karena hari mulai beranjak siang.


Sembari berlalu Arkham masih sempat melempar senyum paling manis kepada Trisya dan tanpa di sangka, gadis itupun membalas senyum Arkham dengan senyum termanisnya pula.


Arkham kembali ke Percetakan dengan membawa perasaan yang berbeda. Berbunga-bunga dan ceria.


Bahkan jika ia tidak mengungkapkan apa yang ia rasakan, sekilas orang akan tau, jika ia saat ini tengah bahagia.


"Cantik, Trisya! Cepat atau lambat aku akan mengenalmu lebih dekat."


Awal yang baru ini, membuat Arkham mengubur dalam-dalam ke putus asaan kemarin itu dengan cinta.


Semangat yang berapi-api kini mulai membakar setiap sendi dan nadi Arkham, hingga kini ia tak seperti Arkham yang biasanya.


***


Scene sekarang berpindah ke Trisya yang masih saja sibuk dengan mesin di depannya itu. Sembari ia memilah lembar yang ia foto copy, senyum di bibir tipisnya itu terpampang jelas. Sesekali ia tersadar dan melirik ke sekitar.


"Apaan coba ini?"


"Kok, aku jadi mikirin yang tadi, sih? Gila kali! Tapi senyumnya itu, lho. Ih, siapa sih namanya?" Diam-diam trisya menyimpan hasrat juga untuk mengenal Arkham.


"Bukan hanya tempat kerja baru, bos baru, suasana baru, bahkan kini ada orang baru. Seorang laki-laki yang datang pertama kali di hidupku, menjeratku dengan senyum."

__ADS_1


Jangan hanya senyumnya, aku harus tau namanya.


__ADS_2