
Semua tuhan yang mengatur, dari bagaimana waktu mempertemukan dan mengenalkan, pada akhirnya hanya aku dan kamu yang tau perasaan seperti apa yang kita miliki.
Pagi nan indah di saat bunga bermekaran di taman kota, hari yang tak terlalu menyengat karena mendung menambah suasana kian terasa sejuk.
Seperti biasa di minggu pagi, Arkham menyempatkan diri untuk berjalan-jalan di taman kota.
Menikmati suasana hari itu meski ia hanya berjalan sendiri, namun ramainya taman dengan macam-macam orang membuatnya merasa lebih baik.
Setelah sekitar dua puluh menit ia mengitari taman sejak ia tiba di sana, Arkham kemudian duduk di satu bangku taman yang melingkar pada satu pohon dan penuh dengan dedaunan yang telah gugur.
Iya menyandarkan punggungnya, mengambil ponsel dan memotret beberapa momen pagi itu.
Uhh,. bagus juga untuk caption hari ini. Bisik lirih keluar dari mulut Arkham dengan senyum yang mengikuti kemudian.
Upload ahh!!!
Tak hanya story WA ia buat, beberapa momen itu pun ia post di salah satu akun sosial media yang ia punya.
"Pagi tak akan sepi jika kau memulainya dengan berjalan, namun semua akan tetap sunyi bila tiada pergerakan, awali dengan hal kecil walau hanya sebuah senyuman, maka kau akan dapati hal besar yang tak terduga yaitu sebuah kebahagiaan" Arkham.
***
Pagi pun berlalu, kini ia telah mandi dan tengah mempersiapkan percetakan. Menyapu, menyusun semua barang jualannya dan tak lupa survei mesin foto copy adalah hal paling penting. Dari merapikan kabel-kabel yang menjuntai, menambah kertas di box serta tak lupa ia cek tinta dan beberapa item lain karena rawannya mesin ini.
Semua hal ia lakukan sendiri setiap hari tanpa libur, hanya terkadang ia membuka percetakan agak siang bila ia lembur atau pun kelelahan, namun untungnya Arif selaku bos memaklumi hal itu karena memang Arkham hanya seorang diri bekerja kepadanya.
Hari minggu memang hari paling santai untuk sebuah toko percetakan, ya karena sekolah dan perkantoran libur pada hari itu sehingga kebutuhan foto copy, printing atau hal lain pun jauh berbeda dengan hari lainnya.
__ADS_1
Yup!! kopi panas telah terseduh, biskuit menemani di sana di samping Arkham yang tengah mengerjakan beberapa lembar kertas yang belum rampung ia jilid sedari kemarin.
Di tengah kesibukannya itu, ponselnya berdering membuat Arkham sejenak memberhentikan kesibukannya untuk menyambut telfon.
"Assalamu'alaikum, kak"
Suara di ujung telfon yang tak lain itu adalah Akhyar.
"Wa'alaikum salam, dek!!"
"kak, gimana kabar? Sehat kah di sana?!"
"Alhamdulillah dek, kabarmu sendiri gimana? Ibu, apa kabar dek?"
"Alhamdulillah baik, ibu juga sehat kok kak."
"Syukurlah!!! Nah gimana sekolahmu dek? Gak banyak bolos kamu kan?"
"Oh iya kak, gimana kak untuk administrasi ujian ku. Kaka udah ada uang belum, alhamdulillah aku dapat keringanan dari sekolah, jadi kaka di haruskan bayar setengahnya aja."
"Ahh, iya kah? Alhamdulillah kalau gitu dek, nanti kaka usahakan bulan depan kita lunasi semua ya!! Biar kamu jangan pikirin biaya, kamu fokus aja dengan pelajaran dan ingat belajar, kan udah mau ujian kelulusan."
Obrolan adik dan kaka itu terus berlanjut, meski dalam benak Arkham masih bingung dengan biaya sekolah adiknya itu, meski ia dapat keringanan sekolah, namun setengah dari yang seharusnya di bayarkan itu bukan nominal kecil.
Namun Arkham juga sadar, tuhan telah meringankan itu untuknya, tidak sepatutnya ia masih mengeluh.
Bagaimanapun ia harus berusaha, dan pasti ada jalan menjemput rezeki tuhan.
__ADS_1
Perbincangan itu terus berlanjut, hingga Arkham tak menyadari kalau Arif, bosnya itu telah ada di percetakan, hanya saja Arif tak sampai hati menyela karena ia tak sengaja mendengar perbincangan Arkham dan adiknya itu.
Bukan menegur Arkham, sebaliknya ia duduk di kursi di belakang etalase percetakan, maksudnya menggantikan Arkham bila ada pelanggan, tanpa sepatah kata pun ia keluarkan kepada Arkham.
***
Setelah Arkham selesai, ia kaget dan cengengesan karena tidak tau sedari kapan bosnya di situ. Melayani pembeli dan ia malah sibuk dengan telfon.
"Bos, kapan datang?"
"Baru beberapa menit kok, Ar."
"Eh, kamu punya uang berapa sekarang Ar, biar kurangnya nanti aku tambahin."
"A,.. A--Apaan bos, maksudnya giman?"
"Maaf, sebelumnya bukan maksud aku menguping, hanya saja aku gak sengaja denger kamu tadi ngobrol sama adikmu, lagian nelpon pakai di loud speaker segala, ya dengarlah aku jadinya."
"Eng--enggak banyak sih bos kurangnya, ya gajian bulan ini nanti cukup untuk tutup kekurangannya kok!!!" Ucap Arkham tersipu malu ke bosnya itu.
"Udahlah, kekurangannya aku yang tutup!!! Gaji kamu bulan ini biar utuh. Kan kamu juga punya kebutuhan, kamu lama sudah ikut aku, aku paham dan ngerti gimana kamu kok, Ar!!!"
"Terpenting kamu betah dan semangat kerja di sini bantu aku, Oke?!" Kata-kata Arif untuk menghibur Arkham.
"Siappp, bos!!! Terimakasih banyak sebelumnya. Gak tau mau ngomong apa lagi." Arkham menimpali.
Obrolan itu pun terhenti ketika seorang pelanggan datang untuk mencetak beberapa buku. Dengan sopan Arkham melayani, hatinya yang tengah bahagia membuat ia semakin semangat. Seakan ia telah meletakan beban berat yang tengah ia pikul, ia benar-benar memapar perasaan yang berbeda.
__ADS_1
Sedang Arif tak menyangka hal kecil yang ia buat akan membuat Arkham sebahagia itu, memang menurut Arif itu hanya hal kecil yang kapan pun ia bisa berikan sesuka hatinya. Sebaliknya bagi Arkham, itu merupakan hal yang butuh perjuangan waktu, tenaga dan pikiran yang tidak sedikit. Tak akan semudah membalikan telapak tangan baginya.
***