525.600 Menit

525.600 Menit
Bab 4 - Pucuk di cinta, ulampun tiba


__ADS_3

Saat ini, terlihat Arkham masih dengan kesibukannya.


Tak terasa waktu berlalu begitu cepat dan hari ini adalah hari pertama adiknya mengikuti ujian sekolah.


Setelah semalam Arkham menelfon Akhyar, Arkham lebih di yakinkan oleh Akhyar bahwa bukan saja Akhyar akan lulus tapi pasti dengan nilai yang tidak akan mengecewakan Arkham dan Ibunya.


Arkham masih membereskan beberapa barang, membersihkan debu di sana setelah beberapa saat lalu ia menghidupkan mesin foto copy.


"Sepertinya udah waktunya besok harus membeli barang." Gumamnya lirih mengamati etalasenya.


Seterlah beres-beres, Arkham duduk di belakang etalasenya kembali.


Ia mengambil secarik kertas dan pena. Sembari memperhatikan barang-barang di dalam sana, tangannya mulai menulis di kertas itu dengan mata yang terus memindai isi etalase satu demi satu.


"Spedol, Pensil, tipeX, isi Cutter (besar) ..." Gumamnya sembari menulis.


Barang-barang ini yang sebagian besar sudah laku terjual menyisakan sedikit stock.


Setelah semua di catat dengan baik, Arkham hanya tinggal menunggu Arif datang. Dengan kopi di sampingnya dan rokok di tangannya, ia duduk di bangku depan menunggu pelanggan seperti biasanya.


"Besok ketemu Trisya lagi, mau minta nomer ponselnya ah." Benak Arkham bermain hayal.


Setelah ia kemarin gagal meminta nomer Trisya kepada Iqbal dan Hani yang ternyata malah bilang ke Trisya jika dirinya meminta nomer ponsel Trisya kepada keduanya.


Dengan jawaban yang sama, keduanya juga memberi tahu Arkham.


[Kata Trisya, kalau kamu mau nomer ponselnya jangan minta ke orang lain. Minta ke dia, secara langsung.]

__ADS_1


Mengingatnya, Arkham tersipu meski ia tengah sendiri, betapa pengecutnya dia dalam fikirnya. Tapi kesempatan itu masih ada, aku tidak akan menyia-nyiakannya. Suara lirih itu merambah hati Arkham yang saat ini sepi.


***


Sinar mentari pagi mulai menjulur dari balik bukit dan merambah gedung-gedung pagi itu, Arkham yang baru saja membuka kedua matanya mulai beranjak untuk membasuh diri. Setelahnya ia mulai menyeduh kopi untuk semangat baru pagi itu.


Hari ini adalah awal baru, dimana ia akan menguatkan hatinya, menyingkirkan rasa malu untuk menjemput perasaan cinta pada pandangan pertamnya.


"Trisya, tunggu untuk hari ini.


Aku akan mencoba mengungkap apa yang aku miliki terhadapmu!"


....


Dengan semangat yang menggebu-gebu tentang Trisya, Arkham pun tak sabar menunggu waktu melangkah. Bukan tentang perbelanjaan yang Arkham pikirkan malah Trisya. Memang cinta anak muda sulit untuk di cegah, seprti pepatah lama.


Hal itulah yang sedang Arkham jalani saat ini.


*


Kini waktu beranjak, saatnya berangkat ke toko Koh Ahong dengan beberapa catatannya tentang kebutuhan toko.


Memacu kendaraannya ia tak sadar masih terlalu pagi untuk berangkat ke toko Koh Ahong. Namun ...


Namanya semngat cinta, tak lagi ada yang bisa menahan Arkham, bahkan Arkham itu sendiri.


Seperti bukan dirinya sendiri, saat ini Arkham memacu motornya tanpa ada lagi beban, hanya ada angan pertemuannya dengan Trisya.

__ADS_1


Wajah itu, yang saat itu ia lihat kini tercetak jelas dalam ingatannya bahkan tanpa sedikitpun cacat dalam segi ingatan Arkham, wajah itu yang setiap waktu mengikir senyum memerah di wajah Arkham tengah bermain dalam khayal Arkham di atas motornya yang melaju.


Sesekali ia melambatkan motornya kemuadian memacu lagi. Sampai pada akhirnya Arkham tersadar.


"Anjir, aku berangkat terlalu pagi!!!"


"Mau ngapain di sana kalau ternyata belum buka itu toko!! Sial, lambat kali waktu ini berjalan."


Meski tak sabar namun Arkham mencoba menggunakan logika seketika itu. Ia melambatkan kendaraan untuk sementara mencari sarapan pagi itu.


Ia berhenti di sebuah kedai bubur ayam, nampak beberapa orang tengah sarapan di sana. Ia memesan satu porsi bubur ayam untuk dirinya, sebari ia memindai mencari tempat untuk dia duduk.


Setelah ia memesannya, ia duduk di sebuah bangku yang tak jauh dari pintu masuk yang tadi ia lalui, ia duduk dan memainkan ponselnya menunggu buburnya siap di sajikan dan tak lama setelahnya.


Terlihat seorang wanita yang nampak cantik berjalan, memesan makanan dan duduk di sebelah Arkham karena hanya tempat duduk itulah yang tersisa.


"Permisi ka, boleh numpang duduk di sini ya?" Wanita itu berbicara pada Arkham yang sibuk dengan ponselnya, kemudian menoleh ke arah jalan.


"Iya, silahkan duduk aja!"


Jawab Arkham yang kemudian menoleh namun ia dapati melihat bagian rambut hitam yang terlihat lembut itu, karena wanita ini menoleh ke arah jalan setelah bertanya kepadanya.


Arkham pun kembali menenggelamkan wajahnya ke dalam ponsel di genggamannya. Tanpa ada kelanjutan obrolan di antara keduanya.


"Permisi, bubur ayam pedas punya masnya. Dan ini yang gak pakai kacang punya mbaknya."


"Makasih buk!!" Arkham dan wanita di sebelahnya itu menjawab bersamaan.

__ADS_1


Kebetulan itu membuat mereka saling menoleh, terdiam beberapa saat untuk bertukar mata yang kini saling terjerat.


__ADS_2