
Sementara Arkham sibuk dengan pekerjaan di percetakan nya. Trisya pun tengah bekerja di Ruko Koh Ahong dengan kesibukan yang lebih padat. Karena selain membuka jasa percetakan, di Ruko Koh Ahong juga Ruko Grosir yang menjual semua kebutuhan toko percetakan. Itulah kenapa Arkham juga berbelanja kebutuhan tokonya di sini. Selain harga yang lebih murah, Arif pemilik toko di mana Arkham bekerja dulunya juga ia karyawan Koh Ahong. Sabar dalam proses lambat laun kini ia dapat membuka percetakannya sendiri, walau tak sebesar toko Koh Ahong setidaknya ia kini memperkerjakan orang dan tidak lagi bekerja kepada orang.
Trisya yang nampak anggun dengan balutan busana yang tidak terlalu mewah namun sesuai dengan postur tubuhnya, semakin mempercantik tampilannya hari ini.
Ia tengah duduk di belakang meja kerjanya dengan lembaran yang menumpuk di atas meja itu.
"Trisya, masih ingat kemarin aku ajarin buat sampul kan?!" Tanya Ella, karyawan lama Koh Ahong.
"Iya, masih. Tapi belum hafal, jadi aku kerjainnya pelan-pelan ya kak?"
Dengan nada ragu yang terdengar, Trisya berusaha menyakinkan kalau di bisa mengerjakannya.
"Itu yang sembilan buku kamu buat soft cover, terus yang dua itu, hard cover/paper back sisanya jilid aja Sya!" Ella memberi tahu dengan sedikit nada memerintah.
"Hm, di diemin makin menjdi-jadi orang ini." Gumam Trisya, di dalam hatinya.
Memang awal Trisya bekerja di sini semua terlihat baik-baik saja, ia kira semua akan tetap baik-baik saja untuk kedepannya, namun kenyataannya semua berubah hanya dalam beberapa hari.
__ADS_1
Bukan hanya di perkantoran elite, novel ataupun sinetron televisi. Ternyata penjilat yang caper dengan hanya modal setatus senior juga ada di kehidupan nyata.
"Udah gaji gak seberapa, kerjaannya banyak masih ada aja ketemu temen satu kerjaan kek gini. Mudah-mudah an aku bisa bertahan di sini. Dan aku kuat ngadepin Ella." Trisya hanya bisa bergumam pada dirinya sendiri. Karena ia memang butuh pekerjaan untuk saat ini, terlepas dari pekerjaanya yang penting ia dapat uang dan halal.
Sementara terlepas dari senior dan junior, Ella memang berbeda dari Hani dan Iqbal. Hani dan iqbal pekerja lama juga, meski tak selama Ella tapi mereka berkesan lebih bersahabat dan membimbing. Tidak seperti Ella yang mengatur dan memerintah.
Hal ini dapat di lihat dari Ella yang berkesan memilah-milah pekerjaan yang lebih ringan untuk ia kerjakan dan memberikan kepada yang lain bila pekerjaan itu sedikit merepotkan.
Namun, meski demikian. Trisya tidak dapat mengelak, hanya menerima dan berusaha mengerjakannya dengan sungguh-sungguh, sesekali ia akan bertanya kepada Hani atau Iqbal bila ia mengalami kesulitan. Ia takut bertanya kepada Ella, karena ia akan tau jika ia bertanya pada Ella, ia hanya akan di marahi dan di bilang bodoh.
***
Hari-hari berlanjut dan semua berjalan dengan hal-hal baru yang hadir di hidup Trisya. Sampai ia kini lebih bisa di andalkan dalam pejerjaan, pengalaman di sini sudah sebagian besar ia kuasai. Semakin trampil, semakin cekatan dan bahkan bisa di bilang semua pekerjaan di tangannya jauh lebih sempurna dari sebelumnya.
"Uh, udah pandai!" Ucap Hani melihat Trisya yang sebagian jilidannya sudah selai dan di tumpuk dengan rapi di ujung meja.
"Haha, gak juga sih ka! Kan udah biasa. Masa gak bisa terus?"
__ADS_1
"Iya juga, tapi kamu lebih cepat bisa dari orang-orang yang pernah kerja di sini dulu, sampe mereka pada off."
"Masa iya ka?" Tanya Trisya menyeringai.
"Iy, lhooo." Jawab Hani sembari mengulurkan tangan untuk membantu mnyelesaikan beberapa jilidan lagi.
"Sini aku bantu, toh aku udah gak ada kerjaan lagi sekarang." Senyum Hani tergantung di wajahnya.
"Iya ka, makasih." Ucap Trisya dan kembali mengerjakan sisa pekerjaannya.
Iqbal juga tengah sibuk di depan mesin foto copy.
Sementara Trisya dan Hani menyelesaikan pekerjaan menjilid buku, Ella yang duduk di belakang etalase itu memandangi mereka dengan wajah sinis, ia tahu koh Ahong punya kesan bagus terhadap Trisya dan secara alami sifat iri Ella membuatnya tidak menyukai Trisya dan banyak hal muncul di dalam fikirannya, apa lagi dengan hal-hal yang berkembang saat ini.
"Bagaimanapun, aku yang lama tak akan semudah itu membiarkan reputasiku di gantikan orang baru." Gumam Ella, mengerutkan kening.
Samar terlihat api permusuhan yang menyala di kedua matanya, jika kita lihat dengan lebih seksama.
__ADS_1