A Million Dreams About You By:Stalker Night

A Million Dreams About You By:Stalker Night
10.PARASIT BERHARGA


__ADS_3

 


Seperti tak terhiraukan,menemani akan kesepian dirimu yang aneh namun berarti bagiku.Memegang erat setiap keinginan dan pergerakan akan dirimu,walau tak semua dari apa yang telah kulakukan memberi keuntungan pada ku.Dan meski kau menganggapku tak berguna,namun aku akan selalu menemanimu,memberi setetes air harapan yang kelak akan mempersatukan kita kembali...


 


Pagi itu menjelang siang,Wawan dan teman temannya berkumpul diruang rawat inapnya Johan,dan selang beberapa menit Hani dan Fadila pun kembali dari Taman dan bergabung bersama mereka


 


‘Gimana keadaan Johan Wan?Dokter Deni tadi bilang apa?’.Tanya Fadila yang saat itu baru saja masuk keruangan tersebut.


‘Kata Dokter Deni,Johan baik baik aja kok,Dokter Deni juga bilang kalok Johan tadi sempat sadar,tapi karena Johan nggak bisa tenang dan kondisinya juga belum terlalu membaik,mereka terpaksa kasik obat penenang’.Jelas Wawan pada Fadila.


‘Eh ada satu lagi yang kelewatan,Dokter Deni juga bilang kalok ada peradangan ringan\(aneurisma\) dikepalanya Johan,kemungkinan sebagian ingatannya belum pulih\(amnesia ringan\)’.Balas Novi.


‘Nggak mungkin,nggak,Johan nggak munkin lupain Gue’.Ujar Hani sambil meneteskan air matanya.


‘Ni,Ni,udah jangan nangis’.Ketus Wawan.


‘Hani hanya bisa menanngis melihat Johan’.


Fadila yang saat itu mengerti bagaimana perasaan Hani,berusaha menenangkannya dan membawanya ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya.


‘La,si Hani kenapa?’.Ujar Novin pada Fadila yang saat itu baru saja keluar dari kamar mandi.


Setelah Fadila menceritakan apa yang baru saja terjadi pada Hani kepada teman temannya,mereka pun paham apa yang dirasakan oleh Hani.


‘Aduh gue ngerasa kasian banget sama Hani,gue nggak nyangka akan kayak gini kejadiannya’.Ujar Novi sedih melihat sahabatnya yang sekarang tengah terpuruk oleh perasaannya pada orang yang sangat Ia cintai.


‘Vi,ntar sore Lu ajak si Hani keluar ya,dia mungkin perlu nenangin diri’.


‘Ya Wan’.


Tak lama kemudian Hani pun keluar dari Kamar mandi tersebut.


Diwaktu yang bersamaan,Papa dan Mamanya Johan yang kala itu tengah berada dirumah duka mendiang Virgiyan Carlos,yaitu sahabat sejati Johan sejak kecil.


Suasana haru dan kesedihan akan kepergian seseorang yang dicintai,bercampur aduk dalam upacara pemakaman tersebut.Sesuatu yang pasti akan terjadi pada kita dan telah ditetapkan oleh\-Nya.


‘Rina?’.Tegur salah seorang wanita yang saat itu menghampiri Tante Rina,Mamanya Johan.


‘Eh Maya?,lama nggak ketemu’.Balas Mamanya Johan pada Tante Maya.Ya,Tante Maya dan Mamanya Johan memang sudah menjadi teman dekat sejak SD.


‘Baik\-baik aja kok’.


‘Ma,Papa masuk duluan ya’.Ketus Papanya Johan sembari melangkah masuk menuju Gereja tempat pembukaan acara pemakaman Giyan.


‘Johan nggak ikut ?’.Tanya Tante Maya pada Mamanya Johan.


‘Johan sedang dirawat diRumah Sakit,karena kecelakaan bus pariwisata Universitasnya.


‘Ya Tuhan,jadi Johan sama Giyan naik bus yang sama?,Aku turut berduka cita sama Giyan.Ujar Tante Maya.


‘Ya udah,nanti kita ngobrol lagi ya’.Balas Tante Rina seraya beranjak menuju tempat pemakamaiann Giyan.


Tak lama setelahnya,acara pemakaman tersebut pun usai.Tak lupa Papa dan Mamanya Johan mengucapkan ucapan duka pada keluarga mendiang Giyan.


‘Makasi yab Rin,udah sempat datang ke pemakaman Giyan’.Ujar Tante Yelika,Mamanya Giyan.


‘Iya Yel,turut berduka cita,moga Giyan tenang disana’.


Beberapa saat kemudian,Mama dan Papanya Johan pun beranjak untuk pulang,saat hendak menuju Taksi,mereka bertemu dengan Tania,teman dekat Giyan dan Johan.


‘Tante’.Tegurnya saat berpapasan dengan Mamanya Johan.


‘Eh Tania,gimana kabarnya Nak?’.


‘Baik\-baik aja,kalok Om sama Tante?’.


‘Om sama Tante sehat sehat aja kok’.


‘Tante kapan sampek diJakarta?’.


‘Kita sampeknya kemarin kok,soalnya Johan kemarin kecelakaan dan dia juga dirawat disini.’


‘Ya Tuhan,Johan kecelakaan ?,dia sekarang ada dimana?’.Ujar Tania penasaran.


‘Kalok nggak salah namanya RS Abdul Radjak,ini Tante sama Om mau kesana’.


‘Ya udah Om sama Tante naik mobil aku aja,sekalian aku juga mau kesana jenguk Johan’.


‘Makasi ya Tania,udah ngereotin kamu aja’.Balas Papanya Johan.


‘Ya om,nggak apa apa kok’.


Mereka pun akhirnya berangkat menuju Rumah Sakit tempat Johan dirawart.


Tak terasa waktu telah menunjukkan pukul 16.00,setelah selesai melaksanakan ibadah Shalat Ashar, Novi akhirnya mengajak Hani keluar untuk menghirup udara segar,mereka memutuskan untuk pergi ke sebuah Restoran kecil.


‘Han,Lu udah ngerasa baikan kan?’.


‘Ya Vi,gue udah ngerasa agak tenang kok,Makasi ya udah mau nemenin Gue’. Balasnya sambil meneguk secangkir kopi yang dipesannya.


‘Santai aja Vi,Gue pasti nemenin Lu kok,kita kan sahabat selamanya’.


‘Hehe,ya’.


‘Andai aja Johan disini nemenin kita’.Ujar Hani seraya melihat langit.


‘Udah udah,jangan sedih dong,Johan nggak bakal lupain kamu selamanya kok’.


Mereka pun bercakap cakap bersama.Persahabatan abadi yang telah melekat pada mereka menjadi landasan penting bagi setiap kenangan manis maupun pahit yang telah mereka lalui bersama.Melewati berjuta tantangan,beribu harapan,dan segala macam problematika mennjadikan landasan tersebut menjadi semakin erat dan menyatu.Layaknya serpihan partikel besi yang menyebar tak karuan,namun kelak akan menjadi sebuah besi yang utuh dan kokoh.....


DiRumah Sakit Abdul Radjak,Salemba........


Tania yang saat itu baru saja sampai diRumah Sakit tersebut bersama dengan Mama dan Papanya Johan,segera menuju Ruang VIP tempat Johan dirawat.Disana,Wawan dan teman temannya tengah duduk bersama.


‘Eh Tante,Om’.Sapa Wawan ramah ketika Mama dan Papanya Johan baru saja memasuki ruangan tersebut.


‘Kalian kapan dateng ke sini?Kalian udah makan?’.Balas Tante Rina ramah pada mereka.


‘Udah kok Tante,kebetulan aja ada yang jualan nasi bungkus diluar,hehe’.


‘Owh ya,Hani sama Novi mana?’.Tanya Papanya Johan pada mereka.


‘Hani sama Novi barusan keluar bentar,katanya sih mau jalan jalan’.


‘Ya udah kalok gitu.Owh ya,kenalin ini Tania’. Ketus Tante Rina sambil memegang pundak Tania.


‘Tania’.Tegur Tania sembari memberi jabatan tangan pada mereka betiga.


Tak lama setelah berkenalan,mereka pun kembali duduk bersama.


‘Owh ya Tante,tadi pagi kata Dokter Deni,Johan sempat siuman’.


‘Puji Tuhan’.Ujar Mamanya Johan kaget bercampur bahagia mendengar kabar anaknya.


‘Tapi ada satu masalah lagi,kata Dokter Johan mengalami


 


Peradangan ringan (aneurisma)akibat benturan dikepalanya pas kecelakaan,dan kemungkinan beberapa ingatannya belum pulih’.Jelas Gilang dengan nada formal.


‘Ya Tuhan,jadi sebagian ingatannya Johan hilang?’.Balas Tania dengan nada cemas.


Mamanya Johan yang saat itu tak menyangka apa yang tengah terjadi dengan anaknya,seketika merasa syok dan merasa lemas.


‘Tante!’.Ketus Wawan seraya bergegas memegang pundak Tante Rina.


Mereka pun panik dan segera merebahkan Mamanya Johan diSofa yang ada diruangan tersebut.


‘La,ambilin gue bantal dilemari sebelah sana’.Ketus Wawan pada Fadila.


Tak lama setelahnya,Papanya Johan pun kembali dari Supermarket.Ia terkejut saat melihat Mamanya Johan terbaring lemah diSofa.


‘Tante Rina kenapa?’.Ujarnya saat baru masuk ke ruangan tersebut.


‘Tante nggak apa apa kok Om,tadi dia sempat syok’.

__ADS_1


‘Hadeh..Rina,Rina,kenapa lagi sih’.Ledeknya pada istrinya.


Beberapa saat setelahnya,Mamanya Johan pun terbangun..


‘Pa,Papa!’.Ujarnya seraya memegang tangan suaminya yang duduk disampingnya.


‘Kamu ngidam?pasti pura pura ya?Papa ngerti ma,kalok Mama mau sesuatu tinggal minta aja,nggak perlu acting kali Ma’.Ledeknya kembali pada istrinya demgan nada candaannya’.


Wawan,Gilang,Fadila dan Tania yang saat itu tengah duduk bersama di Sofa tamu ruangan VIP tersebut menahan tawa melihat kelakuan Papa dan Mamanya Johan.


‘Ih apaan sih Pa,Mama serius!’.Balas Mamanya Johan geram.


‘Tu kan Mama kok bisa marah marah gitu,boong ya??’.Ujarnya sambil menunjuk istrinya.


‘Kata Dokter, Johan amnesia Pa!’.


‘Emm gitu.Lah?’.Balasnya dengan ekspresi terkejut.


Gilang dan teman temannya hanya bisa terdiam melihat perbincangan kedua Ayah dan Ibu tersebut.Mereka berdua berbincang seolah tak terjadi apa apa pada anak mereka yang tengah terbaring lemah.


‘Ckckckck,Tante Rina sama Om Yadi aneh banget dah’.Ujar Gilang sambil tersenyum.


‘Dah lah,anggap aja Lu lagi nonton Upin Ipin versi Emak emak dan bapak bapak’.Balas Wawan dengan lawakannya.


‘Ada ada aja Lu’,Hahahahahhaah’.Tawa keempat remaja tersebut.


‘Eh ngomong ngomong,kamu kenal Johan sejak kapan Tan?’.Tanya Fadila pada Tania.


‘Aku mulai kenal sama Johan sejak masih SMA,waktu itu kebetulan temen aku yang ngenalin aku ke dia’.


‘Emm gitu ya’.


Saat sedang bercakap cakap bersama,tiba tiba saja Johan terbangun,Ia hanya bisa berbicara pelan karena kondisinya yang belum pulih total.Ia berusaha menyebut nama Hani.


‘Hani...Hani....’.Ujarnya dengan nada pelan.


Tania yang melihat Johan telah siuman,sontak menghampirinya.


‘Johan!Om,Tante,Johan sudah siuman’.Ketusnya sambil menghampiri Johan.


‘Johan,ini Mama nak,kamu bisa lihat Mama kan?’.Ketusnya pada Johan seraya menggenggam tangannya Johan.


‘Ma,Ma’.Balas Johan dengan nada lemah.


‘Puji Tuhan’.Ujar Papanya Johan seraya mengusap wajahnya.


Diwaktu yang bersamaan,Hani dan Novi yang saat itu baru saja kembali,kemudian beranjak dari tempat parkir menuju ruang rawat inapnya Johan.


Beberapa saat sebelum memasuki Ruang Rawatny Johan,Hani dan Novi sempat bercakap cakap dilorong menuju ruangan tersebut.Saat hendak masuk keruangan tersebut,Hani sempat tersentak sejenak,perasaannya campur aduk ketika melihat Johan yang telah siuman,namun perasaannya menjadi acuh tak acuh saat melihat Johan bersama dengan seorang wanita muda yang tak Ia kenal.


Novi yang saat itu melihat Hani terdiam didepan pintu ruang VIP tersebut,segera mengajaknya untuk masuk.


‘Ni,yuk masuk,tu Johannya udah siuman’.Ketusnya seraya menarik Hani untuk masuk.


‘Eh Hani,Novi,kalian dari mana aja nak?’.Tanya Mamanya Johan saat melihat mereka.


‘Hehe,kita barusan keluar bentar Tante’.


‘Owh ya,Johan,kok diem aja?,Kamu kan dari kemarin nyariin Hani,kangen banget pasti’.Ledek Mamanya Johan pada anaknya.Ia tak mengetahui jika Johan tak ingat lagi tentang Hani.


‘Itu bukan Hani Ma,Hani sekarang sedang diLombok.Aku mau hubungin Hani Ma,siapa tau dia bakalan ke sini’.Balas Johan dengan suaranya yang sudah agak membaik.


Semua orang yang ada diruangan tersebut seketika tercengang melihat reaksi Johan yang tak disangka terhadap Hani.Hani yang selama ini merupakan wanita yang sangat dicintai olehnya,terlupakan begitu saja,segala kenangan yang terngiang dibenaknya telah sirna dan menghilang.


Mamanya Johan yang saat itu mengerti bagaiman perasaan Hani,segera menghampiri Johan dan memastikan agar Johan meyakinkan atas apa yang dikatakannya tadi.


‘Nak,itu Hani,dia Hani!’.Ketusnya.


‘Mama,Aku tau persis Hani,jelas dia bukan Hani’.


Pak Yadi yang melihat Hani segera mengajaknya keluar dari ruangan tersebut untuk menenangkannya.


Percakapan yang panjang membuat mereka tak sadar akan perjalanan waktu yang begitu cepat,tak terasa sudah sang senja berganti malam.Ribuan seruan adzan maghrib yang begitu tenang dan melelehkan segala macam kejenuhan,membawa berjuta harapan bagi setiap umat yang mengharap akan ridhonya.


Kelima sahabat tersebut duduk santai bersama disebuah Musholla,mereka bercakap bercakap untuk meluangkan waktu kebersamaan mereka setelah selesai melaksanakan ibadah.


‘Guys,nggak terasa ya,bentar lagi kita bakalan ninggalin tempat ini’.Ujar Novi membuka pembicaraan.


‘Ih,Gue tau lah,tapi kan jarang banget bisa ngumpul bareng kayak gini karena kan jadwal kuliah kita padat bangett’.


‘Iya ya,biasa aja kali La,nggak usah ngegas segala,kayak mau tawuran aja’.Ledek Wawan.


‘Ngeselin banget dah ni anak’.Balas Novi geram.


‘Hahahahaha’.Tawa mereka melihat tingkah Wawan dan Novi’.


‘Eh Ni,kamu nggak apa apa nginep disini lagi malam ini?’.


‘Nggak apa apa kok La’.Balas Hani yang saat itu terlihat muram.


‘Kamu yang kuat ya Ni,ini semua cobaan dari Allah supaya kita lebih kuat kedepannya’.Pesan Novi sambil memegang bahu Hani.


Hari yang begitu melelahkan dan penuh dengan berjuta hal tak terduga yang telah mereka hadapi bersama.Dan sang malam hadir untuk menyatukan dan menitipkan sebuah pesan berharga dari panjangnya perjalanan suatu hari.Memberi pesan dan kesan disetiap detik berharga tersebut,menjadikannya tetap bermakna meski kadang tak sesuai ekspektasi.Namun disetiap realitanya menyimpan beribu makna tak terduga....


Mega merah di langit, telah pergi menyusul kepergian sang mentari,meninggalkan jejak kenangan indah bagi kedatangan malam yang sunyi...


Tak terasa,waktu telah menunjukkan pukul 20.15,saatnya untuk para sahabat tersebut untuk pamit pulang ke Hotel tempat mereka menginap.


‘Tante,Om,kita pamit dulu ya’.Salam Gilang pada Mama dan Papanya Johan.


‘Hati hati dijalan ya nak’.


‘Ya Tante’.


Mereka pun pamit undur diri pada Mama dan Papanya Johan.Kecuali Hani yang saat itu memilih untuk diam lagi disana,kebetulan saat itu Tania juga memutuskan untuk menginap.


‘Tan,kamu nggak pulang?’.Tanyanya ramah pada Tania yang saat itu tengah duduk disamping Johan yang tengah tertidur lelap.


‘Nggak Ni,malam ini aku nginep disini aja,nemenin Johan’.


‘Owh hehe,kalok gitu aku keluar bentar ya,mau beli minuman’.


‘Ya Ni,nggak apa apa kok’.


Meski baru beberapa jam mereka saling mengenal satu sama lain,Hani dan Tania sudah mulai akrab.Meski tersimpan rasa yang sama terhadap seseorang yang mereka cintai.


Hani pun keluar menuju supermarket yang lokasinya tak jauh dari Rumah Sakit tersebut.Ia duduk sendiri dimeja makan depan Supermrket tersebut sembari menyantap ice cream yang dibelinya.


Ia terbawa suasana malam dan mengingat akan masa kecilnya bersama Johan.


12 Tahun Silam,dikediaman keluarga Pak Yadi....


‘Nama kamu siapa?’.Sapa salah seorang anak laki laki kepada gadis kecil yang ada ditaman rumahnya.


Dengan malu malu,gadis kecil tersebut menjawab pertanyaan anak tersebut.


‘N..Namaku Hani,kamu?’.


‘Kenalin,Aku Johan,’.Balasnya dengan senyuman manisnya.


‘Owh ya,aku punya banyak mainan Loh,yuk masuk’.Ketusnya seraya menarik tangan gadis tersebut.


Mereka bermain bersama diruang bermain yang ada diRumah tersebut,meski sebenarnya mainan yang dimiliki Johan adalah robot robotan semua,tapi mereka tetap menikmati permainan mereka.


Tak lama,saatnya untuk anak laki2 dan gadis tersebut berpisah.


‘Hani,ayo nak,udah waktunya kita pulang ke rumah’.Panggil seorang wanita muda yang merupakan ibunda dari gadis kecil tersebut.


‘Ya Ma’.


‘Tunggu!’.Ketus anak laki laki tersebut seraya memegang tangan mungil gadis tersebut’.


Anak laki laki tersebut kemudian memberikan sebuah tali kecil,yaitu sebuah ikat rambut berwarna merah muda.


‘Ini ikat rambut Mama aku,syutttt!,jangan bilang ke dia ya’.Ujar anak laki laki tersebut dengan ekspresi lucunya.


‘Hikhikhikhik’.Tawa kecil gadis tersebut.


‘Besok main lagi ya!!!’.Teriaknya saat gadis tersebut pergi dengan mobilnya.

__ADS_1


‘Johaaaan!!Johan!!,ikatb rambut Mama manaaaa??’.


‘Gawat,Aku ketauan deh sama Mama’.Ujarnya dengan tingkah jahilnya yang menggemaskan.


Kenangan yang terus melekat dalam memori Hani,yang selalu ia ingat kala melihat sesosok Johan yang kini telah tumbuh menjadin lelaki yang sangat ia cintai.


‘Huhh..’.Dengkusnya seraya memegang ikat rambut yang ada dibalik jilbab yang dikenakannya,Ia selalu meyimpan dan memakai ikat rambut tersebut,meski ia tak tau pasti,ingatkah Johan akan hal itu,kenangan yang sangat berarti baginya.


-Kau selalu hadir dalam gelapnya malam yang kulewati,berputar bersama dengan arus waktu yang tak ada hentinya.Meski kita berada dalam jarum jam yang berbeda,namun kita tersatukan oleh satu tujuan,yaitu terus berputar dan berjuang melewati segalanya,melewati batasan yang seharus nya ada dalam hidup ini,namun kita tetap tergerak tak tak terhentikan oleh apa pun,dan kita tercipta dan terdorong oleh sebuah keyakinan dan tujuan yang murni,yaitu KEABADIAN CINTA’.


Keesokan harinya................


‘Ok anak-anak,berdirinya bapak disini ingin memberitahukam kabar buruk pada kalian’.Ujar pak Yasri dengan actingnya yang pas pasan.


Seketika itu,para Mahasiswa tersebut pun terlihat sedikit kecewa atas apa yang disampaikan pak Yasri.


‘Ok,karena keberangkatan kita yang tinggal dua hari lagi untuk balik keLombok,maka bapak dan beberapa dosen mengizinkan kalian untuk free selama dua hari kedepan’.


‘Wuhuyy’.Teriak Wawan dengan suara kencang.


‘Hahahahaaha,kamu paling semangat ya Wawan,kalok masalah beginian’.Ketus pas Yasri pada Wawan.


Ricuh para Mahasiswa pun kembali,mereka sibuk dengan percakapan mereka masing masing.


‘Mungkin itu saja dari Bapak,selamat menikmati kebebasan kalian’.Tutup Pak Yasri tambil tersenyum bahagia melihat para Mahasiswanya.


‘Guys,gimana kalok kita ajak siHani sama Tania buat pergi bareng ke pantai?’.Tawar Fadila saat itu.


‘Wihh boleh juga tuh ide Lu’.


‘Ya udah kalok gitu,kita jemput mereka dulu’.


Mereka pun akhirnya pergi-


DiRumah Sakit Abdul Radjak Salemba.......


‘Hanii,Hanii’.


‘Eh ya Tante’.Balasnya setelah tersadar dari lamunannya.


‘Tante udah siapin sarapan dimeja makan,jangan lupa dimakan ya’.Ujarnya ramah.


‘Owh ya Tante,Makasi’.


Tania yang saat itu baru saja keluar dari Kamar Mandi,kemudian menghampiri Hani.


‘Eh Tania,kamu udah sarapan?sarapan bareng ama aku aja’.


‘Hehe,ya Ni Makasi’.


Saat mereka sedang menyantap makanan mereka,Johan pun terbangun ...


Tante Rina segera menghampirinya.


‘Eh anak Mama udah bangun’.


‘Ma,bisa tolong ambilin remote TV?’.Ucap Johan pada Mamanya sembari berusaha untuk turun dari kasurnya.


‘Ehh Johannn,kamu belum boleh jalan nakk!’.Teriak Tante Rina panik.


‘Nggak apaa apaaaa Mamaaa,biasa aja kali’.Ledeknya dengan nada jahilnya.


‘Wah,ini mah Mama udah yakin 100% kamu sembuh,buktinya udah bisa ledek Mama’.Balasnya sambil tersenyum bahagia melihat anaknya yang telah tumbuk dewasa dan teguh itu.


‘Hani yang saat itu tengah menyantap sarapannya,segera menghampiri Johan dan membantunya untuk berjalan perlahan menuju sofa.


Tania yang melihat kekukuhan perasaan Hani pada Johan meski Johan tak ingat akan Hani,hanya bisa tersenyum melihat mereka.


‘Tan,kamu udah hubungin Giyan?dia udah sembuk kan?’.Ujar Johan saat baru duduk diSofa tersebut.


‘Emm,sebenernya Aku mau kabarin sesuatu ke kamu soal Giyan.


‘Apa?’.


‘Giyan sudah meninggal nak,Upacara pemakamannya kemarin.Mama sama Papa sempat hadir kemarin dipemakamannya’.


Mendengar bahwa sahabat baiknya telah pergi duluan meninggalkannya,Johan merasa sangat sedi.Ia ingat janji terakhir mereka saat diBus tersebut...


~Yan,kalok kita udah lulus bareng,kita samaan lanjut ke Paris ya’.


~Oh iya dong Han,Gue pasti ikut sama Lu kok,kan kita best friend forever’.


Ucapan janji tersebut terngiang jelas diotaknya,kebersamaan mereka yang harus terelakan karena kepergian nya.


‘Udah nak,tenang.Kamu doakan saja supaya Giyan tenang disana’.


Saat sedang berbincang,Wawan dan teman temannya pun datang ke ruangan tersebut,bersamaan dengan Papanya Johan yang saat itu baru saja kembali entah dari mana.


‘Eh anak anak’.Sapaan khas Mamanya Johan yang ditaburi dengan bumbuk cinta yang selalu menyejukkan hati setiap kali Ia menyapa mereka.


‘Wihh anak Papa udah mulai bisa jalan nih’.Ujar Papanya Johan.


‘Oh iya Pa,Mama mulai curiga deh.Papa selama ini keluyuran kemana aja,jujur!!,pasti pergi ke BAR kan?’.


‘Hehe ya Ma,tapi Papa nggk minum2 kok,cuman nongkrong aja disana’.Balasnya dengan nada buatannya.


‘Tu kan,Papa kalok punya banyak duit pasti disia siain buat hal nggak penting’.Balas Mamanya Johan geram.


‘Hhhhhh’.Tawa anak anak tersebut melihat tingkah langku Tante Rina dan Om Yadi.


‘Owh ya Om,Tante,kita rencananya mau ajak Hani sama Tania buat pergi bareng ke Pantai’.


‘Owh ya nggak apa apa kok,kalian pergi aja,biar Om sama Tante yang jaga Johan’.


‘Nggak apa apa ni Om,Tante?’.Tanya Hani dengan perasaan tak enak pada Mama dan Papanya Johan.


‘Nggak apa apa kok nak’.


‘Aku boleh ikut ya Ma,hehe’.Ujar Johan.


‘Owhh boleh kok nak,sekalian kamu tinggal aja disana ya,bantuin penjaga pantai’.Balas Mamanya Johan.


‘Ya elah’.


‘Hhhhhhh’.Tawa mereka kembali berseri, semua kesedihan mereka hilang begitu saja .


‘Eh iya,nama kamu siapa?kita belum kenalan kan?’.Ketus Johan pada Hani.Suasana pun berubah,Hani yang saat itu mendengar sapaan Johan, terdiam sejenak.Dengan perasaan yang berat,ia menjawab pertanyaan Johan.


‘Salam kenal,aku Fani’.Jawabnya dengan agak gugup.


‘Salam kenal juga,eh nama kamu mirip sama teman aku loh,namanya Hani’.Balas Johan sambil tersenyum.


Mamanya Johan yang saat itu mengerti dengan keadaan tersebut,kemudian mengubah topik pembicaraan.


‘Owh kalok gitu kalian hati hati ya dijalan’.Ujarnya.


Wawan,Fadila,Novi,Gilang dan Tania yang saat itu mengerti bagaimana perasaan Hani,segera mengajaknya untuk pergi ke pantai.


Dinamika sebuah teori cinta yang rumusnya ada disetiap hati kita masing masing,menyimpan berjuta goresan tinta untuk bisa menghasilkan rumus tersebut.Terukir jelas diatas kertas kehidupan,dan terjiplak rapi dibawah landasan perasaan.Aneh namun tak asing,dan kelak akan muncul rumus yang indag dan mudah untuk meyelesaikannya,meski kadang harus mengorbankan ribuan lembar kertas,namun nyata akan keindahan hasilnya.Itulah CINTA,terasa namun membingungkan....


Senja itu,disebuah pantai yang indah dan sepoian angin yang menentramkan jiwa.Keenam remaja tersebut,sedang duduk santai menikmati pemandangan laut kala sang senja hadir untuk menutup jadwal kunjungan sang mentari,memberi benih kenangan indah....


‘Ngomong ngomong kalian kapan balik keLombok?’.Ujar Tania membuka pembicaraan.


‘Besok lusa’.


‘Owh gitu ya’.


‘Kamu kuliahnya dimana?’.Tanya Gilang pada Tania.


‘Aku kuliahnhya diUI juga kok,sama kayak Johan.Tapi beda fakultas,aku fakultas Kedokteran’.


‘Wih,sama dong,kita berempat juga ambilmnya Fakultas kedokteran’.Balas Novi.


‘Biasa aja kali Vi’.Ledek Wawan.


‘Apaan sih,serah Gue’.


‘Udah udah,berantem mulu ni anak’.

__ADS_1


Keenam sahabat tersebut pun berbincang bersama,menikmati keindahan sang senja.....


__ADS_2