Akhir Cintaku

Akhir Cintaku
06. Bingung


__ADS_3

❄jangan lupa vote, komen dan like ya😃❄


"Hari ini ada pelajaran Pak Dimas 1 les. Hufff... bagaimana ekspresi dan tingkahku nanti?" gumamnya pelan sambil berbaring di tempat tidur.


Jam sudah menunjukkan pukul 05.30. Tapi Nindy masih enggan beranjak dari tempat tidurnya. Nindy masih terbayang dengan ekspresi kemarin saat membuka lembar surat kecil di bawah jam yang dari kado itu.


"Bagaimana ini, jika bertemu dengannya pasti wajahku langsung memerah karena malu." ucapnya menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Apa mungkin Dimas menaruh hati padaku? Oh tidak-tidak.. kamu jangan merasa berlebihan Nindy." katanya lagi menjelaskan pada dirinya sendiri.


"Tapi jujur saja, aku memang suka pada Pak Dimas. Tapi ini terlalu lancang dengan statusku yang hanya sebagai murid."


"Oh ya ampun, aku ini kenapa?" gumamnya lagi kemudian membangunkan dirinya dari tempat tidur.


"Nindy, apa kamu tidak ke sekolah hari ini?" teriak ibunya membangunkan.


"Apa, ini sudah pukul enam kurang lima belas menit?"


"Iya bu, Nindy sudah bangun." jawabnya dan buru-buru melangkahkan kakinya keluar kamarnya.


Nindy sudah siap pergi ke sekolah. Dan sebelum berangkat, Nindy sarapan bersama kedua orang tua dan adiknya. Sebenarnya Nindy memiliki seorang kakak. Tapi kakaknya diadopsi pamannya. Dan saat ini hanya dia dan adiknya saja yang sekolahnya ditanggung orang tuanya.


"Nind, ini mama punya uang buat bayar SPP yang dibayar gurumu Desember lalu. Kamu bisa kembalikan nanti di sekolahkan? Ibu tak bisa ke sekolahmu minggu ini, tanaman ibu sudah mulai ditumbuhi rumput, dan harus ibu bersihkan. bisa kan nak? " tanya ibunya.


Seketika mata Nindy membulat mendengar apa yang dikatakan ibunya. Memikirkan saat bertemu saja dia sudah bingung. Apalagi cara mengembalikan uang itu.


"Tapi bu Nindy gak tau apakah pak Dimas masuk hari ini atau tidak, karena di kelas Nindy jadwal pak Dimas hari ini kosong bu." jawabnya berdalih.


Dengan berbohong saja cara yang Nindy tau saat ini. Setidaknya jika 2 atau 3 hari lagi ibu tanyakan kembali maka Nindy akan mencoba mengembalikannya.

__ADS_1


~ ~ ~


"Hai Nind, kenapa wajahmu merah begitu? Kamu ketemu setan?" tanya Lanti heran.


"Heh,,, bukan bukan Lan. Kirain tadi udah terlambat jadi aku buru buru jalannya." kilahnya mengingat sebenarnya tadi dia bertemu dengan Dimas di gerbang sekolah.


Saat istirahat pertama, Nindy dan Lanti pergi ke toilet. Di Sana Nindy bertemu dengan geng ganas. Nindy berpura-pura tak menyadari mereka di sana. Dia tak ingin di hina lagi sama mereka.


Sebenarnya Nindy bukan tak bisa melawan mereka. Tapi karena Ayah Nindy saat ini bekerja sebagai supir pribadi ayah Rere. Maka dia pilih diam. Selain menjaga pekerjaan Ayahnya, dia juga tak mau Ayahnya tak nyaman bekerja dengan melawan Rere.


Nindy sengaja lama di dalam toilet. Demi menghindari geng tersebut. Dan Lanti mengerti akan hal itu. Lanti memberi kode di pintu toilet. Jika ketukan berbunyi 1 kali, maka tandanya belum aman. Dan jika ketukan berbunyi 3 kali maka tandanya mereka sudah pergi.


"Nind buruan,, mereka sudah pergi kok" beritahu Lanti setelah mengetuk 3 kali.


Tak lama Nindy keluar dari toilet. Mereka kembali ke kelas. Dan sepanjang jalan menuju kelas, Lanti bertanya ke Nindy.


"Nind, aku heran lihat kamu, kenapa kamu diam saja saat geng itu menghinamu? "


"Tapi Nind, mereka itu udah keterlaluan. Mana bisa dibiarkan. " sambung Lanti bertanya.


"Selama aku bisa menahan sakit atas perlakuan mereka, aku memilih diam aja Lan. Lagian tak lama lagi kita juga akan tamat kan? " jawabnya menghibur diri.


"Iya juga sih. Tapi aku masih aja gak bisa terima sekalipun yang menghadapi itu kamu Nind, " kata Lanti ikut bersabar


Sebelum masuk ke kelas, Lanti dipanggil Riska. Sehingga Nindy lebih dulu masuk ke kelas dan mendudukkan bokongnya di bangkunya. Tiba-tiba Nindy melihat lembaran kertas kecil yang bertuliskan. Dia mengamati kertas itu dan membalikkan. Mata Nindy terbelalak membaca isi tulisan itu


"*Kamu itu gak sadar diri ya. Merasa bangga mendapatkan kado dari pak Dimas. Kamu itu tak sadar kalau kasta kalian itu berbeda. Aku yang anak orang berada aja tak berharap diperhatikan sama pak Dimas. Gak cukup apa SPP kamu juga udah dibayarin sama pak Dimas? kenapa kamu tak menolaknya? Dasar cewek matre!! *"


Seperti itulah isi dari kertas kecil yang ditemukan Nindy di lacinya tadi.

__ADS_1


Nindy menundukkan kepalanya ditopang kedua siku tangannya yang berdekatan. Nindy menahan butiran kristal beningnya agar tidak jatuh. Sesekali Nindy menghela nafasnya mencoba mengalihkan suasana hatinya. Karena sebentar lagi selesai istirahat adalah jam pelajaran Dimas.


Pikiran dan hati Nindy tak sejalan. Dihatinya Pak Dimas bilang tak selamanya kesedihan mengikuti hidupku. Dan pikirannya berkata apakah tak sepantasnya dia menerima kado dari pak Dimas?


Dan, sebenarnya Rere mengetahui soal SPP itu tak sengaja mendengar perbincangan guru-guru saat dirinya melewati ruang guru. Dan soal kado itu, Rere juga melihat langsung pak Dimas menyuruh adik kelasnya mengantarkan kado itu ke Nindy.


"Selamat pagi pak! " sapa hormat satu kelas Nindy. Dengan wajah menghayal dan sedih yang tak terbendung nya, Nindy menyapa dengan pandangan kosong.


"Selamat pagi, silahkan duduk. " sahut Pak Dimas mempersilahkan duduk.


"Hari ini kita akan membahas ulang soal-soal ujian yang sudah pernah dipelajari. Ketua kelas tolong bagikan kertas soal." ucap Dimas menyuruh membagikan kertas soal.


Dengan perasaan yang bercampur aduk, Nindy sama sekali tak mendengarkan apa saja yang baru di katakan Dimas. Dalam hatinya, ingin sekali rasanya berteriak menumpahkan semua keluh kesahnya.


"Hei Nind, ada apa denganmu?" tanya Lanti yang memperhatikan Nindy hanya diam saja dengan pandangan tak jelas arah.


"Nindy" panggilnya menyadarkan Nindy dari lamunannya.


"Aku tidak apa-apa Lan." jawabnya dengan pikiran yang masih belum tenang kemudian memejamkan matanya.


Tanpa disadari, Dimas mulai memperhatikannya. Dan saat Nindy membuka matanya, seketika itu juga air matanya ikut jatuh di wajahnya. Dimas melihat jelas butiran kristal bening Nindy jatuh. Dan menajamkan penglihatannya mencoba menerawang masalah apa yang sebenarnya mengganggu perasaan Nindy.


"Ada apa dengannya?"


"Baru kemarin aku melihat wajahnya memerah setelah membuka kadoku. Dan sekarang wajahnya sedih tak bersemangat, " kata Dimas dalam hatinya.


Sementara di pikiran Nindy....


"Apa yang harus aku lakukan?"

__ADS_1


*Apa besok dengan alasanku mengembalikan uang pak Dimas juga mengembalikan kado itu? Katanya bertanya dalam hatinya.


🌿TBC...... 😃😃


__ADS_2