
Suasana kampus dipenuhi oleh kesibukan mahasiswa dan juga dosen-dosen disana, di kelasku semua mahasiswa berhamburan keluar karena perkuliahan sudah usai. Aku menutup buku, merapikan dan memasukkan buku-bukuku ke dalam tas, tiba-tiba Dila menepuk punggungku keras dari belakang.
"Mia yuk kita ke kantin" ujar Dila tanpa bersalah karena menepuk punggungku cukup keras.
Wajahku berubah menyeramkan sambil memegang bagian rasa sakitnya, Dila mendapati hal itu langsung terkekeh dan memohon ampun dihadapanku. Aku hanya bisa menghembuskan nafas berat.
"Yuk Mia" susulnya Reni lalu merangkul bahu Dila.
"Buruan dong. Nanti anak Pariwisata ngambil alih kuasa kantinnya" ujar Sekar yang tak mau kalah cerewet.
"Hmm iya-iya sabar. Anak sabar di sayang tuhan tahu" ceramahku kehadapan sahabatnya bertiga.
"Lapar tidak diberi sabar tapi makan, Mia" ujar Sekar sembari menarik pergelangan tanganku yang meraih handphonenya bergegas pergi dari kelas menuju ke kantin. Disusulnya oleh Dila dan Reni.
Sampai di kantin, mereka berempat secara sejajar melihat segombrolan mahasiswa yang memenuhi setiap sudut kantin. Si Ibu kantin pastinya akan kewalahan yang ternyata kebanyakan mahasiswa sebagian anak Pariwisata.
"Iya, sudah keduluan deh" pinta Dila.
Seketika aku terasa tersinggung karena ini sikap lambatku.
"Tenang aku pesenin makan kalian ok" ucap Sekar.
Dila dan Rena sangat bersemangat, aku hanya tersenyum mendapatkan perlakuan yang baik dari sahabatnya. Tetapi ini salah dirinya jadi aku harus melakukannya.
"Biar aku saja, kar. Kalian cari tempat duduk, pesenan kalian apa?" ucapku.
Merekapun mengerti, merespon dengan anggukan.
"Aku pesen mie goreng plus telur rebus, minumnya es teh" ucap Dila bersemangat.
"Aku juga"
"Ya aku juga pesen sama Dila" ucap Sekar.
"Ngikut saja kerjaan kalian ya" ucap sinis Dila.
"Mie melulu makannya tidak takut sama rambut kalian nanti keriting kek mie" kekehku, mereka bertiga memasang wajah masam.
Melihat wajah para sahabatnya seperti itu, aku menyudahi tawa kerasku dan pergi menuju kantin untuk memesan makanan mereka. Setelah dirasa Mia jauh, mereka bertiga seketika tertawa menatap tampang wajah Mia tadi dan saling menatap.
"Sudahlah, menurut Mia rasanya itu garing" ucap Rena sembari mengurangi tawanya.
"Memang bocah" diikuti oleh Sekar.
"Sudah yuk cari tempat duduk, nanti malah kena damprat Mia" ujar Dila sembari merangkul Rena dan Sekar dengan senyum sumringahnya.
Mereka menatap semua tempat duduk di kantin. Ketemu. Tempat duduk yang berada pojok kantin bagus sebagai tempat ngegibah untuk mereka, aku yang sudah selesai memesan dan membawa nampan yang berisi minuman. Dengan waspada membawa benda yang mudah pecah dan tidak ingin terjatuh karena tidak sengaja didorong. Hendak membawa nampan ini secara hati-hati, bahuku bertubrukan dengan seseorang dan menyenggol sikunya.
__ADS_1
Tidak dapat dihindari, nampan yang ada di kedua tanganku jatuh berantakan ke lantai. Semua sudut mata Mahasiswa yang ada dikantin ini, tertuju ke arahku. Bertanya pada satu sama lain tentang apa yang terjadi hingga ada yang sampai terbangun untuk melihatnya, tidak terkecuali Sekar, Dila, dan Rena kini mereka menghampiriku yang sudah terbakar emosi. Aku menatap wajah cowok ini lekat-lekat tepat berada dihadapanku dan juga membaca name tagnya. Raka Ariona Bremasta. Wajah itu menampakkan serasa ia tidak memiliki rasa bersalah. Pecahan gelas berserakan di lantai, airnya bertumpahan kemana-mana. Emosiku membara dan tanganku tak terasa justru mengepal. "Andai saja aku punya ilmu bela diri pasti saat ini sudah aku lakukan" ucap batinku.
"Hmm apa?" ucap si cowok songong ini dengan sikap kedua tangannya masuk kedalam saku celananya.
"Apa yang apanya? lihat itu, kamu sudah nabrak bahuku. Nampanku jatuh dan gelasnya berserakan. Lihatkan!" tunjukku ke arah lantai.
"Kamu jalan pakai mata apa dengkulmu hah" ucapku menghardiknya.
"Terus?" ucap enteng si cowok.
Keadaan semakin memanas, pandangan mahasiswa di kantin tiada henti menatap mereka. Ada yang sampai mengambil gambar moment dimana Ketua BEM sekaligus mahasiswa Pariwisata diperlakukan seperti itu oleh mahasiswa biasa anak Keperawatan.
Tidak segan-segan aku ingin menampar wajahnya yang tak peduli akan wajah tampannya namun ditahan oleh Dila dan Rena. Saat itu pula Raka si cowok songong dihampiri oleh cewek yang aku lihat name tag di dada kanannya. Friska Prameswari. Bisa diakui kecantikannya, ada sisi negatifnya yaitu kelewat lebay dan kecentilan. Siapapun yang mendekat pasti tidak akan betah, tidak terkecuali Si Manusia Dingin alias Raka. Mungkin.
"Sayang kamu tidak apa-apakan?" tanya Friska khawatir sembari mengusap-usap baju Raka padahal tidak kotor dan mengalungkan tangannya ke lengan Raka.
"Cihh menjijikkan" ucap batinku kesal mendengar sebutan itu yang ternyata sih aku sering memanggil pacarku sayang tapi tidak didepan umum, tidak ada malunya.
"Kamu itu kalau jalan yang bener, sok-sokan bawa nampan isi gelas banyak gitu. Sudah tahukan kantin ini ramai terus hah" hardik balik cewek lebay ini.
Emosiku kembali terpancing lagi, tidak terima semua ini aku menjambak rambut Friska. Disanalah terjadi perkelahianku dengan Friska si anak Pariwisata.
"Ikut campur urusan orang saja" ucapku sambil mengacak-ngacak rambutnya.
"Dia pacarku suka-sukaku ikut campur urusannya atau tidak. Itu karena kamu yang salah tau!" ujarnya sembari membalas jambakan dari Mia.
"Friska cukup, cukup" ujar Raka.
"Kamu itu yang bikin gara-gara"
"Kamu tuh" balasku sambil mengeratkan jambakannya ke rambut Friska.
Sahabatku tidak tinggal diam akhirnya mereka berusaha melerai pertengkaran aku dengannya, diikuti oleh Raka yang menarik kekasihnya. Aku dan Friska terpisah meski inginku jambak lagi, Friskapun tak mau kalah ia ingin menjambakku lagi.
"Kamu itu ya yang tidak tahu diri, harusnya kamu minta maaf ke pacarku"
"Mana sudi aku minta maaf ke pacarmu yang songong itu" hardikku kehadapannya sembari menunjuk ke arah Raka.
"Hmm kamu tidak kapok juga ya" ujar Friska ingin menghampiriku malah ditahan oleh Raka. Friska hanya bisa menahan amarahnya dan memalingkan wajahnya ke arah lain sembari bersedekap. Kini aku masih dipegang oleh Dila dan Rena.
"Aku mewakili temanku Mia, minta maaf karena kesalahan temanku yang teledor. Jadi, maafin temanku ya Raka" ucap Sekar memohon kehadapan Ketua BEM.
Aku sedikit terkejut, bisa-bisanya Sekar melakukan ini. Memang anak siapa dia? anak Presiden saja tidak sombong tingkat iblis begitu.
"Ayo kita pergi" ucap Raka kemudian mereka berlalu begitu saja tanpa memperdulikan permintaan maaf dari Sekar.
"Kalian tidak tahu sopan santun dan kau seharusnya tidak pantas menjadi ketua BEM yang diagung-agungkan di kampus ini" Ucapku menghardik lagi.
__ADS_1
Langkah Raka terhenti, lalu berbalik menghampiriku. Melihat wajah dingin Raka, Dila maupun Rena menjadi ketakutan dan memilih untuk melepas genggaman mereka. Sekar memundurkan langkahnya, hanya aku seorang yang didepan mereka. Ada rasa takut namun rasa kesalku melebihi dari itu.
Moment ini tidak akan pernah dilewatkan oleh seluruh mahasiswa yang menyaksikan disana namun ada beberapa yang tidak mengubris hal semacam itu.
Raka berhenti tepat dihadapanku dengan gaya khasnya, kedua tangannya masuk ke dalam saku celananya. Dingin dan tenang. Kini aku tidak mau kalah lalu bersedekap seakan-akan ingin menantangnya. Sesuatu menakjubkan yang belum pernah terjadi dikampus ini, mereka mengukir sejarah perkampusan.
Kemudian Raka sedikit merunduk, menatap wajahku. Sedikit terpelongo dibuatnya, saat ini wajahku dengannya cukup dekat berjarak beberapa centi.
"Jangan menyangkut pautkan nama organisasi apalagi menjelekkannya. Mengerti" tegurnya sembari mendorong dahiku dengan jari kelingkingnya, diapun pergi menyisakan tegurannya membuatku semakin malu akan diriku sendiri.
Tatapan sinisku terus memperhatikan mereka, kekasihnya tak pernah melepaskan rangkulannya. Akhirnya kedua punggung itu menghilang ditelan belokan koridor, sahabatku menghampiri aku. Suasana disini kembali normal, hanya saja beberapa bisikan-bisikan negatif tentangku. Aku bisa menangkap perkataan ini akan tetapi tubuh ini tidak ingin menanggapinya.
"Kita pergi yuk dari sini, masalah minumnya nanti kita bayar" bujuk Dila yang diangguki oleh Rena. Sekar sibuk membayar ganti ruginya dan memberitahu tentang kejadian ini.
"Ibu maaf ya karena tidak sengaja Mia menjatuhkannya dan ini ganti ruginya" ujar Sekar sembari mengulurkan uang kepada Ibu kantin.
"Tidak usah, Ibu mengerti dan memaafkan kejadian ini. Simpan saja uang kalian untuk keperluan yang lain ya" tolaknya.
"Benarkah, bu?" ucapnya sekali lagi untuk menyakinkan saja.
Ibu kantin mengangguk dengan tersenyum, ia mengerti dengan keadaan kantin ramai dan memilih untuk menolak uang ganti rugi bahkan tidak menerima uang.
"Terima kasih banyak, bu" ucap Sekar cukup bahagia.
"Ibu lanjut dulu ya"
"Oh baik bu"
Sekar bergegas mendekat ke arah kami.
"Untung Ibu kantinnya baik. Yuk kita ke kelas"
Ingin aku memarahi Sekar karena perlakuan tadi seperti menghamba kehadapan Raka justru di balik itu semua, Sekar sudah mau membantu dirinya sampai detik ini.
"Lalu makannya?" ujar Rena memelas.
"Urusan makan bisa nanti sehabis perkuliahan jugaan terakhir yang ngajar Pak Darma" jelas Sekar.
"Sekarang fokus utamanya yaitu Mia" lanjutnya.
Rena tidak bisa berbuat apa-apa lagi, Dila dan Rena hanya bisa menuruti perintah Sekar. Ini salahku lagi karena tidak bisa mengontrol emosiku saat menghadapi manusia-manusia dingin dan lebay tingkat iblis seperti itu. Memang Tuhan menakdirkan mereka bersama dan sangatlah cocok akan tetapi, tidak pantas untuk dipuji-puji. Kami pun pergi meninggalkan kantin dan lebih memilih kembali ke kelas.
"Sampai kapanpun, aku akan terus ingat kejadian ini" ucapku dalam batin.
Bisa dikatakan ini adalah dendamku pada si manusia dingin dan si cewek lebay itu. Camkam itu.
Author said : "Sebuah kebencian mulai tertanam dalam benak Mia, entah kian seiringnya waktu kebencian itu akan disirami oleh konflik ataukah sebuah cinta. Semuanya hanya Mia dan perasaannyalah yang tahu"
__ADS_1