
Sinar mentari menghangatkan permukaan pipi Mia, langkah kakinya saling menapak dan note book selalu kugenggam di dada. Senyuman terbentuk dibibirnya, membayangkan hal yang kemarin. Kemarin, Mia dan Brian menikmati video call hingga larut malam. Sekedar basa basi tentang masa lalu mereka sampai takdir tuhan menyatukan mereka untuk bertemu hingga bertahan detik ini, tak luput semangat selalu diucapkan dari bibir Brian tentang hubungan mereka yang mengharuskan untuk ldr dan mimpi mereka masing-masing. Betapa hebatnya mereka, sepasang kekasih mengejar mimpinya namun tetap mengukuhkan teguh pendirian mereka pada satu orang. Salut.
Langkahku terhenti mendapati sebuah mobil yang aku kenal, terparkir di parkir kampus ini. Nomer plat mobilnya pun sama, "apa jangan-jangan ini mobil yang kemarin sengaja menabrak genangan air hingga terciprat ke badanku?" pikirku. Tanpa berpikir lama, aku pun menyakinkan bahwa mobil ini tersangka dibalik kejadian kemarin. Aku harus beri pelajaran kepada pemilik mobil ini hmm, harus!!! Mia menaruh note book miliknya dengan sembarangan. Akhirnya Mia mencari dedaunan kering dan mengumpulkannya, kemudian sengaja menaburkan sembarang ke permukaan mobil putih nan mulus tanpa sedikit pun lecet. Tidak cukup puas dengan semua itu, Mia mengambil lumpur berdekatan dengan kebun kampus, lalu mengusap begitu saja. Menuliskan sesuatu ke bagian kap mobil. Sekarang kita adil. Tulisan itu terpampang jelas jika orang berlalu lalang, sudah pasti dibaca oleh mereka. Mia mengambil botol mineralnya, menuangkannya ke arah jendela mobil.Selesai. Aku berkacak pinggang didepan mobil sialan ini, tersenyum miring bahwa semuanya sudah beres. Hari ini aku sangat beruntung karena dendamku sudah terbalaskan meski tidak bertemu langsung dengan pemiliknya. Bukan hanya itu, sekalipun tidak ada mahasiswa atau orang lain melihat aksi ku tadi. Tidak mau ketahuan, aku pun bergegas kembali ke ruang kelasku. Kedua tanganku kotor, aku akan pergi ke toilet kampus. Lalu pergi ke ruang kelas.
"Hai, Mia" sapa Dila mendapati kondisi napasku tersengal-sengal. Ini semua karena aku tidak ingin ketahuan namun syukur semuanya berjalan mulus.
Aku mendekati mereka, mengatur napas sebisaku dan terduduk di samping Sekar. Kini kami saling berhadapan, mata mereka tertuju padaku. Terheran karena kondisiku tidak membaik.
"Kamu lagi diet?" ujar Rena
"Apanya lagi diet hmm" timpalku dengan sinis.
Rena tertegun mendapati respon sinis dari Mia, tidak jarang Mia bersikap seperti itu jika ditanya.
"Ohh tau-tau, pasti kamu lagi melaksanakan program diet kan. Jadi tadi itu ngapain lari nggak jelas" ucap Sekar sembari mengintograsiku.
Dila dan Rena pun mengangguk, menyetujui pernyataan yang dilontarkan oleh Sekar. Aku menjadi kebingungan dengan pembelaan apa yang harus ku ucapkan kepada mereka agar mereka percaya, sekali berbohong pasti akan ketahuan semuanya. Aku tidak mau melibatkan mereka dalam masalah ini lagi, sudah cukup membuat mereka terbebani oleh masalahku. Sebuah ide terlintas dipikiranku, tersenyum kehadapan mereka. Namun mereka merasa agak sedikit risih melihat ekspresiku.
"Kamu sakit ya Mia?" ucap Sekar sembari menempelkan telapak tangannya ke dahiku.
"Udah cukup ah, aku nggak sakit kok" ucapku memelas dan menjauhkan telapak tangan Sekar dari dahiku.
Bukannya marah justru mereka malah menertawakan tingkahku, aneh bila dipikirkan.
"Tadi itu aku lari-larian karena takut terlambat masuk kelas. Eh ternyata tidak sesuai ekspektasi" jelasku dengan penuh keyakinan kehadapan mereka.
Mereka semua ber-oh membentuk bibir O saling menatap satu sama lain.
"Mia, aku harap hari ini kamu nggak bikin masalah lagi" ucap Sekar sembari menepuk bahuku. Aku menatap Sekar, ia menganggukkan kepala tanda bahwa diriku harus memberikan sebuah kepastian untuknya, Rena, dan Dila.
"Tidak akan lagi" ucapku yakin. Tanganku mengapai tangan Sekar di bahuku, kami semua tersenyum dan merangkul.
Ini kali pertamanya aku diperhatikan, dimana hidup adalah sesuatu hal yang mudah namun diri kita sendirilah yang mempersulit hidup kita hanya karena sebuah masalah.
"Ram, gimana hasil surat yang di suruh print sama sekretaris udah kan?" Tanya Bimo, sekaligus ia menjadi wakil BEM di kampus ini sehingga Bimo tidak lupa berkoordinasi ataupun sekedar mengingatkan sesuatu hal yang berkaitan dengan organisasi kampusnya.
Saat itu mereka sedang berada di ruang BEM, bukan hanya Bimo tetapi ada pula anggota inti lainnya yang sibuk mempersiapkan sebuah acara besar nanti.
Awalnya Rama sibuk dengan kertas-kertas dihadapannya kini pandangannya beralih ke arah Bimo. Mencerna tiap ucapan Bimo, tak lupa sikapnya yang datar menambah karisma pada diri Rama.
"Ketinggalan di Mobilku, Bimo" ucap Rama.
"Ambil dulu Ram, takutnya nanti pembina malah minta surat" jelas Bimo.
Rama menggangguk, lalu pergi menuju parkiran kampus. Pertengahan jalan, Rama tidak sengaja bertemu Friska.
"Hay sayang" Ucap Friska sembari mengalungkan tangannya ke lengan Rama, tak lupa menyenderkan kepalanya ke bahu Rama. Friska senyum-senyum tiada jelas, pikirannya kini sudah overhappy.
"Hay juga sayang, kamu udah lesai Kuliahnya?" tanya Rama.
"Belum lagi satu mata kuliah aja, tapi tinggal beberapa menit. Iya aku samperin kamu meski cuma sebentar"
"Ohhh"
Rama dan Friska jalan beriringan menuju parkiran, Friska sendiri tak ingin melepas Rama. Pandangan Rama terfokus ke depan walaupun banyak cewek memperhatikan aura karismatik yang timbul dari dirinya, Friska sibuk melototi dan mengomeli tiap cewek yang memandangi kekasihnya secara gratis. Tidak rela bagi Friska apalagi sampai mengambil hati Rama maka Friska tak tinggal diam. Belum sampai ke tujuan utama Rama, Rama menghentikan langkahnya. Disusul oleh Friska yang berhenti pula.
__ADS_1
"Kenapa? Kok berhenti?" ucap Friska kebingungan dan melepas tangannya.
"Ini jam berapa?" tanya Rama menghadap ke Friska.
"Ini jam..." sembari melihat jam tangannya
"Yah aku telat masuk kelas, Sayang. Gimana ini dong" ucap Friska panik.
Rama memegang kedua pundak Friska, Friska tertegun melihat Rama yang menatapnya dengan ekspresi tersenyum seperti itu.
"Sekarang kamu tarik napas, terus hembuskan perlahan-lahan" suruh Rama sembari tangan kanannya naik dan turun sejalan dengan aturan napasnya.
Friska mengikutnya kini dirinya menjadi lebih tenang dan tersenyum kehadapan Rama. Rama sudah yakin Friska cukup tenang, ia menghentikan instruksinya.
"Sekarang kamu kembali ke kelas, cari alasan yang masuk logika biar dosenmu percaya" ucap Rama menyakinkan kekasihnya.
Friska mengangguk dan bergegas kembali ke kelasnya. Rama menatap punggung kekasihnya hingga hilang ditelan jarak.
Sampai diparkiran kampus sembari melempar-lempar kunci mobilnya. Saat menatap mobilnya kini langkah kaki Rama terhenti tiba-tiba dan kuncinya berhasil digengaman Rama. Seketika ia terperangah mendapati kondisi mobilnya yang terbilang sangat kotor, kedua tangannya berubah mengepal kunci mobilnya dan raut wajahnya penuh amarah terpendam di dalam batinnya. Rama menghampiri mobilnya dan mendapati tulisan mengukir di kap mobilnya, tertulis "Sekarang kita adil". Tulisan itu membuat Rama semakin mengeratkan kepalan kedua tangannya, mengecek semua kondisi mobilnya. Saat kakinya melangkah hendak ke bagian belakang mobil, ia seperti menginjak sesuatu. Sebuah note book berada tepat di samping mobilnya terparkir, ia mengapai note book itu. Bagian cover terdapat nama Mia Anggreni jurusan Keperawatan, membuka isi buku. Tulisannya yang terkesan indah dan rapi namun bukan itu yang dikagumkan oleh Rama justru dirinya menyakinkan bahwa dalang dari semua ini adalah Mia anak keperawatan, ini pasti ada kaitannya dengan Mia dan Kondisi mobilnya saat ini. Rama menutup buku itu dengan kasar. "Ini tidak boleh dibiarkan" ucap Rama didalam batinnya. Secepatnya Rama mencari lokasi keberadaan Mia sekarang dan berusaha menanyakan ke seluruh mahasiswa tentang kelas dari pelaku mobilnya yang kotor.
Seperti biasa perkuliahan sudah usai, terik matahari telah membuat kami kelaparan. Kami bergegas ke kantin, sesampai disana kami terduduk di meja kantin dekat dengan tembok. Dila memesan pesanan kami setelah itu kembali duduk disamping Rena.
"Btw besok ada perkuliahan dari pak darmo, kalian udah lesai mencatat materi pak darmo?" tanya Sekar kepada kami bertiga.
Rena dan Dila sibuk memainkan hp kini perhatiannya tertuju pada Sekar begitu pula denganku yang sebelumnya memerhatikan sekitaran kantin menjadi terpusatkan kehadapan Sekar.
"Oh ya aku lupa buat" ucap Rena sembari menepuk dahinya pelan.
"Lalu kamu Dila?" tanya Sekar
Sekar memutar kedua bola matanya sambil berdecak.
"Sorry" timpal Dila.
"Aku udah lesai kok" ucapku.
"Yaelah Mia, kalau udah bilang dong kan aku nggak perlu tanya"
"Kamu juga yang nggak tanya kan" ucapku.
Sekar terkekeh. Rena dan Dila malah mengkroyoki Sekar karena salah sendiri juga tidak langsung tanya ke Mia.
"Untungnya aku bawa note booknya tapi aku ambil tas dulu di kelas" ucapku sembari terbangun dari duduk.
"Nanti aja Mia, habis kita makan ya" ujar Sekar.
Dila dan Rena mengangguk, tetapi pikiran aku masih ingin mengambil note book karena merasa ada yang tidak beres dengan buku itu.
"Tapi sekalian aku liat dulu takutnya aku bilang bawa malah kenyataannya tidak" Ucapku menyakinkan mereka bertiga. Aku pun bergegas kembali ke kelas dengan langkah sedikit berlari.
"Ya sudahlah. GPL" ucap Sekar
"Jangan lupa balik kesini" ujar Rena menimpali ucapan Sekar.
"Iya nanti makananmu aku habisin" Ujar Dila tak kalah menghebohkan.
__ADS_1
Aku tak menggubris ocehan mereka namun heran dengan sikap mereka yang konyol, fokusku saat ini adalah note book. Berjalan dengan cepat dan berulang-ulang berpikir tentang keberadannya karena selama perkuliahan, note book itu tidak terlihat dihadapanku. Kedua kakiku berhenti di depan ruang kelasku, menghampiri meja yang di atasnya terdapat tasku. Aku menggapai tasku, memeriksa note book alhasil semuanya nihil. Seketika kepanikan melanda diriku, takut jika note bookku tertinggal di tempat itu. Namun aku berusaha menampiknya, memeriksa kembali semua isi tasku.
Kini Rama sudah berada tepat di depan kelas Mia, tubuhnya bersandar ke pintu sembari menatap punggung Mia yang sibuk mencari sesuatu yang hilang. Senyum miring Rama begitu khas membentuk dibibirnya, bersedekap sesekali melihat note book milik Mia.
"Cari ini" ucap Rama sembari menjunjung note book Mia.
Suara itu Mia sangat mengenalinya, pencariannya dihentikan. Tubuhku seketika kaku dan lidahku juga kelu. Begitupun pikiranku juga hancur, semua akan terbongkar sudah.
Aku membalikkan badan pelan, disini hanya ada aku dan Rama. Semuanya menghilang entah kemana termasuk para sahabatku yang kini berada di kantin. Hal yang sangat bagus karena masalah ini tidak melibatkan mereka lagi tetapi, tidak baik juga dikelas ini ada aku dan Rama. Bukan itu permasalahannya sekarang justru perbuatanku akan terbongkar disini. Aku menatap note book yang sudah berada di genggaman Rama, melihat raut wajahnya Rama yang tersenyum miring. Langkah kakiku mendekat begitu pelan, Rama melemparkan benda itu ke lantai dengan kasar. Note bookku terperosot di lantai hingga mengenai ujung kakiku. Aku mengambilnya dengan penuh ketakutan tapi cukup jangan ketakutan yang melanda dirimu. Cari tahu mengapa note book ini berada di tangannya.
"Kamu yang bikin mobilku kotor hah?" tanya Rama to the point dengan nada menghardik dihadapan Mia.
Suara Rama terdengar hingga ke luar ruangan, membuat mahasiswa mencari sumber suara. Kini kelasku yang semulanya sunyi berubah menjadi ramai mengelilingi kita berdua, bahkan ada yang menanyakan apa yang terjadi. Aku menjadi yakin bahwa kejadian kemarin itu ulah Rama, ucapannya membuatku begitu yakin.
"Kalau iya memang kenapa hah? Masalah bagimu!" Hardikku tak mau kalah dengan lelaki yang ada dihadapanku.
"Oh jadi kamu yang kemarin sengaja nabrak genangan air terus terciprat ke pakaianku. Ya kan?" tanya balik kepada Rama.
Semua mahasiswa sibuk menyimak pembicaraan kami, aku menjadi pusat perhatian bagi para cewek pengagum Rama yang sudah menatapku sinis. Tatapanku terus menatap berada disekelilingku, mendapati ada beberapa mahasiswa yang sengaja mengambil video ataupun gambar tanpa seizinku namun bukan itu fokusku. Karena fokus utamaku adalah Rama, aku tak peduli berapa banyak orang menyebar kejadian hal ini ke semua orang. Aku akui posisiku kini yaitu benar.
Kini raut wajah Rama berubah drastis, setelah pertanyaan itu terlontar ke telinganya.
"Kalau iya kenapa? Kamu mau marah sama dia hah?" tanya Friska menghardik datang dari balik pintu, mahasiswa yang berada disana memberikan jalan kepada Friska. Kini Friska mengalungkan tangannya ke lengan Rama, semua para cewek iri kepada Friska dan ada yang juga geram justru aku merasa muak melihat tingkah mereka yang sok tebar keromantisan terutama Friska.
"Itu akibatnya kamu mencari masalah ke dia. Karena aku tidak tinggal diam melihat orang yang aku sayangi, dijatuhkan harga dirinya. Mengerti" Ucap Friska.
Aku semakin dibuat geram hingga kedua tanganku mengepal karena ucapan Friska kini diriku menghampirinya dan bersiap mengacak rambutnya. Pertengkaran antara aku dan Friska pun terjadi, semua mahasiswa semakin riuh karena pertengkaran yang jarang terjadi.
"Ayo Mia pasti bisa"
"Friska jangan mau kalah"
"Lawan, lawan"
Pesanan sudah berada dihadapan mereka, tidak terkecuali Mia. Mereka senantiasa menunggu kedatangan Mia, semua pada sibuk dengan ponselnya. Ketiga ponsel mereka serempak menampilkan layar postingan dari salah satu mahasiswa disini, memperlihatkan pertengkaran Mia yang terjadi di kelasnya. Paling gawatnya adalah Mia kembali dihadapkan lagi dengan Rama dan Friska.
"Mia" ujar mereka serempak. Kemudian mereka beranjak pergi dari tempat duduknya, meninggalkan pesanan.
"Ibu kami titip makanan ya" Ucap Sekar, tak menghiraukan Ibuk kantin mendengarkan ucapannya atau tidak kini yang terpenting adalah kondisi Mia.
Langkah mereka begitu cepat, fokus mereka saat ini adalah Mia.
Rama yang berada disituasi tersebut, semakin kebingungan. Friska menjabak dan menarik rambutku, tidak mau kalah aku pun mencakar wajahnya dan menarik rambutnya pula.
"Cukup!!!" teriak Rama berusaha mengakhiri perkelahian ini. Suara yang menakutkan dan bergema sontak saja semua mahasiswa yang berada disana terdiam, aku dan Friska menghentikan perkelahian. Kini rambutku dibilang sudah tergerai indah meski sedikit berantakan.
"Ini urusanku dengan dia, Friska. Mengerti!" hardik Rama kehadapan Frsika sembari meraih pergelangan tanganku. Aku rasakan genggamannya begitu kuat, tidak tinggal diam aku pun meronta. Berusaha melepaskan cengkraman tangannya yang begitu kuat dan kekar.
"Lepasin aku" pintaku
"Tidak sebelum kamu bertanggung jawab!" hardik Rama dengan tatapan melototnya.
Dia pun menarikku kuat, kami berjalan melewati kerumunan mahasiswa disana. Meninggalkan Friska dengan raut wajahnya yang jengkel dan kecewa. Aku dan Rama berhasil keluar dari ruang kelasku, tidak tahu kemana aku akan dibawa. Aku terus meronta, sesekali memukul lengan Rama dengan kuat.
"Rama!!!" teriak Sekar.
__ADS_1
Langkah lelaki dihadapanku terhenti karena seseorang memanggilnya, begitu juga dengan diriku dan menghentikan pukulan ke lengannya. Kami menoleh, mendapati Sekar, Rena dan Dila menghampiri kami.