aku & perasaan ini

aku & perasaan ini
Part 4


__ADS_3

Kami menoleh, mendapati Sekar, Rena dan Dila sudah berada dihadapan kami. "****** aku, kenapa mereka datang. Aku tidak mau mereka ikut terlibat dalam masalah ini" Ucap batinku. Aku tidak bisa berbuat apa hanya bisa pasrah diri dengan keadaan, semua ini juga karena ulahku. Tetapi, balas dendam tetaplah balas dendam. Mahasiswa yang berada di kelas berhamburan keluar kelas begitupun Friska yang menatap sinis kami semua sambil bersedekap. Aku tidak menghiraukan hal itu justru kedatangan sahabatku menjadi masalah besar saat ini.


"Lepasin dia!" Perintah Sekar.


Rena dan Dila berada dibelakang Sekar hanya mengangguk, tatapan tajam Sekar tertuju pada seorang laki-laki lain tidak bukan dari Rama si Ketua BEM yang berada dihadapannya.


"Bukan urusan kalian" Jawab Rama sembari membalas delikan mata ke Sekar lalu beralih kepadaku yang saat ini aku menatapnya ketakutan. Rama kembali menarik pergelangan tanganku, hendak melangkah tangan Rama tertahan karena Sekar.


Rama kembali menatap tangan Sekar menggenggam erat lengan Rama. Ia pun menepisnya kasar. Sekar berkata "Urusan Mia adalah urusan kami juga". Aku tidak pernah melihat tatapan dan ucapannya yang sungguh-sungguh. Aku sangat menyayangi mereka, melebihi dari teman siapapun.


"Urusanku dengan Mia bukan dengan kalian. Mengerti?"


Dila dan Rena sudah dibuat ketakutan akibat sikap dingin Rama, Rena menarik lengan baju Sekar. Justru tidak untuk Sekar, lebih memilih melawan daripada merelakan. Sekar menepis tangan Rena, mereka berdua tidak tahu harus berbuat apalagi.


"Masalah apa yang sudah Mia lakukan hah?" Tanya Sekar.


Pertanyaan yang sangat ringan untuk dia jawab, Rama tersenyum miring. "Ini masalah besar jika mereka tahu. Tetapi posisiku juga benar jadi untuk apa takut" Ucapku didalam batin. Pikiran dan Hati saling beradu argumen hingga sulit untuk menampiknya.


Rama melepas cengkraman pergelangan tanganku namun ia malah mendorongku ke hadapan Sekar, Rena dan Dila.


"Silahkan dijelaskan kehadapan mereka" ucap Rama.


Kini aku tidak bisa berbuat banyak, sungguh keadaan yang sangat mendesak. Aku menundukkan kepala sambil memainkan kedua jari tanganku. Memang ini salahku sekaligus pembalasan aku atas apa yang telah dia perbuat kemarin.


"Ini bukan salahku tapi salah dia, dia kemarin sengaja menabrak lubang yang berisi genangan air. Apa yang kalian duga? semua pakaianku basah karena ulah dia tau." Ujarku berusaha mencari posisiku yang memang benar.


Aku menatap wajah Rama, dia hanya menampakkan senyum miring itu lagi. Andai dia bukan orang penting di kampus ini, sudah ku tampar wajahnya. Dia malah cengengesan karena mendengar ucapanku yang membantah dan mencari kebenaran bukannya mengakui kesalahanku.


"Iya jelas aku nggak mau tinggal diam, untungnya aku tau nomer plat mobilnya. Dan ternyata mobil itu adalah... " Ucapku terpotong. Rama meraih pergelangan tanganku disaat menyakinkan bahwa aku tidak salah dihadapan mereka, menarikku keras dan memaksa untuk melangkah bersamanya.


"Sekar, Dila, Rena. Tolongin aku" pintaku kepada mereka yang semakin menjauh. Hendak mereka ingin mengejarku namun Friska menghentikannya. Aku bisa liat langkah mereka terhenti dan menoleh ke arah Friska akan tetapi, selanjutnya aku tidak tahu apa yang mereka ucapkan. Aku hanya berpasrah diri sebelum belokan menenggelamkan bayangan mereka semua dari pandanganku.


"Rama, lepasin aku!" bantahku sembari memukul tangan kekarnya.


"Diam!!!" hardik Rama kepadaku.


Aku dibuat terkejut dengan nada berat dan keras itu, seorang Mia tidak akan diam apalagi pasrah. Terus mencari cara agar kabur dari hadapannya, sepintas sebuah ide mengarungi pikiranku. Aku mengigit keras tangan Rama, sontak saja dia kesakitan.


"Awww" erangnya kemudian melepas genggaman tanganku.


Secepat kilat aku kabur, berlari tanpa menoleh ke belakang.


"Woe, jangan kabur!!!" Teriak Rama mengejarku sembari memegang tangan yang sengaja aku gigit.


Sesekali aku menoleh ternyata Rama sudah berada tepat di belakangku, berusaha ingin meraihku. Kami seperti di film kartun tom and jerry, mengejar mangsa. Keramaian mahasiswa yang berada di koridor gedung kampus ini, aku menelusupkan tubuhku. Berusaha tubuhku ini terbebas dari keramaian itu, mendorong mahasiswa yang menghalangi jalanku. Alhasil aku terbebas kini aku sudah berada jauh dari keramaian itu, napasku tersengal dan keringat mengalir didahiku. Aku memutuskan untuk beristirahat sejenak karena Rama juga tak muncul dari manusia ramai disana, kedua tanganku bertumpu pada kedua lutut kakiku sampai sedikit membungkukkan badanku. Mengelap setiap tetesan keringat dengan tanganku, mengatur napas sebisa mungkin agat tetap rileks. Tak lama kemudian suara Rana terdengar, aku menoleh lagi dan benar saja Rama sudah berhasil melewati keramaian itu. Sungguh, ini diluar dari nalarku.


"Jangan kabur!!!"

__ADS_1


Aku menghentikan istirahat ini, beralih dengan kejar-kejaran. Berlari lagi dan melewati belokan, seketika tubuhku tertubruk oleh badan seseorang yang tak aku kenal. Tubuhku tersungkur ke lantai.


“Awww” erangku.


Aku memandang seseorang dihadapanku dari ujung kaki hingga tatapan kami bertemu, ia tersenyum padaku sembari mengulurkan tangannya. Wajahnya terbilang biasa saja tetapi ada yang istimewa dari dirinya yaitu lesung pipinya di sebelah kanan menambah senyum manisnya dua kali lipat, sedetiknya aku terpaku menatap senyumnya. Sungguh dia laki-laki termanis yang pernah aku temui.


“Oh rupanya disini.” Ucap suara yang aku kenal dan berhasil membuyarkan lamunanku.


Aku menoleh ke belakang, mendapati Rama sudah berada di belakangku. Alhasil aku tertangkap basah. Ia menarik pergelangan tanganku dengan paksa, sempat memberontak namun Rama menatapku dengan tatapan mendelikya. Ngeri jika dipandangan, laki-laki dihadapanku mengurungkan niatnya untuk membantuku berdiri. Kedua tangannya masuk ke kedua saku celana, memperlihatkan stylenya yang santuy alias santai.


“Ayo!” hardiknya.


Rama menyeretku meski aku berusaha menahannya. Aku menatap laki-laki itu dengan memohon, kedua matanya tersirat bahwa dia orang yang baik. Rama terus memaksaku namun hendak kami beranjak dari tempat itu, tiba-tiba tangan laki-laki menahan tangan kekar Rama. Rama sendiri sedikit terkejut mendapati reaksi dari orang lain yang ikut campur dengan urusan di dalam masalahnya dan diriku.


“Jangan kasar sama cewek” ujar laki-laki yang kini sudah berada dihadapanku.


Langkah kami terhenti, aku memandangnya kagum bahwa ia mau membantuku. Sungguh ini mimpikah, terpesona dengan responnya yang peduli akan wanita.


“Kau siapa? Beraninya ikut campur urusan kami berdua” ujar Rama sembari menoleh dan menatap laki-laki itu.


Tangan Rama terlepas, aku mengelus pergelangan tangan yang bisa dikatakan memerah. Tangan laki-laki itu juga melepas cengkaramannya kini Rama malah mendekat kepada laki-laki dihadapannya. Okay, ini perseteruan yang tak baik untuk mereka saling memancing emosinya dan berujung perkelahian. Tetapi, Rama tidak akan melakukan itu karena aku tau dia adalah orang yang berpengaruh di kampus ini. Tak sembarangan juga Rama akan berkelahi di kampus ini, bisa-bisa namanya tercap tidak baik pula.


“Aku Brasmasta Wiguna, mahasiswa Ekonomi. Aku tau siapa kau tapi berikan contoh yang baik ke mahasiswa lainnya. Perlu kau ingat perlakukan wanita seperti kau memperlakukan Ibumu. Mengerti” pesan Bram kepada Rama.


Rama merespon dengan senyuman miring yang begitu khas melekat di dalam dirinya, sesekali berpaling ke arah lain.


Apa yang terjadi? Justru laki-laki itu mengangguk membenarkan pernyataan dari ucapan yang terlontar dari mulut Rama.


“Bukan itu, tapi…” ucapku terpotong lagi karena Rama menyeretku dari tempat itu.


“I-ni se-mua sa-lah di-a” ucapku terpotong-potong diakibat langkah kaki Rama yang begitu panjang dan aku berusaha mengimbanginya.


Aku terus memandang Bram, dia hanya berdiri masih di tempat itu. Ekspektasi ia akan mengejar dan menolongku akan tetapi, realitanya nihil. Kini tak ada yang bisa menolongku, nasibku sekarang ada ditangan laki-laki keras kepala dan dingin. Aku menghembuskan napas berat, menundukkan kepala. Aku melihat mahasiswa lainnya menatap sinis, hal ini yang tak bisa didapatkan dari siapapun untuk diperlakukan seperti ini oleh orang familiar di kampus.


Tidak ada sepatah kata yang keluar antara aku dan dia selama perjalanan menuju parkiran, hanya paksaan yang didapat jika terlepas maka tertangkap lagi.


Sebenarnya posisiku saat ini benar tetapi mengapa semuanya terasa seakan aku yang paling bersalah. Sampainya diparkiran, Rama melepas cengkramanku. Aku sudah tau bagaimana kondisi naas mobilnya yang ternyata pelakunya adalah Rama, memandingi mobilnya dipenuhi sampah. Tidak lupa tulisan indahku mengukir diatas kap mobil milik si laki-laki batu dan dingin, mengingat kejadian kemarin. Ketakutanku berubah menjadi tawa, aku tertawa terbahak-bahak sembari memegang perutku. Ekspresi wajah Rama seketika berubah menjadi datar, mungkin dia merasa jengkel. Itulah yang aku inginkan, tawaku semakin meredup semakin berhenti. Wajahku berubah datar seperti apa yang dia tunjukkan kepadaku. Aku mendekat kepadanya, bersedekap bahwa saat ini aku benar menantang ketidakadilan ini.


"Apa yang kau inginkan?" ucapku dihadapannya sedikit menengadahkan kepalanya untuk bisa menatap wajah Rama.


Rama mendekatkan wajahnya, sontak saja aku terkejut. Aku memundurkan jarak antara wajahku dengan wajahnya, menatap kedua bola matanya.


"Rama" ucap Bimo berada tak jauh dari kami.


"Aku ingin kau..." ucapnya terpotong karena laki-laki lain memanggil Rama, mungkin lelaki itu mengenal dan dekat dengan Rama. Kami berdua menoleh ke Bimo, Rama menghampiri Bimo.


"Kenapa lama banget? Itu pembina udah marah minta suratnya" ucap Bimo namun sejenak terdiam melihat diriku, Rama juga melihatku dan beralih ke Bimo lagi.

__ADS_1


"Bukannya Friska pacarmu?" tanya Bimo. Aku mendengar percakapan mereka.


"Masalah itu bukan masalahmu juga, aku masih ada urusan dengan perempuan tidak bertanggung jawab itu" Ucap Rama.


Emosiku terpancing oleh ucapan Rama yang terbilang menjengkelkan itu.


"Astaga. Kenapa sama mobilmu Rama?" tanyanya sekali lagi setelah melihat mobil Rama yang kotor.


"Dialah pelakunya" tunjuk Rama.


"Bukan aku, tapi dia yang memulainya duluan!" gertakku tak terima dia berusaha menyalahkanku secara terus menerus.


"Aku titip surat ini, setelah urusanku dengan perempuan itu selesai. Aku menyusul" ucap Rama sembari memberikan surat itu, tidak tahu surat apa yang jelas bukan urusanku.


Bimo mengangguk saja menggenggam surat itu kemudian berlalu begitu saja menyisakan kami berdua, setelah semua beres antara Bimo dengan Rama. Dia menghampiriku, meraih pergelangan tanganku. Menyeretku lagi.


"Apa-apa sih? Lepasin!!!" hardikku kehadapan Rama.


"Oke, oke aku lepasin tanganmu" ucap Rama sembari mengangkat kedua tangannya.


Aku menatap wajah Rama begitu lekat kini suasana hatiku sedang tidak bersahabat. Akan tetapi, Rama tidak mengubrisku. Hendak melangkahkan kakiku, tangan Rama menghalangi jalanku.


"Urusan kita belum selesai" ucap Rama memperingatiku. Wajah kami saling menatap, bukan menatap saling suka namun menatap saling benci.


"Apa yang belum selesai? Semua sudah adil kan. Kau mendapat akibatnya karena kaulah yang kemarin sengaja melakukan itu bukan. Jangan memulai jika kau tidak ingin seperti ini. Lalu kenapa kau marah?" Tanyaku sembari bersedekap dan berhadapan dengannya.


Dia pun menurunkan tangannya, memasukkannya kembali ke dalam saku celana. Lalu berhadapan dengan ku, Rama ingin berbicara namun aku menghentikannya.


"Tunggu, tunggu. Jika kau seperti diriku, apa yang akan kau lakukan? hmm paling hanya berdiam diri" kekehku.


Rama tidak mengubris semua omonganku. Tiba-tiba Rama meraih pergelanganku dan menarikku untuk masuk ke dalam mobilnya, aku pun terus melawan. Dia terus berusaha memasukkanku ke dalam dengan paksaannya, memasangkan sabuk pengaman begitu kuat. Kemudian menutup pintunya dengan keras, jari kelingking dan telunjuk membentuk huruf V dari menunjuk ke arah matanya lalu ke arah kedua mataku saat dirinya beralih ke tempat duduk pengemudi.


"Tolong bukakan pintunya!"


Rama sudah terduduk disampingku, dia tetap tidak menghiraukanku. Aku terus memukul-mukul kaca jendela mobilnya, dia merasa tidak terganggu. Semakin dibiarkan akhirnya Rama geram dengan kelakukan Mia.


“Diam!!!” Hardiknya.


Sontak saja aku dibuat kaget, lalu bungkam. Rama melajukan mobilnya dan meninggalkan kampus. Pikiranku dibuat terus menebak-nebak dengan kemana aku akan dibawa. Selama perjalanan tidak ada sepatah kata yang terucap dari bibir kami, kemudian ponsel Rama berdering. Rama terus mencari-cari kemana letak ponselnya yang terus berdering, ia baru ingat bahwa ponselnya berada di tas dan di letakkan di kursi paling belakang. Jalan Kota yang begitu macet akan kendaraan yang menghimpit mobil Rama sehingga Rama pun sulit untuk minggir ke sisi jalan mengambil ponselnya. Bukan hanya itu, Rama ingin cepat pergi dari jalan raya ini karena melihat kondisi mobilnya yang sangat buruk. Sepasang-sepasang mata sesekali memandang mobil dirinya, aku pun merasakannya sendiri.


“Ini semua gara-gara kamu” ucap Rama sembari mendekatkan wajahnya kepadaku.


“Lah kok aku, itu bukannya kamu yang memulai hah!” sergahku dan ikut membalasnya.


Bisa dikatakan wajah kami tinggal beberapa inci untuk saling menempel. Bukannya terfokus pada ponsel Rama yang terus berdering namun mereka malah berdebat sesuatu hal yang tidak ada yang ingin menurunkan egonya. Sempat berhenti sejenak, ponsel milik Rama kembali berdering lagi. Menyadari hal itu, kami menjauhkan wajah. Rama fokus pada jalan yang hanya bergerak perlahan seperti siput namun terkadang berhenti begitu lama. Diriku memandang pengamen yang sedang mengamen di mobil kami, mereka masih anak kecil dan dari tampang wajahnya mereka seperti bersaudara. Pakaiannya yang kusut, kotor dan robek hingga rambut yang tidak tertata rapi. Dalam benakku terketuk rasa iba melihat kondisi seperti ini, dibawah terik matahari dengan bermodalkan barang rongsokan yang di sulap menjadi alat music serta suara seadanya menjadikan hal tersebut sungguh di butuhkan oleh mereka. Rama terus berusaha mengambil tasnya akan tetapi tidak berhasil juga. Sejenak aku melihat tingkah laku Rama seperti itu, ia pun terpaku aku menatapnya.


“Kalau mau minta bantuan ya tinggal ngomong aja, begitu kan jadinya susah sendiri” ejekku sembari meraih tas milik Rama dan mengambil sebuah ponsel yang sedari tadi terus berdering tiada henti. Ibarat kicauan burung pagi hari yang enak didengar namun justru ini sangat mengganggu. Sesudah aku meraihnya, menampilkan layar ponsel bertuliskan “My Honey”. Mungkin mereka sudah ditakdirkan untu bertemu dengan watak si alay dan lebay, masih syukur honey kalau sampai papa mama. Pastinya aku akan tertawa terbahak-bahak di depan Rama. Rama pun meraih ponselnya dari tanganku dengan kasar, dan menekan tombol. Lalu menerima telepon.

__ADS_1


__ADS_2