aku & perasaan ini

aku & perasaan ini
Part 2


__ADS_3

Perkuliahan dari pak Darmo sudah usai, mahasiswa di kelasku berhamburan keluar. Ada yang masih stay berburu wifi, ada yang main game, ada yang masih kumpul, dan ada pula yang kembali ke rumah mereka sedangkan kami berempat memilih mencari kantin. Ini karena rengekan dari Rena dan Dila, memang aku akui mereka memiliki porsi makan yang besar namun tubuh mereka tetap kurus. Dibandingkan aku, makan melebihi dari porsi saja sudah merasakan sesak apalagi bajuku akhir-akhir ini mulai mengecil. Jalan satunya hanya diet, diet itu bukan berarti menyiksa diri yang tidak makan nasi selama beberapa hari. Itu hanya kesalahpahaman, diet itu menggantikan kandungan gizi didalamnya yaitu karbohidrat yang biasanya di dapat dari nasi diganti menjadi kentang. Ups maaf aku banyak menjelaskan agar kalian tahu juga.


Sesampainya kami di kantin, Sekar langsung bergerak memesankan makanan dan minuman untuk kami.


"Kamu tidak tahu yang kamu ajak tadi adu mulut itu..." potongnya.


"Ketua BEM di kampus ini" jawabku sangat malas.


Rena dan Dila mengangguk karena aku sudah mengetahuinya.


"Dan kekasihnya itu anak salah satu dosen di..."


"Kampus ini juga kan" jawabku.


Mereka berdua saling menatap dan kembali menatapku. Aku hanya sibuk memainkan handphone namun tetap menjawab.


"Kok kamu bisa tahu, Mia?" tanya mereka kompak.


Ini jawaban yang dianggap mereka serius, aku mematikan handphoneku dan menatap mereka. Sebelum menjawab, Sekar sudah mendekat dan mendorong kursi ke belakang tepat berada disampingku.


"Mahasiswa disini mana ada yang tidak tahu Ketua BEM dan anak-anak dosen, ibarat pasir pantai terdapat cangkang mutiara. Pasir pantai hanya untuk mahasiswa biasa dan cangkang mutiara yang didalamnya mutiara khusus mahasiswa terkenal. Seperti itulah" jelas Sekar sembari duduk disampingku.


Aku pun setuju menanggapi hal tersebut, Rena dan Dila hanya ber-oh saja sambil saling menatap. Setelahnya itu, pesanan kami sudah datang. Kini aku, Dila, Rena dan Sekar menikmati makanan dan minuman yang kami pesan. Dila dan Rena begitu sangat lahap tak terkecuali Sekar yang sibuk memainkan handphone pribadinya. Belum suapan kedua sontak saja Sekar sedikit terkejut. Akupun dibuat penasaran dan juga Dila apalagi Rena.


"Kenapa, kar?" tanyaku sembari menghentikan suapanku.


"Coba deh, cek handphone kalian masing-masing. Di instagramnya" ujarnya gagap.


Karena rasa penasaranku dikalah oleh rasa laparku, aku mengikuti suruhan Sekar. Meraih handphone, mengklik aplikasi instagram. Benar saja halaman pertama yang muncul adalah rekaman kejadianku tadi siang dengan si cowok manusia dingin dan si cewek lebay itu. Beredar dari satu mahasiswa dan diikuti oleh mahasiswa lain, aku tidak menyadari sebanyak ini akan ada yang merekam kejadian tadi. Aku tersulut oleh rasa emosiku dengan caption yang sangat menjengkelkanku, berdiri dan menghentikan makanku.


"Kamu mau kemana Mia?" Ucap Sekar sambil mencekal pergelangan tanganku saat hendak ingin pergi.


"Aku mau bertanya apa maksud dari video itu dan ingin tahu siapa dalang dibalik akun itu" ucapku tanpa memandang Sekar.


Mereka bertiga sangat mengkhawatirkanku, kejadian ini menguji kesabaranku. Sekarpun terbangun dari duduknya.


"Ini memang ujian untuk kesabaranmu, Mia tapi apa tidak ada salahnya membiarkan semuanya itu dan menanggapi hal itu dengan masa bodohmu. Bisakan?" ujar Sekar sembari mengelus punggungku.


Kalau dipikir, memang benar. Jika aku mengikut rasa amarahku, mungkin akan lebih besar masalah ini dan tidak akan berujung. Aku pun mengalahkan rasa emosiku, rasanya berat memang tapi demi kebaikanku juga. Menghembuskan napas berat dan kembali duduk.


"Maafin aku ya" pintaku.


"Bukan seharusnya kamu minta maaf ke kita tapi kamu harus minta maaf kepada diri kamu sendiri" Ujar Sekar diikuti anggukan oleh Rena dan Dila. Mereka tersenyum sumringah, aku membalas senyum mereka.


Akhir-akhir ini aku merasa sedikit berbeda, dimulai dari emosiku kian cepat terpancing hingga egoku yang tidak pernah ditawar. Bertemu dengannya ada rasa tenang dijiwa, tatapannya maupun ekspresi wajah datar mengisyaratkan makna dari sifat dinginnya. Lalu mengapa dia bisa menjadi pemimpin mahasiswa di kampus ini? Apa sifat dinginnya yang disukai oleh banyak mahasiswa? Apa sikap plus dari dirinya? Entahlah. "Mia mengapa kamu malah memikirkan si cowok dingin itu?" ucapku dalam batin.


Hujan sudah reda, mentari kian menyapa bumi. Langkah kaki ku terus berpijak, berpikir tentang kejadian tadi sembari menendang krikil. Kadang aku berjalan kaki kadang pula berboncengan dengan sahabatku namun kini aku lebih memilih jalan kaki karena mood dan juga jarak antara kampus dan kostku tidak begitu jauh.


"Sayang nanti malam kita keluar yuk" rayu Friska sembari mengalungkan lengannya ke lengan kekar Raka.

__ADS_1


Raka yang fokus membawa mobilnya hanya diam mendapat perlakuan lebay dari Friska.


"Kemana?"


"Iya ke tempat yang kamu sukai"


"Tidak" ucap Raka datar.


"Hmm kenapa sih diajak keluar selalu tidak mau?" gerutu Friska sembari bersedekap dan bibirnya mengerucut.


Raka tidak mengubris sikap Friska yang kekanak-kanakan seperti itu, nyatanya umur Friska sudah dewasa. Seketika Friska dan Raka melihat dari kejauhan Mia berjalan kaki. Terlintas sebuah ide mencuat di otak Friska, ia mendapati lubang cukup besar yang digenangi oleh air.


"Apa yang akan kamu lakukan melihat si pembuat masalah berjalan kaki?" tanya Friska kehadapan Raka dengan senyum miringnya.


"Terobos genangan air itu?" tanya Raka menoleh ke arah Friska seolah-olah dirinya mudah menangkap apa yang pikirkan oleh kekasihnya.


Friska menganggukkan kepalanya justru Raka meragu dengan keputusan kekasihnya. Kemudian Raka menatap punggung perempuan pembuat masalah tadi siang.


Akhirnya Raka menancapkan pedal gas mobilnya, mengarah ke lubang berisi genangan air. Saat itu pula Mia terciprat oleh genangan air dan membasahi pakaiannya.


Friska terpelongo mendapati Raka yang setuju dengan keputusannya, menatap tak percaya.


"Aku suka keputusanmu sayang" ucap Friska.


Raka merasa puas dengan apa yang sudah dilakukannya, dirinya tersenyum miring sesekali melihat Mia yang sudah basah lewat spion mobil. Bukan hanya Raka justru Friska juga sangat senang dengan keputusan Raka dan melihat Mia menderita.


"Heiiii!!! Bawa mobil pakai mata. Heii tunggu!" hardikku sembari mengejar mobil itu semampuku.


Raka melihat Mia mengejar mobilnya malah meningkatkan kecepatannya. Aku tidak kuat lagi untuk mengejarnya, napasku tersengal-sengal. Kedua tanganku memegang kedua lututku yang menjadikan tumpuan, melihat dengan cermat nomer plat mobil itu dan mengingatnya. Sebelum akhirnya mobil itu menghilang dari pandanganku. "Awas mobil itu ketemu lagi, tunggu saja pembalasannya" gerutu batinku. Tidak akan pernah tahu kapan mobil itu akan bertemu lagi, namun keyakinan ku tetap pasti akan bertemu dan membalas semua perbuatannya. "Tunggu saja nanti" Terlalu khayalan jika sampai percaya bisa bertemu dengan sesuatu hal.


Sesampainya aku di kost tanpa dipikirkan lagi, aku menghampiri kamar mandi karena tidak kuat menahan bau badanku. Menikmati setiap tetesan air mengucur dari shower hingga membasahi tubuhku, semerbak harum bunga mawar dari soapwash menyerap tiap pori-pori kulitku.


Setelah beberapa menit, tiba-tiba handphoneku berdering. Secepatnya aku keluar dari kamar mandi yang untungnya sudah memakai pakaian. Belum sempat melangkah, kakiku tersandung oleh teras kamar mandi. Tubuhku tersungkur ke lantai, cepat terbangun untuk menggapai benda kecil yang sudah berbunyi sedari tadi. Meraih tas ransel dan mencari-cari benda itu. Ketemu. Nama Brian tampil di layar Video Callku. Segera aku menggeser simbol video. terhubung.


Kini aku dan Brian saling bertatapan wajah meski dihalangi oleh jarak. Aku duduk di tepi ranjangku, berusaha mencari posisi yang pas agar terlihat sempurna dimata Brian.


"Kenapa lama banget angkat video callnya sayang?" tanya Brian.


"Maaf ya aku baru habis mandi, badanku kotor banget" keluhku sembari mengerutkan ujung alisku.


"Kenapa kamu sayang? Pasti ada masalah lagi ya?" tanya Brian sambil menebak.


"Tau tuh tadi waktu pulang ngampus, ada mobil entah sengaja atau tidak di sengaja ngelewati lubang isi kubangan air. Alhasil ya aku kena lah dan basah. Gimana nggak mau kesel sayang" gerutunya sambil memukul-mukul handphone miliknya.


Brian mendapati hal itu, ia mencoba menenangkan kekasihnya. Berusaha mengelus-elus kepala sang pacarnya meski itu hanya sekedar bayangan saja.


"Sudah, jangan dipermasalahin lagi. Siapa tahu sopirnya itu sudah tua jadinya dia tidak sengaja" Ujar Brian lembut sembari mengelus.


Akhirnya aku pasrah, memang benar apa yang dikatakan Brian. Kalau sopir itu sudah tua dan tidak sengaja. Apa aku pantas memarahi orang yang dituakan? Pikiran itu selalu terngiang hingga aku menghembuskan napas berat dan tertunduk.

__ADS_1


"Apa kamu sudah tenang sekarang? dan mengikhlaskannya?" Ujar Brian yang membuyarkan lamunanku.


Aku mengangkat kepalaku sendiri, menatap Brian lekat-lekat.


"Terima kasih. Kamu selalu menjadi penyemangat bagiku"


Tersenyum. Itulah yang mampu aku lakukan demi Brian. Brian menyudahi elusan bayanganku disana dan balik tersenyum indah.


"Aku bukan hanya sebagai pasanganmu hari ini atau seterusnya tetapi juga harus bisa sebagai saudara dan sahabatmu pula yang selalu mendukung maupun menasehatimu, mendengar setiap keluh kesahmu hingga menuntunmu ke arah baik sampai tuhan memisahkan kita. Aku akan tetap berusaha karena itulah prinsipku" ujarnya menyakinkanku.


Aku semakin dibuat terpelongo akibat ucapannya yang benar-benar tulus, hatiku kini berdesis. Merasakan cinta yang sesungguhnya dari seseorang dari sejak lama bersamanya. Sekali lagi Brian tersenyum justru aku malah memasang wajah berkaca-kaca, mungkin Brian mengetahui ekspresi wajahku saat ini.


"Kamu kenapa sayang?" tanya Brian sedikit khawatir.


"Aku tidak apa-apa kok" jawabku sembari memalingkan kamera dan memasukkan kembali air mata yang belum sempat mengalir.


"Yakin? Perlu aku kirim jiwaku ini untuk menemanimu disana?" ucapnya gombal.


"Memang bisa?"


"Bisa asal kamu mau"


"Nanti kamu tidak hidup dong"


"Asal jiwaku ada disisimu, menemanimu selamanya maka raga ini tak ada gunanya lagikan"


"Ih kamu apaan sih sayang, jangan ngomong gitu dong" ujarku sedikit kesal.


Respon Brian malah terkekeh sampai handphonenya terombang ambing. Bisa kudengar tawa itu, aku pun ikut bahagia merasakan hal ini. Setelah semua serasa berhenti tertawa, Brian mulai angkat bicara lagi.


"Tadi dikampus gimana sayang?" tanya Brian.


Brian bertanya hal seperti itu, seketika aku mengubah posisi menjadi tidur terlentang sambil menyilangkan kedua kaki. Wajahku tetap stay by dengan layar video call.


"Tadi itu dikampus aku bertengkar" ucapku nada polos.


Brian tersentak diam sekaligus kaget mendengar pengakuan dari kekasihnya. Aku hanya mampu diam dan mengalihkan pandanganku ke bawah.


"Kamu bertengkar sama siapa? Kenapa bisa bertengkar? Apa masalahannya? Tapi kamu tidak apa-apa kan?" tanya Brian bertubi-tubi secara akan siap mengintograsi diriku.


Aku pun menarik napas dan menghembuskannya dengan berat. Banggaku hanya bertahan sesaat tetapi rasa dendamku akan selalu aku kenang meski ada sedikit penyesalan.


"Aku bertengkar sama anak Pariwisata dan dia juga ketua BEM di kampusku, permasalahannya karena dia yang tidak liat aku lagi bawa nampan isi pesananku dan sahabatku yang cukup banyak. Kalau aku sih tidak apa-apa meski ada sedikit adu mulut sama mereka dan saling jambak dengan pacarnya yang sok lebay itu. Dan paling ngeselin banget dia malah tidak minta maaf karena ulahnya" ujarku sedikit kesal mengingat kejadian itu.


Bibir Brian membentuk O menandakan ia sudah mengerti dengan permasalahan yang menimpa kekasihnya.


"Iya sudah. Jangan dipedulikan orang kek gitu, artinya dia tidak tahu intropeksi diri" nasehat Brian.


Aku hanya bisa mengangguk dan menyetujui pernyataan Brian. Hingga waktu tak terasa kami habiskan untuk mengobati rindu yang pernah tersimpan kini terluapkan juga. Menanti senja beralih ke malam.

__ADS_1


__ADS_2