
Pagi ini brisik sekali burung, alarm, telfon semuanya bunyi, seakan mereka semua enggan memberikan aku sedikit tambahan waktu untuk tidur. "Ah, sial. Udah jam 6 nih. Bisa telat nih gue, bodo amat lah. Lanjut tidur." terlintas di pikiranku, kumis tebal, kepala botak, hidung besar, mata melotot seakan mengawasiku, seketika aku beranjak dari tidurku, "Oh Pak kumisno, aduh bisa gawat nih."
Namanya Pak Misno, seorang guru Fisika, guru paling aneh yang pernah kutemui, punya riwayat penyakit mental mungkin, mungkin.
Sesat kemudian telfoku berdering, ternyata itu Iyan yang menelfon.
"Halo, Yan, lo di mana." Tanyaku.
"Di depan rumah lo, gue sama Kevin. Lo ingat kan hari ini pak Misno ada jam awal di kelas lo. Buruan, ini udah siang Yaa." Jawab Iyan dengan kesal.
"Iya iya, tunggu di situ."
Aku bergegas menghampiri kedua sahabatku itu.
"Ayo berangkat.p"
Kevin dan Iyan adalah sahabat terbaikku. Sahabat yang selalu ada saat senang maupun duka. Aku tak perduli tidak mempunya seorang teman perempuan, aku bersyukur kepada Tuhan di saat hidupku seperti ini, Tuhan masih mengirimkan dua orang gila untuk bersamaku......
Kami bertiga bergegas menuju sekolah, menggunakan mobil jeep rubicon dengan warna identik hitam.
...........
Seeeetttttt... Suara mobil kami berhenti di sekolah.
Seluruh mata menuju kami bertiga, ketika perlahan kami turun dari mobil dan berjalan menuju kelas masing-masing . Wajah mereka susah diartikan ntah seperti melihat preman pasar atau bak melihat bidadari khayangan.. Hahaha
"Vin, Yan, jam istirahat gue tunggu di tempat biasa."
"Siap Bos." Jawab serentak Kevin dan Iyan.
Setelah itu, jalan kami sudah berbeda. Oh iya Aku di kelas XI FISIKA 1, lalu Iyan dan Kevin di kelas XI BAHASA 2. Beda kelas namun tidak menjadikan perbedaan bagi kami.
Brughh.... "Aduhh" teriakku menahan sakit di bahu. Kulihat ada seseorang menabrakku, yang pergi begitu saja.
"Sial, awas aja lo gua cari sampai ketemu", gumamku kesal.
Ketika sampai dikelas, ternyata oh ternyata Si Pak Kumisno sudah duduk di kursi kebesaranya itu sambil memegangi kumisnya yang begitu lebat.... Ihhhh
Ketika kakiku melangkah, "perm....."
"berhenti"
"Anjir, bicara aja belom selesai udah dipotong." Batinku kesal.
"Giya, Giya, Giya. Jam berapa iniiii?" Tanya Pak Misno.
"jam 06.55 pak," jawabku.
"Kamu tau, kamu telat 10 menit."
"Yaelah pak, Giya belum telat. Jam pelajaran pertama itu dimulai pukul 07.00 Pak, bukan 06.45," jawabku kesal.
"Eh eh eh, Durhaka kamu sama Bapak, dibilangin kok jawab terus. Bapak sudah datang tepat waktu, seharusnya kamu datang lebih awal." Kata pak Misno.
" Dasar guru sinting, gila, miring", batinku kesal.
"Pakkkk.....Bapak tanya saya jawab. Bapak itu kepagian, bukan tepat waktu." Bantahku.
"Dasar guru sakit mental." Gumamku kesal.
"ahshfauaj agskaayajsmaj aiagsgsjav shavsjanshjavsnsvshsj avshanbsjsjajahsh hajajnansjs jshajshjab sgshahagag agsvnau atenanags...bla bla bla" Kata pak Misno tanpa henti.
Tak perduli ocehanya, aku segera duduk di kursiku bagian pojok belakang.
__ADS_1
"Sudah, Bapak capek ngomong sama Giya. Dinasehati malah tidak perduli," kata Pak Misno sambil ngos-ngosan.
"Anak-anak, hari ini kita ulangan harian 1" lanjut pak Misno.
"Baik pak" jawab mereka serentak.
.....................
"Driiingggggg, Dringggggg....." Suara dering yang menandakan tiba waktunya jam istirahat.
"Baiklah anak anak, semoga hasil ulangan kalian memuaskan. Dan kamu Giya, kalau sampai nilaimu dibawah 80 bapak kasih hukuman kamu." Ucapnya lalu beranjak pergi meninggalkan kelas.
Keluarnya Pak Misno, membuat teman-temanku berhamburan. Kulihat senyuman diwajah mereka seakan tidak ada beban sedikit pun. "Lalu kenapa aku tidak bisa seperti mereka?" batinku.
Aku pun segera menuju tempat dimana aku, kevin, iyan, dan anggota lain berkumpul. Ya itu gudang kosong bagian selatan sekolahku.
Rumornya gudang itu berhantu, ah aku tak percaya hal-hal seperti itu. Kenyataanya, aku tidak pernah melihat hantu. Biasa lah, setiap sekolahan pasti memiliki cerita horor tersendiri.
"Hai, Yaa".
"Hai, Vin. Iyan mana?" tanyaku.
"Iyan ada urusan, ntah apa urusanya." Jawab Kevin.
"Hai Bro" sapa anggota lain, yaitu Andi, Bagas, dan Reno, sambil menepuk pundakku dan Kevin.
"Duduk, duduk ada hal yang mau gua omongin sama kalian." Kataku serius.
"Apa Yaa?" tanya Kevin.
"kalian tau kan gengnya, si Fino anak XI Kimia 2?" tanyaku.
"Iya" jawab mereka serentak.
"Anjing emang si Fino, mentang-mentang anak pemilik sekolahan. Dia seenaknya sama anak-anak lain." Kataku dengan kesal.
"Nggak bisa di diemin ini Yaa. Kasih paham aja dia," lanjut Bagas.
"Besok, kita eksekusi si Fino and the geng di parkir pulang sekolah." Perintahku dengan tegas, "dan lo Vin, kasih tau Iyan perihal rencana kita." Pintaku.
"Siap Bos." jawab mereka serentak.
......................
Tak terasa, jam tanganku menunjukkan angka 04 sore. Bel sekolah pun berbunyi, Seluruh guru mengucapkan kalimat penutup di setiap kelas.
Bersamaan dengan itu murid-murid berhamburan menuju parkir dan bersiap menuju rumah masing-masing. Aku pun termenung, apa yang akan aku lakukan selanjutnya ketika sampai di rumah.
"Hmmm. Gue pulang atau nggak? mau hidup atau mati pun, dia nggak bakal perduli sama gue." batinku.
" Hai, Yaa. Ngelamun aja." Kata Iyan mengagetkanku.
"Ah, Elo Yan. Lo pulang aja duluan bareng Kevin. Gue masih ada urusan."
"Tapi Yaa, bener nih lo sendiri?" tanya Iyan.
"Iya Yan. Daahh"
"Daaahh"
Sepulang sekolah aku menuju sebuah cafe di pinggir jalan.
"Mas, Fruit Teanya satu ya." kataku memesan minuman.
__ADS_1
"Baik, sebentar ya mba." jawab pelayan cafe.
Tidak kurasa, hari semakin larut. Aku bergegas menuju rumahku, kulihat ada Ibu-Ibu yang sedang dijambret dua orang preman.
"Woi.... Beraninya sama Ibu-Ibu. Sini lawan gue," teriakku menantang.
"Songong banget, sana pulang ditunggu mak lo dirumah", jawab salah satu preman.
"HAHA HAHA"
"HAHA HAHA"
Melihat itu, aku menjadi geram. Tak perlu lama-lama, aku pun berlari dan menonjok muka mereka. Ku lampiaskan semua emosiku pada kedua preman itu.
"Brughhh.... Takkkk.... Brughhh"
Setelah pertarungan sedikit lama, Preman-preman itu lari terbirit-birit. Ya, walaupun aku sedikit babak belur.
"Ini buk tasnya", kataku sambil menyodorkan tas.
"Terima kasih nak. Seharusnya tidak usah di pukuli jambretnya. Kamu jadi terluka seperti ini", jawabnya sambil memegang pipiku yang memar.
"Tidak papa buk, sudah seharusnya saya menolong ibuk".
"Banyak sekali luka memarmu nak, ibu bawa ke dokter ya?", katanya mengajakku pergi ke dokter.
"Tidak usah bu.. Yasudah saya pamit pulang bu, sudah sore." jawabku singkat.
Setelah itu, aku pulang menaiki angkot. "Awww, ssstt, awww..... Banyak juga yang memar." Batinku sambil memegang pipiku yang memar.
Sesampainya di rumah, ada bik minah di depan rumah menungguku pulang.
"Ya Allah non, kenapa itu pipinya. Sini-sini bibik obatin," katanya sambil menariku masuk ke dalam rumah.
"Mamah mana bik, belum pulang ya?" tanyaku.
"Sudah non, tadi pulang terus berangkat lagi" jawabnya sambil mengobatiku.
"Loh loh, ada apa ini?. Kamu berantem lagi Yaa, emang anak nggak bisa diatur!".
"Mamah, kapan mamah pulang. Ini luka kar...."
"Nggak usah alasan, mamah muak sama kelakuan kamu". Kata mamah memotong kalimatku.
Mendengar itu, aku tidak jadi menjelaskan karena apa aku babak belur. Percumah, nggak akan percaya.
"Udah deh, nggak usah peduli sama Giya. Lagian ada Bik minah, yang selalu ada buat Giya. Apa mamah peduli sama Giya? Nggak kan. Mendingan mamah urusin tu kerjaan mamah" Kataku dengan nada sedikit membentak.
"Giya, keterlaluan kamu. Mamah ini.."
"Kerja buat Giya. Itu yang Giya denger setiap hari, Giya muak mah." Kataku memotong kalimat mamah.
Aku pun meninggalkan mamah dan menuju kamarku di atas.
"Giyaaa, Giyaaa, Mamah belum selesai bicara." teriak mamah menghentikanku.
Aku tak menghiraukanya, rasanya sakit melihat mamahku seperti itu. Aku menangis, tapi kenapa air mata tak kunjung jatuh. Hatiku sakit, aku merasa bersalah dengan bicara kasar padanya. Sudah tak tahan aku melampiaskan amarahku itu, ke dinding-dinding kamarku dengan menonjokinya.
"Arrrrggghhhhhhh."
Aku berjalan menghampiri foto. Sebuah foto yang memperlihatkan keluarga bahagia, ya itu Aku, Mamah, dan Ayah. kumeraihnya, kupandanginya, kuusap foto itu.
"Yahhh, Giya kangen. Jemput Giya Yahh, Giya udah nggak kuat hidup sama mamah." kataku sambil memeluk foto itu.
__ADS_1
....................,