
Ternyata capek juga di rumah sakit, padahal cuma empat hari rasanya seperti tahanan. Nggak boleh gini, nggak boleh gitu, harus gini, harus gitu, serba salah.
"Yaa, hari ini lo boleh pulang," kata Iyan.
"Yaudah deh, cepet-cepet pulang udah nggak tahan gue"
"Gue anter sampek depan pintu rumah lo" pinta Iyan.
"Ashiapppp"
Sesampainya di rumah, aku langsung menyuruh Iyan pulang. Kasihan selama aku di rumah sakit, yang selalu jagain aku itu Iyan, Udah kayak bodyguard.
"Lo pulang aja Yan, gue bisa masuk sendiri kok" pintaku.
"Ya udah, gue pulang dulu Yaa. Jangan lupa makan, minum obat, dan istirahat" ujar Iyan.
"Hmmm"
............
"Bik, Bik Minah?" teriakku memanggil Bik Minah.
"Non Giya. Ya allah non, kenapa seperti ini?" tanya Bik Minah, "terus udah lima hari non nggak pulang, bibik khawatir non."
"Iya bik, ceritanya panjang banget. Mamah mana Bik?" tanyaku.
"Nyonya.. Mmmm nyonya ke luar negeri, katanya ada client penting."
"Oh, ya udah. Bantuin Giya masuk kamar ya bik" pintaku.
"Iya non, mari."
Aku dibantu Bik Minah naik ke atas, sembari mengobrol "Bik Minah nggak dapet telfon dari Mamah ya?" tanyaku.
"Nggak non" jawab Bik Minah.
"Giya dari rumah sakit, mamah juga tau. Tapi nggak ngasih tau bibik" kataku.
"Mungkin nyonya masih sibuk non, jadi nggak sempet ngasih tau bibik" ujar Bik Minah.
"Ya udah deh bik, makasih ya."
"Iya non sama-sama, bibik turun dulu ya."
"iya bik."
Di dalam kamar, aku mondar mandir memikirkan apa yang harus aku jawab kalau mamah pulang.
"Astaga Giya, gue harus bilang apa kalo mamah nanya. Perkara kaya gini, ngga mungkin mamah biasa aja."
"Hmmmm Bodo amat lah, mending gue tidur siapa tau mimpi indah" ucapku, kemudian bersiap untuk tidur.
"Ya Tuhan, tolong kirimkan ayahku ke dalam mimpi" ujarku sambil memeluk foto Ayahku.
**
Tidak terasa matahari muncul kembali, padahal belum lama aku memejamkan mata.
"Huaaaaahhhh.... cepet banget udah pagi aja."
"Bosen di rumah, apa gue berangkat sekolah aja ya" gumamku, "iya deh, berangkat aja."
Aku bergegas menyiapkan hal-hal yang perlu dibawa.
Tumben aja, kali ini rasanya seneng banget berangkat sekolah. Ntah, mungkin ada yang menunggu hahaha.
Setelah itu aku turun, "Non mau kemana?" tanya bik minah.
"Sekolah dong bik masak mau ke Mall. Yakali pakek baju sekolah" jawabku.
"Kan non Giya masih sakit" ucap bik minah, "ya ampun bik, nggak liat Giya udah sehat wal afiat" ujarku.
"udah deh, Giya mau berangkat. Baybay bik."
Menaiki mobil kesayangan, aku berangkat menuju sekolah tercinta. "Dreetttt, dreetttt," Hp ku bergetar "Halo Yan."
"Halo Yaa, lo sekolah?" tanya Iyan.
"Iya, Kenapa?"
"Kan lo masih harus istirahat, kondisi lo masih lemah Yaa" ujar Iyan.
"Lebay lo, udah gue tunggu di sekokah."
Ekspetasiku saat itu, berangkat kepagian terus menjadi orang pertama yang sampai disekolah.
"Indahnya menjadi murid teladan" gumamku.
Ehhhhh, khayalanku kabur gara-gara melihat pintu gerbang sudah tertutup rapih.
"Bruuuuagghhh" suara mobilku menabrak gerbang sekolah, "Aduhh kenapa harus nabrak sihh" ucapku.
"Eh eh kamu lagi, kamu lagi" Kata pak gerbang,
"Aduh pak, cuma satu kali telat aja" kataku.
"Iya, satu kali ditambah dua puluh delapan kali telat. Masih aja ngeles."
__ADS_1
" iya itu maksudnya pak, biar pas dibulatin aja jadi tiga puluh kali. Yang satu buat besok, hehehe"
"Sudah sudah, kamu pulang aja sana" kata pak gerbang.
"Aduh, bapak kan ganteng. Boleh ya masukkk. Pliisssss" kataku penuh rayuan.
"Emang bapak ganteng dari dulu, apa kamu baru sadar" jawab pak gerbang.
"Is is is, udah tua masih aja gaya" gumamku.
Di saat aku dan pak gerbang bernegosiasi, terdengar suara motor mendekat. Pas aku tengok ternyata cowok yang jatuh sama scoopynya.
Ya, sebut saja mas mas scoopy.
"Hahhh, Diaa?" batinku.
"Maaf pak, saya terlambat" ucapnya, lalu menengok ke arahku.
"Kamuu?" katanya.
"Sekolah disini juga? Kok aku nggak tau" tanyaku.
"Iya, aku sekolah di sini" jawabnya sedikit menunduk.
"heh heh hehh, kok malah ngobrol" bentak pak gerbang.
"Lah, orang saya nggak boleh masuk. Ya udah pak ngobrol aja." Ucapku.
"Yasudah kalian boleh masuk. Habis ini kalian temui Bu Ida" pintanya.
"Siap pak, tenang aja. Harusnya dari tadi pak, saya capek berdiri diluar gerbang" kataku.
"Yang ada mata bapak yang capek, liat kamu tiap hari telat" kata pak gerbang.
Setelah itu, kami berdua menghadap Bu Ida. Pasti dikasih hukuman, hukumanya bersihin taman depan, Sudah kuduga.
"Giya lagi, Giya lagi. Saya bosen liat mukamu itu" ujar Bu Ida.
"Kalok bosen, ya nggak usah di liat lah buk" jawabku.
"sudah-sudah. Dan kamu?" tanya Bu Ida dengan menunjuk mas mas scoopy.
"Ssss ssssaayaaa, nnnnmaa..." ucapnya dengan terbata-bata.
Mendengar ucapanya yang terbata - bata aku nggak sabar, tiba-tiba tanganku melayang memukul bahunya. Alhasil mas mas scoopy hampir tersungkur.
"Plaakkk"
"Lo kan laki, kalo ngomong yang tegas dong. Masa iyaa ngomong sssss ssss, ssss apanya" kataku sedikit ngegas.
"Sssuuuttt, diam Yaa" pinta Bu Ida.
"Kalo ngomong yang tegap dong, udah pakek kacamata bulet lagi ditambah celana ketinggian, kayak orang culun tau nggak" Ucapku kesal.
"Giyaaaa" Ucap Bu Ida, yang mengartikan aku diminta diam.
"Sekarang kalian berdua, bersihin taman depan. Sekarang!" pinta Bu Ida.
"Yaelah Buk, taman terus taman terus saya bosen kesana tiap hari" kataku.
"Apa perlu ibu tambah hukuman?" kata Bu Ida dengan kesal.
"Bu, Bu, liat Giya bu dari atas sampai bawah" pintaku.
"Kenapa?" tanya Bu Ida.
"Kepala Giya masih di perban, muka giya banyak yang memar, tangan giya juga gitu buk. Jadi jangan hukum Giya hari ini Buk. Ya ngga Za" Ujarku.
"Sssuut Za, woi Za. Bilang Iya" isyaratku pada Reza.
"Iiiii iiya Buk" kata Reza.
"Yasudah kali ini Ibuk baik sama kalian, lain kali awas aja" Ujar Bu Ida.
"Sekarang kalian kembali ke kelas" lanjutnya.
"Okeyyy Bukk" jawabku.
Syukur deh, nggak dapat hukuman. Tapi itu mas mas scoopy, eh namanya Reza kelas mana ya jadi penasaran, hihihi.
***
Kami berdua keluar dari ruangan Bu Ida. Di saat aku melangkahkan kaki terdengar suara, "Mba, mba tunggu" ucapnya. Ku tengok ternyata dia lagi dia lagi.
"kenapa? Jangan panggil gue mba-mba dong. Nama gue GIYA, GIYAA paham kan?" Pintaku.
"Maaf, saya cuma mau tanya. Dimana ruang TU?" tanya Reza.
"Oh ruang TU. disitu tu, Lo luruss terus belok kiri. Nah di situ." Jawabku sambil menujuk arah.
"Ruang TU?" tanya Reza kembali.
"Bukan. Tapi ruang seni."
"kan saya tanya ruang TU mba, eh Giya. Bukan ruang seni" kata Reza.
Mendengar itu, aku semakin jengkel denganya. Malu boleh tapi kalau seperti itu jadi malu-maluin, untung cuma ada aku nggak ada orang lain yang dengar.
__ADS_1
"Coba deh lo hadap kanan" pintaku, mendengar itu Reza segera menghadap ke kanan.
"Masih nunduk juga" gumamku sambil mendekatinya, hingga berdiri tepat dihadapanya, "Coba liat depanmu" pintaku, tetapi kepalanya tetap menunduk seperti ada bebanya.
Melihat Reza tak kunjung melihatku, aku menaikkan dagunya seraya berkata "Coba liat Zaa" pintaku dengan nada yang super halus.
Kulihat wajahnya yang begitu lugu, manis, pasti hatinya baik. Dia menatapku dengan tatapan yang penuh arti hingga keringat dingin berjatuhan, "Bukan gue, tapi lihat keatas" lanjutku.
Dia langsung melihat keatas, menatap sebuah plat yang bertuliskan "Ruang TU."
"HAHAHAHAHAHA" Tawaku yang menggelegar, membuatnya semakin malu.
"Makanya, jadi orang jangan nunduk terus" ucapku sambil tertawa.
"Hehehe Iya" Ucapnya sambil garuk-garuk kepala.
"Udah, gue mau ke kelas. Hati-hati kalau jalan ntar nabrak lagi. Hahahaha" ucapku.
Beberapa langkah aku berjalan, kulihat lagi dia tersenyum kepadaku.
"Haha, orang aneh" gumamku.
"Oh iya kan masih ada jam" kataku sambil memepercepat langkah kakiku.
.......
kulihat pergelangan tanganku, melingkar sebuah jam yang menunjukkan pukul 09.00. Sudah pasti telat dua jam.
"Permisi pak" ucapku.
"Ya silahkan" jawabnya.
Ketika aku melihat siapa yang mengajar, auto kaget sampai mau copot jantungku. Iya, Pak Misno.
"Aduhh gawat."
"Berhenti di situ" pintanya, aku berhenti dan terdiam.
"Giya lagi Giya lagi, telat lagi telat lagi. Hah sudah lah, bapak capek ngasih hukuman terus" ucapnya.
"duduk saja di bangkumu, hari ini kamu lolos. Karena nilai ulanganmu kemarin mencapai 95" Kata Pak Misno.
"Udah tau pak, itu aja Giya salahin satu. Kalo nggak udah dapet nilai 100" Ujarku.
"Kamu nyontek ya?" tanya pak Misno sembari menurunkan kacamatnya.
"Iya, saya nyontek pak. Nyontek otak saya" jawabku lalu berjalan menuju bangku ku.
"Alamakk, pintar kali kau jawab" ucap pak Misno.
Pembelajaran berlangsung selama sepuluh menit yang lalu, "tok tok tok" suara seseorang mengetuk pintu kelasku "Masuk" ucap pak Misno.
"Permisi pak" kata Bu guru itu.
"Iya, ada apa ya Buk?" tanya Pak Misno.
"Sebelumnya selamat pagi anak-anak" sapanya.
"Pagi Buk" jawab mereka serentak.
"Kalian kedatangan teman baru"
"Masuk nak" pintanya.
Saat itu aku tidak terlalu memperdulikanya, toh juga nggak bakal berpengaruh sama aku.
Anak baru itu masuk lalu memperkenalkan diri " Halo teman-teman," sapanya.
Mendengar suara tanpa melihatnya, sepertinya aku pernah mendengar suara itu.
"Perkenalkan nama saya, Reza Surya Dinata" mendengar namanya aku segera melihatnya "Dia.." gumamku.
Benar sekali, mas mas scoopy itu anak baru.
"Saya pindahan dari SMA Harapan." lanjutnya.
"Oke anak-anak ini teman baru kalian namanya Reza" Ucap pak Misno.
"Dan Reza duduk di sebelah Giya!"
"Saya pak? Nggak bisa dong pak. Saya nggak mau" bantahku.
"Bangku yang kosong kan cuma di sebelahmu. Otomatis si Reza duduk sama kamu" Kata Pak misno.
Memang benar bangku yang kosong di sebelahku. Apa boleh buat, selain duduk sama Reza.
"Ya sudah, saya permisi dulu pak" kata Bu guru itu.
"Iya Buk, silahkan" kata pak Misno, "Dan kamu Reza, duduk sama Giya" lanjutnya.
Mendengar itu, Reza berjalan kemudian duduk di kursi sebelahku.
Waktu itu, kami hanya berdiam satu sama lain hanya bermain mata tanpa satu kata yang terucap.
Heran saja, kenapa dia selalu menunduk jika berbicara. Bahkan tidak berani menatap orang lain.
"Kenapa dia pindah? apa alasanya?" tanyaku dalam hati.
__ADS_1
...............