
Sayup-sayup aku membuka kedua mataku perlahan. Kulihat aku sudah berada di sebuah ruangan, dengan selang infus di tanganku, beberapa perban di kepalaku, dan alat bantu pernafasan. Ternyata aku di rumah sakit, dan kevin duduk di sampingku.
"Yaa, lo nggak papa kan? Ada yang sakit?" tanya Kevin khawatir.
"Dokk, Dokterr, Dokterrr", teriak Kevin.
Mendengar teriakan Kevin dokter bergegas masuk ke dalam ruangan.
"Sebentar, saya periksa dulu" ujar dokter.
"Alhamdulillah, teman anda sudah membaik. Banyak-banyak istirahat, saya permisi dulu" kata dokter.
"Terimakasih dok" kata Kevin.
"Airr, Air Vin" kataku pelan. Dengan sigap, Kevin membantuku untuk duduk, dan memberiku segelas air putih.
"Kemarin lo pingsan, gue, Reno, Bagas, Andi langsung bawa lo kesini. Gue khawatir Yaa, lo koma dua hari. Gue bingung harus gimana liat keadaan lo kemarin Yaa", Kata Kevin sembari memegang tanganku.
"Nggak papa Vin, Fino gimana?" tanyaku pelan.
"Fino sama temen-temenya udah ditangkap polisi Yaa, lo nggak usah khawatir", jawab Kevin.
"Mamah mana Vin?" tanyaku.
"Mmmm......"
"Yaaa", ujar Iyan memotong pembicaraanku dengan Kevin.
"Gue keluar dulu Yaa" lanjut Kevin.
Kevin meninggalkan ruangan, sembari menepuk pundak Iyan.
Iyan duduk di sebelahku, "Lo nggak papa kan Yaa? maafin gue Yaa, harusnya gue bantu lo nylametin anak-anak. Gue ke Bandung karena nenek gue sakit, terus hp rusak gara-gara jatuh waktu di bandara" kata Iyan.
"Nggak papa Yan, gue ngerti kok. Lo ngremehin gue? Segitu mah kecil, hahaha" kataku sambil menjentikkan jari.
"Kecil kok sampek koma dua hari, hahaha"
"Hahaha"
"Permisi" kata suster, masuk ruangan.
"Mas pacarnya ya?" tanya suster.
"Bukan sus, saya temenya neng cantik" jawab Iyan.
"Bukan sus, dia abang ojol" lanjutku.
"Hahahah"
"Hahaha"
"Sudah-sudah, ini obatnya di minum ya mba" pinta suster.
"Iya sus" jawab Iyan.
Iyan membantuku minum obat, sampai wajahnya mendekati wajahku, dengan jelas kulihat tatapannya beda dari sekedar teman. Tanpa sadar aku menatapnya sedikit lama begitupun dengan Iyan.
"Ehem, so sweettttt" ucap suster dengan wajah memerah.
"Kalian pacaran kan?" tanya suster sinting itu.
"NGGAK" Jawabku dan Iyan serentak.
Mendengar jawaban kami, suster itu segera keluar ruangan.
"Hiis, kok galak" gumam suster, meninggalkan ruangan.
__ADS_1
"Hahaha"
"Hahaha"
Tak lama kemudian, Reno, Bagas, Andi, dan Kevin masuk.
"Gimana keadaan lo sekarang Yaa?" tanya Andi.
"Udah mendingan kok, cuma agak pegel-pegel dikit" jawabku.
"Maafin kita Yaa, karna udah bikin lo jadi kek gini" pinta Bagas.
"Iya nggak papa, kita kan sahabat. Nggak ada kata minta maaf dalam persahabatan" kataku.
Mereka semua memelukku, "emmm jadi sayang Giya dehhhh"
"Udah woi, pengap gue nggak bisa nafas" teriakku.
Mendengar teriakanku mereka tertawa terbahak-bahak, tak perduli badan sakit semua.
"Mamah gue ngga kesini?" tanyaku. Mendengar pertanyaanku, tiba-tiba mereka terdiam. Kenapa? Apa ada sesuatu? pikirku saat itu.
"Jawaabb, Ren, Vin, Yan, Gas, Di. Jangan diem aja" kataku kesal.
"Mamah lo nggak kesini Yaa, waktu itu...."
Flashback Kevin,
"Yaaa, Yaa, bangun Yaa" ucap Kevin membangunkanku.
Melihatku tak kunjung membuka mata, Kevin segera membawaku ke rumah sakit.
"Dok, Sus, tolong teman saya" Teriak Kevin, sembari menggendongku.
"Gimana teman saya dok?" tanya Kevin.
"Teman anda melewati masa kritis, namun sekarang mengalami koma" ujar dokter.
"Apaa, koma dok?" tanya Kevin.
"Ya, saya permisi dulu" pinta dokter.
Mendengar pernyataan dokter, Kevin pun meneteskan air mata. "Gue bodoh, gara-gara gue Giya jadi kek gini" ujar kevin sembari menangis.
Melihat Kevin seperti itu, Reno, Bagas, Andi ikut sedih. Reno segera menghubungi Iyan.
"Udah Vin, bukan cuma salah lo tapi salah kita semua" ucap Andi.
__ADS_1
"Udah jangan sedih, kita harus bisa mencari jalan keluarnya. Kasihan Giya, kalok kita kek gini Vin, Di" Ujar Reno menenangkan.
"Iya, Reno bener" lanjut Bagas.
"Gue mau bilang apa sama Mamahnya Giya Ren, sedangkan lo tau kan hubungan mereka" kata Kevin.
"Vin, mau nggak mau kita harus hubungi mamahnya Giya. Dia berhak tau, dia Ibunya Vin" kata Reno meyakinkan Kevin.
Mendengar itu, Kevin mengambil Hp ku di mobil Kemudian kembali lagi.
Kevin ragu, apakah dia harus menelfon atau tidak. "Kalau gue telfon, nanti hubungan mereka tambah renggang gimana" Batin Kevin.
Melihat temannya terdiam menatap layar Hp, Reno menghampiri dan menepuk pundak Kevin "Udah, telfon aja Vin. Gue yakin lo bisa" ujar Reno.
Mendengar itu, Kevin segera menekan nomor mamahku.
"Halo, kenapa Yaa?" tanya mamah.
"Tante, ini Kevin temenya Giya. Kevin mau ngasih tau tante kalau Giya di rumah sakit te. Sekarang Giya koma" Kata Kevin menjelaskan.
" Oh, saya sedang di luar negeri. Saya sedang meeting, tolong jangan hubungi saya lagi" Kata mamah, lalu menutup telfonnya.
"Gue harus bilang apa ke Giya, kalo dia nanyain mamahnya?" tanya Kevin sedih.
"Udah Vin, jangan sedih" ujar Bagas.
"Gue bingung, harus ngomong apa Yaa ke lo. Mamah lo ngga dateng ke sini sama sekali" Ucap Kevin menundukkan kepala.
Aku menaikkan dagu nya, "Kalo mau ngomong, tatap orangnya jangan nunduk. Itu tandanya lo nggak gentle" kataku.
"Gue nggak marah sama kalian, gue juga tau gimana posisi kalian" lanjutku.
"Mending kita makan aja" pintaku.
"Ashiapppp boss quu" jawab Andi.
"Hahaha"
"hahaha"
"Hahaha"
__ADS_1
"Setidaknya, ada sahabatku yang selalu ada" Batinku.
Bersambunggg............