Aku, Dia & Takdir

Aku, Dia & Takdir
Episode 03 Fino and the geng


__ADS_3

Di sekolah, aku bolos pelajaran dan hanya duduk di kantin. Iyan dan Kevin yang tahu akan hal itu segera menghampiriku.


"Yaa, Yaa" teriak Kevin dan Iyan mencariku.


"Hmmm. Di sini," jawabku singkat.


"Ngapain lo di sini Yaa, lo ga ikut pelajaran?" tanya Kevin.


"Iya Yaa" lanjut Iyan.


"Kalo gue di sini, berarti gua nggak ikut pelajaran. Udah tau tetep nanyak." Jawabku kesal.


"Ya, gua tau Yaa. Maksudnya, alasan lo disini tu apa?" tanya Kevin lagi.


"Males aja" jawabku singkat.


"Gimana? Kita jadi eksekusi si Fino hari ini?" tanya Iyan.


"Sekarang aja" jawabku singkat.


"Gila ya lo, ini masih pagi Yaa. Perjanjianya kemarin kan pulang sekolah" bantah Kevin.


"Eh itu ngapa Bagas sama Reno lari-lari" kata Iyan.


"Main kucing-kucingan mungkin" jawab Kevin.


"HAHAHA"


"HAHAHAHA"


"YAAA, YAAA" teriakan Bagas memanggilku.


Seketika tawa Iyan dan Kevin terhenti mendengar teriakan Bagas dan Reno.


"Kenapa Gas, Ren? Kenapa lo lari-larian gitu?" tanyaku.


"Itu, Itu, Itu....." jawab Reno ngos-ngosan.


"udah, tenang dulu" lanjutku.


"Itu Yaa, gengnya Fino lagi-lagi membully anak-anak culun. Mereka juga malakin Yaa." jawab Bagas.


"Mereka dimana Gas?" tanya Iyan.


"Siapa? Anak culun atau Fino?" tanya Bagas.


"Ya Fino and the geng, dodoll" Lanjut Kevin.


"Di parkir" jawab Reno.


"Kesempatan.. Kita beraksi hari ini, sesuai kesepakatan kita kemarin" perintahku.


"Siap bos" jawab mereka serentak.


"Si Andi mana?" tanyaku.


"Andi nggak masuk hari ini" jawab Reno.


"lima vs enam bisa lah ya." lanjut Iyan.


"Yokk"


Setelah semua sepakat, kami bergegas menuju parkir sekolah. Tempat dimana geng Fino nongkrong.


Sesampainya di parkir, kami disambut hangat sama Fino.


"Wahh, ada tamu istimewa nihh.. Haii Giya cantikkk. Ada apa sayang? Repot-repot nemuin abang Fino" Kata Fino dengan nada mengejek.


"Hahahaha"


"hahahah"


"hahahaha"


" Diem lo. Mentang-mentang anak pemilik sekolahan, seenaknya aja lo sama orang." jawabku.


"Apa sih Giya, itu kan cuma mainan. Ya nggak Jon?" kata Fino disambung dengan tawaan.


"iya dong Bos" lanjut Joni.


"Banyak omong lo," kataku sambil menonjok muka Fino.


"Anjing... Berani lo mukul gue" sahut Fino.


Perkelahian saat itu tak bisa terhindarkan. Ya walaupun kami hanya ber lima mereka ber enam, Bisa lah.

__ADS_1


Dilain tempat, murid-murid berlarian memanggil para guru.


"Pak, Buk.." teriakan salah seorang siswa sambil berlarian.


"Ada apa teriak-teriak?" tanya Buk Ida selaku guru BK.


"Ada yang berantem buk di parkir sekolah" jawab siswa itu.


"Ayo-ayo kita kesana" kata bu Ida.


Bu Ida dan beberapa siswa menghampiri tempatku berkelahi.


"Brughhhh,, Taakkkk,, Duakkk" suara kepalan tanganku memukuli muka si Fino yang mulus itu.


"Ampun Yaa, sakit tauk" teriak Fino.


"Kek gini lo baru ngomong ampun. Lo aja nggak punya ampun sama orang yang nggak berdaya. Gue nggak takut lo anak pejabat, atau presiden sekalipun." jawabku sembari memukuli Fino tanpa ampun.


"Liat tuh, anak buah lo. Terbaring lemah nggak berdaya" lanjutku.


"Gue minta maaf Yaa, gue janji nggak ngulangin kesalahan ini lagi" kata Fino memohon.


Ntah kenapa, saat itu aku tidak bisa berhenti memukuli Fino walau pun dia sudah memohon dan minta maaf.


"Ada apa ini?" Teriak Bu Ida.


"Giya lagi?" lanjutnya sambil melerai perkelahian kami.


"Kalian semua, ikut ibuk ke ruang BK sekarang" Teriak Bu Ida dengan kesal.


Perkelahian itu terhenti karena Bu Ida. Aku juga bersyukur Bu Ida datang, kalau tidak mungkin aku sudah membunuh Fino.


Setelah sampai di ruang BK, disana sudah ada pak kepsek yaitu Pak Budi, dan Ibuknya Fino.


"Duduk kalian!" kata Pak Budi dengan kesal.


"Aduh anak ku....Kenapa memar semua wajahmu yang tampan ini? Siapa yang berani memukulmu sayang?" Tanya Ibu Fino kepada Fino sambil melihat wajahnya.


"Alay.." Batinku, melirik Ibunya Fino.


"Giya mi. Giya yang mukuli Fino sama temen-temen" jawab Fino dengan penuh Akting.


"Fino coba jelaskan kenapa kalian sampai berkelahi?" pinta pak Budi.


Aku tidak yakin Fino akan jujur, walaupun jujur dia tetap tidak akan dihukum. Kepala sekolah saja takut dengan ibuknya, apalagi guru-guru lain.


"Betul itu Giya?" tanya pak Budi padaku.


"Mau Giya jujur atau bohong, bapak tetep nggak akan percaya kan. Karena bapak dan guru-guru takut sama Ibuknya Fino." jawabku.


"Cukup Giya" bentak pak Budi.


"Giya cuma ngasih pelajaran, supaya Fino nggak malakin dan membully anak-anak lain." Lanjutku.


"Kamu tetap salah Yaa. Ini sekolahan, dan sekolahan punya aturan. Seharusnya BK yang mengurus masalah ini." Sela Buk Ida.


"Buat apa ke guru BK, gurunya aja nggak berdaya. Takut akan jabatanya yang akan hilang. Vin, Yan, Ren, Gas, Cabut" kataku dan segera meninggalkan ruang BK.


"Giya, Giya, tunggu nak, ibuk belum selesai bicara." Teriak Bu Ida menghentikanku.


"Terserah ibuk, mau manggil mamah saya atau skorsing saya, bodo amat. Oohhh keluarin Giya dari sekolah, itu lebih baik."


"satu lagi, di sini yang salah Giya bukan temen-temen Giya buk. Jadi, hukum aja Giya jangan mereka."


"Kalian, masuk kelas aja. Gue mau pergi" kataku.


"Tapi Yaa" bantah Kevin.


"Apa, gak usah ikut gue" jawabku kesal.


"Giya berhenti, atau ibuk laporkan kamu ke mamahmu. Giyaaaaaa." teriak Bu Ida.


Aku saja tidak mendengarkan, apalagi mematuhinya.


Setelah itu aku pergi meninggalkan ruangan itu serta sekolah. Aku menuju sebuah tempat, dimana tempat itu penuh dengan kasih sayang. Ya, tempat itu adalah panti jompo.


Aku tahu gimana rasanya di abaikan atau tidak diperdulikan keluargaku sendiri. Maka dari itu aku sering kesana, aku rasa mereka sangat menyayangiku lebih dari dirinya sendiri. Di panti aku kerap bahkan selalu di panggil Putri, bukan Giya. Kenapa menyimpang banget, kata mereka aku seperti seorang putri kerajaan. Cantik, baik, sayang sama semua orang. makanya aku di panggil Putri.


"selamat siang Mba Putri" sapa salah satu perawat.


Nama perawat itu adalah Novi. Perawat yang paling akrab denganku.


"Pagi sus" jawabku.


"Wah, sering-sering bawa buah tangan. Aku jadi seneng." katanya.

__ADS_1


"Hahaha, nih buat kamu. Eh iya tolong ini bagiin sama semua orang ya sus." kataku sambil memberikan beberapa kantong plastik berisi buah-buahan dan beberapa makanan ringan.


"eh dimana nek Ani sama kek Santo?" tanyaku pada suster Novi.


"Di taman, cari aja di sana" jawabnya dan berlalu pergi.


Kek Santo dan nek Ani adalah sepasang suami istri. Anaknya sibuk, dan menantunya tidak mau mengurus mereka. Sungguh kasihan.


"Nek, Kek. Apa kabar? Ini ada sedikit oleh-oleh buat nenek sama kakek" sapaku, sambil memberikan beberapa buah-buahan.


"Terima kasih nak Putri" jawab kek Santo.


"Sini nak Putri, duduk sama nenek" kata nek Ani.


"Iya nek" jawabku.


Aku duduk diantara mereka. Kami mengobrol cukup lama, bercanda, tertawa bahagia. Aku jarang melihat mereka tertawa bahagia tanpa suatu beban.


Kuharap mereka semua akan selalu bahagia, walau keluarganya tidak pernah ada.


..................


Setelah dari panti, aku pulang dengan mobilku. Di perjalanan aku melihat ada seseorang jatuh dengan scoopynya. Perlahan kuhampiri orang itu, "Nggak papa mba?" tanyaku.


"saya cowok mba, bukan cewek." jawabnya lalu menengok ke arahku.


"Ya ampunn, gantengnya. Tapi sayang culun, pakek kacamata bulet lagi" batinku.


"Kenapa mba? lihat saya seperti itu? ada yang aneh ya" tanya cowok itu.


"Nggak ada mas", jawabku dan segera membantunya mendirikan motor.


"Makasih mba"


"sama-sama."


Aku bergegas masuk mobil dan segera pulang ke rumah.


"Mbaa.... Main pergi aja, belum juga kenalan" kata cowok itu.


"pakaian sekolah, tapi kok kayak preman pasar" lanjut Cowok itu.


"Tapi, cantik sih" Gumamnya.


..........


Sesampainya di rumah, aku segera masuk ke dalam kamarku.


"Giya, Giya, turun kamu!" teriak mamahku dari ruang tamu.


"Mamah" gumamku.


Aku segera turun menghampiri mamah, kulihat wajahnya yang tampak marah memandangiku.


"kenapa ngliatin Giya kek gitu?" tanyaku.


"Apa ini?" tanya mamah sambil mengangkat sebuah amplop.


"Ntah" jawabku.


"Mamah dapet laporan, kamu berantem lagi di sekolah, terus udah satu minggu ini kamu bolos. Betul itu Giya?" tanya mamah dengan nada tinggi.


"Betul, lalu kenapa. Nggak ada masalah kan, lagian mamah juga nggak peduli," jawabku.


"Mamah capek Giya, mamah capek. Kamu tau amplop ini isinya apa? Surat skorsing kamu selama seminggu Yaa".


"Bagus dong Maah, bisa istirahat di rumah."


"Cukup, mamah kecewa sama kamu."


"Apa perdulinya mamah, selama ini Giya kek gitu karna mamah. Apa baru sadar sekarang hahh?" tanyaku dengan nada tinggi.


Plaaakkk, tamparan keras melayang mengenai pipiku.


"Haha, udah biasa di tampar bahkan ditonjok. Itu ngga sebanding sama sakit hatiku karena mamah" kataku.


Mamah tak berkata-kata, lalu pergi ke dalam kamarnya. Aku pun begitu. Sudah biasa seperti ini, bagiku makanan sehari-hari. Setiap malam berharap ayahku datang dan membawaku.


Saat melamunkan kenangan bersama ayahku, terlintas di pikiranku cowok tadi.


"Ih, kok jadi mikirin dia" gumamku.


"Ganteng sih, kalo di ubah dikit. Haha"


"Udah Giyaaaaaaa, kenapa jadi mikirin tu orang.. Tidurrrr, tidurrrrr, tidurr mataku sayang" kataku sembari guling-guling di kasur. Lalu terlelap beberapa menit setelahnya.

__ADS_1


Tunggu episod selanjutnya ya💖


__ADS_2