
Waktu itu Sudah hari ke lima skorsing. Aku merasa jengkel Kevin atau Iyan sekalipun tidak menghubungiku.
Sudah beberapa kali aku mencoba menghubunginya, tetap tidak bisa. Andi, Bagas, Reno juga tidak bisa dihubungi.
"Ada apa ini?" gumamku.
"Apa jangan-jangan mereka kenapa-kenapa?" Batinku.
Aku bingung kenapa mereka seperti ini, sepertinya ada yang tidak beres.
Ku ambil kunci mobil dan bergegas mencari teman-temanku yang tak ada kabar. Saat di perjalanan, aku menghubungi salah satu teman kelasnya.
"Udah jam 09.30, waktunya istirahat. Mereka pasti istirahat.." gumamku.
"Halo Ran, Kevin sama Iyan ada?" tanyaku pada Rani. Rani adalah teman satu kelanya Kevin dan Iyan.
"Halo Yaa, udah lima hari mereka nggak masuk sekolah. Ntah, nggak ada kabar" jawab Rani.
Seeettttttt, seketika aku mengehntikan mobilku.
"Oh, yaudah Ran. Makasih ya" kataku.
"Iya sama-sama"
Lanjut, aku telfon sindi teman sekelas Reno, Bagas, dan Andi. Aku harap mereka ada di sekolah.
"Halo Sin. Reno, Bagas, Andi ada?" tanyaku dengan hawatir.
"Halo Yaa. Mereka udah lima hari nggak masuk, nggak ada alasan lagi" jawab Sindi.
"Ya udah sin, makasih ya".
"Iya, sama-sama".
Sudah kuduga, pasti ada yang tidak beres. Aku takut mereka kenapa-kenapa.
"Klunting" suara pesan masuk.
"Kevin?" batinku heran.
"Dari kemarin nggak bisa dihubungi dan sekarang mengirim foto" gumamku kesal.Kebetulan sinyal saat itu sedikit susah untuk mendownload foto yang di kirim.
Beberapa saat kemudian, aku melihat foto itu Seketika raut wajahku memucat.
Apa yang aku pikirkan benar terjadi, mereka disekap anak buah Fino di sebuah gudang kosong dengan wajah yang sudah babak belur.
__ADS_1
"Klunting" suara pesan masuk.
" Gimana Yaa, lima hari tanpa mereka. Ah kasihan, lihat wajah merekaa yang unyu unyu ini. Kalo lo berani, sini bawa mereka pulang. Itu akibatnya karna lo udah mukuli gue kemarin..... Salam Bahagia ~Fino", kata pesan tersebut.
Tak lama-lama, tancap gas menuju tempat mereka disekap. Sesampainya di sana, ternyata Fino tidak hanya bersama geng nya. Tapi bersama teman dari sekolah lain. Cukup banyak, sekitar 10 orang. Melihat hal itu, bukanya takut tetapi darahku semakin mendidih.
Kakiku melangkah keluar mobil menuju segerombolan orang yang sedang menantiku. Hanya berbekal sebuah kunci T yang ada di mobilku, aku maju melawan mereka semua.
Aku cukup kuwalahan melawan 10 orang sendiri, demi menyelamatkan sahabat, aku tidak perduli walau harus mandi darah.
"Brughhh, Takk", mereka memukulku. Aku tersungkur dan bangkit kembali. Kunci T pun melayang ntah kemana.
"Anjing kalian semua, beraninya keroyokan. Sini maju satu-satu" teriakku agak sempoyongan.
"Hahahah"
"hahaha"
"Udah bro, habisi aja dia. Polisi juga nggak akan tau" ucap salah seorang.
"jangan lah, lihat wajahnya yang cantik jadi memar karena kita. Hahaha" jawab ketua mereka.
"Banyak Bacot kalian", semakin geram aku pun lari dan memukuli mereka.
Semua jurus bela diriku keluar, kupukul kepalanya, kupatahkan tanganya, ingin rasanya menghabisi mereka semua.
Pada akhirnya, mereka semua tergeletak tak sadarkan diri.
Tersisa Fino dan anggotanya yang menunggu di dalam. Aku masuk dalam keadaan luka parah, dengan tertatih-tatih.
"Bruaghh", suara pintu yang sengaja kutendang.
Kulihat wajah-wajah yang berani-beraninya mengurung teman-temanku Fino terutama.
Semua mata tertuju padaku, sepasang mata meneteskan sebuah carian ketika melihatku. Ya, Kevin menangis ketika aku sampai di sebuah ruang dimana tempat mereka disekap.
"Prok, prok, prok", suara tepukan tangan mengahmpiriku.
"Hebat juga lo bisa masuk ke sini" ucap Fino.
"mau lo apa?" tanyaku.
"Hahahaha, Gue cuma mau lo babak belur. Ini akibatnya karena lo udah berani mukuli gue kemarin" kata fino samil memajukan wajahnya mendekati wajahku.
Tanganku mengepal, dengan sigap kutarik kerah bajunya "Jangan berani-berani lo nyakitin temen gue" ujarku.
__ADS_1
Fino segera menepis tanganku, "Jon, Lang pegang dia", perintah Fino untuk menangkapku.
Joni dan gilang segera menerkam kedua tanganku dengan erat.
"Woii, beraninya sama cewek. Pengecut lo Fin. Anjinggggg", teriak Kevin.
"Sssuuuuut, diam. Liat pertunjukkan yang gue lakuin. Hahahaha" sahut Fino.
"Plakk", Fino menamparku.
"Lo cantik, tapi sayang lo terlalu nge sok jadi orang" kata Fino sembari menaikkan daguku.
"Gimana Yaa? Sakit? Mau lagi?" kata Fino, "Plak" kembali menamparku.
Kulihat wajah teman-temanku yang sedih, seakan merasa kalau aku akan pergi. Selemah itu kah aku saat itu.
Melihat itu, kugunakan kakiku menendang Fino. Fino terpental lalu tersungkur, dan kutepis kedua tangan yang menerkamku.
Semakin geram melihat wajah seorang Fino, Kutarik rambut pecundang itu lalu kubenturkan kepalanya ke tembok.
Begitu pula dengan teman-temannya yang tidak luput dari amarahku. Kutendang mereka semua, tetapi karna sudah terlalu lelah dan kalah jumlah aku kembali tertangkap.
"Percumah lo ngebrontak Yaa, udah deh diem aja" Ucap Fino.
"Gila kalian semua. Nggak bakal gue kasih ampun kalian" Ujarku.
"waaaaaaaaaaa," teriakku sembari merobohkan mereka yang memegangku.
"Brughhh" Mereka semua tersungkur tak terkecuali.
Dengan sisa tenaga, aku mencoba mengalahkan mereka.
Dengan susah payah, aku meraih sebuah balok kayu. Kukibaskan kayu itu mengenai wajah mereka semua.
Perkelahian itu terhenti, karena Fino dan seluruh anggotanya tidak sadarkan diri.
Melihat keadaan sudah lebih baik, aku segera melepaskan tali yang mengikat teman-temanku.
"Yaa, maafin gue Yaa", kata Kevin.
"Iya Yaa, gara-gara kita lo jadi kek gini" lanjut Reno.
"Iya Yaa" lanjut Bagas dan Andi.
"Brughh" mendadak semua gelap, aku tidak mengingat apa pun lagi.
__ADS_1
Stay tune terus ya guys, tunggu Episod selanjutnya :)