
Suatu senja di terminal kota kecil, sebuah mobil angkutan sedang menunggu penumpangnya penuh. Seorang gadis cantik, duduk di bagian belakang kemudi. Dari luar, datang pria kurus berpenampilan lusuh, berlari lalu masuk ke mobil yang masih terparkir itu.
Si pria mengeluarkan botol air mineral lalu meminumnya. Tiba-tiba dia tertegun ketika selesai minum dan hendak menutup botolnya. Matanya terpaku menatap seorang gadis berambut panjang, yang dia rasa pernah mengenalnya.
"Rani? Kamu Rani kan? Adik pak Hari guru SMP?" Lelaki itu menunjuk si gadis, hingga wanita itu menoleh.
"Iya, kamu siapa?" Nada bicaranya angkuh, punggungnya tegak dan matanya memicing menelisik dari atas ke bawah, pria yang menyapanya itu.
"Aku Parto. Yang dulu kamu tertawakan itu lho?" Pria yang bernama Parto itu berusaha mengingatkan si gadis tentang masa di sekolah dulu.
"Ha...ha...ha...kamu Parto? Sumpah, aku ndak ingat kamu lho." Rani tertawa ngakak mengingat bocah kurus dekil yang dulu dia tertawai karena namanya yang ndeso.
"He...he...he...ya ingatlah. Hanya kamu yang menertawakan aku waktu itu. Lagian, siapa sih yang ndak kenal adiknya pak guru?" Pria kurus itu menjawab malu.
"Lha kamu ini dari mana? Kalau aku dari kota S, mau mudik lebaran." Gadis langsing itu bertanya pada pria yang ternyata dulu adalah teman sekolahnya.
"Aku kerja di B." Dia menjawab singkat.
"Wah, kebetulan sekali, aku mau ke kota B. Mau liburan dan menemui teman di sana. Boleh aku minta nomermu? Siapa tau kamu ada waktu jadi guideku?" Rani merasa senang, sebab ada teman yang bisa dia andalkan saat dia nanti main ke kota itu.
Tukar menukar nomor handphone pun terjadi. Sampai di kota kecamatan, si gadis berhenti dan memberikan ongkos kepada kernet angkutan.
***
__ADS_1
Seusai berlebaran, Rani yang sudah membeli tiket kereta, langsung menuju ke stasiun kota. Dia yang suka travelling, sangat menikmati perjalanannya.
Kereta kelas ekonomi tak berAC itu melaju dalam kecepatan normalnya. Di setiap stasiun yang mempunyai makanan khas, gadis itu selalu membelinya. Sawah, bagian belakang rumah dan hutan sudah dia lalui di hari terang dan gelapnya malam.
Hingga hawa dingin menyeruak, sampailah gerbong besi itu di stasiun R. Si gadis segera menghubungi temannya. Lama menunggu, akhirnya pria yang dikenalkan oleh temannya itu datang menjemput.
"OMG..." Rani terbeliak sambil menutup mulutnya yang menganga dengan kedua telapak tangannya. Sosok yang dilihat benar-benar berbeda dari kakak sang suami temannya itu. Sangat jauh dari ekspektasi. Pakaiannya lusuh, kulitnya hutang, dan matanya melotot.
Tapi si gadis masih memberikan kesempatan pada pria itu untuk dekat dengannya. Rani kaget lagi, karena yang disuguhkan sangatlah mengecewakan. Si pria hanya membawa sepeda pancal.
"Ya Tuhan. Masa jaman begini masih boncengan pakai sepeda?" Gadis cantik itu tetap mencoba mendinginkan hatinya mengikuti lelaki itu jalan kaki ke kosannya.
"Ya Tuhan, ini kamar sewa apa rumah kumuh?" Rani shock melihat keadaan ruangan sekotak yang pengap, kotor dan bau. Tempat itu hanya ada selembar kasur tipis, dengan sarung bantal dan sprei yang kotor. "Masuk Ran. Ini kamar sewa mas Joko. Bentar, tak keluar belikan kamu nasi." Dia pergi lagi naik sepedanya menuju warung entah di mana.
"Hoeeeek..." Rani ndak tahan lagi, lalu memilih ke luar kamar dan duduk di bangku kayu di area kos. Dari jauh, lelaki itu sudah kembali.
"Ini dik, makanlah." Joko mengangsurkan bungkusan kertas kepada Rani.
"Ha...apa ini?" Rani terus bergumam dalam hati saat melihat isi bungkusan yang dia pikir nasi Padang, ternyata hanya nasi putih dan tempe. Gadis yang terbiasa makan enak itu, sangat terkejut melihat hal - hal yang baru saja dia temui.
"Halo, ya. Aku sudah sampai. Iya. Aku akan ke situ. Tunggu dulu ya." Rani pura-pura menerima telfon untuk menghindari berlama - lama dengan lelaki berbau tengik itu.
"Mas, maaf. Aku harus pergi. Temanku sudah nunggu di Indoapril depan stasiun." Joko tertegun melihatku segera pergi membawa travel bag tanpa memakan nasi yang dia belikan.
__ADS_1
"Ya udah. Monggo." Dia pasrah melihat Rani menghindarinya.
Di bawah terik matahari dan kepulan debu serta asap di jalanan, gadis ayu itu berjalan terseok-seok menuju stasiun. Dia lantas membuka hpnya dan mengirim SMS ke Parto. "Kamu apa sudah di Bandung?"
Di sebuah ruangan luas, Parto yang mendengar handphonenya berbunyi, segera mengambilnya. Ternyata ada pesan yang masuk. "Ha...Rani?" Dia lantas menjawab, "Sudah. Aku lagi kerja."
"Aku juga di Bandung. Sedang di stasiun R. Selesai kerja, bisa ndak nanti tolong antar aku cari kos - kosan yang murah dekat kota? Aku mau cari kerja di sini." Rani berencana mencari kerja saja di kota B daripada pulang ke kampung halamannya. Dia merasa sendirian di sana.
"Ya.Tunggu di situ." Dari sebrang, Parto membalas SMS temannya itu.
Pukul 17.00 ternyata Parto menepati janjinya menemui Rani di stasiun R. Dia lantas duduk di sebelahnya. "Dalam rangka apa kamu ke sini?"
"Aku tuh nemuin cowok yang dikenalkan oleh temanku. Kupikir dia setampan dan sebijaksana adiknya. Ternyata yang kutemui zonk. Dia jelek, item, bau dan plonga - plongo. Sangat miris hidupnya." Gadis cantik itu menceritakan kronologi kedatangannya hingga berhenti di stasiun R.
"Lah, kamu tuh aneh. Nekad. Ya udah, kamu mau kerja apa?" Walaupun kesal karena menanggung anaknya orang, Priyo masih mau menolong mencarikannya kos - kosan.
"Yang mudah diterima tuh kayaknya pembantu deh. Jadi, aku ndak usah ke kota. Carikan aja aku kosan yang bisa disewa semalam. Besuk drop aku di perumahan elit. Aku mau cari kerja di sana." Rani yang kepepet tempat tinggal dan uang, melupakan pendidikannya yang sudah sarjana.
"Baiklah. Soal kosan, kamu numpang di kosan teman perempuanku. Besuk tak antar ke perumahan mewah di sini. Sekarang kita ke warteg saja, isi perut dulu." Parto menawarkan solusi pada teman dari kampung halamannya itu.
'Alhamdulillah. Lumayan. Di warteg bisa ada sayur dan lauk enak. Dia yang akan bayari. Uangku ndak berkurang. Bisa untuk pegangan." Rani mengucap syukur dalam hati, karena 1 masalah teratasi. Setelah menemukan warungnya, mereka langsung memesan makanan dan minuman. Gadis dari kota kecil itu, lahap sekali makan nasi warteg yang nasinya biasanya dia anggap jumbo, tapi berubah bersih tak tersisa saat itu. Sebab, seharian dia belum makan akibat insiden salah pertemuan tadi siang di stasiun R.
Kerlap - kerlip lampu kota B yang baru diinjak oleh Rani dan lalu lalang kendaraan, membuatnya lupa pada penatnya jiwa dan raganya hari ini. Hingga Parto menghentikan motornya di kos - kosan kamar petak di sebuah kampung perkotaan.
__ADS_1