Aku Anak Pelakor

Aku Anak Pelakor
2. Lina yang Baik


__ADS_3

"Tok...tok...tok...Lin." Parto mengetuk sebuah pintu kamar kos di luar lokasi kamar petaknya. Cukup jalan kaki, sebentar saja sudah sampai.


"Eh, mas Parto. Ada apa mas?" Seorang gadis putih sintal, membukakan pintu untuk mereka.


"Aku titip temanku iki nginep semalam. Dia mau mencari kerja di sini." Lelaki itu meminta ijin ke temannya yang di Bandung itu untuk ditumpangi Rani barang semalam.


"Oh, iya. Gak pa pa. Masuk mbak. Maaf, tempatnya sempit. Panggil aku Lina." Gadis putih itu mempersilahkan Rani masuk dengan membawa travel bagnya.


"Ya udah, aku pulang dulu. Makasih ya Lin." Prapto pamit untuk pulang ke kosannya sendiri.


"Oh iya mas. Silahkan." Lina lalu menutup pintu dan merapikan kasur lantai dan beberapa barang yang kurang rapi.


"Mbak, ayo sini barangnya. Jangan di lantai. Cukup kok. Kalau mau minum, itu ambil saja. Maaf, aku nggak punya camilan. Maklum, perantau harus hemat. Aku cuma makan nasi, lauknya seadanya.Itu masih ada mbak, boleh dimakan. Aku masak sendiri kok. Mandinya di luar. Kalau cuma semalam, biasanya ndak didatangi ibu kos. Tapi kalau lebih dari 2 hari, ampuuun...wara - wiri saja dia." Penyewa kamar itu menceritakan keadaan kosnya sambil rebahan.


"Makasih mbak. Semoga besuk bisa cepat dapat kerjaan. Oh ya, aku tadi sudah makan di warteg, masih kenyang. Makasih banyak ya, sudah nampung aku." Rani menolak tawaran makannya, tapi bersyukur, malam ini dia bisa tidur di tempat nyaman tanpa harus membayar.


"Oh, ya sudah kalau gitu. Besuk pagi sarapan dulu. Kita masak sendiri. Nggak usah beli, biar hemat. Rencana mau kerja di mana? Mbaknya sekolahnya sampai apa?" Lina dengan ramah membuat teman barunya itu nyaman di kamar kosnya.


"Iya, besuk tak bantu masaknya. Aku tamat S1. Supaya langsung kerja dan ada tempat tinggal plus makan gratis tapi dapat penghasilan, besuk aku mau cari kerja jadi suster saja. Boleh merawat bayi atau lansia. Ndak lewat agen. Kelamaan dan dapat potongan gaji. Aku mau cari langsung di perumahan mewah. Biasanya di sana ada kerjaan dadakan yang mungkin belum sempat cari pekerja. Biar meyakinkan, aku bawa fotocopy ijasah yang sudah dilegalisir oleh kampus. Juga aku ada SKCK dan KTP asli. Semoga orangnya percaya." Rani menceritakan rentetan aktivitas yang akan dia jalani esok.

__ADS_1


"Oh, ya mbak. Aku paham. Sebenarnya sayang sih, sarjana jadi pembantu. Tapi bagaimana lagi? Hidup kan keras bagi yang bukan keluarga kaya? Semangat mbak. Moga besuk diterima. Tapi setelah diterima, jangan langsung kerja. Tasnya ditinggal di sini dulu. Mbak bawa kunci serepku. Tidur lagi di sini semalam, biar ndak kaget melakukan pekerjaan barunya. Besuk pagi baru ke rumah itu lagi. Moga mbak dapat majikan baik." Lina mendukung keputusan Rani, karena toh yang dia bisa bantu hanyalah tempat tinggal dan makan seadanya selama beberapa hari. Kerja di pabrik seperti dia, tidak bisa langsung diterima. Memakan waktu. Sedangkan Rani, perlu makan, tempat tinggal dan gaji yang cepat.


"Aamiin YRA. Makasih mbak. Yuk tidur." Rani bersyukur, di perantauan bertemu orang baik, walaupun tadi siang sempat zonk bertemu calon pacar.


***


Hari masih gelap. Kota B yang hawanya sangat dingin menusuk tulang bagi pendatang baru, tak dia hiraukan. Tapi, Rani sudah terbiasa bangun pagi. Dia harus segera mempersiapkan diri untuk hari ini. Saat mau buang hajat, dia melihat kamar mandinya kotor.


"Hoeeekkk..." Gadis yang terbiasa dengan kebersihan itu, segera mengambil deergen milik Lina, menaburkan di dinding dan closet, lalu disikatnya dengan sikat yang ada di area sumur dan yang ada di kamar mandi untuk WC.


"Srek...srek...srek...byuuurrr..." Dalam waktu 10 menit, kamar mandi berubah bersih. Gegas Rani sekalian mandi dan berwudhu untuk melakukan sholat Subuh.


"Wow, sudah rapi. Makasih ya mbak." Lina yang baru pulang dari belanja di warung dekat kosannya, terbeliak senang, mendapati kamarnya sudah bersih dan rapi.


"Pean mandi saja mbak. Biar aku yang masak. Nasinya sudah tak kukus, biar anget buat sarapan. Aku ya sudah ngecopne nasi, biar kalau pean pulang, nanti ada nasi. Jadi tinggal makan. Bulan depan, setelah dapat gaji, InshaAllah aku main ke sini." Rani menawarkan bantuan memasak, supaya Lina ndak terburu-buru berangkat kerja di shift paginya.


"Ya mbak. Makasih ya." Pemilik kamar segera ke kamar mandi sambil menenteng peralatan mandinya. Kembali dia terpukau, ketika melihat toilet itu dari kumuh menjadi kinclong.


"Sreng...sreng...sreng..." Rani dengan luwes menumis bumbu, lalu memasukkan Slada Air ke wajan. Wangi bumbunya menyeruak indera penciuman penghuni kos. Jam 05:00 mereka mulai berhamburan ke luar kamar.

__ADS_1


"Mbak, penghuni baru?" Tanya seorang gadis mungil ketika melewati depan kamar Lina. Oh ya, Kamar petak itu ada terasnya selebar 1m sepanjang sepetak ruangan. Lina memesan lemari yang bisa dia pakai untuk menyimpan peralatan masak, bumbu , kompor dan gas dalam keadaan terkunci. Jadi dia nggak khawatir itu tercuri saat dia kerja.


"Bukan. Dia temanku mau cari kerja di sini." Lina yang sudah selesai mandi, tiba-tiba memyahut di belakang Rani yang sedang hati - hati menuang tumisan ke dalam mangkok. Mendengar jawaban Lina yang singkat dan sedikit jutek, membuat tetangga kamar gadis itu berlalu ke tujuannya, yaitu toilet.


"Mmm...lezatnya masakan pean mbak. Balado tongkolnya mantab. Nih, mbak bungkus pakai kertas nasi ini. Tumis dan baladonya dimasukkan plastik jadi 1, biar nasinya nggak kena kuah. Nggak usah beli nasi nanti. Bawa juga air minum. Aku juga mbekal untuk makan siang kok. Ini alamat kosannya. Tanya pemilik toko saja tentang angkot ke rumah ini. Kalau ke orang asing yang lewat, takutnya mbak digendam atau dimanfaatkan." Lina menyuruh Rani membawa bekal saat mencari kerja nanti, supaya nggak perlu mengeluarkan uang, kecuali transportasi. Dia juga merinci yang harus di lakukan Rani saat di luar.


"Ya, mbak. Makasih banyak." Rani sangat terharu dengan kebaikan Lina terhadapnya.


"Ran, sudah siap?" Dari luar, Prapto memanggil adik gurunya itu untuk bersiap.


"Eh, mas Prapto. Nih, mbak Raninya sudah siap. Masuk mas, sarapan sekalian?" Lina gegas menyahut panggilan tetangga kos beda rumah itu kepada Rani.


"Makasih Lin. Aku sudah makan Kupat Tahu, tadi." Pria yang juga bersiap hendak kerja itu, menolak tawaran tetangganya karena dia sudah beli sarapan di lorong gang kampung itu.


"Mbak, aku berangkat dulu ya." Rani memeluk Lina dengan mata berembun.


"Iya. Hati - hati. Semoga diterima, dapat bos baik dan selamat pulang lagi ke sini." Lina terharu melihat perjuangan teman barunya itu untuk mandiri.


"Aamiin YRA." Rina dengan sungguh-sungguh mengamini doa pekerja pabrik yang telah memberinya tumpangan tidur dan makan.

__ADS_1


"Ngeeeeng..." Motor Supra Fit itu melaju meninggalkan kampung dan membelah jalan besar yang sudah padat lalu lalang kuda besi dan kendaraan besar.


__ADS_2