Aku Anak Pelakor

Aku Anak Pelakor
4. Diterima


__ADS_3

"Emmm...maaf kalau saya sudah lancang dan mengotori tangan nyonya." Rani perlahan meletakkan tangan ibunya Grace ke pembaringan.


"Nggak apa - apa. Genggam tanganku ya. Kamu duduk sini ya. Grace, Anggit...kalian duduk di sofa." Semua mengikuti titah wanita sepuh yang ternyata mempunyai aura kuasa di rumah itu.


"Katakan padaku, kenapa kamu menangis?" Kembali nyonya besar itu menanyakan hal yang dirasanya aneh.


"Ennnng...anu nyonya. Saya teringat pada ibu saya." Rani menjawab sambil menunduk.


"Apa kamu lari dari rumah?" Pertanyaan sang nyonya sepuh sangat tepat, menohok ke ulu hati si gadis.


"Emmm...tidak...eh iya. Tapi tidak sepenuhnya kabur, nyonya. Ibu sudah meninggal. Rumah peninggalan ibu ditempati oleh kakak dan istrinya. Saya merasa terasing di rumah sendiri. Makanya, saya memutuskan pergi saja." Sedikit, Rani mulai membuka jati dirinya.


"Oh, begitu. Lantas ayahmu ke mana?" mertua Anggit terus mengejar Rani dengan pertanyaan.


"Bapak menikah lagi. Saya tidak enak juga tinggal di sana, nyonya."


"Oh. Kalau namaku Winata Pratiwi. Sudah 2 bulan aku berbaring. Baru 1 Minggu ini, penyangga leherku dilepas. Aku masih memakai diaper. Kalau jijik, kamu boleh mengundurkan diri dari sekarang." Bu Winata menunjukkan aura tegasnya pada Rani.


"Oh, tidak masalah, nyonya. Saya sudah terbiasa mengasuh bayi. Saat itu, saya masih mahasiswa baru. Ibu teman saya sakit diare, diopname, saya yang menunggui dan menceboki ibunya di rumah sakit. Teman saya, sudah muntah duluan sebelum membersihkan kotoran ibunya." Rani bercerita sambil tertawa lirih.


"Kok kamu nggak jijik?" Bu Winata berusaha mengorek kejujuran cerita gadis perantau itu.

__ADS_1


"Nggaklah, Nyonya. Mengalir begitu saja tanpa ada paksaan. Teman saya nunggu di luar, karena ndak tahan bau amis orang sakit perut. Kakak - kakaknya support biaya rumah sakit saja. 4 hari saya mengorbankan waktu kuliah untuk menginap di rumah sakit merawat ibu teman saya itu. Alhamdulillah feses mulai mengental dan perut ibu teman saya sudah ndak mules lagi. Jadi, hari ke -5 saya sudah ndak menunggui ibu teman saya itu. Genap 1 Minggu, ibu sudah diijinkan pulang. Nah, sejak saat itu, setiap hari di waktu kuliah, saya sering dibawakan nasi bungkus oleh Puji, karena ibunya adalah salah satu pemilik kantin di Universitas Y. Lumayan, mengurangi pengeluaran saya untuk membeli nasi dalam 1x makan, he...he...he... Nyonya bisa cek data pasien atas nama bu Yunita di rumah sakit SA bulan Oktober 2000." Gadis cerdas itu selalu melampirkan detail eksplisit dari ceritanya, supaya tidak dianggap membual.


"Ya sudah. Sekarang kamu bisa mulai kerja." Sang nyonya sepuh memutuskan menerima Rani, setelah interview yang tidak selazimnya di kantor.


"Saya diterima nyonya?" Rani bersorak kaget dan kegirangan mendengar bu Winata menyuruhnya belajar.


"Ya." Sang nyonya besar menjawab singkat.


"Alhamdulillah.Terimakasih Ya Rabb, Engkau telah mengabulkan doaku." Rani tiba-tiba berjongkok di lantai, lalu bersujud dengan ucapan - ucapan syukurnya.


"Tapi nyonya, mohon maaf, saya belum bisa kerja hari ini, karena pakaian masih saya titipkan ke teman. Saya menumpang menginap di kosannya." Setelah sujud syukurnya, calon perawat itu duduk beraimpuh dan mengungkapkan kebingungan saat langsung diterima kerja.


"Bi Sumi. Sini." Istri pak Anggit duduk di tepian ranjang maminya dan memanggil asistennya.


"Ya, nyonya Grace." Pembantu itu berdiri membungkuk hormat pada majikan keduanya.


"Kamu ke depan, suruh pak satpam balik. Nanti aku akan menemui mereka di pos gerbang. Dan kamu Rani, temani mami sambil kompres pinggang belakang mami dengan air hangat agak panas, untuk mengurangi nyerinya. Letakkan handuk di bagian bawah supaya airnya tidak menetes di sprei. 1 jam lagi, aku akan mengantarmu pulang." Bu Grace lantas berpindah duduk di sisi suaminya yang dari tadi menunggunya duduk di sofa.


"Ayo sayang, kita ke ruang kerja." Pak Anggit mengangguk lantas merangkul pinggang istrinya berjalan ke luar ruangan.


"Nyonya, apa sudah siap saya kompres sekarang?" Rani meminta ijin pada majikannya untuk memulai bekerja yang dia anggap seperti masa training.

__ADS_1


"Ya boleh. Hati - hati memiringkan badanku ya. Aku sudah 2 bulan terbaring begini. Karena, penyangga leherku baru saja dibuka 1 Minggu ini. Grace yang total merawatku didampingi perawat rumah sakit selama aku kena musibah ini. Tapi suster itu mau menikah. Jadi dia mengundurkan diri dan kembali dinas di rumahsakit. Ada sih penggantinya. Tapi aku nggak cocok." Rani mengangguk - angguk mendengar penuturan majikannya.


"Panasnya sudah pas apa kepanasan, nyonya?" Rani sebenarnya kepanasan saat memeras handuk untuk mengompres. Tapi demi totalitas bekerja, dia harus menahan rasa perih panas di telapak tangannya.


"Mmm...pas enak Ran. Moga, dalam perawatanmu, tulang ekorku membaik, lalu aku bisa duduk lagi." Bu Winata merasa nyaman dengan kompres buatan Rani.


"Airnya sudah ndak panas, ini sudah apa mau dikompres lagi, nyonya?" Gadis cantik itu meminta ijin terlebih dulu tentang aktifitaitu.


"Sekali lagi ya. Buatkan yang sama suhu airnya. Pinggang dan perutku rasanya enak." Rani segera berlalu ke kamar mandi dan meracik air kompresan untuk majikannya.


"Nyonya, handuk kompres dan alasnya, dibagaimanakan ini?" Di tempat baru, dia ndak berani lancang berbuat. Harus ijin dulu pada bosnya. Kalau sudah terbiasa, tentu dia akan langsung melakukan, karena sudah rutin dijalani.


"Gantung di kamar mandi luar saja. Gantungan yang di dalam, untuk keperluan mandi." Tetap dalam posisi miring, ibunya Grace memberitahu yang harus dikerjakan perawat barunya.


"Sudah nyonya? Apalagi yang nyonya perlukan?" Rani mengikat rambut panjangnya dengan karet gelang, sambil bertanya lagi kalau majikannya ingin sesuatu.


"Ambil balsem di nakas itu. Oleskan di pinggang yang dikompres tadi. Setelah itu, baringkan kembali aku. Kamu naik ke ranjangku ini, duduk di tengah. Lalu pijit - pijit kakiku. Rasanya aku mengantuk. Kalau aku sudah tidur, tutup pintunya pelan. Kamu ke belakang temui Sumi di dapur. Biar dia yang panggil Grace." Dengan suara malas dan mata terpejam, nyonya sepuh yang mulai mengantuk itu, mengarahkan Rani tentang yang harus dia lakukan.


"Baik nyonya. Begini sakit ndak Nyonya?" Karena yang dihadapi adalah orang yang sepertinya sangat berpengaruh, Rani selalu bertanya, karena takut kalau membuat kesalahan.


"Enak.Teruskan saja. Sudah, jangan ngomong ya. Aku mau tidur." Rani diam tapi tetap memijit kedua kaki juragannya secara bergantian. Hingga gerak dari pernafasan bu Winata sudah pelan di dadanya, Rani turun dari tempat tidur seakan tanpa suara dan gerakan. Perlahan, dia membuka handle pintu kamar.

__ADS_1


__ADS_2