Aku Anak Pelakor

Aku Anak Pelakor
5. Persiapan


__ADS_3

"Deg. Astaghfirullah." Jantung Rani berdegup kencang manakala setelah berhasil menutup pintu kamar nyonya Winata tanpa suara, tiba-tiba di belakangnya sudah ada nyonya mudanya.


"Kenapa kamu?" Gracia mengerutkan kening melihat tingkah asistennya yang terlihat absurd.


"Saya kaget nyonya. Tadi perasaan ndak ada orang, kok ujug-ujug nyonya ada di belakang saya? Untung saya tidak menjerit." Gracia tersenyum mendengar penuturan Rani yang sedikit ada komplainnya.


"Oh, mami sudah tidur?" Dia mengalihkan pokok bahasan pada keadaan ibunya. Perawat barunya itu mengangguk.


"Kamu makan dulu. Boleh di kitchen bar atau teras belakang." Karena waktu sudah lewat jam 11:00, Grace menyuruh Rani makan dulu sebelum diantar pulang ke kosan temannya.


"Saya tadi sudah bawa bekal, nyonya. Terimakasih." Rani merasa segan, sehingga dia menolak tawaran majikannya.


"Oh, ya sudah. Terserah kamu. Tuh, ambil apelnya. Bisa mengganjal perutmu di perjalanan nanti. Yuk, berangkat. Mami biar diurus bi Sumi." Nyonya muda itu mengajak Rani untuk bersiap pulang.


Mobil melaju perlahan keluar dari area rumah. Rani terlebih dulu mendorong gerbang, lalu bi Sumi mengunci pintu pagarnya dari dalam.


"Bi, saya pamit dulu ya." Perempuan umur 40an itu tersenyum dan mengangguk saat calon temannya bekerja di rumah itu berpamitan.


Ketika Rani hendak membuka pintu belakang, tiba-tiba kaca jendela pintu sebelah kiri diturunkan dari kendali ruang kemudi.


"Sini, duduk di sebelahku. Memangnya aku sopirmu? Lain soal kalau ada suamiku, kamu duduk di belakang sama mami." Rani keheranan sama majikannya yang justru menyuruh dia duduk di depan.


"Santai saja. Yang penting kamu bisa menempatkan diri, siapa aku dan siapa kamu? OK."


Grace melajukan mobil mininya perlahan. Rani tidak berani bicara tanpa majikannya mengajaknya ngobrol terlebih dahulu. Dia sangat menikmati dan mengagumi kota yang baru diinjaknya dalam 2 hari. Dia sangat bersyukur, ternyata proses pelariannya dari trik dan intrik di kampung halamannya membuahkan hasil. Dia bertemu orang - orang baik dan dalam keadaan selamat, bahkan mudah sekali mendapatkan perkerjaan walaupun non formal job.

__ADS_1


"Ini kan gang masuk kampung kosanmu?" Rani tergagap manakala sang majikan menanyainya tentang alamat kosannya Lina.


"Aduh, maaf, nyonya. Saya baru di 2 hari di Bandung. Datang ke sini pun juga malam. Keluarnya tadi pagi ke rumah nyonya. Bahkan jalan ke rumah nyonya saja, saya ndak tau. Bentar, saya telfon teman saya dulu ya nyonya. Bismillah...semoga diangkat."


"Tut...tut..." Baru dua kali berdering, Lina sudah mengangkat telfonnya.


"Ada apa Ran? Kamu di mana? Apa ada masalah?" Teman yang memberinya tumpangan tidur itu langsung memberondong pertanyaannya.


"Aku ndak tau ada di mana? Itu masalahnya. Alamat kosanmu apa? Ini aku diantar majikanku, tapi aku lupa jalan masuknya. Seingatku tadi pas ke luar kos - kosan, jalan depannya lebar, ada banyak kios pedagang dan depannya ada sungai. Bener ndak? Aku sekarang ada di jalan Pajajaran."


Lina menyimak penuturan Rani, lalu to the point berkata, "Bentar aku kirimkan alamatnya.Tunggu sebentar. Itu sudah dekat.Lurus saja sampai lewat perempatan. Kira - kira 50m, gangnya sudah nampak. Arahkan bosmu untuk belok kiri. Majikanmu nanti pasti tau dan sampai kok. Jangan khawatir. Sudah dulu ya." Karyawan pabrik itu menutup telfon, karena dia harus segera menyelesaikan makan di jam istirahatnya.


"Ting..." Notifikasi SMS masuk. Rani lalu membukanya. "Ini nyonya alamatnya." Grace melihat sekilas lalu melakukan kembali mobilnya.


"Nah, itu nyonya. Parkir di sini saja. Nanti nyonya putar balik saja. Apa nyonya mau singgah dulu? Tapi maaf, nyonya. Keadaannya masih bagus dapurnya nyonya."


"Gak usah. Aku mau lanjut menemui temanku. Besuk saja aku mampir. Jam 9 an, pagi ku jemput. Kamu harus sudah siap. OK."


Calon perawat itu membuka pintu, menutupnya perlahan lalu berpamitan pada majikan mudanya dengan membungkuk hormat. "Baik.Terimakasih, nyonya. Hati - hati."


Wanita langsing berkulit putih itu membunyikan klakson mobilnya sekali, sebagai tanda berpamitan pada asistennya, lalu melaju menyusuri gang yang hanya bisa dilewati bersimpangan oleh 1 mobil dan 1 motor.


Rani melangkah memasuki gerbang, lalu membuka pintu kamar Lina. Dia meletakkan rangselnya, menutup pintu kamar, lantas mengambil air wudhu untuk menunaikan sholat dhuhur. Setelahnya, dia mengunci pintu dan melepas anak kunci supaya temannya bisa membuka dari luar dengan kuncinya sendiri. Hanya jendela atas yang dibuka, agar ada pergantian udara. Kemudian dia membaringkan diri sambil menatap langit - langit kamar.


Tiba-tiba, indera penciumannya mencium bau yang bukan dirinya. Mata rasanya enggak dibuka, tapi dia berusaha keras membukanya. Samar terlihat olehnya, ada orang yang duduk berselonjor kaki di lantai. Setelah kesadarannya penuh, dia memastikan lagi penglihatannya.

__ADS_1


"Sudah pulang kamu Lin? Maaf, aku ngantuk banget, sampai ndak dengar kamu masuk." Rani merasa malu, karena tertidur pulas di kamar kos yang dia tumpangi.


"Gak papa. Aku juga baru sampai. Tak mandi dulu ya. Gerah." Lina mengambil peralatan mandinya lalu melenggang keluar kalmar. Sedangkan Rani bangkit dari pembaringan, mengekor temannya tapi dia mengambil air wudhu saja.


Setelah, selesai beribadah, Lina berdiri menu menuju meja tempat magic com. Sedangkan Rani mengeluarkan nasi bungkus bekal makan siangnya yang dibuatkan oleh Lina, tapi belum sempat dia makan.


"Lin, aku maem iki wae. Maeng nok kono, aku ditawani maem, tapi aku isih wareg. Aku nolak. Tadi aku yo disuruh ambil buah karo majikanku. Aku njupuk apel loro wae. Ki, nggo awake dhewe. Tekan kene, aku ngantuk banget. DadI, bekale rung sempat take maem. Ojo nesu yo?"


Pemilik kamar itu tersenyum menatap teman barunya yang merasa bersalah karena belum memakan bekalnya.


"Yo ora opo - opo to. Jal didelok, mambu opo ora?" Lina mengecek nasi bungkus milik Rani yang ternyata tidak basi.


"Ayo, maem. Sik enak kok." Rani mengangguk dan menikmati makanannya. Sesudahnya, mereka membersihkan kamar, lalu menutup pintunya dan duduk nonton TV sambil makan buah apel.


"Aku tadi diantar Parto ke perumahan mewah. Namanya Villa D Pakar. Tempatnya di dataran tinggi, banyak pohon besar dan rumahnya megah - megah. Parto berangkat kerja, aku nemui satpam tanya lowongan kerja di rumah. Ternyata ada. Aku merawat lansia yang lumpuh. Sepertinya akibat kecelakaan? Aku sik belum berani tanya. Tadi aku ditraining merawat. Alhamdulillah, nyonya besar cocok. Sakjane tadi aku langsung disuruh menginap. Tapi ku bilang, aku ndak bawa perlengkapan. Rencana, aku arep naik angkot. Tapi, nyonya muda malah mengantarku. Besuk pun dia yang jemput."


Lina terkesima mendengar cerita Rani. Tak disangka, aksi nekadnya membuahkan hasil. Jarang lho, bisa langsung diterima kerja, apalagi dapat majikan yang baik.


"Waaah...bosmu kok apikan Ran? Sesuk jadi ndak diantar Parto yo? Awakmu wis SMS dia?"


"Uhuk...uhuk...Rani yang sedang mengunyah apel, tiba-tiba tersedak. Dia spontan menemukan jidatnya sendiri karena kelalaiannya belum mengabari Parto. "Oh iyo. Lali aku. Sik, tak telpone dia. Lek SMS kesuwen. Toh besuk kerjaku ndak perlu uang. Jadi dhuwitku iso tak belikan pulsa."


"Tut...tut...tut..." Parto yang sedang di jalan, menepikan motornya untuk menjawab telepon.


"Ya, nyapo Ran? Awakmu nyang ndi? Opo minta dijemput?" Parto, teman sedaerahnya merasa bertanggungjawab dan khawatir kalau sesuatu terjadi pada temannya.

__ADS_1


"Aku sudah dapat kerjaan, To. Besuk aku mulai kerja. Tapi ndak usah kamu antar. Nanti aku dijemput kok sama majikanku. Iki aku wis di kosan e Lina. Maaf, telat ngabari yo?"


Parto menarik nafas lega, karena ternyata temannya itu baik - baik saja. "Ya udah. Aku sik di jalan. Nanti tak main ke situ." Telfon keduanya pun berakhir.


__ADS_2