Aku Anak Pelakor

Aku Anak Pelakor
3. Melamar Kerja


__ADS_3

Setelah 30 menit perjalanan, motor berhenti di sebuah komplek perumahan yang megah. Tempatnya di dataran tinggi. Ku perhatikan sekeliling, jalan perumahannya sangat lebar. Banyak pohon besar di sisi jalan. Bersih di sepanjang trotoar.


"Sudah, aku tinggal ya. Mau kerja. Kalau mau ke mana, tanya saja satpam itu." Parto meninggalkan temannya itu di depan gerbang komplek.


"Ya, aku paham." Rani sebenarnya sedikit takut, tapi harus memberanikan diri demi kelangsungan hidupnya. Bayangkan, menginjak ibukota provinsi, mencari pekerjaan di tempat yang jauh dari angkot, sendirian pula.


Dibacanya tulisan di gapura tempat dia berada sekarang. Vila D Pakar. "Wow...keren. Bismillah. Semoga Engkau permudah jalan hamba, Ya Rabb." Rani mulai melangkah ke ruangan security di tengah jalan, pas di pintu masuk komplek.


"Selamat pagi, pak. Saya Rani, dari provinsi JT, hendak mencari pekerjaan di komplek sini jadi babby sitter atau perawat lansia, saya juga bisa. Ini berkas yang ada, semoga bapak bisa menolong saya." Dengan lugas, gadis perantau itu menyampaikan tujuannya pada beberapa pria yang sedang ada di ruangan security.


"Lah, mbaknya nggak salah tujuan? Kan mbaknya S1. Dari Universitas Negeri pula. Kan mbaknya pinter? Masa iya mau jadi pembantu?" Sambil membolak-balikan lembaran berkas milik Rani, para security itu menatap keheranan.


"Anu pak. Saya kehabisan uang untuk ongkos pulang. Trus saya suka saat bisa sampai di kota ini. Jadi, untuk mengurangi beban sewa kamar dan makan, maka, saya putuskan untuk mencari kerja yang bisa langsung diterima, ada tempat tinggal dan dijamin makannya. Jangan khawatir, saya bisa dites hari ini kok." Rani meyakinkan para satpam itu untuk lanjut menolongnya.


"Gimana ini bro?" Seorang yang berambut ikal, minta pendapat temannya.


"Eh, aku ingat. Kemarin pak Anggit sepertinya mencari perawat untuk ibunya? Bentar, Ku. Coba ku hubungi dulu." Pria berkumis itu gegas meraih handphone fasilitas komplek untuk menghubungi orang yang diingatnya itu.


"Tuuut...tuuut...Halo." Baru dia kali berdering telefon sudah diangkat dari seberang.


"Halo. Selamat pagi, pak. Ini Bambang di pos depan. Mau tanya, apa lowongan suster yang bapak cari kemarin sudah ada yang mengisi?" Pria berkumis itu ternyata namanya Bambang.


"Oh, itu. Belum mbang. Ada apa?" Orang itu ternyata belum mendapat perawat untuk ibunya.

__ADS_1


"Ini pak. Di sini ada wanita dari provinsi JT, membawa berkas lengkap akurat, minta dicarikan pekerjaan sebagai perawat atau baby sitter. Apa bapak berkenan melihatnya?" Bambang mengutarakan masalah yang sedang ada di ruangannya.


"Oh, boleh. Bawa ke sini saja, Mbang." Pak Anggit mengiyakan tawaran dari securitynya.


"Baik, pak. Biar Wisnu yang antar ke sana. Nu, antar mbaknya ke rumah pak Anggit ya." Bambang rupanya security senior di tempat itu.


"Ya mas. Ayo mbak." Pria bernama Wisnu itu membonceng Rani dengan motor trail komplek menuju rumah pak Anggit.


Hanya menempuh waktu 5 menit, motor sudah berhenti di rumah megah bergaya klasik, seperti bangunan jaman pemerintahan Belanda, tapi berlantai 2 dan ada balkonnya. Tampak berbeda dari rumah di sekitarnya yang bergaya modern.


"Ting nong...ting nong..." Wisnu hanya dua kali memencet bel, dari garasi sudah tampak perempuan baya yang berlari kecil akan membukakan pintu pagar.


"Silahkan masuk mbak. Langsung ke ruang tamu ya. Kalau mas satpam, nunggu di gazebo saja. Mau minum apa, mas?" ART itu menawari Wisnu minuman.


"Mari mbak, saya antar." Asisten itu berjalan mendahului Rani ke ruang tamu. "Silahkan duduk. Saya tinggal dulu ya."


"Iya, makasih, bi." Rani mengangguk pada perempuan itu, lalu duduk dengan hati - hati di kursi yang dia taksir harganya lebih dari 10 juta itu.


Rumahnya sangat megah. Atapnya tinggi. Ada kongliong yang menghubungkan ruang tamu ke ruang keluarga. Ada foto wanita sepuh, duduk dikursi roda yang diapit berdiri oleh wanita tinggi, berkulit putih, dan bermbut ikal yang cantik seperti bule. Sebelahnya lagi ada pria tinggi tegap, putih, berambut lurus dan tampan.


'Ehm..." Sebuah suara deheman mengagetkan Rani dari keterpanaannya menatap bingkai foto besar yang pastinya juga mahal. Dia terpana melihat sepasang pria dan wanita di foto itu secara nyata. 'Sungguh pasangan yang serasi.' Gumamnya dalam hati.


"Itu foto ibuku, aku dan suamiku." Wanita anggun itu menjelaskan isi pigura itu pada Rani.

__ADS_1


"Bisa lihat berkasmu?" Si pria dengan suara padat kelakiannya mengalihkan tatapan Rani dari wanita cantik yang menurutnya seperti boneka Barbie.


"Ini, pak." Pria dan wanita itu duduk di depan Rani yang terhalang oleh meja. Si lelaki melihat berkasnya sambil manggut-manggut, lalu memberikan pada istrinya.


"Namaku Gracia. Ini suamiku, namanya Anggit. Panggil aku bu Grace, ok. Bener ini semua asli?" Nyonya rumah menanyai Rani tentang keabsahan data - datanya.


"Itu betul, ibu. Silahkan dicek di website almamater saya." Gadis dari kota kecil itu menjawab interview dengan tenang. Duduknya tegak dan kedua tangan bertumpuk di pangkuannya.


"Kamu sarjana. Apa nggak malu kerja jadi ART?" Bu Grace kembali menelisik kesiapan Rani untuk bekerja rumahan, yang sangat bertolak belakang dengan background pendidikannya.


"Nggak apa - apa, ibu. Semoga saya bisa melakukan pekerjaan ini dengan baik." Rani memantapkan tekadnya menjadi asisten di rumah itu.


"Baiklah. Boleh aku cek kemampuan dan kesiapanmu merawat orang jompo?" Sang nyonya rumah mulai mengetes kemampuan Rani.


"Silahkan, nyonya." Gadis desa itu setuju dites oleh calon majikannya.


"Ayo ke sini. Ikuti aku." Pemilik rumah berjalan lebih dulu melewati kongliong lalu membuka pintu ruangan besar di belakang ruang tamu.


Tampak di tempat tidur, seorang wanita sepuh berambut putih sebahu, memakai daster semata kaki sedang memejamkan matanya dan berbaring tanpa menggunakan selimut. Tak ada dinginnya suhu AC, karena jendela kaca dan pintu yang tembus ke taman samping rumah sedang dibuka.


"Mami, ini aku bawakan perawat yang bisa menemani hari - hari mami. Mami lihat dan rasakan dulu ya. Sini mbak, dekat ibuku." Gracia menyuruh Rani yang berdiri di sampingnya untuk mendekat pada ibunya.


"Selamat pagi, nyonya. Nama saya Maharani. Saya datang dari kota kecil di provinsi JT. Saya nekad merantau, karena saya ingin tau dan tinggal di tempat selain desa kelahiran dan kota saya pernah menimba ilmu. Semoga ibu cocok dengan saya ya." Rani bersimpuh di lantai, memegang tangan wanita sepuh itu, lalu takzim mencium tangannya. Tak diduga, butiran kristal bening jatuh ke kulit seputih porselen yang dia cium itu. Entah mengapa, dia terharu melihat penampakan sosok yang mungkin seusia ibunya.

__ADS_1


"Kenapa kamu menangis?" Sebuah suara lembut menyadarkan Rani dari takzimnya dia meletakkan punggung tangan wanita sepuh itu ke pipinya, setelah tadi sempat dia cium.


__ADS_2