
Tak ada yang tahu akan alur hidup kita. Kita hanya memiliki rencana besar yang indah, namun kenyataan itu terkadang membuat kita hanya bisa menghelakan nafas untuk menerima semua.
Bagaimana mungkin ku mulai semua sendirian, semua kita lakukan bersama, lalu mengapa kau yang selalu menyalahkan aku.
Air mata ku pun menetes, menghiasi kesendirian ku.
sekilas ku terlintas akan kehidupan awal kita dipertemukan. ku yang tak yakini kalau kita memang bisa bersama, bertahan hingga kini. ku yang selalu mencoba berpikir positif tentang kita, namun kamu yang sebenarnya selalu meruntuhkan asa ku. sulit untuk ku memulai atau menghentikan semuanya. ku hanya mampu berdiam, apa yang mesti ku lakukan kini.
ku tundukkan kepala ku, di depan hanya jendela dengan hiasan tembok yang membisu. menangis ku sejadi-jadinya.
pertengkaran ini membuat pikiran ku kalut. membuat ku enggan mengerjakan semua pekerjaan rumah. ku pejamkan mata ku, terlintas tentang awal kita dipertemukan.
...----------------...
media sosial itu membuat kita saling mengenal, awal perkenalan dengan sebuah kebohongan, awal perkenalan dengan sebuah pelarian. iya dulu aku mengenalnya dari media sosial karena dulu aku sedang menyelidiki sebuah perselingkuhan pacar ku. akhirnya kita saling mengenal, mencoba untuk saling berdiskusi.
kala itu aku yang memulai pesan.
"hai, boleh kenalan?" tanya ku.
"hai juga, maaf dengan siapa ini?" balasnya.
"maaf mengganggu, saya Mey. ada yang ingin saya tanyakan"
"Mey mana ya? nama saya Rey", "apa yang ingin kamu tanyakan" jawabnya kembali dengan penuh penasaran.
aku berhenti sejenak merasa ragu untuk melanjutkan pesan itu. namun, rasa sakit hati dan penasaran ku lebih tinggi hingga ku sudah tak dapat berpikir jernih. kala itu, aku di hantui rasa curiga, cemburu. karena saat itu pasangan ku sedang menjalin hubungan dengan wanita lain. kenapa Rey, kenapa Rey yang saya hubungi. karena kebetulan saat itu saya melihat sebuah postingan yang isinya Rey selalu komen dalam postingan nya. saya yakin kalau Rey tahu tentang dia.
tit... tit... tit.... nada pesan ku kembali berdering.
"apa yang bisa saya bantu?" isi pesan singkat dari Rey.
"maaf sepertinya saya sudah mengganggu, saya pun tak enak untuk menanyakannya" balas ku.
"ok boleh minta no tlp kamu?" balasnya.
aku tak berpikir banyak yang aku butuhkan adalah informasi, akhirnya aku berikan no tlp ku padanya.
__ADS_1
tak lama nada dering di telepon ku berbunyi. panggilan masuk dengan no baru.
"hallo...." angkat ku ragu
"hallo, dengan Mey?" jawab di ujung suara itu.
"iya, maaf dengan siapa ini?" jawab ku lagi, terlintas mungkin itu Rey.
"ini Rey, apa yang mau ditanyakan Mey?"
"Oooo... iya maaf Rey, Mey jadi ganggu. gak apa- apa kok Rey" jawab ku dengan sedikit canggung dan berpikir harus mulai dari mana.
"tenang saja gak ganggu kok, Rey gak sibuk. apa yang mau ditanyakan?, gak usah sungkan" jawabnya dengan halus dan mungkin ia pun penasaran.
"hhhmmm.... Mey mau tanya tentang yang namanya Putrikodok" tanya ku dengan merendahkan suara ku.
"Ooo.. dia, emang kenapa?" balik penasaran.
lalu ku terpaksa menceritakan kenapa aku menghubunginya....
panjang lebar namun secara singkat aku menjelaskan kepadanya perihal aku menghubunginya. Dan Rey pun menjawab dengan secara rinci siapa putri kodok itu.
"lalu apakah lelaki itu Dira?" tanya ku semakin ingin meyakinkan.
lalu Rey sebutkan ciri-ciri lelaki yang saat itu sama persis dengan Dira.
Jlebb.... rasanya sakit, sakit banget. Dada ini merasa sesak, badan pun enggan lagi bertenaga. mungkin karena rasa kecewaku terlalu besar.
"makasih ya Rey informasi, sudah dulu ya" ku tutup telepon itu dan ku menangis sejadi-jadinya.
kesekian kalinya Dira membuatku kecewa, kesekian kalinya Dira berkhianat, dengan beberapa wanita yang berbeda.
hari-hari ku sedih, hampa, kecewa. walau memang aku dan Dira masih berhubungan tapi apa mungkin semua ini akan bertahan, apa mungkin Dira harus selalu ku maafkan.
"sayang, aku ingin ketemu, aku jemput ya jam 10.00 WIB" pesan singkat dari Dira. ku masih di atas tempat tidur, ku lihat jam menunjukkan pukul 09.00 WIB. Badan ku lemas, seakan tiada tenaga. Namun, aku selalu tak bisa menolak Dira, yang entah apa mungkin ku terlalu mencintai nya, atau memang aku buta karena nya.
"hallo... sayang aku sudah di depan, ayo kita keluar, ada yang ingin aku bicarakan sebelum aku pergi" ungkap pria di balik telpon itu.
__ADS_1
aku pun beranjak menemui nya, aku sudah siap untuk pergi dengan nya, dan luka itu masih sanggup ku menahannya.
"mau kemana?" tanya ku.
"ayo ikut saja, aku akan buktikan keseriusan ku padamu" ungkapnya.
hati wanita yang mana yang selalu tak luluh dengan sifatnya yang selalu memberikan kejutan, serta kata-kata yang sangat meluluhkan hatiku namun, wanita nya terlalu banyak. Dira selalu berkata, "dengan siapapun aku yang penting hati ku untuk mu", padahal itu sangat menyakitkan buat ku.
"ayo naik," ajaknya untuk menaiki motor yang di kendarai olehnya.
aku ikuti maunya, "sini pegang" sambil menarik tangan ku untuk memeluk pinggangnya. dan aku nyaman dengan itu,
kita menelusuri sebuah perkampungan yang belum pernah aku singgahi,
"mau kemana ini?" tanya ku.
"kita ketemu sama ibuku" tegasnya seperti bahagia. itu yang kulihat dari wajahnya. Tapi, tak bisa ku baca cara berpikir nya. Dia yang memperkenalkan aku dengan ibunya, Dia yang meyakinkan aku bahwa dia serius dengan hubungan ini. Namun, dia juga yang menyakiti aku dengan tetap menjaga hubungan dengan wanita lain yang lebih dari 1orang.
"ayo masuk" Dira menggenggam tanganku menghampiri ibunya yang sedang duduk di teras rumah, dan sepertinya ibunya tahu akan kedatangan ku.
ku hampiri ibunya, dan ku kecup tangannya.
"sini nak, kita buat kue" tanpa basa basi ibunya mengajak ku ke dapur dengan persiapan bahan- bahan yang sudah tersedia. Dira memang tahu aku suka buat kue, dan memang kata Dira mamahnya pun sama suka membuat kue. Sambil berbincang banyak aku dengan ibunya Dira di dapur, mungkin perkenal pertama ini di bilang sangat lancar. Dan Dira pun terlihat bahagia, teryata Dira ingin mengenalkan aku sama ibunya. sempat aku luluh dengan sikapnya itu, namun dibelakang sana Dira pun sama memperkenalkan wanita lain kepada ibunya. Dira hanya mengatakan "aku ingin ibuku menilai wanita mana yang baik untuk ku" tapi itupun menyakiti ku, apa maksudnya. Dira kembali mengajak aku ngobrol berdua.
"sebelum aku berangkat ke luar kota, aku ingin kamu tahu kalau aku serius dengan hubungan ini. namun, aku gak bisa mengikat kamu dengan status, aku mau membiarkan kamu pergi dengan siapapun namun yang penting nanti kamu akan kembali untuk ku ketika aku pulang, dan biarkan akupun dengan siapapun untuk menjaga baik tali hubungan aku dengan yang lainnya" tegasnya sambil menenggang tangan ku.
ku menangis, "jangan menangis aku gak mau kamu menangis" sambil mengusap air mata yang membasahi pipi ku.
"kamu yang membuat aku menangis, kamu yang membuat aku terluka, dan hingga kamu mau pergi pun kamu tidak memberikan aku kepastian akan hubungan kita" ku tak kuasa ku tak mengerti jalan pikirannya.
"aku ingin pulang" pinta ku.
"baiklah, aku antar kamu pulang" jawabnya.
itulah hari-hari ku yang hanya di iringi perasaan luka dan air mata.
"besok, aku ingin kamu mengantarkan aku sampai naik Bus ya, aku ingin kamu mengantar ku pergi" pintanya.
__ADS_1
"iya" jawab ku singkat.
......................