
Bagaimana lagi aku dapat meneruskan kata. Jika asa ku saja sudah seakan sudah tak dapat membuka luang... Semua terlalu berat saat dirasa, saat semua tertumpuk dalam angan ku. Kecewa, terluka seakan semuanya tak adil buat ku. Namun, luka ini terlalu dalam karena ku yang terlalu dalam menaruh sebuah harapan tentang kita. Kata kita yang tak dapat lagi disatukan. Tak pernah akan dapat disatukan dalam ikatan yang ku dambakan. Namun, bagaimana kita bersatu, jika kepercayaan ku telah kau retakkan. Hati dan asa ku telah tak utuh lagi. Semua jadi mengambang, raga ku ada namun seakan tak berarah.
Hari-hari ku hanya ku jalani sebatas keharusan. Bukan lagi sebuah penantian. Raga ku ada namun seakan tak bernyawa. Nyawaku ada namun seakan tak berasa.
Selalu ku coba bangkit dari keterpurukan ini. Dira telah lukai hati ku, dan aku telah membuat sebuah pilihan yang besar. Memutuskan untuk memilih pria lain yang akan mendampingi hidupku. Bukan lagi hal mendampingi sebagai pasangan kekasih. Namun, mendampingi semua sisa hidup ku. Dan ku tak bisa terus berada dalam titik ini. Asa ku ini tak adil jika ku perlakukan Rey seperti ini. Karena Rey tak salah, Rey hanya bagian dari masa depan ku, Rey yang akan mengisi hari-hari ku kedepannya. Dan ku tak bisa berhenti disini. Ku harus tetap melangkah. Melanjutkan hidup ku. Melanjutkan masa ku.
Relung ku dalam malam.
Hanya dalam doa semua ku curahkan pada pemilik raga ini, selama persiapan ku menghadapi pernikahan ini. Selama itu pula ku mencoba berdamai dengan asa ku, tak ingin terus ku berada dalam keterpurukan ku. Dan tak adil jika ku melibatkan orang lain dalam hal ini. Diiringi dengan doa, "akankah Rey, nyata yang akan menjadi pendamping hidup ku".
Entah berapa lama ku menangis, menangisi kehidupan ku ini, ku yang seperti tak sadarkan diri, yang terlalu mencintai Dira terlalu dalam. Hingga ku sudah tak dapat melihat banyak hati yang terluka. Banyak hati yang ku lukai hanya demi asa ku pada Dira.
Entah sampai kapan air mata ini akan terus menangisi hal yang jelas semuanya tak akan bersama. Hal yang memang tak akan bisa utuh kembali.
Doa di sepertiga malam untuk calon pendamping hidup ku
*Wahai lelaki yang telah Tuhan ku pilihkan untuk mengisi hari-hari ku.
Wahai lelaki yang telah Tuhan ku pilihkan untukku sebagai pendamping ku.
Wahai lelaki yang telah Tuhan ku pilihkan untuk kita berjalan bersama dalam sebuah pernikahan.
Yang dari sebuah pernikahan ini merupakan sebuah perjalanan panjang.
pernikahan ini bukan lagi suatu proses yang hanya dapat memilih.
Karena bagi ku, pernikahan itu adalah suatu keputusan yang terakhir.
Suatu keputusan yang tak akan lagi ada kata pisah didalamnya.
__ADS_1
Suatu keputusan yang seburuk apapun dalamnya harus tetap terlihat indah.
Suatu keputusan yang harus bisa ku jaga utuh.
Suatu keputusan yang bukan lagi hanya sekedar kata.
Jadikanlah tujuan ku ini tujuan mu.
Jadikanlah harapan ku ini harapan mu.
Jadikanlah mimpiku ini mimpi mu.
Dan jadikanlah aku ini menjadi kita.
Kita yang akan terus berjalan saling beriringan.
Kita yang akan saling bergandengan.
Kita yang akan selalu terikat dalam ikatan suci.
Karena pernikahan bagi ku merupakan perjalanan yang panjang yang harus diperjuangkan*.
Rey adalah pilihan ku, dan Rey telah memilih ku. Tak banyak hal yang ku ketahui tentang Rey. Apalagi asa nya, saat itu, detik itu, ku tak pernah menanyakan apakah kamu mencintai ku?.
Dan tak pernah aku bisikkan aku mencintaimu Rey.
Semua berjalan begitu saja. Aku dan Rey seakan hanya mengikuti alur saja. Kemana pernikahan ini akan berjalan. Tapi, entah keyakinan ku menjalani semua ini seakan tak goyah. Tak sedikit pun ragu. Keputusan yang kalau dijabarkan semua ini tak ada artinya.
Aku belum mengenal pribadi Rey terlalu dalam. Aku hanya menghadirkan Rey sebagai penyembuh luka ku. Rey obat mujarab ku.
__ADS_1
Sungguh kacaunya hidup ku ya...
Dan tak ada seorang pun yang tahu akan hal ini.
Semua ku curahkan dalam doa. Semoga Rey adalah Jawaban doa-doa ku.
Esok adalah hari pernikahan ku.
Namun mata ini masih enggan untuk memejamkan nya. Sanak saudara sudah berkumpul, yang jauh mendekat, yang dekat saling membantu, kakak adik semua bekerja sama. Semua sibuk dari hari kemarin. Lalu aku hanya diam tak terpikirkan harus melakukan apa pun. Karena, "calon pengantin itu di kamar saja, Jangan pegang ini, itu, diam saja"
hhhmm ok lah akupun cukup diam saja dan kembali menutup pintu.
Malam menuju esok hari pernikahan ku. Tak dapat ku memejamkan mata, padahal di rumah gak begitu ramai karena pesta pernikahan di gelar di gedung.
Dalam hening malam, ketika semua mulai terlelap dalam lelah, ku terbangun kegelisahan yang entah apa yang ku lakukan keputusan yang luar biasa, yang telah ku pilih. Ku coba mengambil air wudhu, menunaikan shalat malam, kembalikan semua pada Nya, pada pemilik raga ini. Sandaran dan keyakinan ku tiada tempat untuk dapat ku utarakan isi hati dan pikiran ku yang sebenarnya. Selain, dalam sujud dan doa. Air mata ku terus berlinang, bukan karena penyesalan akan hal yang ku pilih. Namun, akan pilihan yang ku pilih.
Dalam sujud ku,
"Doa dalam malam ini, ya Allah Engkaulah pemilik raga ini, pemilik hati ini, pemilik jalan ini tak ada hal yang dapat ku rencana kan tanpa seijin mu, tak ada jalan yang dapat ku lalui tanpa ridho Mu. Apa yang akan ku lalui esok, jika Engkau Ridhai maka berikanlah kelancaran. Namun, jika memang dia bukan jodoh ku maka tunjukkanlah. Ya Rabb, berikanlah ketenangan akan hati ini, ketenangan hati akan pilihan yang sudah ku pilih. Ya Allah .... jika memang ini adalah keputusan untuk menjadikan ku seorang istri. Maka, jadikan lah hamba menjadi istri yang dapat berbakti kepada suami ku. Jadikanlah aku seorang istri yang taat pada suami ku. Dan, apapun kondisi suami ku semoga aku bisa terus mendampingi nya sebagaimana ku beribadah hanya karena Mu.
Jadikanlah, asa ku sebagai iman ku pada Mu.
Semoga pernikahan ini merupakan wujud ibadah ku pada Mu. Dan semoga pernikahan ini adalah ibadah Kami pada Mu."
Sujud dan doa ku ini, setidaknya membuat hati ku tenang. waktu menunjukkan pukul 02.30 dini hari, sebentar ku coba memejamkan mata agar pagi ini ku tak begitu terlihat lelah.
Adzan subuh pun berkumandang.
25 April .
__ADS_1