Aku Bukan Istri Sempurna

Aku Bukan Istri Sempurna
Tentang Dira


__ADS_3

"jam berapa berangkat?" tanyaku di telepon.


"jam 13.00 ay, ke rumah dulu ya" jawab Dira.


"iya" jawab ku singkat, lalu ku tutup telepon nya.


Apa yang aku rasa harus LDR dengan seorang yang ku sayangi, biarlah aku pikir mungkin ini yang terbaik. Dan ku harap dia baik-baik disana.


Akupun bergegas untuk menemuinya.


Hiruk pikuk jalanan yang ramai, seakan sunyi bagi ku. Hati ku seakan sunyi, hening, hampa.


Ku hampiri rumahnya, ku lihat wajahnya seakan sama berat untuk perpisahan ini.


"Ay, " itu panggilan sayangnya untuk ku.


"Ay, bantuin aku kemas pakaian ya" tegurnya melenyapkan lamunan ku sepanjang jalan.


"hhmm iiiyya." langsung ku hampiri dia dan membereskan beberapa pakaian yang ku masukkan ke ranselnya, tak banyak Dira membawa pakaian, Dira orang nya tak mau ribet.


"ay, makasih ya. jaga kesehatan mu disini, jangan nakal ya, kalau kamu sayang sama aku kamu harus sayangi diri kamu dulu" pesannya.


Tak banyak ucapku. ku hanya diam.


"ay, aku berangkat ya!" di elus kepala ku dan mengecup kening ku. Dira pun berlalu dengan mobil itu, dia hanya melambaikan tangan.


Lepas perpisahan itu aku dan Dira sudah tak ada komunikasi karena Dira memang tak membawa ponsel.


Dua hari berlalu......


Ponsel ku sunyi tak pernah ada sekalipun kabar dari nya.


Ketika ku merebahkan badan, dua pesan diponsel ku, no baru.


085759######

__ADS_1


ay, aku sudah sampai. aku gak bisa sering menghubungi kamu sampai nanti kalau aku sudah punya ponsel. inipun ponsel dapet pinjem saudara ku. kamu jaga kesehatan disana ya.


Saat ku hubungi kembali ternyata Dira sudah berangkat kerja. Begitu terus hingga kurang lebih satu bulan Dira baru membeli sebuah ponsel.


085759######


ay, aku sudah punya ponsel, ini no aku yang baru. di save ya! aku kangen sama kamu. Nanti malam aku telpon ya. aku kerja dulu.


isi pesan itu sudah membuat hati ku bahagia.


......................


Lalu bagaimana kondisi disini saat ku ditinggal Dira.


Rey masih selalu menghubungi aku, hingga aku tahu dari Rey bahwa Dira pun masih sempat bertemu dengan putri kodok, dan beberapa wanita lainnya saat dia mau pergi.


Tentunya aku kecewa, rasanya ku sudah tak percaya lagi padanya. Dira kamu membuat aku terluka sangat terluka.


Karena sering nya aku berkomunikasi dengan Rey, akhirnya kita ketemu di dunia nyata.


Dengan motif ingin cari tahu dan mungkin juga pelarian dari kekecewaan ku pun menjalin hubungan dengan Rey.


Aku, Dira sama-sama saling mengkhianati.


Aku dan Rey terjebak dalam permainan kita yang awalnya hanya dekat biasa justru takdir mempersatukan kita dalam mahligai pernikahan.


Percaya atau tidak waktu itu berlalu begitu cepat, tak lama ku mengenal Rey, tak selama ku mengenal Dira. Namun, Rey menyakinkan aku akan keseriusan seorang pria.


Apa yang harus ku pilih, di depan mata yang jelas ada lelaki yang serius siap menikahi ku, lalu untuk apa aku berharap yang jauh disana yang masih saja tak memberi ku kepastian.


Setelah Dira mendengar kabar pernikahan aku dan Rey. Dira marah semarah-marahnya, kecewa yang mungkin sama saat yang dulu aku rasakan.


pesan dari Dira...


Lalu untuk apa aku persiapkan ini semua, gelang emas yang sudah aku belikan untuk mu, cincin dan sandal yang sudah aku siapkan untuk ku berikan pada mu saat pulang nanti. Kalau aku serius pada mu

__ADS_1


Aku kecewa kenapa kamu harus dengan Rey, dengan lelaki yang aku tak sukai.


pesan kekecewaan darinya. Semua ungkapan yang ingin ku dengar dari dulu, terucap ketika ku telah memilih yang lain. Aku tak bisa mundur untuk menyakiti Rey. Aku harus lanjutkan niatannya mempersunting ku.


......................


Persiapan pernikahan kami, satu persatu sudah hampir rampung. Aku hanya menyiapkan batin ku, aku menyiapkan diri akankah bisa ku menjadi istri yang baik untuk Rey. Itu ungkapan isi hati ku.


Dira masih selalu menghubungi ku, tanpa sepengetahuan Rey, aku dan Dira masih saling komunikasi. Semakin dekat dengan hari pernikahan ku semakin sering Dira menghubungi ku, lalu selama ini kenapa dia seakan tak menginginkan ku, menarik ulur perasaan ku, memberikan ku sebuah harapan namun ke wanita lainnya pun sama memberikan harapan yang sama, mau seakan tak mau. Aku wanita, aku butuh sebuah kepastian dari status ku, aku butuh komitmen, bukan harapan palsu, bukan kata-kata manis yang semu. Semua nya sudah tertutup untuknya, ku hanya ingin mendapatkan bahagia ku, ku ingin melupakan Dira, ku ingin mengubur perasaan yang pernah ada untuk nya, ku ingin melupakan semua tentang Dira dan memulai bahagia ku.


Sore itu, ku jalan dengan Rey berniat membeli perlengkapan untuk seserahan, ada pesan masuk dari seorang pria, Rey merebut ponsel ku dan mematahkan SIM card ku.


"siapa ini?, masih saja berhubungan dengan orang gak jelas, ganti saja SIM card nya, nanti aku belikan" Rey sepertinya sedikit terusik dengan beberapa teman lelaki ku.


Rey memang orangnya jaim, cuek, gak pernah menunjukkan keromantisan nya. Tapi, kalau dia merasa gak suka ya langsung dia musnahkan.


Mau apalagi, toh Rey yang nantinya akan menjadi suami ku jadi aku harus nurut apa maunya.


"Ini no yang baru," Rey menyodorkan aku sebuah SIM card.


Aku mengambilnya dan memasangkannya.


"Kasih tahu hanya teman-teman mu yang penting saja, nomor- nomor yang gak penting gak usah di simpan" tegasnya. Pikir ku apakah Rey akan selalu bersikap seperti ini. Namun, sepertinya kecewa ku akan hubungan yang dulu sudah menutup hati ku, hingga entah yang aku rasa, aku hanya mengikuti jalannya hidup ku saja. Bisakah aku demikian. Itu hanya bagian pertanyaan yang mesti ku kubur dalam.


Perlengkapan untuk seserahan sudah tercukupi semuanya. Waktu seakan berputar begitu cepat, hari-hari berlalu begitu saja.


Aku hanya memantapkan diri dengan ibadah ku, mengadu kepada pemilik raga ini, berserah diri pada Nya. Gak ada tempat buat mencurahkan isi hati ini dengan tepat selain pada Nya.


Setelah mengganti SIM card ku, gak pernah Dira menghubungi ku. kami lost contak, namun Dira tak menyerah dengan mengunjungi via telepon, Dira menghubungi via media sosial, namun lagi-lagi Rey memblokir pertemanan kami. Rey sudah tak memberi ku ruang untuk berteman dengan teman laki-laki terdekat ku apalagi yang namanya mantan, Rey sangat overprotektif.


Dan Dira pun mengetahui no telp ku yang baru lewat teman dekat ku. Lagi lagi dan lagi Dira tak jera menghubungi ku.


Bahkan pagi hari sebelum akad pernikahan Dira masih menelpon ku, Dira mengucapkan masih tak percaya dengan apa yang aku lakukan, Dira menangis mengucapkan selamat pada ku, Dira masih tak percaya aku mengambil keputusan yang baginya itu adalah hal yang sangat gegabah.


Tapi ini adalah keputusan ku. Keputusan yang sepahit atau semanis apapun harus ku telan, setelah ini aku hanya akan jadi istrinya Rey seutuhnya.

__ADS_1


"jangan putuskan telepon ini, biarkan aku mendengarkan dari jauh prosesi pernikahan mu, ini permintaan terakhir ku sebelum kamu menikah" tak terbayangkan apa yang sedang dia rasakan. Aku mengikuti apa maunya, ketika telepon terputus Dira menghubungi ku lagi hanya sebatas ingin mendengarkan prosesinya.


...****************...


__ADS_2