
Diriku terjatuh dengan posisi terduduk diatas pelataran taman hijau, sementara tangan kiriku menopang badanku ketika terjatuh. Aku menepuk- nepuk kedua telapak tanganku yang penuh dengan tanah dan bergegas untuk bangkit.
"Apa kamu baik-baik saja?" Seorang pria dengan badan gagah, dan wajah tampan berkulit putih bersih itu mengulurkan sebelah tangan kanannya untuk membantuku berdiri.
Aku sempat terdiam beberapa detik dan memperhatikan uluran tangan seorang pria yang tidak kukenal "Ah terima kasih. Aku baik-baik saja, maaf aku tidak sengaja menabrakmu tadi" Jawabku sambil berusaha berdiri dengan usahaku sendiri.
"Lututmu.. " ucapnya dengan menunjuk kearah lutut kananku.
Aku melihat ke lutut kananku dan terdapat goresan luka kecil dan mengeluarkan darah. Barulah aku menyadari bahwa aku terluka. "Ah, aku bisa membersihkannya nanti. Sekali lagi maaf, tapi aku sedang bergegas. Bye" Aku segera sadar dan berlari kembali menuju kelas sambil menahan rasa sakit dari luka tersebut.
Beruntung aku datang tepat waktu dan dapat izin untuk ke ruang kesehatan sebentar mengobati lukaku. "Siapa laki-laki tadi? Hm ia terlihat tidak memiliki ekspresi apapun" Gumamku sambil membersihkan lukaku dan memperbannya. Setelah membalut lukaku, aku pun kembali ke kelas mengikuti mata kuliah yang sedang berlangsung.
Akhirnya kelas terakhirku telah usai. Aku berjalan pulang ke asrama. Ketika menuju asrama, aku bertemu dengan Fiona dan kawan-kawan. Kami saling berbagi cerita sepanjang perjalanan dan berkumpul sejenak. Ku putuskan untuk bercerita mengenai jalan rahasia dan bangunan tua yang kutemui.
"Sebenarnya saat jam istirahat aku menemukan sebuah jalan rahasia di balik semak-semak di halaman belakang universitas. Jalan itu melewati pertengahan hutan dan menuju sebuah gedung tua yang sudah runtuh sebagian. Tidak ada seorangpun di dalamny namun aku merasa gedung itu sangat aneh" tuturku dengan berbisik sedikit pelan.
"Apa?! Benarkah? Bagaimana jika besok siang kita mengeceknya. Rezta kau yang memimpin jalan" ucap Fiona.
"Rezta lututmu kenapa?" Hazi dengan wajah sedikit cemas melihat perban yang ada di lutut kananku.
"Ah, ini tadi aku terjatuh saat berlari menuju kelas. Aku tidak sengaja menabrak seorang laki-laki" jawabku dengan santai.
"Laki-Laki? Siapa?" Tanya Hazi.
"Entahlah, aku tidak menanyakan namanya. Tapi dia memiliki tubuh yang bagus dan tampan haha" Candaku untuk mengecoh Hazi.
"Rezta kau ini iseng sekali pada Hazi haha" balas Fiona. Kami semua tertawa bersama. Hazi terlihat sedikit kesal dan malu. Ia memalingkan wajahnya. Sungguh menggemaskan.
Jam menunjukan pukul 10 malam. Aku bersiap untuk tidur tetapi aku merasakan malam ini sedikit dingin dan berbeda dari malam sebelumnya. Langit mulai mendung dan angin bertiup cukup kencang. Suara burung hantu dan hewan malam mulai ramai terdengar. Satu kamar asrama ditempati oleh dua orang.
Aku dan Mela-teman sekamarku- memiliki perasaan kurang baik. Mela pun memasang cahaya pelindung dari fitur tingkat menengah yang diperolehnya dari sistem universitas pada kamar kami.
Kami menutup jendela rapat-rapat dan menutup kordeng. Aku yang lebih mempercayai kerohanian mulai membaca beberapa ayat pada kitab yang ku hafal.
"Tidak apa-apa rezta. Aku ada bersamamu. Terkadang memang seperti ini. Aku sudah memasang pelindung untuk berjaga-jaga" Mela menenangkanku dengan tersenyum ramah.
"Iya, terima kasih Mela. Aku juga berdo'a agar kita selalu dilindungi dari bahaya" jawabku. Akhirnya kami pun tertidur.
__ADS_1
"Gadis kecil..." Suara lirih seorang laki-laki dalam bayangan gelap seperti memanggilku.
"Siapa di sana?" Aku mencoba mencari sumber suara itu namun tidak ku temukan.
"DUAARR!!!" Suara petir menyambar membangunkanku dari mimpi. Keringat membasahi kening dan leherku. Diriku sedikit gemetar. Aku yang terengah-engah mencoba mengatur nafas bergumam dalam hati "Siapa dia? .... ".
Hari esokpun tiba. Pada jam istirahat, sesuai dengan kesepakatan yang dibuat, kami bertemu di halaman belakang sekolah. Aku pun menunjukan jalan rahasia tersebut. Kami melewati hutan lebat tersebut dan melihat berbagai macam hewan liar yang bersembunyi.
"Wah, sungguh gelap disini hanya terkena sedikit celah sinar matahari. Apa kau tidak takut rezta saat kemari sendiri? " tanya Yura yang sedang melihat sekeliling hutan.
"Yah, sedikit. Aku terbiasa jalan sendiri jadi tidak masalah" jawabku dengan senyum canggung.
Akhirnya kami pun tiba di depan bangunan tua tersebut. Kami berleliling dan memasuki bangunan tua tersebut. Kami menuju lantai dua dan kutunjukan sebuah batu besar persegi panjang datar yang terdapat ditengah ruangan dan jendela lantai dua yang telah runtuh sebagian.
"Hei coba kemari !" Leo memanggil dengan nada lantang. Ia menemukan sebuah lukisan lama yang tertutupi oleh reruntuhan dinding. Lukisan itu terlihan seperti foto keluarga yang telah usang.
Kami mengamati secara seksama lukisan tersebut "Mungkinkah pemilik universitas ada hubungannya dengan lukisan ini?" Yura menyipitkan kedua matanya dengan curiga.
Sementara itu bilh mengamati ukiran gambar pada tiang dan dinding bangunan tersebut, "Apakah ini sebuah kastil kerajaan terdahulu?" Gumam Bilh.
Fiona dan Yura kembali menuju kelas. Leo,Bilh dan Hazi berlatih untuk pertandingan basket. Hari ini jadwalku cukup renggang.
Aku menuju ke perpustakaan untuk mencari beberapa buku sejarah mengenai universitas ini. Ketika sedang menelusuri rak buku satu persatu, aku melihat seorang laki-laki tampan yang bertabrakan denganku kemarin.
"hm itu dirinya..." Ia terlihat sangat tampan dan dingin di depan teras luar perpustakaan bersandar dipagar dambil membaca buku yang dipegangnya.
"Ya ampun rezta, sadarkan dirimu. Apa yang kau pikirkan?!" Aku menggelengkan kepalaku untuk tersadar kembali.
"hm, bukankah itu gadis yang menabrakku kemarin? Apa dia baik-baik saja?" laki-laki itu bergumam dalam hati sambil menatapku yang sedang menggelengkan kepala.
Aku pun segera tersadar dan merasa ada yang sedang menatapku. Benar saja, ternyata laki-laki itu sedang menatapku.
"Ya ampun bagaimana ini? Jangan sampai dia salah paham. Oke rezta kamu harus tenang dan berjalanlah seperti biasa seakan tidak terjadi apapun" Aku mengambil nafas dalam-dalam dan menghembuskanny perlahan lalu berjalan berbalik arah menjauh dari dirinya.
"Hm aneh. sudahlah" laki-laki itu melanjutkan membaca buku yang dipegangnya.
Sesekali aku mengintipnya kembali dan bergumam, "Tapi ia benar-benar tampan. bagaimana caraku mendekati dirinya tanpa menunjukan bahwa aku tertarik padanya?"
__ADS_1
"Kau lihat itu, ia sangat tampan dan keren. ku dengar dia kakak tingkat semester 7" Aku mendengar para gadis membicarakannya dengan mata berbinar-binar.
"Haruskah aku mendekatinya sekarang?" pikirku sejenak.
"tidak,tidak, sekarang bukan saatnya memikirkan hal itu" Aku membuka buku sejarah yang telah kudapatkan dan mulai membacanya.
Aku mencatat beberapa hal pebting yang dapat dijadikan petunjuk. Setelah usai membaca selama satu jam aku bergegas untuk pulang ke asrama.
Dirinya masih pada tempat yang sama namun kali ini ia hanya mengamati pemandangan luar dari balik pagar teras perpustakaan. Aku memutuskan untuk menghampirinya dan menanyakan beberapa hal.
"Hm permisi, maaf mengganggu. Boleh aku bertanya sesuatu padamu? " sapaku dengan sedikit canggung.
Ia hanya menoleh dan terdiam. Aku pun memberanikan diri bertanya padanya, mencoba bersikap profesional terkait misiku.
"Apakah kamu mengetahui sejarah universitas ini? Aku sedang mengerjakan misi terkait suatu kejadian beberapa hari lalu" jelasku singkat.
"Maksudmu kejadian teror yang dialami pemilik universitas ini?" jawabnya.
"Ah bagaimana kau bisa tau. Mungkinkah kau juga menyelidikinya?" tanyaku.
"hanya kebetulan saja" ia menjawab singkat dengan wajah datar.
"Mungkin kita bisa bekerja sama menyelidikinya?" ajakku dengan hati-hati.
"Apa saja yang kau ketahui?" ia mengujikku dengan data yang telah kutemukan.
"Yah tidak banyak, aku baru mendapatkan data dari dua buku sejarah universitas" ucapku.
Kemudian aku menjelaskan sedikit mengenai data yang kutemukan. Ia masih terdiam dan terlihat dingin.
"Oke, kita kerja sama namun secara diam-diam. Temanmu tidak boleh mengetahui hal ini sedikitpun. Kita harus memastikan sendiri hal tersebut barulah kau boleh memberitahu temanmu" jawabnya.
"Siip. Btw siapa namamu?" Aku mengacungkan salah satu jempolku dan berusaha bersikap normal menanyakan hal tersebut.
"Zein" jawabnya singkat.
-To be continue-
__ADS_1