Aku Madu Tanteku

Aku Madu Tanteku
Perpisahan


__ADS_3

Lorong gang yang biasanya padat aktifitas, tumben hari ini sangat lengang. 'Kira - kira, siapa ya yang meninggal?'


Aku bertanya-tanya keheranan dengan berkibarnya bendera kuning di ujung gang dan jalan sempit yang sunyi serasa tak bertuan.


'Loh...loh...kok benderanya tertancap di pagar rumahku?'


Gegas aku berlari dan memasuki gerbang yang sudah terbuka. Di sebagian teras sudah ada ranjang, tong, peralatan mandi yang dibatasi oleh kain hijau.


Sisi lain teras ada sofa ruang tamu dan kursi depan yang dirapikan. Ku lihat banyak orang di ruang tamu. 'Ada apa ini?' Gumamku.


"Assalamu'alaikum." Salam ku ucapkan ketika melepas sepatu hendak naik ke lantai teras.


Yang ada di dalam, sontak menoleh ke arahku dan membalas, "Wa'alaikumsalam.".


" Sudah pulang, Es?" Tanya Lik Yah.


"Iya. Tumben kok ngumpul?" Jawabku sambil menyapu pandang ke ruang tamu.


"Ho oh. Sana, lekas bersih - bersih dan ganti pakaian muslim ya." Titah Lik Hana.


"Emang mau ke mana, kok pakai baju muslim segala?" Tanyaku penasaran.


"Mau takziah keluarga." Sahut lik Hakim.


"Oh..." Aku menggumam pendek.


Ku langkahkan kaki ke kamar yang dekat dengan ruangan orang tuaku. Tas ku letakkan pada tempatnya. Lalu aku ke luar menuju kamar mandi.


"Alhamdulillah, segarnya." Ucapku dalam hati saat guyuran air dingin mengenai kulitku.


Ku masukkan seragam sekolahku ke mesin cuci untuk di cuci besuk.


"Allahuakbar Allaahu Akbar." Toa masjid sudah mengumandangkan adzan, tanda sholat Jum'at akan dimulai.


Aku merapikan diri di kamar. Setelah 20 menit berjalan, terdengar pengumuman dari masjid.


"Assalamu'alaikum wrwb. Innalillahi wainnailaihi rojiun. Telah berpulang ke Rahmatullah, almarhum bapak Aliansyah bin Burhanudin, di RS Citra Husada tadi pagi pukul 09. 00. InshaAllah jenasah akan dikebumikan sesegera mungkin sebelum Ashar. Semoga almarhum Husnul Khotimah. Keluarga yang ditinggalkan tabah menjalani ketetapan ini. InshaAllah setelah prosesi pemulasaraan selesai, beliau akan kita sholatkan di masjid ini. Sekian. Wassalamu'alaikum wrwb."


'Deg. Apa? Itu kan nama ayah?' Aku segera ke ruang tamu menemui bibi - bibiku yang sedang berkumpul.

__ADS_1


"Sini nduk." Tangan Bulik Hana terbentang. "Ayahmu sudah tiada. Sekarang sedang dalam perjalanan ke rumah."


Aku berhambur ke pangkuan adik ke dua ibuku itu. Tak berapa lama, tetangga berdatangan membawa aneka macam barang. Petugas pemandi jenasah sudah bersiap di kursi teras. Ibu - ibu di ruang keluarga sedang merangkai bunga dan segala keperluan pemakaman.


"Laillaha Ilallah...Laillaha Ilallah..." Dari luar terlihat beberapa pria memanggul tandu.


Mereka menuju ke dalam rumah. Orang-orang gegas memberi ruang untuk mereka membaringkan jenasah ayah di ruang tamu. Setelahnya, ibu dan saudara - saudaraku masuk 1 per 1.


"Hu...hu...hu..." Tangan kananku pelan membuka kain penutup bagian kepala jenasah.


Aku menangis, mencium wajahnya, mengelus rambutnya dan memeluk tubuhnya dengan erat.


"Bagaimana, apa sudah bisa dimandikan jenasahnya?" Bapak pemulasara menanyai kami.


"Ya, pak." Ibu memberi jawaban.


"Apa putra dan saudara laki-laki almarhum mau ikut memandikan?" Si bapak bertanya kembali.


"Ya, saya ikut." Mas Fariz dan om Hakim menjawab bersamaan.


Prosesi pemandian dan pemakaian kafan, berjalan lancar. Selanjutnya jenasah ayah ditandu ke masjid. Subhanallah, yang ikut menyolatkan hampir penuh masjidnya.


Sejenak, kami panjatkan doa di makam untuk ayah. Langit mendung berawan kelabu berarak di atas kami. Udara berhembus semilir dingin meniup rambut kami.


'Apakah alam juga berduka atas kepergian ayah?' Gumamku dalam hati sambil menatap ke atas.


"Kayaknya sebentar lagi hujan. Waktu Ashar keburu habis. Kita harus mempersiapkan acara tahlilan nanti setelah Maghrib." Ujar Bulik Yah mengingatkan kami.


"Assalamu'alaikum ayah. Kami pulang dulu. Besuk Esti InshaAllah akan menengok ayah lagi." Ucapku sambil mengelus pucuk batu nisan.


Kami beriringan pulang berjalan kaki. Setibanya di rumah, kami mencuci kaki dan tangan di kran depan. Setelahnya, kami menjalankan ibadah wajib berjamaah di lantai atas.Maghrib telah usai, cara tahlil ternyata penuh dengan jamaah. Suara lantunan ayat Al Qur'an terdengar kompak.


'Semoga doa kami untuk ayah Engkau terima, ya Rabb.' Lirihku dalam hati.


Satu per 1 mereka undur diri. Namun, kami belum menyiapkan bingkisan untuk mereka bawa pulang. Kata Bulik Hana, cukup kue dan makan di tempat. Baru nanti hari ke tujuh doa, saat jamaah pulang, akan dibawakan bingkisan makanan dan kue.


"Dapur sudah bersih. Makanan juga ada. Sekarang kami pamit pulang dulu ya. Besuk siang, kami akan ke sini lagi bu Ali. Jangan khawatir."


Bu Marni berpamitan mewakili ibu - ibu yang tadi sudah membantu kami.

__ADS_1


"Iya.Terimakasih." Ucap ibu sambil menangis dan memeluk bu ketua rombongan.


"Sudah. Sabar dan tabah ya. Semua manusia akan berpulang ke Rabbnya. Tinggal waktunya kapan, kita ndak tau." Bu Marni berusaha menguatkan ibu.


"Assalamu'alaikum." Koor para tetanggaku berpamitan.


"Wa'alaikumsalam." Kami serempak membalas salamnya.


"Anak-anak, ayo sholat Isyak dulu. Setelah itu kita makan." Titah lik Yah. Kami segera melakukan yang dia sarankan.


Di karpet ruang keluarga sudah tertata makanan. Kami makan malam dalam diam. Sesudah bekas makan dibawa ke tempat cucian, ada suara "Assalamu'alaikum.".


" Wa'alaikumsalam." Kami kompak menjawab salamnya.


Di luar berdiri tante Mardiah dengan suaminya. Mereka dipersilahkan duduk oleh ibu.


"Maaf, yu. Baru sempat ke sini sekarang. Tadi di kantor repot banget." Ujar tanteku.


"Iya, gak papa." Sahut ibu lirih dan singkat.


"Ini Yu. Semoga bermanfaat untuk keluarga ini." Kata om Tanri sambil menyodorkan amplop coklat.


Ku lihat, istrinya tercekat kaget, menoleh ke arah sang suami. Dia sepertinya terkejut melihat yang dilakukan suaminya itu.


Sesudah berbasa - basi sebentar, mereka dipersilahkan makan oleh Bulik Hana.


"Diah, Tanri. Masuk sini. Makan dulu. Aku tadi buat rawon."


"Iya, kalian makan dulu." Ibu juga menyuruh tante Diah dan suaminya yang baru saja datang untuk makan.


Mereka berdua lalu masuk ke ruang keluarga dan duduk di karpet. Bulik Yah mengambilkan mereka nasi yang disiram kuah rawon dan dagingnya, lalu ditaburi taoge kecil. Sedangkan perkedel kentang, tempe goreng, sambal dan krupuk, sudah tersaji di tengah karpet.


Sesudah selesai dengan acara makan, tante Diah dan suaminya duduk kembali ke ruang tamu.


Aku mengemasi bekas makan ke wastafel dan mencucinya. Makanan yang ada di karpet ku naikkan ke meja makan.


Sesudah membersihkan karpet, ku letakkan beberapa bantal dan selimut di ruang TV, supaya dipakai oleh adik - adik lelakinya ibu saat mau beristirahat.


"Yu, kami pulang dulu, soale besuk harus dinas." Ku dengar suami tanteku berpamitan pada semua yang ada di ruang tamu.

__ADS_1


"Ho oh. Hati - hati." Ibu, lik Yah dan lik Hana menjawab kompak.


__ADS_2