Aku Madu Tanteku

Aku Madu Tanteku
Ternyata Ada Maunya


__ADS_3

"Lha memangnya ibuk sudah ada calon untukku?"


Walaupun yang dikatakan ibu kesannya berandai-andai, tapi itu cukup membuatku terkejut.


"Ya ada-lah. Kalau ndak ada, mana ibu berani ngomong begini?"


Sekarang aku beneran terkejut, karena perkataan ibu ternyata serius.


"Buk, aku kan masih muda. Ngapain terburu-buru nikah? Jangan memberi harapan ke orang. Setidaknya ibuk ngomong dulu ke aku kek. Jangan mutusin sendiri."


Ibu terlihat gelagapan bingung melihat responku yang kelihatan tidak suka terhadap rencananya.


"Ya kan ini ibuk bilang ke kamu. Lagi pula, umurmu sudah 20 tahun. Sudah pantas menikah di umur segitu."


Ku hembuskan nafas dengan kasar. Aku heran dengan pola pikir ibu. Seolah setiap tamat SMA, anak harus pergi dari rumah. Aku menjadi jengah.


"Buk, aku sudah ndak memerlukan biaya. Bahkan sudah memberikan sebagian gajiku. Apa itu masih kurang? Apa mbak Ayu, mbak Diana dan mas Fariz tidak mengirim uang?"


Wajah ibu mulai sendu. Matanya berembun. Ku pastikan sebentar lagi, butiran itu sepertinya akan membasahi pipinya jika aku tidak segera membuatnya tenang.


"Mereka mengirim uang ke ibu hanya sesekali. Biaya hidup itu besar, nduk. Kalau kamu menikah, kan pengeluaran ibu bisa berkurang. Kedua kamar di bawah ini, nanti akan ibu koskan."


Ah, ternyata baru ku tahu kalau kakak - kakakku seegois itu. Mereka pikir, uang dari kamar kos itu cukup untuk biaya hidup dan sekolah kami.


"Ya sudah. Kalau gitu, ibuk pilih. Aku ke luar dari rumah ini, kos di luar, ataukah tetap di sini dengan membayar sewa kamar dan biaya makan? Ibuk pikir dan rinci dulu semuanya. Aku ndak marah. Aku sudah dewasa dan bekerja. Aku paham repotnya ibuk mengatur keuangan."

__ADS_1


Aku berujar seperti itu karena tidak mau menambah pikiran ibu.


"Masalahnya bukan hanya itu, Es. Ibuk punya banyak tanggungan ke Tanri sejak ayahmu meninggal. Untuk selamatan ayahmu, nikahnya Ayu, Diana, Fariz, bangun tangga dan biaya sekolah kalian. Sedangkan uang kos - kosan ini hanya cukup untuk makan kita semua."


Ibu mulai menyingkap rahasia yang selama ini dia pendam sendiri.


"Lho. Memangnya dulu ibuk bilangnya hutang apa hanya minta tolong? Jika dianggap hutang, ya mari kita selesaikan bersama. Kalau untuk selamatan ayah, ibuk perkirakan berapa jumlah uangnya? Sedangkan biaya sekolah dan nikah, biar dibayar mereka. Aku pun akan menghitung biaya sekolahku dan adik - adik. Nanti uangnya kita kembalikan ke om Tanri."


Aku mencoba memberi solusi pada ibu, supaya tidak terbebani hutang tak tertulis dengan adik iparnya itu.


"Itu banyak sekali nduk. Ibuk cuma bilang minta tolong ke Tanri. Sedangkan Tanri dulu minta kalau kamu sudah lulus akan dijadikan istrinya. Ibu saat itu menganggap gampang, soalnya kamu kan masih kecil. Kalau dihitung sebagai hutang, dia ndak mau kalau uangnya dicicil. Harus dibayar cash. Karena waktunya sudah sangat lama. Trus nanti, untuk biaya adik - adikmu gimana? Jalan mereka masih panjang lho nduk. Kakak - kakakmu mikir rumah tangganya sendiri setelah ke luar dari rumah ini. Ibu bingung."


Ku pikir suami tanteku itu tulus menolong kami. Ternyata pemberiannya itu hanyalah modus. Tentu aku kaget karena sudah dijadikan barter dalam perjanjian hutang piutang tak tertulis demi kakak - kakakku dan adik - adikku.


Aku mengungkapkan keherananku tentang om iparku itu pada ibu.


"Hehehe. Tanri itu masih muda nduk. Mana mungkin suka ke ibuk yang gemuk dan tua? Mosok kamu ndak terasa kalau dia ke sini tuh ngecengin kamu? "


Ibu mencoba mengorek penglihatan dan perasaanku saat om Tanri datang ke rumah.


"Iya sih. Dia sangat perhatian ke aku. Tak pikir dia sayang ke aku sebagai anaknya. Ternyata kok ada maunya? Masa om menyukai ponakannya?"


Ku ungkapkan kegusaranku pada ibu akan keanehan sikap om Tanri padaku. Tak hentinya ku gelengkan kepala mendapati kasus aneh yang menimpaku ini.


"Ya aneh sih. Tapi Tanri kan cuma ipar, nduk. Bukan paman kandung. Jadi masih boleh menikahimu."

__ADS_1


Loh, kok ibuk santai sekali membahas perasaan om Tanri dan keinginannya menikahiku? Aku sungguh heran dengan cara berpikir ibuku.


"Buk. Ingat ndak, siapa tante Mardiah? Dia adik kandung ibu. Bila aku dinikahi om Tanri, apa sudah ibu pikirkan dampaknya? Tanpa skandal saja, dia sudah cuek ke kita. Apalagi kalau sampai dia tahu jika suaminya menikahiku? Dia pasti ngamuk buk. Semua perempuan juga akan marah jika suaminya menikah lagi. Hubungan kita sama tante akan semakin tidak baik. Ibaratnya akan terjadi pertumpahan darah di keluarga kita, buk. Lagian, kalau sampai kantor mengetahui kalau om Tanri menikah lagi, akan berbahaya untuk karirnya, buk. Dia bisa dipecat. Jangan perdulikan nafsu om Tanri. Gunakan kewarasan kita untuk berpikir tentang baik buruknya akibat keinginan pria mesum itu. Ayo kita diskusikan dengan kakak - kakak. Jangan lantas aku ditumbalkan untuk kepentingan kalian semua. Jangan egois seperti ini. Aku manusia, bukan boneka yang mudah dimainkan sesuka hati oleh pemiliknya. Please deh buk, pahami perasaanku dan tante Mardiah."


Aku berucap panjang lebar, mencoba membuka nalar ibuku supaya berpikir logis terhadap resiko dari ide absurd itu.


"Yo jangan sampai ketahuan." Ibu menjawab santai dan singkat.


"Loh, buk. Sepandai-pandai tupai melompat, pasti akan terjatuh juga. Serapat - rapatnya menutup bangkai, lama - lama akan tercium pula baunya. Ibuk mikir ndak sih?"


Aku mulai meninggikan nada suaraku karena mulai emosi saat ibu keukeuh pada rencana antara dia dan adik iparnya yang tanpa sepengetahuanku.


"Tanri itu pinter, nduk. Dia pasti sudah merencanakan semua dengan baik. Tenang saja."


Hatiku langsung mencelos mendengar jawaban orang yang telah melahirkanku.


"Astaghfirullah, ibuk. Mbok yo sadar to. Ini hal berbahaya lho. Akan banyak yang terluka hanya karena nafsu. Coba bayangkan perasaan anak - anaknya tante. Jika sampai keinginan om Tanri terwujud dan jadi anak dari pernikahan itu, apa ndak membingungkan? Gimana cara manggil e anak - anak nanti? Trus piye kalau kisah ini terbongkar di masyarakat? Kalau yang dinikahi om Tanri itu ibuk, itu agak mendingan. Masih wajar."


Wanita paruh baya di sampingku itu tetap memasang wajah cool.


"Ibuk sudah tua dan gembrot. Tanri ndak suka. Dia maunya yang kinyis - kinyis bening. Lek Diah marah, yo dihadapi. Penting ibuk wis ndak duwe hutang dan kehidupan terjamin."


'Ya Tuhan. Terbuat dari apakah hati dan pikiran ibuku?'


Aku menghela nafas berat dan bermonolog dalam hati pada Dzat yang telah membuatku ada di dunia ini.

__ADS_1


__ADS_2