
"Sudahlah buk. Aku pusing. Tak masuk dulu ya." Aku menghindari bahasan yang menurutku tak akan berujung pangkal.
"Yo wis. Pikirkan yang barusan kita bicarakan. Besuk ibuk akan telfon kakak - kakakmu."
Ibu bangkit berdiri dan melangkah menuju gerbang untuk menguncinya. Lalu dari dalam kamar depan, aku mendengar ibu menutup pintu ruang tamu.
Ku hembuskan nafas dengan kasar setelah aku sendirian di kamar mbak Ayu. Ya, ruangan paling depan ini sekarang kosong. Yang sering menempati adalah aku. Untuk apalagi kalau bukan sedang ingin menyendiri? Kalau sekamar sama Silvi, dia nanti akan banyak bicara. Sehingga aku tidak bisa berpikir tenang dan jernih.
Ku baringkan tubuhku di atas kasur kapuk yang masih empuk dari saat kami masih kecil. Netraku nanar menatap langit-langit kamar. Aku teringat ayah.
'Ayah, andai masih ada dan sehat, mungkin kami tak akan terlilit hutang siluman ini pada om Tanri. Bahkan aku yang harus jadi penebus semua masalah keuangan anak - anak ayah. Aku harus bagaimana?'
Cristal bening luruh di lembah ranum pipiku mengiringi curahan hatiku pada ayah yang sosoknya pun sudah tak bisa ku lihat dan aku sentuh.
Kepala dan kelopak mataku rasanya sangat berat. Aku bangkit dari pembaringan serta berjalan menuju meja belajar. Dari box kecil, ku keluarkan sebutir obat sakit kepala dengan tujuan supaya aku bisa tidur dan berkurang bahkan sembuh rasa sakitnya.
Suara adzan Subuh menggugahku dari alam mimpi. Hari ini adalah shift pagi untukku. Segera ku bereskan keperluanku, lantas berpamitan pada ibu.
"Es, habis off, kok kamu malah kelihatan kuyu gitu? Ada apa? Kamu sakit?" Farah mengamatiku waktu hendak meletakkan tas di loker.
"Nggak. Hanya ada masalah yang belum bisa ku pecahkan dan membuatku sulit memejamkan mata semalaman. Padahal sudah minum obat. Baru sebentar merem, eee...sudah Subuh. Jadi deh penampakanku garing begini. Moga saja hari ini rame, biar aku ndak banyak bengong trus ngantuk. Bisa berabe nanti Far."
Farah mengangguk, menepuk pundakku dan menggamit lenganku untuk memulai pekerjaan pagi ini.
Aku mengelap meja dan kursi, sedangkan Farah menyapu dan mengepel lantai. Duty service setiap shift hanya ada 1 kasir, 4 waitresses, dan 2 koki. Jadi Kalau istirahatnya bisa bergantian.
Upah waitress di restoran ini masih di bawah UMR di kotaku, tapi masih layak. Kalau kasir dan cheff, lebih tinggi dari kami.
Aku diterima kerja karena yang punya restoran adalah kenalan almarhum ayah. Selain itu, lokasinya dekat dari perkampungan dalam gang yang ku huni. Juga, aku menguasai bahasa Inggris dan sedikit bahasa Belanda. Sehingga, itu memudahkanku diterima di restoran bersejarah ini.
Bangunan peninggalan Belanda ini termasuk cagar budaya di kotaku. Jadi, pemiliknya mempertahankan arsitekturnya tetap seperti adanya. Hanya dicat ulang dan ditambah bagian teras untuk menampung pengunjung yang tidak tercakup di ruangan utama.
__ADS_1
Menu utamanya adalah es krim. Dulu ayah sering membawaku ke situ dan mengobrol dengan pemiliknya yang berdarah Belanda.
Tuan Frederick dan nyonya Veronica adalah pemilik Restoran Tulip yang sekarang. Mereka indo seperti aku. Hanya bedanya rambutku tidak pirang seperti mereka.
Hari ini cuaca cerah. Banyak wisatawan lokal dan manca yang singgah. Saat istirahat, ku gunakan waktuku untuk berbaring sebentar di ruangan seukuran kamar yang dijadikan mushola.
"Es, sudah jam 1. Kamu cuci muka sana dulu dan bermake up lagi. Biar aku yang menghandle depan."
Farah menepuk pipiku dengan tangannya yang basah. Mungkin tadi dia membangunkanku, tapi sulit.
"Hoam...rasanya baru sebentar merem. Kok sudah waktunya kerja lagi?" Aku menggeleng - gelengkan kepala untuk menghilangkan kantuk yang masih melekat di mata.
"Esti, gaat het wel goed?" tiba-tiba mrs. Veronica melintas di wastafel toilet saat aku masih mencuci muka.
"Oh, well. I'm okay, madam." aku terkejut melihat kehadirannya yang mendadak di sampingku.
"Maar je ziet er beroerd uit." dia menelisik wajahku yang baginya tidak seperti biasanya.
Aku segera berpamitan demi menghindari pertanyaan lanjutan yang aku belum siap menceritakannya, karena masih belum ada solusi.
"Oke. Wees voorzicjtig." dia menggedikkan bahunya dan mengibaskan tangan kirinya ke atas.
"Yes, madam. I will. Thank you." aku segera masuk kembali ke mushola untuk merias kembali wajahku, supaya terlihat menarik.
Waktu berlalu dengan cepat. Shift pagi telah berakhir. Sebelum pulang, sekalian ku lakukan sholat Ashar, supaya nanti tinggal santai di rumah.
Tiba di rumah, ternyata pria penyebab tidurku sulit semalam, sudah duduk di kursi teras dengan ibu. Aku menyalami mereka berdua.
"Baru pulang, Es? Duduk sini dulu. Om mau ngomong."
"Ngomong apa om? Kan sudah sama ibu? Aku capek. Maaf, aku masuk dulu."
__ADS_1
Jiwa ragaku mendadak terasa berat manakala melihat trouble maker itu ada di depan mataku.
"Nih, ada pizza dan terang bulan kesukaanmu. Bawa sekalian." dia menyorongkan kresek putih padaku.
"Nggak ah. Nanti dihitung hutang. Bawa saja untuk anak-anak om. Esti sudah kerja, bisa beli sendiri. Permisi om."
Aku ngeloyor masuk ke ruang tamu. Tak ku pedulikan reaksinya dan ibuku. Lelahku sungguh tak terkira menghadapi masalah yang pelik ini.
Setelah berganti baju, ku baringkan tubuhku di ranjang kamarku sendiri dengan tujuan supaya kalau aku tertidur, Silvi yang nanti sudah pulang dari mengaji, akan membangunkanku waktu Maghrib tiba. Mataku sungguh tak bisa diajak kompromi.
Benar saja, ku dengar suara adik perempuanku itu memanggil - manggil namaku.
"Mbak, mbak Esti. Bangun. Sudah Maghrib nih. Sholat dulu." tangan suburnya memegang dan menggoyang - goyangkan pundakku.
"Iya. Bentar." dengan malas aku membuka mataku yang masih berat dan lengket.
Tapi demi mengingat waktu Maghrib sangat singkat, aku gegas ke belakang mengambil air wudhu.
"Mangan dhisik Es." suara ibu memanggilku ketika aku selesai menggantungkan mukena di ruang sholat.
"Nggak ah buk. Aku ngantuk banget. Tolong jangan ganggu aku dulu. Biarkan aku sendiri."
Aku tahu, di balik acara makan, ibuk akan kembali membahas tentang rencana nylenehnya itu. Tubuhku benar-benar tak mau merespon apapun lagi, kecuali tidur. Ku langkahkan kaki menuju kamar depan, tanpa menguncinya kembali. Hanya sekejap, aku sudah tak mendengar apapun lagi. Tenang sekali.
Hingga terdengar samar di telingaku suara panggilan, "Es, bangun. Wis Subuh."
Ku buka mataku yang masih erat bertautan kelopaknya.
"Cepetan. Keburu terang nanti." Ibu masih di posisinya memastikanku bangun dari tidurku.
"Iya." dengan ogah - ogahan aku menjawab permintaannya.
__ADS_1
Rasanya malas sekali bangun kalau tidak ingat kewajibanku pada Sang Pencipta dan kerjaanku.