
Setelah kepergian ayah, keadaan menjadi berubah. Tak ada lagi makanan atau jajanan enak untuk kami. Ibu sudah berusaha berjualan nasi di depan rumah. Tapi karena yang enak justru masakan ayah, maka dari itu, usaha ibu menjadi gulung tikar.
Hingga suatu hari, setelah 100 hari meninggalnya ayah, sepulang kerja, kakak perempuan sulung bilang ke ibu kalau akan dilamar oleh anak seorang petinggi salah satu Persero di Malang. Tentu ibu menyetujui.
Ku lihat, suatu pagi om Tanri datang ke rumah. Dia berbincang dengan ibu di teras. sedangkan aku yang saat itu sakit, hanya berjemur di balkon untuk menghangatkan diri.
Tak lama dia ada di rumahku. Sebelum pergi, dia mendongak ke atas, menatapku dan tersenyum.
"Kamu tidak sekolah Es?" Tanyanya berbasa - basi.
"Tidak, om. Aku sedang sakit." Ucapku menjawab pertanyaannya.
"Oh, lekas sembuh ya. Kamu pengen makan apa? Nanti pulang kerja om bawakan." Dia mengucap itu sambil tersenyum.
"Sungguh?" Aku khawatir kalau yang dia ucapkan hanya basa - basi.
"Iya. Bener. Masa gini aja om harus bohong? Turun sini. Capek tau teriak - teriak." Tangannya terlipat di depan dada. Dia memintaku untuk menemuinya.
Dengan perlahan, aku menuruni tangga yang menuju ke lantai dapur. Sambil merambat ke dinding, akhirnya aku sampai di teras. Melihatku lemas, dia segera berjalan cepat ke arahku, dan menuntunku duduk di kursi.
"Nah, katakan. Kamu lagi pengen makan apa?" Pada posisi berdiri, dia mengulang pertanyaannya.
Aku terpukau saat tangannya sigap mengambil tisu di meja dan mengusap air mataku.
"Terimakasih om. Esti pengen es krim dan Pizza." Aku menjawab lirih lalu menundukkan kepala.
Aku malu, karena pizza harganya mahal. Tapi aku kangen makanan itu. Biasanya ayah membawakan kami dari hotel atau membuatnya sendiri di rumah. Tapi karena tidak ada pemasukan keuangan lagi, jadi aku tak berani meminta macam - macam pada ibu.
"Itu saja?" Aku mengangguk menanggapi tanyanya.
"Ya sudah. Nanti pulang kerja akan om bawakan. Harus dimakan ya, biar cepat sehat dan sekolah lagi. Pengen apa lagi? Buah, roti atau ayam Kentucky?"
Aku tertegun mendengar tawaran makanan yang harganya bagiku sangat mahal.
"Boleh om?" Aku ragu mau menyetujui tawarannya.
__ADS_1
"Ha...ha...ha. Ya boleh dong." Dia tertawa melihat keraguanku.
"Ndak usah. Itu sudah banyak." Ternyata ibu juga segan.
"Gak apa - apa, yu. Ya sudah, aku pamit dulu. Assalamu'alaikum."
Dia mengusap lembut rambutku, lantas berpamitan pada ibu yang juga masih duduk di kursi teras.
"Ya. Wa'alaikumsalam. Hati-hati." Ibu berkata singkat dan melambaikan tangan untuk adik iparnya.
Benar saja. Sore hari dia datang membawakan kami 2 kardus jumbo berisi Pizza dan 1 kantong kresek yang mungkin berisi makanan yang tadi dia bilang.
"Makasih om." Wajahku langsung berseri menerima bawaannya.
"Ya, lekas dimakan mumpung masih hangat. Om pulang dulu ya. Ini untuk kamu berobat dan beli jajan."
Dia mengeluarkan amplop dari saku celananya padaku. Jujur aku kaget, karena tebal isi kertas coklat itu.
"Terimakasih om." Mataku berbinar menatap wajah om Tanri. Jujur, aku perlu uang. Makanya ku terima saja pemberiannya.
"Sudah dulu ya. Assalamu'alaikum." Dia berpamitan
Dia menutup pagar, tersenyum padaku dan berlalu. Sedangkan aku memasuki rumah dan menutup pintu ruang tamu. Ku letakkan 1 box Pizza di meja makanmakan, begitupun kresek yang berisi Kentucky dan aneka buah. Aku mengambil semangkuk kecil es krim. Sisanya ku masukkan kembali ke freezer. 1 kardus pizza ku bawa ke kamar untuk ku nikmati sendiri.
Setelah mengunci pintu, ku buka amplop pemberian suami tanteku itu. 'Wow. Satu juta rupiah.'
Aku takjub dengan sepuluh lembaran uang merah di tanganku. Sungguh banyak dia memberiku rupiah. Sedangkan istrinya tak pernah sekalipun memberi kami uang, walaupun saat lebaran.
'Besuk aku harus ke bank, supaya uang ini awet.' Monologku dalam hati.
***
Seminggu kemudian, ibu mulai berbelanja berbagai kebutuhan pokok dalam jumlah banyak. Katanya mau dipakai untuk acara ijab qobul dan syukuran mbak Ayu.
Prosesnya lancar. Resepsi langsung digelar di sebuah gedung pertemuan milik sebuah perguruan tinggi negeri. Sehingga area parkirnya luas.
__ADS_1
Sesudah menikah, mbak Ayu langsung mengikuti suaminya dinas di Persero juga di kota Bogor.
Suatu siang, om Tanri datang lagi. Entah mengapa, seolah selalu kebetulan saja, saat dia ke rumahku, selalu ada aku.
"Assalamu'alaikum." Ucapnya sambil membuka pintu gerbang yang tidak terkunci.
"Wa'alaikumsalam." Aku yang masih santai di teras, menjawab ucapan salamnya.
"Yu Zaenab ada, Es?" Dia menanyakan keberadaan ibuku.
"Entah om. Esti juga baru pulang sekolah. Sebentar, tak lihat ke dalam dulu ya."
Sambil menenteng tas sekolah, aku melangkah masuk ke ruang tamu. Ku longokkan kepalaku ke dapur, ternyata ibu tidak ada. Lalu ku buka pelan pintu kamar ibu.
"Bu, ada om Tanri tuh." Ternyata ibu sedang berwirid usai menunaikan sholat Dhuhur.
"Alhamdulillah. Ya. Kamu buatkan teh manis dulu ya. Ibu tak nemuin om mu dulu."
Ibu melipat mukenanya lalu berjalan ke teras. Sedangkan aku membuatkan minuman untuk tamu ibuku.
"Ini om, diminum dulu, mumpung masih hangat." Ku sodorkan gelas ke meja tepat di bagian om Tanri.
"Ya, makasih Es." Dia menyeruput teh yang masih agak panas.
Aku kembali ke dapur meletakkan nampan. Setelah suhu wajahku tidak panas, aku segera ke tempat cucian untuk berwudhu. Aku tak tau apa om iparku itu sudah pulang atau belum. Yang pasti, ibu tidak memanggilnya, itu artinya semua baik - baik saja.
Besuknya, ketika pulang sekolah, banyak ku lihat bahan - bahan bangunan di teras dan halaman rumah.
"Hatching...Hatching." Aku yang alergi, langsung bersin bila berdekatan dengan debu.
"Sudah pulang, nduk? Ayo buruan masuk, biar kamu ndak terus bersin." Ibu membuka pintu dan membonceng tanganku masuk ke dalam rumah.
Ternyata kedua adikku dan kakak - kakakku sudah pulang sekolah. Mereka ada di ruang TV, tapi masih belum berganti seragam. Aku pun menyusul duduk di sana.
"Besuk akan banyak tukang membuat tangga di teras. Jadi ke loteng bisa lewat depan. Tapi, Fariz, Toni, Sovi dan Rizki, setelah tangganya selesai, kalian pindah kamar ke bawah. Yang di lantai atas, akan ibu koskan. Sovi sekamar sama mbak Esti. Fariz dan Toni, di kamar bekasnya mbak Ayu. Rizki biar sama ibuk. Dengan punya kos - kosan, itu akan meringankan ibu membiayai dan menghidupi kalian."
__ADS_1
Kami mengangguk menurut saja pada rencana ibu. Bersyukur saat hidup, ayah sudah membangun lantai atas. Sehingga bisa membantu keuangan kami.
Ibu mulai memasang tulisan "TERIMA KOS PUTRI". Karena rumahku di tengah kota, dengan cepat ke empat kamar terisi.