
Dua tahun setelah mbak Ayu menikah, kembali ibu menggelar selamatan. Ini adalah untuk acara pernikahan mbak Diana.
Beruntung sekali dia dinikahi oleh putra pengusaha batik. Di rumahku hanya pengesahan di depan penghulu. Sesudah itu, kami berangkat ke kota Solo naik bis untuk resepsi.
Kamar mbak Diana ditempati mas Fariz. Sedangkan Rizki, sekamar sama Toni. Tanggungan ibu kembali berkurang.
Suatu petang, mas Fariz pulang membawa seorang wanita dewasa berpakaian modis, khas orang kantoran.
"Assalamu'alaikum." Mereka berdua mengucap salam.
"Wa'alaikumsalam." Kami yang sedang duduk di ruang TV menyahut bersamaan.
Mas Fariz membawa teman wanitanya masuk ke ruang tamu dan menyuruhnya duduk. Wanita itu pertama kali menyalami ibu lalu bergiliran ke kami berempat. Semua duduk di ruang tamu bersiap mendengar cerita putra sulung ibuku itu.
"Buk, kenalkan. Ini Winda. Aku berniat menikahinya, kalau bisa secepatnya."
Ibu yang diam menunggu mendengar penjelasan mas Fariz, tampak biasa saja. Tak ada raut terkejut di wajahnya.
"Oh, iya. Ndak apa - apa asal orang tuanya setuju." Singkat jelas jawaban yang ibu berikan pada mereka berdua.
Setelah berbincang beberapa saat, wanita itu menyerahkan dua kantong kresek besar kepada ibu, lalu berpamitan pulang, diantar mas Fariz.
***
Ku perhatikan, setiap akan ada acara, om Tanri selalu ada di rumahku. Seperti siang ini sepulang sekolah, ku lihat ibu sedang berbincang dengan adik iparnya di teras. Aku lalu menyalami keduanya.
Dan setelah pria itu pergi, selalu ada acara besar di rumahku. Seperti kali ini, ibu mengundang beberapa tetangga untuk membantunya memasak. Kami senang, karena dengan begini bisa makan enak khas orang hajatan.
Benar saja. Esok paginya, kami sekeluarga berpakaian rapi dan pergi naik mobil. Mas Fariz memakai jas hitam dan berkopiah dengan warna senada.
__ADS_1
Mobil masuk ke kawasan perumahan elit dan berhenti di rumah yang di pinggir jalannya sudah terparkir beberapa mobil. Termasuk rombongan adik - adiknya ibu.
Kami semua masuk ke rumah yang berdekorasi pesta. Seseorang mengarahkan aku dan adik - adik untuk duduk di kursi yang berjajar di halaman dengan atap tenda. Sedangkan ibu dan mas Fariz melanjutkan langkah ke rumah utama.
"Saya terima nikahnya Windasari binti Mahmud dengan mas kawin uang tunai 1 juta rupiah, dibayar tunai."
Terdengar dari speaker yang dipasang di beberapa titik, suara mas Fariz mengucapkan ikrar pernikahan.
"Bagaimana, sah?" Suara pria kembali terdengar sampai ke tempat kami.
"Sah." Sahutan dari banyak orang bergema di ruangan dan sound sistem.
Setelah itu, tampak ke luar dari pintu, mas Fariz membonceng mbak Winda yang diarak menuju pelaminan yang telah disiapkan.
Prosesi pun berjalan lancar. Setelah menikmati hidangan pesta, satu per satu tamu undur diri.
Mas Fariz tetap di rumah mbak Winda. Sedangkan kami lanjut menuju mobil sewa menuju ke rumah.
***
Menginjak 2 tahun, gantian aku yang lulus sekolah. Aku ditawari oleh mbak kos untuk bekerja sebagai pramuniaga mall. Tapi aku menolaknya. Sebab, menurutku melelahkan sekali bila harus berdiri selama 7 jam setia pada hari.
Aku memutuskan bekerja di sebuah restoran di dekat rumahku sebagai waitress. Cukup berjalan kaki, sehingga tidak mengeluarkan uang transportasi.
Jam 4 sore shiftku berakhir. Aku langsung mengemasj tasku yang berisi mukena dan kotak nasi.
Setibanya di rumah, ternyata ada om Tanri berbincang dengan ibu di teras. Aku heran. Orang ini selalu ada di rumahku setiap setelah ada kelulusan sekolah atau akan ada acara besar di rumahku.
'Apa akan ada pernikahan lagi? Siapa? Masa iya aku? Kan aku ndak punya pacar? Atau ibu?' Berbagai pertanyaan berkecamuk dalam benakku.
__ADS_1
Aku menyalami mereka seperti biasanya, lalu masuk rumah. Rasanya lelah berjalan mondar-mandir seharian. Sehingga, ku gunakan waktumu untuk berbaring di kamar saja, setelah selesai membersihkan diri.
Hingga suatu ketika aku sedang dapat jatah libur, ibu mengajakku bicara di ruang tamu setelah adik - adikku berangkat sekolah.
"Nduk, selama ini kok belum ada yang ngapelin kamu? Sebenarnya kamu sudah punya pacar apa belum?"
Aku tertegun mendapati pertanyaan semacam itu. Sebab jujur saja aku belum punya kekasih. Walaupun ada teman - teman cowok yang menyukaiku, tapi aku masih belum pengin pacaran. Aku tidak suka hubungan yang hanya jalan ke sana ke mari tanpa konsep pernikahan. Bagiku itu adalah kebiasaan yang menandakan ketidakdewasaan.
"Ih, ibuk tuh ada - ada saja. Aku belum mikirin itu buk. Masih ingin ngumpulin duwit, biar ndak ngrepotin ibuk. Lagian, aku lho sik belum ada setahun lulus."
Ibu menghela nafas panjang seolah sedang menimbang yang akan dia katakan lagi padaku.
"Pria seperti apa yang kamu sukai untuk menjadi pacar atau suami nanti?"
Aku sebetulnya enggan membahas tentang hal ini. Tapi sepertinya ibu mempunyai maksud lain.
"Pengennya punya suami yang seperti ayah. Aku ndak suka pacaran sama cowok seumur. Bagiku, mereka tidak dewasa. Lagian, kalau menikah sama yang baru lulus sekolah, itu berat buk. Kalau gajinya kecil, mana bisa bayar kontrakan? Bisa makan saja sudah untung. Lha kalau nebeng di rumah ibuk, aku ndak mau membuat suamiku keenakan. Sedangkan jika aku ikut mertua, takutnya ada ketidakcocokan. Makanya, nanti saja lah buk ngomongin soal nikah. Aku mau fokus kerja dan ngumpulin uang."
Ibu terlihat berpikir sambil matanya menatap ke tembok rumah tetangga yang tepat di depan lorong gang rumahku. Tiba-tiba terbersit dalam pikiranku tentang ibuku.
"Kenapa bukan ibuk saja yang menikah lagi? Kan ayah sudah lama meninggal? Gak pa pa kalau ibuk mau nikah. Yang penting orangnya baik dan tanggungjawab."
"Ha ha ha. Kamu ada - ada saja. Ibuk ini sudah tua. Gembrot. Anaknya banyak. Mana ada yang mau? Lagi pula, ibuk ndak mau rumah yang dibeli ayahmu ditempati oleh pria lain. Kasihan ayahmu dan kalian. Biar ibuk menjanda saja. Nungguin kalian semua nikah."
Aku terhenyak mendengar kata - kata ibu. Aku takut kalau itu pertanda dan bisa terjadi.
"Hush. Ibuk ngomong apa sih. Ndak ilok. Moga ibuk sehat, panjang umur dan senang."
"Heleh. Manusia pada akhirnya juga akan mati, nduk. Cuma ndak tahu waktunya saja." Dengan santai, ibu menerangkan maksud omongannya tadi. Lalu ibu melanjutkan bahasan lagi tentang pernikahan
__ADS_1
"Kakak - kakakmu langsung nikah setelah keluar SMA. Beneran kamu ndak pengen nikah? Gimana kalau ada pria kaya yang mau menikahimu? Kamu mau ndak?"