Aku Pulang, Mas!

Aku Pulang, Mas!
part 1


__ADS_3

Tahun 1940


Krek-krek!


Ayunan rotan bergerak sesuai dengan gerakan tangan seorang wanita muda yang saat itu sedang duduk bersimpuh sembari melongok ke dalam benda yang menjadi tempat berbaring seorang bayi perempuan yang kini tengah terlelap.


"Sasmita, jadilah anak baik, ya, Sayang. Ibu akan menjagamu hingga kelak kamu dewasa," ucapnya bermonolog, binar kebahagiaan terpancar begitu jelas dari matanya.


Wanita berkulit kuning langsat itu mengelus jidat anaknya yang berambut jarang dengan jemarinya. Begitu sayangnya, hingga bibir itu terus tersenyum. Gemas. Bahagia akhirnya ia bisa jadi seorang ibu seutuhnya.


Sesekali ia membawa anak rambutnya yang ia biarkan tergerai ke belakang telinga saat angin sepoi menyapanya, ia tidak ingin rambut itu menyentuh wajah mungil dan menggemaskan itu. Ia tidak ingin tidur malaikat kecilnya terganggu karena dirinya.


Rumahnya yang berada di tengah-tengah kebun jati itu terasa sejuk, angin pun begitu deras, terasa sangat nyaman hingga wanita itu jarang keluar.


Apalagi parasnya yang cantik, ia sangat di jaga suami dan kedua orang tuanya. Kedatangan para kompeni Belanda menjadi momok menakutkan bagi perempuan pribumi di Indonesia.


Itu sebabnya Rumiyati--nama wanita muda itu, di bawa suaminya tinggal di  kebun jati milik orang tuanya yang jauh dari perkampungan, di mana para kompeni Belanda itu biasa lewat dan mencari mangsa. Gadis ataupun istri orang bukan penghalang untuk dijadikan Nyai--wanita yang menjadi pemuas nafsu para pejabat dan tentara Belanda.


"Mbok ... Mbok," panggil Rumiyati pada ibunya. Wanita itu perlahan bergerak berdiri dan menyanggul rambutnya. Ia yang saat itu tengah memakai kemben berjalan pelan ke arah dapur.


Kepalanya bergerak ke kiri dan kanan. Tungku masih menyala dan asap dari perapian masih membumbung, sedangkan panci yang berada di atasnya sudah mengering. Ketela yang di rebus pun mulai menghitam, meskipun hanya sedikit.


Rumiyati bergerak cepat saat aroma gosong mulai menguar. Ia mengangkat panci itu menggunakan kain lusuh.


"Si Mbok kemana? tumben masakan ditinggal," keluhnya sembari melongok ke arah luar.


Sepi. Rumiyati lalu memutar tubuh dan matanya tertuju pada ayunan bayi yang masih bergoyang.


"Sasmita sedang tidur. Ia pun sudah kenyang tadi aku susui, sepertinya tidak mengapa jika aku tinggal sejenak untuk mencari si Mbok. Aku takut terjadi sesuatu kepadanya," Rumi berbicara pada dirinya sendiri.


Ia menatap kembali ayunan bayi itu untuk memastikan keputusannya itu. Antara kasihan dan tak tega, tapi ia pun tidak bisa membiarkan Ibunya begitu saja.


Rumi lalu memutuskan untuk mencari ibunya. Ia keluar dari pintu belakang dan menyanggah pintu itu dengan kayu.


"Hanya sebentar, Nak. Ibu janji,"

__ADS_1


Rumiyati lalu melangkah menyusuri kebun kayu jati. Hanya terdengar deru angin dan gesekan daun-daun serta suara ngengat yang menemani.


"Mbok! Mbok!" panggilnya dengan suara nyaring.


Dor!


Suara tembakan membuat wanita itu terhenyak. Jantungnya bergemuruh kencang. Kenapa bisa ada suara tembakan? apakah tentara Belanda ada di sekitarnya?


Rumiyati bergegas mencari tempat perlindungan. Ia bersembunyi di pohon yang batangnya besar sembari mengintai keadaan sekitar.


Tak lama terdengar suara gemerisik daun kering  yang dipijak. Begitu berisik, derap langkah kaki pun terdengar menggema.


Tubuh Rumiyati pun menggigil takut. Apalagi suara itu semakin mendekat.


"Kamu jangan bohong, neh. Ik tahu di sini ada perempuan cantik, kamu sembunyikan di mana dia? akan Ik  jadikan Nyai!"


"Njaluk ngapuro, Menir. Kulo ora nduwe anak. Kulo sebatang kara,"


Rumiyati sontak menutup mulutnya dengan salah satu tangan. Menatap nanar orang tua berkemben dan bersanggul yang saat itu berada pada genggaman tangan dua orang tentara Belanda.


"Apa kamu mau mati, ne. Peluru ini dengan gampang akan menembus kepalamu!"


"Tunjukkan rumahmu! Ik tidak mau tahu, kamu mau mati atau mau hidup!"


Klek!


Bunyi senjata itu membuat tubuh Rumi lemas. Bulir bening itu semakin deras. Ia tidak mampu lagi menahan diri.


Wanita muda beranak satu itu lalu keluar dari persembunyiannya. Orang-orang Belanda berambut pirang dan hitam itu langsung melesatkan pandangan saat terdengar bunyi berisik daun kering yang terinjak.


"Lepaskan si Mbok, Menir. Aku anaknya,"


Wanita tua yang rambutnya sudah mulai memutih itu langsung melotot saat melihat anak semata wayangnya hadir di tengah-tengah mereka.


"Erg mooi," lelaki bersenjata itu berucap takjub saat melihat Rumiyati yang hanya memakai kemben dan juga kain yang hanya menutup beberapa senti dari dengkul. Kulit putihnya terekspose dan lekuk tubuhnya yang memang aduhai terlihat sempurna.

__ADS_1


Rumiyati menutup daerah dada dengan melipat kedua tangannya saat menyadari tatapan-tatapan lapar para kompeni Belanda.


"Bawa wanita itu! Nyai yang sempurna untuk kapten Emanuel Van Deer," cetusnya lagi. Perintah yang langsung di lakukan anak buahnya yang juga tak mampu menahan rasa kagumnya.


Rumiyati pasrah. Ia sama sekali tidak melawan. Berharap bisa lepas bagaimana pun caranya.


"Tidak, Rum! jangan bawa Arum-ku!" jerit wanita bernama Marinten itu saat dua orang tentara langsung mencengkeram tangan Rumi.


Rumi menggeram saat tubuh orang tua itu di dorong dan tersungkur di tanah.


"Mbok! sudah, Mbok. Rumi bisa jaga diri. Mbok tolong urus Sasmita sementara, susu kambing yang pernah Rumi ajari, air tajin pun tidak mengapa. Rawat Sasmita selama Rumi pergi, Mbok," pekik Rumi saat para tentara menarik tubuhnya paksa.


"Jangan kasar, wanita ini sangat berharga. Jangan sampai terluka," ucap pemimpin Belanda yang saat itu terus mengulas senyum senang.


Rumiyati pasrah dan mengikuti kemana orang-orang itu membawanya. Meski hatinya sakit saat terpaksa berpisah dengan orang-orang terkasihnya. Suami, anak, juga suaminya.


Sedang wanita tua yang berusaha bangkit itu hanya bisa tersedu, tidak mampu menahan rasa sedihnya karena harus berpisah dengan anak perempuannya, tapi ia harus bergerak cepat karena ada bayi yang saat itu berada di dalam rumah seorang diri.


Marinten mengangkat kakinya yang sakit susah payah menuju rumahnya, tertatih dan setengah menyeret, berusaha keras untuk sampai ke rumah secepatnya.


Orang tua itu langsung masuk ke dalam rumah saat terdengar suara tangisan yang sangat nyaring. Bayi yang kelaparan dan merindukan air susu ibunya.


Tangan keriput itu bergetar saat meraih bocah kecil yang saat itu menggeliat dan berurai air mata.


Pantat bayi itu basah, Marinten segera mengganti dengan popok kain bekas agar bayi itu tetap hangat.


Tangis bayi itu tidak juga reda. Marinten bingung. Sembari menggendong bayi itu, ia melangkah ke arah dapur dan meraih gelas, menuang air dan gula, mengaduknya lalu perlahan ia suapkan ke bibir bocah itu. Saking laparnya, bayi itu tak henti membuka mulut.


Tak kunjung berhenti menangis meski sudah habis separuh gelas, Marinten menimang-nimang dengan air mata yang bercucuran.


Aksinya itu terhenti saat mendengar suara derit pintu yang terbuka. Marinten ...


*****


*Erg Mooi\=cantik.

__ADS_1


__ADS_2