Aku Pulang, Mas!

Aku Pulang, Mas!
part 5


__ADS_3

Cipto menggeleng dengan cepat. Tidak mungkin saat itu ia sedang berhalusinasi. Ia yakin sekali Rumi pulang malam tadi.


Cipto lalu beralih masuk ke dalam kamar dan meraih segelas susu dan surat yang ditinggalkan Rumi untuk anaknya. Ia membawa benda itu ke arah Marinten yang menatapnya heran.


"Apa itu, To?" tanyanya seraya menunjuk benda yang ada di tangan Cipto.


"Ini segelas susu yang di berikan Rumi untuk Sasmita," ucap Cipto. Bukan hanya gelas susu, tapi juga surat itu diserahkan kepada Marinten.


Kelopak mata Marinten melebar saat membaca tulisan yang ia tahu jika itu tulisan anaknya, meski ia tidak bisa membaca, ia sangat hafal tulisan anaknya. Yang membuatnya tidak habis pikir, tulisan itu seperti bertintakan darah yang telah mengering.


Perasaannya tiba-tiba tidak enak. Apalagi sejak semalam ia merasakan udara yang sangat dingin, dan gerimis tipis-tipis yang membasahi bumi,  sedangkan di luar bulan bersinar sangat terang.


Di samping itu terdengar suara anak ayam yang langsung mengganggu pikirannya. Tanda-tanda seperti itu biasanya makhluk dunia lain tengah menyapa.


' Apa mungkin Rumi sudah mati? bukankah kecil kemungkinan untuk bisa lepas dari tangan kompeni?'


Marinten seketika mengusap kasar wajahnya. Menepis pikiran buruk yang tiba-tiba mampir. Dadanya nyeri, berharap jika itu hanya pikirannya saja, meski didalam lubuk hati yang paling dalam ia pun ragu dengan itu semua, tetap ia merasa sesuatu sedang terjadi pada anak perempuannya itu.


"Mbok?" telapak tangan Cipto mengayun di depan muka Marinten seraya memanggil nama orang tua yang memakai baju batik lusuh dengan model kebaya.


Marinten terhenyak dan tersadar dari lamunannya. Ia menatap Cipto dalam.


"Kenapa, Mbok? Mbok mikiri apa? Rumi? Rumi beneran pulang, Mbok. Cipto tidak bohong," cetus laki-laki berkulit tan itu.


Marinten hanya mengangguk lesu, meski jantungnya berdegup sangat kencang dan pikiran buruknya kian berkecamuk, Marinten berusaha untuk tenang.


Suara tangis dari dalam kamar membuat Cipto menghentikan sejenak perbincangannya dengan Marinten.


Ia berlari ke arah dalam dan menemui anak semata wayangnya, menimang-nimang sejenak, sebelum bocah gembul itu kembali tertidur.


"To? wes ndang, kamu harus kembali bekerja. Biar Sasmi sama Mbok," tukas Marinten seraya mengencangkan kain panjang yang di pakainya.

__ADS_1


"Njih, Mbok. Nanti kalau Sasmi lapar, berikan air susu di dalam gelas, ya, Mbok," tutur Cipto dengan hormat.


"Iyo, Mbok ngerti."


Cipto mengangguk pelan. Ia lalu meletakkan bayi kecil itu di atas kasur. Guling kecil diletakkan di sisi kiri dan kanannya agar bayi itu tidak terguling dan jatuh dari ranjang.


Cipto bergegas ke kamar mandi. Bersiap-siap untuk pergi ke rumah salah satu orang Belanda yang memperkerjakan dirinya sebagai seorang kacung serba bisa, malah terkadang menjadi orang kepercayaan karena sikapnya yang jujur dan bisa di percaya.


Setelah siap, Cipto menyempatkan diri untuk sarapan menyeruput secangkir kopi dan makan ubi rebus hasil dari tanaman sendiri di belakang rumah.


Meski di rumah Meneer-nya Cipto selalu di suguhkan roti sebelum bekerja, tapi tidak pernah ia makan. Perutnya tidak cocok dengan makanan itu, mulas dan diare pada akhirnya.


Tuannya itu termasuk orang Belanda yang baik, ia selalu menganggap Cipto seperti keluarganya sendiri, hingga Cipto merasa sungkan untuk mengecewakannya.


Laki-laki berhidung mancung itu mencium kening anaknya dan berpamitan dengan mertuanya sebelum ia melangkah keluar dari rumah.


Ia melangkah dengan perasaan gusar. Sama seperti Marinten, sesungguhnya di dalam lubuk hatinya, Ia pun merasakan hal yang sama.


Di sepanjang perjalanan menggunakan sepeda onthel warisan bapaknya, Cipto mengayuh dengan perasaan bimbang. Apalagi saat  semilir angin membawa suara-suara lirih perbincangan ibu-ibu yang berkerumun.


Cipto penasaran, dan lantas melipir, mendekati wanita-wanita pribumi yang rata-rata berkulit gelap tanpa alas kaki.


"Kasihan Sarinem, mana ibunya seorang janda tua. Pasti sedih melihat Sari dibawa Meneer Antonius, tua bangka jahan*m itu!"


Cipto terhenyak saat mendengar salah   satu wanita bersanggul, sedang menggendong bayinya berucap. Ia seperti kenal dengan nama yang di sebutkan.


"Sari? apa yang Mbakyu Menuk ceritakan ini adalah Sarinem? anak Paklek Waryono?" tanya Cipto dengan  keponya. Darahnya berdesir begitu mendengar nama wanita yang masih ada hubungan kerabat dengannya.


"Iyo, Cipto. Sarinem, anak almarhum Pakdemu. Denger-denger sebelum Sarinem, ada juga perempuan yang di bawa, tapi wajah wanita itu di tutupi kain," jelas wanita itu.


Wajah Cipto berubah pias. Nasib Sarinem pasti nelangsa. Kekejaman Belanda ternyata tidak hanya dengan terbunuhnya seorang Bapak akibat kerja rodi yang harus di jalani, tapi berimbas juga pada dirinya yang harus berakhir menjadi budak hawa nafsu yang entah kapan akan di bebaskan.

__ADS_1


Apalagi, kata-kata wanita tadi sama seperti apa yang kini terjadi pada dirinya. Apakah wanita lain yang di maksud itu istrinya? kalau memang itu Rumi, Cipto merasa beruntung, karena istrinya selamat, meski ia tak menampik perasaan gundah dalam lubuk hatinya. Kemana Rumi sebagian ini? apakah ia kembali ke tempat para Belanda itu membawanya kemarin? atau ... ia hanya mencari udara segar pagi hari?


***


Marinten melangkah gontai, membawa Sasmita kecil dari rumah tetangganya untuk meminta gula.


Seharian ia sendiri di dalam rumah, tidak ada bahan makanan yang tersisa selain ubi hasil tanamannya sendiri dan telor ayam yang berniat akan dierami.


Ia teringat pada Cipto yang selalu mewanti-wanti, jangan memberikan Sasmi makanan sebelum bayi itu berusia 6 bulan, karena Cipto sering mendengar wejangan itu dari Mevrow–sebutan Nyonya Belanda yang memperkerjakan dirinya.


Itu sebabnya, Marinten terpaksa meminta gula ke tetangga yang jaraknya cukup jauh dari rumah untuk di campur dengan air susu kambing yang akan ia rebus bersamaan, agar rasanya lebih manis untuk diminum Sasmita nantinya.


Saat jaraknya hanya beberapa jengkal dari rumah, tercium bau sesuatu, seperti bau susu yang di rebus. Ia pun melihat asap tipis dari dalam gubuknya.


Marinten mempercepat langkah. Ia mengira itu pasti Cipto–menantunya yang baru pulang dari bekerja.


Akan tetapi, saat ia membuka pintu, jantungnya rasa akan terlontar keluar saat melihat seseorang sedang berjongkok di depan perapian sembari menundukkan wajahnya. Rambut wanita itu terurai kedepan dengan pakaian yang masih meneteskan air di lantai dapur yang masih berupa tanah keras.


"Oeekkk-oekkk!"


Bayi yang di gendongnya tiba-tiba menangis gentar.


"Ru–mi ...," panggilnya lirih nyaris berbisik.


"Bawa Sasmita ke kamar, Mbok. Nanti Rumi susui. Waktu Rumi tidak banyak, Mbok. Nanti malam Rumi datang lagi,"


Marinten mengangguk. Meski ia heran melihat tingkah Rumi yang mendadak aneh dan terus menunduk, Marinten menurut.


Namun, saat ia mengangkat kakinya, tiba-tiba terasa angin dingin menyapa tengkuknya. Seketika Marinten merasakan bulu kuduknya meremang. Saat ia hendak menoleh ke belakang.


"Jangan lihat ke belakang, Mbok!"

__ADS_1


*****


__ADS_2