
Tak di sangka, Kapten Emmanuel ternyata tidak sabar untuk segera mencicipi tubuh molek Rumi.
Ia yang saat itu sedang bertugas untuk mengawasi para pekerja rodi yang sedang membuat terowongan untuk mengambil hasil tambang tampak gelisah.
Berulang kali menyeka keringatnya dan berjalan mondar-mandir tak karuan. Tangannya basah karena keringat dan jantungnya berdegup tak beraturan saat membayangkan betapa cantiknya Rumi.
"Tidak-tidak! Ik tidak tahan lagi!" gumamnya seorang diri.
"Deehan!" Ia memanggil salah satu bawahannya yang saat itu tengah berdiri tegap dengan senjata di tangan.
"Yap, Kapten!" sahut laki-laki Belanda itu dengan kencang. Ia berbalik dan berlari kearah Kapten Emmanuel dan memberi hormat saat jarak mereka hanya beberapa langkah saja.
Laki-laki belasteran Belanda-inggris itu menatap bawahannya dengan awas.
"Ik ada urusan. Kamu orang awasi para pribumi itu dengan benar. Tembak saja jika melawan," titahnya sembari menunjuk orang-orang yang sedang berjibaku dengan cangkul dan tanah.
Panas matahari membakar kulit-kulit hitam yang penuh dengan goresan luka. Wajah pias menahan panas dan dahaga dengan tubuh kering kelaparan. Keringat bercucuran membasahi wajah dan tubuh yang tiada daya. Neraka nyata bagi rakyat Indonesia pada jamannya.
"Oke, Kapten. Serahkan pada Saya," tukasnya dengan dada terbusung bangga.
Kapten Emmanuel hanya mengangguk tanpa senyum. Ia pun memutar tubuh dan berjalan dengan cepat ke kendaraan beroda empat yang terparkir tak jauh dari dirinya. Ia sudah tidak sabar untuk bertemu Rumi--wanita impiannya.
***
Rumiyati menatap sekeliling dari dalam kamarnya, mencari celah bagaimana agar ia bisa pergi dari tempat itu dengan selamat.
"Aaa! sa--kit!"
Rumi tercekat saat mendengar suara teriakan seseorang dari kamar sebelah. Ia bergeser ke arah dinding dan menempelkan telinganya di dinding.
Sekat yang terbuat dari papan mampu menembus suara yang terdengar cukup nyaring.
"Jangan, Menir! saya masih perawan! saya belum pernah melakukan itu!"
Degh!
Jantung Rumi rasanya berhenti berdetak saat itu juga. Ia seperti mengenal suara gadis yang ada di sebelah kamarnya.
Rumi menjauhkan telinganya dan mencari celah untuk bisa mengintip ke kamar itu, dan benar saja, ia menemukan lubang yang cukup besar untuknya mengintai dari dalam kamar.
__ADS_1
"Astaga!"
Rumi langsung menutup mulutnya saat melihat seorang gadis tengah menatap takut kepada seorang lelaki berkulit putih dan bertubuh gempal yang saat itu tengah melepas pakaiannya.
Mata Rumi panas. Bulir bening tanpa terasa merosot di kedua sudut matanya.
"Sarinem ...," lirihnya terpaku. Jantungnya bergemuruh melihat teman semasa kecilnya itu kian terpojok oleh perbuatan lelaki durjana itu.
Wanita itu di dorong kuat hingga terlentang dan tanpa aba-aba lelaki gempal itu lalu menindihnya.
Melihat temannya yang dalam bahaya, tanpa berpikir panjang Rumi langsung menggedor dinding itu hingga menciptakan suara gaduh dan membuat laki-laki itu bangkit dari atas tubuh Sarinem.
Mendengar keributan itu, Menir Antonius Van De Bert bersama beberapa kacung dan juga asisten rumah tangganya berangsek mendekati kamar Rumi. Pintu kamar Rumi di dobrak dan wanita muda beranak satu itu di seret keluar.
"Lepaskan! lepaskan Saya!" pekik Rumi. Ia berontak, tapi kekuatan para kacung yang biasa bekerja keras itu tidak mampu ia lawan, Rumi pun terpaksa mengalah.
Diluar, Menir Antonius sudah berdiri bersama dengan laki-laki Belanda yang tadi mencoba menggagahi Sarinem. Gadis itu menatap Rumi dengan sedih, bibir hitamnya yang pecah-pecah menyebut nama Rumi dengan suara bergetar," Ru--mi."
"Lepaskan dia! lepaskan kami! kalian orang-orang jahan*m!" teriak Rumi yang sudah di kuasai amarah. Ia benar-benar jengah menghadapi sikap kejam orang-orang berkulit putih itu, memperlakukan wanita seenaknya seperti barang yang bisa di perjual belikan dengan begitu saja.
"Bunuh saja wanita ini, ne. Kurang ajar! mengganggu kesenangan ik!" ujar laki-laki yang berada di samping Sari dengan lantang.
"Tunggu! kamu orang menyimpan berlian, ne. Erg mooi, kenapa kamu orang tidak bilang ada wanita pribumi secantik ini, ne?"
Laki-laki itu mendekat. Membuat Rumi menegang. Wanita beranak satu itu ingin merangsek mundur, tapi di tahan dua kacung yang mengunci tangannya di belakang.
"Jangan melawan, ingat orang-orang di rumah. Kamu masih mau selamat, bukan?" bisik salah satu kacung di telinga Rumi. Rumi tersadar. Tanpa sadar air matanya meleleh membasahi wajah. Ia lupa, ia punya Sasmita yang menunggunya di rumah.
Rumi diam saat tangan lelaki itu mulai menyentuh wajah mulusnya. Hembusan napas berat menerpa wajahnya di sertai bau alkohol yang menyengat.
Rumi menutup mata saat wajah laki-laki itu kian dekat, mengagumi wajah sempurna milik wanita pribumi yang mengalahkan cantiknya wajah wanita kaumnya sendiri.
"Hentikan! dom!" suara seseorang tiba-tiba menggema di ruangan. Semua orang tercekat dan mencari asal suara bariton yang memekakkan telinga.
Tubuh Menir Antonius bergetar saat melihat sosok lelaki berambut pirang dengan godek dan kumis yang lebat di sekitar dagunya.
"Kaptain Emmanuel," gumamnya dengan napas yang tercekat.
Lelaki bertubuh tinggi itu melangkah dengan tegap dan kaki yang menghentak. Laki-laki yang saat itu berada di hadapan Rumi bergeser takut melihat kedatangan petinggi yang namanya sudah terkenal seantero negeri kincir angin itu.
__ADS_1
" Tijd niet gezien,"(lama tidak bertemu) sapa Kapten Emmanuel saat jaraknya hanya beberapa jengkal dari laki-laki itu.
Laki-laki itu menjawab dengan suara bergetar," ja, Kaptein. A--apa kabar Kaptein?"
"Goed. Kamu orang jangan berani-berani sentuh wanita ini. Nee-nee-nee! tidak boleh! dia orang punya ik!" ketus Kapten yang membuat laki-laki itu tertunduk.
"Sorry, Kaptein," sesal lelaki itu.
"Kamu orang pergi! Ik yang akan bersenang-senang dengan wanita ini!"
Tanpa menunggu, laki-laki itu dengan gerakan cepat pergi dari sisi Kaptein, sementara Rumi di lepaskan dari kuncian dua kacung yang sejak tadi mencengkeram tangannya.
"Kamu masuk kamar, ne. Ik ingin berbincang,"
Rumi menurut. Ia tidak ingin salah langkah untuk kedua kali. Ingat anak dan suami, bagaimana pun ia harus sampai ke rumah dalam keadaan hidup dan menyusui.
Rumi melangkah masuk, sementara Kaptein berbincang sejenak dengan Meneer Antonius sebelum ikut masuk ke dalam kamar yang di sediakan khusus untuk Rumi.
Rumi duduk di ujung ranjang dengan gusar. Apa yang akan terjadi padanya?
Sementara, sayup-sayup di kejauhan ia mendengar derai tawa dan rintihan wanita pribumi bersahut-sahutan. Apakah ia akan bernasib sama seperti mereka?
***
Pagi hari, Cipto mendapati jejak kaki telah mengering. Rumah itu sepi, sementara anak perempuannya tengah terlelap.
Sebuah gelas berisi susu telah tersedia. Cipto meneguk saliva saat mendapati sebuah surat. Susu itu harus segera di berikan, jangan tanya kemana pergi Rumi--istrinya. Sebelum ia datang nanti malam, air tajin harus di berikan sebagai pengganti air susunya.
Cipto turun dari ranjang dan menemui Marinten yang saat itu tengah menjemur pakaian. Tatapan wanita itu kosong, seperti banyak pikiran.
"Mbok... Mbok lihat Rumi?" tanya Cipto begitu saja. Marinten terjingkat dan langsung melesatkan pandangan ke arahnya.
"Rumi?"
"Ya, Mbok. Rumi tadi malam pulang," ucap Cipto meyakinkan.
"Tidak, tidak mungkin! semalaman Mbok tidak tidur. Mbok ke kamar dan melihatmu berbicara seorang diri!"
"Hah? tidak mungkin!"
__ADS_1
*****