
Sepasang mata menatap nanar ke arah luar dari jendela besar yang terbuka.
Ruangan ber-cat putih nan luas dengan ranjang yang terbuat dari besi di hiasi kelambu berwarna senada dengan cat dinding tak lantas membuat wanita muda bermata sendu itu betah berada di tempat itu.
Tetes-tetes air terus jatuh merosot dari kedua ujung matanya. Tak terkira perih yang kini ia rasakan.
Bukan hanya karena memikirkan nasibnya yang tidak jelas setelah kejadian penculikan yang baru saja ia alami, tapi ... nasib anak perempuannya yang ia tinggal begitu saja.
*********** mengeras. Nyeri dan sakit, pertanda bayi mungil itu rindu untuk di susui.
Rumiyati--nama wanita itu. Wanita cantik berkulit putih dengan bulu mata yang lentik. Bibirnya kini telah di poles merah, tubuhnya pun wangi.
Menir Belanda yang membawanya telah mendandaninya sedemikian rupa. Rambut panjang yang berkilau kehitaman itu dibiarkan tergerai dan gaun putih panjang bergaya Eropa telah ia kenakan. Tak lupa di selipkan mawar putih di telinganya serta anting mutiara sebagai pemanisnya.
Jika dilihat sekilas, Rumiyati sangat berkelas. Berbeda dengan perawan-perawan kampung lainnya yang mayoritas berkulit gelap, ada pun yang berkulit putih tapi tidak punya paras secantik Rumiyati. Parasnya itu serupa orang-orang ningrat pada jamannya. Mahal.
"Erg mooi, kamu orang terlihat cantik sekali, ne,"
Rumiyati tersentak, jantungnya berpacu lebih kencang saat suara wanita tiba-tiba mengangetkannya.
Wajah Rumiyati yang terpantul dari cermin rias di sudut ruangan membuat seorang wanita paruh baya yang begitu saja masuk ke dalam kamarnya kagum.
Wanita beranak satu itu menoleh dan langsung bangkit. Ia menundukkan kepalanya sesaat, memberi hormat pada wanita bergaun hitam yang tak henti menyunggingkan senyumnya.
"Te--terima kasih, Madam," jawab Rumi terbata. Ia mengangkat kepalanya perlahan dan menatap takut wanita yang kini melangkah ke arahnya.
"Tidak usah takut, ne. Selama kamu orang bisa memuaskan Kapten Emmanuel, kamu orang bisa hidup layak, makan enak. Kamu orang belum pernah makan roti, di sini kamu akan makan itu," rayu wanita itu sembari menepuk-nepuk bahu kanan Rumi.
Rumi menggigit bibir. Bagaimana bisa ia memikirkan roti? ia hanya ingin anaknya! tidak ingin makan apa pun! makanan se-enak apa pun tidak akan ada rasanya jika harus kehilangan orang-orang yang ia cinta.
"Tapi ... aku hanya ingin bertemu anakku. Anakku pasti lapar karena sedari tadi aku tidak pulang. Izinkan aku pulang, Madam. Anakku butuh susu,"
Rumi menatapnya sedih. Mengiba meminta sedikit kebaikan hati wanita Belanda itu.
Wanita itu tampak kaget dengan ucapan Rumi. Ia lalu menggeleng pelan.
__ADS_1
"Sorry, Ik tidak bisa bantu kamu. Ik hanya istri seorang Menir. Kamu orang terima saja, yang penting kamu orang bisa hidup tenang," ujar wanita itu dengan lembut.
Rumiyati hanya mampu menunduk. Ia tahu kejamnya Belanda kepada kaumnya. Bagaimana mereka tidak segan untuk membunuh dan melempar mayat ke sungai. Hal yang tidak wajar tapi di wajarkan. Apa daya rakyat yang berada dalam jajahan.
Suaminya yang hanya seorang kacung di salah satu rumah Belanda sering bercerita bagaimana kejamnya mereka. Nyawa manusia tidak lebih berharga daripada hewan peliharaan.
Sebuah kenyataan yang saat ini ia hadapi seorang diri di rumah Menir yang menculik dirinya tadi. Rumi tidak ingin mati, bukan karena ia takut kematian, tapi ia ingin hidup untuk anak dan suaminya. Ia akan lepas, bagaimana pun caranya. Ia tidak akan membiarkan anaknya kelaparan, itu tekadnya.
***
"Cipto ...," lirih wanita tua beruban yang kini sedang menggendong cucunya.
Kaki tuanya langsung ia paksa untuk melangkah mendekati laki-laki muda berhidung mancung yang baru saja masuk lewat pintu belakang.
"Mbok? kenapa, Mbok?" wajah laki-laki itu langsung pias saat melihat tatapan sedih ibu mertuanya yang saat itu tengah menggendong anak perempuannya.
"Cipto ... To ... Ru--Rumi ...,"
Cipto begitu saja meraih anaknya. Begitu gesit saat ia menyadari tubuh mertuanya itu gemetar.
"Ada apa, Mbok? jelaskan pelan-pelan. Minum air dulu biar tenang," tutur Cipto. Ia menunjuk ke arah teko. Marinten menggeleng.
"Rumi ... di bawa Menir Antonius,"
"Antonius Van De Bert?" Cipto mengulangi. Wanita itu mengangguk. Siapa yang tidak mengenal laki-laki lima puluh tahunan itu? Dia adalah pencari Nyai yang bertugas untuk melayani para petinggi kompeni.
Nyai adalah pemuas nafsu saat para kompeni berada jauh dari istri-istri mereka yang ada di Belanda. Selama masa tugas di Indonesia, para lelaki Belanda kesepian dan wanita pribumi menjadi pelampiasan nafsunya.
"Itu berarti ... Rumi menjadi gundik?"
"Mereka bilang Nyai, Nyai Kapten Emmanuel," timpal Marinten.
"Gundik dan Nyai sama saja, Mbok. Sama-sama simpanan kompeni. Bagaimana bisa Rumi tertangkap? bukankah sudah Cipto wanti-wanti untuk selalu berada di rumah?" tukas Cipto panik.
Jika sudah tertangkap. Apakah masih ada kesempatan untuknya melepaskan Rumi? mustahil. Apalagi untuk di lepas, itu seperti mimpi!
__ADS_1
Lutut laki-laki berkulit tan itu melemah. Tubuhnya luruh di lantai semen yang beberapa tempatnya berlubang.
Hatinya nyeri memikirkan nasib istrinya--Rumi. Bagaimana caranya agar ia bisa melepaskan wanita pujaan hatinya itu?
"Tadi ... saat Mbok hendak mengambil air, Mbok mendengar bunyi derap langkah kaki, saat Mbok berbalik ... tentara Belanda itu begitu saja menarik tangan Mbok dan bertanya prihal Rumi. Mbok tidak mengerti, dari mana mereka bisa tahu tentang Rumi,"
"Mbok sudah berusaha berbohong, tapi Rumi tiba-tiba keluar dari balik pohon, dan mereka membawa Rumi pergi," papar wanita itu di sela tangis.
Cipto hanya mampu tertunduk. Tangisnya pun pecah saat melihat wajah Sasmita--anak perempuannya yang tertidur lelap dalam gendongannya.
"Nak ... Bapak akan membawa ibu kembali, Bapak janji!"
***
Cipto mengucek matanya saat mendengar suara anak ayam di luar rumahnya. Seingatnya, tidak ada ayamnya yang kecil-kecil.
Cipto menatap anaknya yang mulai bergerak-gerak, mata kecil itu mengerjap, dan tak lama menangis.
"Haus, ya, Nak," ucap Cipto saat merengkuh bayi mungil itu. Ia mengusap-usap pelan agar tangis itu reda, tapi tangisnya malah semakin gentar.
"Bapak buatin air gula dulu, ya, Nak," selorohnya saat kakinya menjejak di lantai.
Cipto lalu melangkah cepat ke arah dapur. Meraih air panas dan gula. Ia mulai mengaduk kedua benda itu di dalam sebuah gelas kaca.
Laki-laki berumur 25 tahunan itu pun gegas kembali ke dalam kamar, tapi langkahnya terhenti saat melihat jejak kaki basah tepat di depan pintu kamarnya.
Suara tangis bayi pun reda, berganti suara cecapan.
Cipto tersadar dan lantas kembali mengayun langkah. Matanya membulat saat melihat seseorang tengah menyusui anaknya.
"Rumi ... ,"
"Aku pulang, Mas!"
****
__ADS_1