
Rum?"
Cipto menatap istrinya yang kini sedang menyusui anaknya dengan tatapan tak percaya.
Wajah itu kuyu, pucat dan basah. Namun, bayi mungil itu tampak nyaman berada dalam dekapan ibunya sembari menyusu dengan begitu lahap.
Rumi hanya menatap suaminya sendu. Meski ia tersenyum, tapi kesedihan tampak jelas di mata teduhnya. Begitu sendu dan seperti menyimpan sebuah misteri.
Cipto menduduk dan menatap heran jejak-jejak kaki basah bercampur lumpur, dari mana sebenarnya wanita itu? kenapa bisa sebasah itu?
"Ka--kamu tidak apa-apa, Rum? apa yang terjadi sampai kamu basah seperti ini?" Cipto tak mampu menyembunyikan rasa penasarannya, ia bertanya ketika jaraknya semakin dekat dengan Rumi--istrinya.
Wanita itu langsung menunduk. Ia semakin erat memeluk putri kecilnya. Cipto menyesal bertanya, apalagi saat ia mendengar lirih suara isakan dari Rumiyati.
"Ma--maaf, Rum. Mas cuma khawatir sama kamu, Mas kira kita tidak akan kete--,"
"Rumi pasti pulang, Mas. Satu yang Rumi pinta, jangan tanya Rumi kemana, jangan tanya Rumi sedang apa, jangan cari Rumi jika tidak ada di rumah,"
"Mas harus percaya, Rumi tidak melakukan hal buruk, Rumi tidak selingkuh dan Rumi selalu menjaga kesucian pernikahan kita,"
"Apa Mas sanggup? selama itu tidak Mas langgar, Rumi akan terus pulang dan menyusui Sasmita, Sasmita tidak akan pernah kehilangan ibunya, karena Rumi akan selalu ada untuknya,"
Cipto terhenyak mendengar ucapan Rumi barusan, tapi laki-laki muda itu tetap mengiyakan permintaan istrinya.
"Iya, Rum. Mas janji, tapi kamu ganti baju dulu, gih. Takut masuk angin," tutur Cipto seraya mengelus bahu Rumi penuh kasih sayang.
Degh!
Ia terdiam saat telapak tangannya menyentuh kulit Rumi yang terasa sedingin es.
Rumi menatap tangan suaminya dan langsung menggerakkan bahunya.
"Mas istirahat saja, Mas pasti lelah. Nanti Rumi ganti baju setelah Sasmita terlelap. Ia baru saja menyusu, biarkan dia kenyang, setelah itu Rumi akan ganti baju juga popok Sasmita," tutur Rumi dengan lirih.
__ADS_1
Cipto memindai tatapannya ke arah Rumi. "Apa tidak mengapa jika Mas tidur? besok Mas harus menemani Tuan Douglas untuk melihat kebun rempah kampung sebelah. Merica yang di tanam terancam gagal karena hama," papar Cipto. Ia menghela napas dalam, rasanya trauma meninggalkan Rumi di rumah, teringat sepanjang hari tadi wanita cantik itu tidak kelihatan batang hidungnya.
"Iya, tidak apa-apa, Mas. Tidurlah. Rumi masih ingin bermain bersama Sasmita," jawabnya meyakinkan.
Cipto mengangguk. Ia lalu berbaring di samping Rumi yang saat itu sedang duduk bersandar di kepala ranjang.
Laki-laki itu bergolek dan tangannya menyentuh paha istrinya, membuat Rumi menoleh ke arahnya.
"Ada apa lagi, Mas? Mas mau apa?" seloroh Rumi yang menangkap sesuatu di mata suaminya.
Cipto melirik ke arah Rumi dan menggeleng. "Mas seneng kamu pulang, Rum. Lain kali jangan keluar lagi, ya. Mas ga mau kamu dijadikan gundik penjajah. Mas bisa mati jika sesuatu terjadi sama kamu, Rum. Mas cinta mati sama kamu,"
Rumi menggigit bibir mendengar penuturan suaminya. Andai Cipto tahu, ia-lah salah satu alasan dirinya pulang, meski ia tidak akan berkata jujur, apa yang terjadi pada dirinya.
Rumi mengangguk sembari menggigit bibirnya. Sebisa mungkin menahan tangisnya. Menyentuh kening suaminya hingga laki-laki itu tertidur pulas.
"Maafkan Rumi, Mas ... tapi Rumi janji akan selalu pulang."
***
Saat wanita bergaun hitam itu keluar dari kamar yang Rumi tempati, wanita kampung itu lalu menoleh kearah jendela.
Matanya menelisik sekitar, mencari celah dan cara untuk keluar dari tempat itu nantinya.
Bukan hanya tentara Belanda yang berjaga, laki-laki pribumi pun ada. Mereka yang bertugas sebagai kacung bekerja di sekitar rumah, dari yang bersih-bersih hingga membuat pondasi. Entah bangunan apa yang akan di buat di situ.
Saat mata Rumi mengedar, ada suatu tempat yang membuatnya penasaran. Tempat itu membelakangi kamarnya.
Awalnya tidak ada yang aneh, tapi begitu ia melihat beberapa tentara berada di sekitar tempat seraya merapikan celananya sambil tertawa terbahak bersama temannya, Rumi langsung berpikir buruk. Ia yakin jika itu bukan kamar untuk menuntaskan hajat, melainkan untuk melepaskan hasrat.
Tok-tok-tok!
Suara pintu mengejutkan Rumi. Dengan jantung yang berdegup kencang, Rumi memutar badan dan mendapati seorang wanita paruh baya dengan memakai kemben dan rambut yang di sanggul melangkah mendekat.
__ADS_1
Ia menatap sedih ke arah Rumi. Sedang Rumi merasa ada sesuatu yang ingin di ucapkan wanita itu.
"Mmm, Nduk, kamu di panggil Menir Antonius. Mbok di suruh di jemput," ujarnya wanita berkulit gelap itu saat jarak mereka hanya beberapa jengkal saja.
Rumi mengangguk pelan. Wajahnya berubah tegang. Apa yang ingin Menir bicarakan dengannya?
Saat Rumi akan melangkah, wanita itu kembali berbicara," di halaman belakang rumah ini ada pintu rahasia. Malam nanti Mbok tidak akan mengunci pintu dapur. Pergilah selagi masih ada kesempatan, tapi ingat! jangan sampai ketahuan penjaga, atau kamu akan tahu akibatnya." Wanita itu berucap sangat lirih, nyaris berbisik.
Rumi langsung melesatkan pandangan ke arahnya. Matanya berkaca-kaca. Kebahagiaan langsung terpancar dari wajahnya.
"Terima kasih, Mbok. Suatu saat Rumi akan balas kebaikan Mbok," janji Rumi.
Wanita itu menggeleng. "Tidak perlu. Aku teringat pada anakku dulu yang juga terpaksa menjadi seorang Nyai, hingga kini aku tidak tahu kabarnya. Apakah dia sudah mati atau masih hidup. Mbok harap kamu berhasil keluar dan bisa kembali kepada keluarga,"
Rumi mengulas senyum. Wanita itu pun juga. Mereka lalu melangkah beriringan ke tempat di mana Menir Antonius sedang menunggunya.
"Ini orangnya, Kapten Emmanuel," sambut Menir Antonius saat Rumi tiba di ruangan besar, di mana penculiknya sedang bersama orang-orang Belanda lainnya. Tampak juga wanita bergaun hitam yang tadi sempat berbicara dengan Rumi di kamar.
Laki-laki di samping Menir Antonius berdiri dan menatap takjub. Memakai seragam tentara yang penuh dengan atribut dengan perawakan tegas dan tampan serta rambutnya yang berwarna ash blonde, pirang keabuan yang merupakan warna khas orang kaukasian, masyarakat eropa pada umumnya.
Meski terlihat mempesona dan gagah, tapi Rumi sama sekali tidak tertarik. Ia malah bergidik geli saat memikirkan harus melayani hasrat lelaki lain selain suaminya sendiri.
Baginya, hanya suaminya laki-laki yang paling tampan, bertanggung jawab dan sayang keluarga.
Meski Kapten memiliki hidung yang tinggi, setinggi harapan orang tua, tapi tetap saja di matanya laki-laki itu terlihat biasa saja, tidak menarik hatinya.
"Erg mooi, Antonius. Heel erg slim. Ini orang cantik sekali, ne. Saya suka. Kamu orang akan saya bagi emas sebagai bayaran, ne. Bukan uang," ujar laki-laki itu girang. Ia mendekati Rumi dan menatap wanita itu dari ujung kaki hingga ke ujung rambut.
"Perfect," cetusnya yang membuat semua orang tertawa, tapi tidak Rumi. Gadis itu hanya tertunduk, sedih.
Harga dirinya bagai terinjak-injak saat tangan Kapten Emmanuel mulai menyentuh kulitnya. Ia tidak mampu melawan, karena jika ia membuat kesalahan, nyawanya bisa berada dalam bahaya.
"Simpan dulu, besok saya bawa. Saya sekarang harus menghadiri pertemuan dengan para petinggi. Pemberontak mulai berani, upeti yang di bayar pun sedikit!" seloroh laki-laki Belanda itu kepada Antonius. Menir Antonius mengangguk senang. Ia lalu menyuruh wanita tua itu untuk kembali membawa Rumi masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
' Tidak akan pernah! malam ini aku akan kembali kepada suami dan anakku. Aku pastikan itu!'
***