
"A good teachers can inspire hope,ignite the imagination, and instill a love of learning."
-- Brad Henry--
Kenalkan namaku Syifa. Assyifa Nabila. Murid-muridku biasa memanggilku bu Syifa. Umurku 35 tahun. Menikah.
Aku mengajar bahasa asing, bahasa Inggris. Sebuah mata pelajaran yang masih menjadi momok yang menakutkan bagi sebagian murid. Sebagian besar murid, itu yang kualami di tempat aku mengajar.
Kebetulan, aku mendapatkan tugas mengajar di sebuah sekolah pinggiran. Di sebuah Sekolah Menengah Kejuruan ( SMK ), di sebuah kecamatan dari sebuah kabupaten kecil di Indonesia. Alhamdulillah.
Ya, alhamdulillah. Itu hal yang patut dan harus aku syukuri dengan sangat. Di saat banyak orang berlomba lomba untuk mendapatkan posisi seperti diriku, aku memperolehnya dengan mudah. Mudah bukan berarti karena aku hebat tetapi karena Allah membuatnya lebih mudah untukku. Terlebih aku percaya karena doa panjang ibuku.
Menjadi guru bukanlah hal yang ku impikan sejak kecil. Angan- angan menjadi seorang dokter, diplomat, dan psikolog adalah beberapa yang sempat terpahat di pikiranku. Terutama yang tersebut terakhir. Psikolog.
__ADS_1
Menjadi psikolog terlihat begitu menarik bagiku. Mungkin karena rasa ingin tahu ku yang cukup besar terhadap orang lain. Tentu saja ini bukan kepo, tapi aku berharap ini adalah bentuk peduli, simpati, atau apa lah itu namanya.
Ya, takdir membawa ku untuk menjalani peran sebagai pendidik. Sebuah profesi yang terlihat begitu sederhana dan kurang dibanggakan. Masih teringat nasihat kakak tertua ku saat aku akan memilih jurusan di awal pendaftaran tes masuk universitas.
"Terserah kamu pilih apa, tapi tolong pilih satu untuk menjadi guru. Setidaknya guru selalu dibutuhkan di setiap waktu."
Ya, saat itu mungkin kakakku berfikir tentang peluang kerja. Sementara aku mengiyakan hanya untuk menyenangkan.
Tak perlu ku jelaskan mengapa akhirnya masalah pendidikan yang aku pelajari. Mudahnya adalah karena Allah menghendaki.
Tidak untuk sekarang. Banyak hal yang telah terlalui dalam 10 tahun dedikasi ku untuk menjadi pejuang ilmu. 10 tahun yang mengajari ku banyak hal. Tentang arti menggunakan hati tak hanya sekedar mengajari.
10 tahun yang membuka mata ku tentang rasa yang ternyata selama ini ku cari. Tentang dunia yang penuh makna.
__ADS_1
Guru. Sebuah profesi yang begitu lengkap perannya. Dalam satu istilah ini, aku bisa berperan menjadi berbagai profesi. Aku guru, namun aku bisa menjadi seorang pelakon layar kelas, penyanyi, presenter, komedian, administrator, ahli statistik, bahkan dokter jiwa. Dan cita-cita ku menjadi seorang psikolog pun terealisasi.
Menjadi guru tak hanya sekedar menyiapkan materi, menyampaikannya di depan kelas, lalu memberikan nilai. Namun ada yang lebih penting yaitu mengisi jiwa- jiwa yang sedang berproses dalam waktu dengan mimpi, kekuatan dan semangat.
Menjadi guru tidak hanya sekedar memaknai kelas sebagai tempat belajar mereka, tapi juga aku.
Aku, mereka, adalah pencari ilmu. Aku guru, mereka murid. Mereka guru, aku murid. Karena pada dasarnya semua adalah guru, semua adalah murid. Dan pada mereka lah aku belajar banyak hal.
Belajar tentang perluasan makna berjuang, memberi, menerima, mencapai, memberontak, menangis, dan membanggakan. Entah berapa jenis rasa lagi yang belum aku tulis saat ku ingat mereka dengan setiap kisahnya.
Teruntuk muridku, terimakasih untuk kisah- kisah indah ini. Terimakasih karena menjadikan ku begitu indah dengan penghormatan kalian. Sungguh arti diriku akan ada menyertai kalian saat menjadi apa dan dimana.
Maka, ijinkan aku menuliskan kisah kalian.
__ADS_1
***
It's special dedicated to all my students.