Alumni

Alumni
Ibu 1


__ADS_3

Aku tetap mencintaimu karena engkau ibuku


Baru saja kuletakkan tas ransel hijau identitasku selama ini di kursi kerjaku, rekan kerjaku yang berperan sebagai guru matematika itu menghampiriku.


"Ada waktu?"


" Ya, tentu saja. Ada apa?" sahutku sambil mempersilahkan dia duduk di kursi kosong yang kebetulan ada di sampingku.


"Ada masalah dengan anak wali yang njenengan ampu. * Njenengan\= kamu dalam bahasa jawa yang sopan.


"Siapa?" tanyaku penasaran.


"Imam. Dia sudah dua pertemuan di pelajaranku tidak hadir. Sudah tahu?"


"Ya. Bahkan seminggu ini ia hanya masuk dua kali." jelasku dengan helaan nafas berat.


"Sudah mencari tahu?"tanyanya lagi.


"On process. Besok kalau masih belum hadir ke sekolah, aku akan lakukan home visit. Kita tunggu saja. Tolong ya.." pintaku mengiba.


"Oke. Semoga besok ia datang. Anak-anakmu itu sungguh kuar biasa." sahutnya mempertegas keadaan anak-anakku.


Aku tersenyum mendengar komentar rekanku. Sepertinya tahun itu aku memang rajin menerima keluhan dari para guru yang mengajar anak waliku.


"Semoga." sahutku penuh harap.


***


 Hari yang dinanti


Hari itu aku tidak mengajar di kelas Imam. Namun sebagai pengganti orang tua mereka di sekolah, sebisa mungkin aku mengecek keberadaan mereka dengan berbagai cara.


"Dim,sini!" Aku memanggil Dimas teman sekelas Imam yang sedang lewat saat jam istirahat pertama.


"Iya, Bu."


"Imam masuk?"

__ADS_1


"Iya, Bu."


"Baguslah. Hmm...tolong beritahu dia kalau ibu menunggu dia nanti sepulang sekolah di kantin sekolah."


"Baik, Bu."


"Terimakasih"


Aku tersenyum lebar. Mendengar ia masuk sudah begitu melegakan. Beban yang ada terasa berkurang.


***


Kantin sekolah, sepulang sekolah.


Bel tanda belajar berakhir telah berbunyi. Aku menunggu Imam di kantin sekolah sesuai undangan yang kuberikan. Kebetulan hari itu aku off jam terakhir hari itu.


Kuihat dari kejauhan tampak Imam berjalan lambat kearah kantin.Ku lambaikan tanganku memberi tanda akan keberadaanku.


"Mau minum apa?" tanyaku saat ia telah sampai dan mengambil kursi duduk di hadapanku.


"Terserah" jawab Imam pendek.


"Sudah makan?"tanyaku lagi


"Belum. Tapi nggak usah dipesankan. Aku kenyang."


Aku tersenyum. Kalimat pendek-pendeknya sudah biasa ku terima. Aku telusuri wajah laki-laki belum cukup umur di hadapanku itu. Wajahnya cukup tampan namun tampak kumal karena tak bercahaya hari itu.


"Ada masalah?" tanyaku tanpa basa-basi.


"Ibu bosan?"


"Bosan?Apakah disebut bosan jika aku masih mencarimu sampai saat ini?"jawabku mematikan pertanyaannya.


Tak ada jawaban. Hanya terdiam.


"Pergi kemana kamu? Kata ibumu kamu tidak ada di rumah."

__ADS_1


"Malas. Aku malas di rumah."


"Kenapa? Bertengkar dengan orang tuamu?" tanyaku penuh selidik."Bukankah kamu sudah berjanji akan menjadi anak yang membanggakan untuk orang tuamu?" tanyaku mengingatkan akan janji yang pernah ia buat setelah melakukan kesalahan cukup besar sebelumnya.


"Aku benci ibuku! Aku benci, Bu."


Aku tersentak mendengarnya. "Kenapa?' kini ku tanya lebih lembut."Apakah kamu cemburu karena perhatian ibumu terbagi?" sambungku lagi.


"Mungkin iya. Tapi bukan itu." jawabnya pendek.


"Lalu apa? Kalau tentang adikmu, bukankah harusnya kamu senang? Bukankah kamu dulu sering berkata kesepian sebagai anak tunggal? Jangan cemburu, dia masih kecil. Dia hanya butuh perhatian lebih ,sama seperti kamu waktu kecil." jelasku sok tahu.


Imam menatapku tajam. Ada nada protes di dalamnya.


"Kenapa? Ibu salah bicara?" tanyaku memancing.


"Tidak.Ibu tidak salah. Ibuku yang salah! Aku benci ibuku! Aku benci anak itu!"


"Hmm?"


"Dia bukan adikku, Bu." ucapannya kini diiringi isakkan yang tak mampu ia tahan.


Sesaat aku terdiam. Tertegun tanpa mampu berfikir untuk menerka maksud yang baru saja ku dengar.Ku tepuk pundaknya untuk menguatkan. Tangisnya semakin menjadi mengisyaratkan betapa sakit dan rapuh jiwanya kali ini. Air mataku pun ikut hadir tanpa permisi. Menemani kesedihan yang sedang ku temui.Lalu masih adilkah jika ku mempertanyaan tentang betapa tidak bertanggung jawabnya dia pada sekolah?


Remaja labil ini sedang tergoncang. Jiwanya sakit akan sebuah kenyataan. Kubiarkan ia menyelesaikan tangisnya. Ia butuh waktu untuk itu. Untunglah kantin sepi. Hanya ada kami dan pemilik kantin yang ikut mendongak kaget mendengar teriakan dan isakan tangis.


"Aku marah,Bu. Aku kecewa. Anak itu bukan adikku. Dia bukan anak bapakku. Dan semua orang tahu. Aku malu. Aku malu!"


Ku tenangkan Imam.Aku ikut merasakan apa yang ia rasa. Ada kemarahan, rasa malu, kecewa, dan terkikisnya kepercayaan yang ia punya pada orang tuanya. Luka yang begitu dalam dan menyakitkan yang ibunya torehkan atas hilangnya makna sebuah kesetiaan.


"Aku diminta menjadi anak yang baik,yang membanggakan. Lalu,bagaimana dengan ibuku? Apakah ia bisa ku banggakan?"


Kini aku justru terisak. Pertanyaan itu begitu menusukku. Apakah aku juga mampu menjadi ibu yang membanggakan?


Hari itu, aku membiarkan ia puas menangis bersamaku. Melampiaskan semua emosi yang ia tanggung, menceritakan pergolakkan batin tentang menerima atau menolak, dan mendengar penyesalan atas tindakan-tindakan yang ia lakukan sebagai wujud sebuah pemberontakkan.


Hari itu, aku belajar banyak tentang betapa sulitnya menjadi orang tua. Ada harapan,kebanggaan yang dibangun anak-anak akan sosok ideal ibu bapaknya.

__ADS_1


Hari itu, aku belajar banyak tentang sebuah alasan yang seringnya kita lupa untuk memahami lebih dalam. Sebuah alasan dengan berbagai latar belakang yang akan bermakna beda saat kita mampu mengurainya.


Dan, hari itu aku semakin belajar bahwa menjadi guru tidak hanya bercerita tentang ilmu di dalam kelas. Namun ada proses belajar yang memerlukan ruang tanpa pintu yang tersekat jelas.


__ADS_2