Alumni

Alumni
Ibu 2


__ADS_3

22 Desember 2019.


Hari Minggu adalah hari spesial bagiku. Melepas lelah atau malah menambah lelah pada hari itu. Tentu saja penambahan lelah pada hari Minggu adalah penambahan lelah yang ku sadari dan ku inginkan dengan bahagia dan ikhlas.


Menambah lelah di hari Minggu banyak ku habiskan untuk berjalan-jalan pagi, bersepeda atau pergi ke pantai dengan anak-anak dan suami. Hal lain yang ku jadikan agenda penambahan lelah di hari Minggu adalah aktifitas di dapur yang menjadi top passion untukku. Seperti hari Minggu ini, tanggal 22 Desember 2019, aku juga menyibukkan diri untuk mengaduk telur dan memanaskan oven tangkringku. Kegiatan penyeimbang saat ku tak mengajar secara formal di sekolah.


Setelah  selesai berkutat di dapur dan menghasilkan karya sebuah cake coklat kesukaan anak sulungku, ku sempatkan memeriksa isi gawaiku. Ada panggilan tak terjawab yang tertinggal jejaknya di sana. Ku klik dan ku cermati. Ada tiga nomor berbeda yang ku simpan dengan nama yang ku kenal.


Tiga nama yang pernah begitu sering ku sebut dan kucari keberadaannya hampir tiap hari. Ku coba menghubungi balik nomor-nomor tersebut karena terbawa tanya ada apa mereka menghubungiku setelah beberapa lama mereka tak berkirim kabar.


Tut tut. Nada tersambung.


"Assalamualaikum, Bu."suara di seberang menyapaku terlebih dahulu.


"Waalaikumsalam. Mufid? Apa kabar? Tadi menelepon ibu?" tanyaku berantai.


"Alhamdulilah baik, Bu. Iya. Tadi Dika dan Imam juga menelepon tapi sepertinya ibu sibuk,"paparnya sebelum ku bertanya.


"Oh ya, benar ada panggilan tak terjawab dari Dika dan juga Imam. Maaf, tadi ibu sedang masak. Ada apa ?Ada yang bisa ibu bantu?" tanyaku lagi.


"Masak apa ,Bu? Pasti enak. Aku selalu follow medsod ibu lho. Kue-kue nya kelihatannya enak. Kapan membuatkan lagi untuk kami?" tanyanya penuh harap.


"Main lah ke rumah biar bisa mencicipi,"tawarku tulus.

__ADS_1


"insyaallah."


"Oh ya, ada apa?"teringat aku akan pertanyaan yang belum ia jawab.


"Ah ibu, apakah harus ada alasan untuk meneleponmu?" guraunya dalam tawa.


"Tak harus. Tapi yang pasti kalian merindukanku,"jawabku penuh percaya diri.


"He he...benar sekali. Aku rindu padamu. Aku kangen dengan semua omelan dan perhatianmu, Bu."


"Benarkah? Sudah ku kira kalian akan merindukanku,"sekali lagi ku jawab dengan pongah.


"Selamat hari ibu, Bu."


Jleb. Hatiku bergetar mendengarnya. Mataku tiba-tiba memanas dan buliran air menetes tanpa permisi.


"Sama-sama ,Bu."suaranya terdengar berat.


"Ibu terharu, Nak. Aku mengucapkan itu untuk ibu." ucapku kini dengan sedikit derai air mata.


"Memang aku harus mengucapkan pada siapa? Aku sudah tak punya ibu. Aku teringat pada bu Syifa."


"Nak?"

__ADS_1


"Tenanglah. Aku baik-baik saja. Ucapan untuk ibuku sudah ku kirim lewat doa."


Ah, tiba-tiba saja siang itu begitu mengharu biru. Dia, anak laki-laki yang tengah mencari jati diri itu dengan sengaja meneleponku untuk mengatakan selamat hari ibu. Remaja yang justru lebih sering menghubungiku dulu setelah mendapatkan ijazah belajarnya.


Mufid. Anak wali yang pernah ku ampu itu anak piatu sejak kecil. Ibunya meninggal karena penyakit diabetes saat ia berusia tiga tahun. Ayahnya hanya seorang kuli bangunan yang bertekad membesarkan kedua anaknya tanpa menikah lagi. Sayangnya, putrinya,kakak perempuan Mufid pun menyusul ibu mereka dengan riwayat penyakit yang sama dengan meninggalkan anak berusia dua tahun.


Mufid, yang meski tak senakal yang lain , namun ia juga pernah lengah saat belajar. Kedekatan kami justru terbangun setelah ia lulus. Beberapa kali kami bertemu secara tidak sengaja saat ia bekerja sebagai sales motor, lalu juga karyawan service AC. Terakhir, aku bertemu dengannya saat ia datang ke sekolah untuk apply sebuah pekerjaan melalui BKK sekolah. Ia mendaftar kerja magang di Jepang.


"Lho kok daftar kerja lagi? Yang dulu bagaimana?"tanyaku mengorek perjalanan pekerjaannya.


"Resign ,Bu. Sebenarnya yang terakhir kerja kemarin cukup menyenangkan, tapi aku ingin mencoba hal lain yang menurutku lebih baik. Bukankah itu pesan ibu? Menjadi laki-laki itu harus hebat. Kita perlu mencoba banyak hal untuk tahu apa yang terbaik. Aku hanya mengikuti itu."


Aku terperangah. Ada perasaan yang tak bisa ku jabarkan. Dia telah menjadi lebih dewasa. Dan satu hal lagi, ia mengingat kata-kataku. Sungguh aku terharu,meski ia tak mengingat tentang simple present tense ataupun question taq yang pernah kuajarkan secara formal di kelas.


Semenjak ia mengikuti tes magang tersebut, ia selalu menghubungiku setiap kali ia akan mengikuti seleksi. Doakan aku ya. Bu. itu yang selalu ia pinta. Alhamdulilah, dengan usaha kerasnya ia mampu melampaui semua seleksi dan siap berangkat menggapai mimpi ke negeri sakura.


"Ibu, aku berhasil." itu kalimat yang ia ucapkan dengan penuh bangga.


Hari ini, saat ku tulis ini, aku pun masih saja mengingatnya dengan tangis. Terakhir ia mengabarkan bahwa keberangkatannya tertunda karena kondisi pandemi yang sedang mendera dunia.


"Aku belum berangkat ,Bu. Sementara aku masih di rumah," ucapnya lemah.


"Dinikmati. Mungkin ini cara Allah membuatmu lebih lama menemani bapak sebelum kau tinggal pergi jauh dan lama," jawabku menguatkan.

__ADS_1


Ya, ia salah satu murid yang membuatku menangis terharu. Kegigihannya untuk memperjuangkan diri menjadi lebih baik akan terus ku ingat sebagai salah satu kisah indahku belajar tentang proses perubahan. Dan, untuk kalimat selamat hari ibu, aku sungguh mencintaimu. Semoga aku bisa terus menjadi ibu yang mendoakanmu dan anak-anakku.


My students don't need me to learn. They need me to care. ** Liz Galarza


__ADS_2