Alumni

Alumni
Nomor satu


__ADS_3

it's okay to not know, but it isn't okay to not try.


Setelah sekian tahun berprofesi sebagai guru, belum ada prestasi yang ku torehkan dalam sejarahku mengajar. Setidaknya itu yang ku yakini dan ku benarkan. Mengajar, masih sebatas pergi ke kelas dan mengajarkan tentang mata pelajaran yang menjadi bidang kerjaku. Selebihnya hanya perhatian dan kerja keras yang belum terukur kerasnya dalam menjalani fungsi lain sebagai guru seperti wali kelas atau pembina ekstrakurikuler.


Aku tertinggal jauh. Seperti itu yang ku rasakan. Prestasi pribadi tak jelas apalagi prestasi muridku. Jika banyak guru lain yang melakukan hal-hal luar biasa, seperti mengikuti lomba dan mendampingi murid-murid mereka menjadi juara, aku mungkin baru bisa melakukan hal-hal kecil yang menurutku sudah ajaib yaitu mendoakan muridku menjadi orang yang beruntung dan berguna sesuai keadaannya.


Kondisi yang tidak memungkinkan adalah alasan yang paling mudah ku ambil untuk menutupi kekurangan semangat dalam hidupku. Terlebih jika hanya mengatakan muridku tak mampu. Cukuplah selesai episode satu tentang mengapa aku enggan melaju. Bukan tak pernah mencoba, tapi aku sudah pernah melakukannya. Mendampingi murid mengikuti speech contest dan sebagainya. Namun memang belum waktunya atau lebih pasnya karena aku yang kurang waktu dan niat dalam membimbing mereka sehingga belum ada satu pun predikat juara dari tangan panasku.


Sampai akhirnya aku kembali mencoba, saat aku menemukan dia. Alda. Anak perempuan lugu yang membuatku bersemangat kembali dengan obsesi. Seorang anak yang dulunya tak pernah ku tahu ia ada.


Sebuah mata lomba yang diadakan sebuah kampus menjadi ajang uji coba ku kembali. Ah, sungguh tega kan aku hanya menjadikan ini sebagai uji coba. Yah,uji coba tentang tekadku berkarya, belajar, dan mengetahui dunia luar.


Story telling. Salah satu mata lomba yang dipilih. Kami, aku dan Alda, memilihnya karena menganggap lebih mudah untuk dicoba. Targetku tak banyak, hanya mencoba. Mengenalkan dan menunjukkan dunia lain yang belum mereka tahu. Juara? Masih jauh dari rencana. Namun, hal utama yang aku targetkan adalah aku harus mampu mencetak juara sesungguhnya.


" Alda siap?" tanyaku di sesi latihan yang kami lakukan.


"Belum, Bu."


Aku menatap nanar. Benar saja dia mengatakan belum. Aku pun setuju itu. Hasil yang kulihat masih jauh dari harapan.


"Apa nggak jadi saja ya, Bu?" tanya Alda ragu-ragu .


Tidak jadi? Oh tidak. Ini bukan lagi masalah bisa atau tidak tapi lebih pada pertanggung jawaban tentang sebuah tekad. Batinku.


"Kenapa? Bukankah masih ada dua hari lagi? Kamu bisa! Sedikit lebih keras untuk mencoba, ibu yakin kamu mampu." ujarku membujuk Alda.

__ADS_1


"Baiklah." ujarnya pasrah.


Ada kelesuan yang tampak. Tentu saja ada ketakutan, ketidakyakinan, rasa percaya diri yang kurang pada Alda. Tapi dia hebat. Ia terus berusaha untuk berlatih. Entahlah itu untuknya atau sekedar untuk menyenangkanku.


Hari terakhir berlatih, dia masih belum sempurna. Namun, kami tak punya waktu untuk mundur. Dan aku pun tak pernah berfikir untuk itu.


"Besok adalah peperangan sebenarnya. Kita punya rencana dan telah berusaha. Selebihnya Allah yang akan berkuasa." ujarku menanamkan kepercayaan pada Alda.


***


Hari keberangkatan lomba. Kami berangkat dari kota kecil kami, ke ibukota provinsi tempat lomba tersebut dilaksanakan.


" Are you ready?" tanya ku pada Alda.


"InsyaAllah." jawabnya pasti.


Sesampai di sana setelah mengabiskan waktu hampir tiga jam , kami benar-benar memasukki tempat sebenarnya.


Seluruh peserta berkumpul untuk pengambilan nomor undian. Alda maju dengan bergetar. Gugup bercampur takut tampak di raut wajahnya. Ku elus kerudungnya untuk memberi semangat.


" You can do well. Bismillah."


Ada kecemasan yang menggantung meski hanya pengambilan nomor. Aku hanya berharap yang terbaik. Namun, rasanya tidak. Melihatnya kembali dengan raut wajah sendu.


"Ibu...!" ujarnya menyodorkan kertas tanda peserta.

__ADS_1


Hmm.., senyumku pun mengembang tawar. Nomor SATU. Ku raih pundaknya dan ku rengkuh ia dalam. "Kamu memang nomor satu," bisikku. Ada air mata menetes meski segera ia usap.


Waktu persiapan yang diberikan panitia berubah menjadi sesi penguatan mental. Aku tak perlu banyak bicara tentang materi dan bagaimana seharusnya ia tampil maksimal. Yang ia butuhkan saat itu adalah kekuatan untuk berdiri. Menjadi penampil nomor satu tentu saja bukan hal yang mudah untuk seorang Alda.Lomba itu adalah lomba pertama yang ia ikuti dan harus pertama yang terpanggil.


"Lihat ibu! Allah justru memberi kesempatan yang terbaik untuk kamu tampil pertama. Kamu hanya butuh menjadi dirimu, menampilkan yang terbaik yang kamu bisa. Kamu justru tak perlu gugup dan bingung ketika harus melihat pesaingmu tampil sebelum dirimu. Alda bisa, Alda mampu. I trust you."


 Ku genggam tangan yang dingin itu erat. Menepuk pundaknya berkali-kali untuk menguatkan.


"Number one! "Panitia memanggil peserta nomor satu untuk tampil. Aku ikut berdebar, takut, dan gugup. Aku takut ia tak berdiri. Dan aku salah. Alda berjalan cukup berani.


Setelah sekian tahun aku tak merasakan atmosfer perlombaan, akhirnya hari itu aku melihat kembali anak didikku tampil. Aku benar-benar berdoa dengan sungguh. Ingin rasanya aku menunduk, tapi aku tahu Alda butuh kekuatan untuk mendampinginya memandang dunia yang mungkin terasa sangat menakutkan saat itu. Lancar lancar dan lancar. Itu saja doaku.


Kurang dari lima belas menit ia menyelesaikan tugasnya. Terbaik. Itu yang bisa ku katakan tentang penampilannya. Tak perlu kubandingkan ia dengan yang lain, karena ia telah menjadi juara untukku, untuk kami. Makna pemenang sebenarnya telah ia dapat.


Ku sambut ia dengan pelukan hangat. "You are the winner," bisikku lembut.


Ia tersenyum. Bahkan ia sempat mengatakan hal yang lalu kami tertawakan bersama, "Tadi malam, bapak mendoakan aku dapat nomor satu, Bu. " sahutnya tersenyum." Dan terkabul"


Ya, kami akhirnya pulang dengan membawa juara bernomor satu. Menobatkan diri sebagai pemenang yang siap kalah dalam perang. Aku bangga padamu ,Nak.


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2