
Di awal-awal tahun mengajar, aku mendapatkan kesempatan untuk belajar di banyak tempat. Sebelum kembali ke kota kecil tanah kelahiranku, aku telah berburu pengalaman di kota besar yang telah memberiku banyak kisah yang mendewasakan.
Aku sempat mengajar di sebuah sekolah swasta di tingkat sekolah menengah pertama. Hanya hitungan bulan aku mundur dari sana. Bukan karena sebuah kesalahan tapi karena aku harus segera berpindah lahan.
Disana, aku menemukan sesosok yang bahkan sampai saat ini mengagumiku. Ups! Terlalu berlebihan jika ku pakai kata kagum, mungkin lebih tepat menyayangiku.
Namanya Sinta. Gadis 13 tahun itu ku temui dengan muka yang tak pernah ramahsaat bertemu di kelas. Ia saat itu tengah belajar di kelas 8. Wajahnya cantik, kalau saja ia mau berdandan seperti layaknya teman-teman sebayanya yang terlihat manis dengan bando ataupun jepit rambut warna warni. Namun tidak untuk dia. Kesan tomboy dan kasar justru ia suguhkan sedari awal.
Matanya begitu liar dan penuh kebencian. Meskipun sikapnya masih terbilang wajar namun aku tetap merasa ada yang berbeda dengan dia.
Sikap yang semaunya, tidak peduli, mengabaikan tampak jelas dibandingkan dengan teman sekelasnya. Tak ada raut memahami apalagi menikmati. Satu raut yang cukup mengusik ku.
"Apakah semua sudah selesai mengerjakan?" tanyaku pada murid murid sambil berjalan mengitari kelas.
Langkahku tertahan disamping gadis satu itu. Bukunya kosong. Tak ada satupun tulisan di lembar lembar putih itu.
"Sinta belum mengerjakan?" tanyaku pelan.
Tak ada jawaban yang keluar dari mulutnya. Hanya tatapan yang tak ku mengerti makna yang ia lemparkan padaku, lalu menceloskan wajahnya.
"Masih belum selesai ya?" ku ulang lagi pertanyaanku.
Lagi-lagi tanpa sahutan.
Ku tahan emosi lalu ku tinggalkan perlahan.
***
Melewati beberapa pertemuan, tidak ada perubahan yang ku temukan darinya. Bahkan ia sering sibuk dengan dirinya, meski tak mengganggu yang lain.
Saat ku sapa atau ku tanya, respon dingin tanpa jawaban itu masih ku dapatkan.
Hingga pada satu hari, ia bersuara.
"Aku tidak suka bahasa Inggris! Aku tidak ingin belajar."
Nafasku tertahan mendengar kalimatnya. Entah sebuah kejujuran ataukah hanya luapan emosinya. Namun setidaknya ia telah bersuara.
"Sinta ndak suka bahasa Inggris ya?Kenapa?"
"Nggak suka!"
"Kalau gitu kita belajar bareng ya? rayu ku lembut.
"Nggak usah! Terserah nggak usah dikasih nilai juga nggak papa" tukasnya sengit.
"Nggak lah tetep dong ada nilainya" sahutku dalam usaha merayu.
"Ibu lebay! Mana ada tidak mengerjakan dapat nilai" jawabnya sambil memandangku tajam.
Itu ngerti. Batinku.
Lebay? Ups. Baru kali ini aku dibilang lebay oleh anak kecil.
Ku akhiri percakapan kami yang lumayan panjang hari ini. Percuma mengikuti keegoan anak kecil. Besok pasti dia akan bersuara lagi. Setidaknya ku buktikan hari ini dia tidak bisu.
***
Bertemu dengan sosok Sinta, membuat ku tertarik untuk mengenalnya lebih. Ada tantangan untuk menemukan alasan dari kesombongannya padaku.
Dari hasil pengamatan yang ku lakukan, setidaknya ku temukan jawaban bahwa sikap acuh tak acuhnya bukan hanya untukku. Namun, teman- teman yang lain tak terlalu menanggapi karena mungkin menganggap kenakalan biasa atau tak punya terlalu banyak waktu untuk memikirkannya.
Fakta berikutnya adalah dia tak banyak bergaul dengan teman-temannya. Itu membuatku semakin ingin tahu.
Siang itu setelah jam mengajarku usai, murid-murid beristirahat. Sengaja tak ku tinggalkan kelas segera. Aku ingin tahu apa yang dilakukan gadis kecil itu.
Sinta tetap duduk di tempatnya. Mencorat - coret buku dengan pensil. Sementara teman-temannya berhamburan keluar.
"Sinta tidak istirahat?" tanyaku sambil menghampirinya.
__ADS_1
Tak ada jawaban. Tangannya masih sibuk diatas kertas.
"Mau coklat?" ku sodorkan sebatang coklat yang sengaja ku simpan untuk momen ini.
Diam. Lagi-lagi tak ada reaksi sahutan. Hanya reaksi tubuhnya yang terlihat ada penolakan.
"Sedang sibuk apa? Coklatnya buat nemenin ya? " sambil ku letakkan sebatang coklat itu di meja.
Setelah kejadian itu, entah karena faktor coklat ataukah memang gadis kecil itu mulai melunak, aku mulai menemukan perubahan meski sedikit.
Ada perhatian yang ia tunjukkan saat aku berada di depan kelas. Meski masih dengan sikap acuh tak acuh tapi manik matanya menatapku dengan sungguh.
Bahagia rasanya. Seseorang yang mengabaikanmu telah memberikan sedikit waktunya.
Hari terus berjalan. Bukunya tak lagi polos. Tugas dan latihan pun dikerjakan dengan baik.
Hari itu, akan terus ku ingat. Saat pertama kali ia ucapkan terimakasih dengan senyum di saat aku akan keluar kelas.
"Terimakasih" ucapnya pendek.
Langkahku tertahan.
"Untuk?" tanyaku menyelidik.
"Tulisan ini" jawabnya sambil menunjukkan bukunya.
Aku tersenyum. Aku ingat betul apa yang ku tulis. Hanya kalimat singkat di akhir penilaian tugasnya.
Good job , my girl. I love U.
***
Menuliskan kalimat-kalimat singkat di buku tugasnya ternyata berdampak besar pada hubungan kami. Bahkan buku itu sudah seperti media komunikasi kami. Ia serinf membalas apa yang ku tulis bahkan bertanya. Hingga suatu hari, ia mengundang ku lewat media yang sama.
*Aku mau ngobrol sama ibu nanti sepulang sekolah. Aku tunggu di kelas.
Sesuatu yang menarik. Dan aku terima undangan tersebut*.
***
"Stop!Jangan terlalu dekat. Ibu duduk disana saja! Kita jaga jarak 3 m" ucapnya memberikan perintah.
Ah rasanya aku ingin tertawa mengingat itu. Dimana social distancing sudah ku jalani saat itu bersamanya. Tak hanya 1 meter bahkan 3 meter.
"Oke" jawabku setuju.
Aku duduk di kursi guru di depan dan dia duduk di bangku paling belakang.
"Kenapa ibu baik padaku?" tanyanya memecah kesunyian kami.
Aku mendongak memandangnya. Hatiku terasa kelu merasakan nada pertanyaan itu. Berusaha menerjemahkan apa yang ia pikirkan tentangku, jawaban apa yang ia harap keluar dari mulutku.
Sebuah pertanyaan yang membuatku cukup tercengang. Sebuah kalimat yang mempertanyakan alasan perbuatanmu. Sebuah kalimat singkat yang mempertanyakan latar belakang tentang kebaikan.
Ku tarik nafas panjang. Sedikit memberi jeda untuk otakku memikirkan jawaban yang tepat untuknya. Meski ku lihat ia tak sabar menunggu jawaban dan geram melihatku lama terdiam.
"Karena kamu baik. Dan semua orang baik pada Sinta, bukan hanya ibu."
"Menurut ibu aku baik?" tanyanya ingin mendapatkan kejelasan.
"Tentu saja. Sinta gadis yang cantik, baik, punya pendirian kuat, dan tidak mudah menyerah."
"Tapi tidak untuk orang tua Sinta"ucapnya lirih.
Matanya mulai memerah dan suaranya pun berubah berat. Ada sesuatu yang begitu berat ia tahan.
"Aku tak sebaik kakak-kakakku. Mereka hebat"
Tangisnya mulai tak tertahan.
__ADS_1
Aku pun meninggalkan jarak 3 meter. Gadis itu pun tak menggubris.
"Menangislah. Jika Sinta ingin menangis. "bisikku sambil mengelus rambutnya lembut.
"Aku cuma anak nakal! Tidak pintar, tidak cantik!" ucapnya marah.
Ku tatap matanya dengan sendu.
"Mama hanya sayang kakak- kakakku. Papa dan mama tidak pernah bangga padaku. Aku hanya anak bandel."
Tangisnya semakin keras. Ku raih tubuh kecil yang biasanya tampak liar dan sombong itu. Ia begitu lemah dalam pelukan.
Ah, rasanya seperti cerita cerita yang sering ku baca. Problematika di rumah adalah akar permasalahannya. Dan aku menemukan kisah nyata itu, tak sekedar tulisan artikel yang biasa ku baca.
Setelah kejadian itu kami bertambah dekat meski sikapnya tak jauh berubah. Masih cuek dan acuh tak acuh. Namun aku menghargai proses itu. Hingga pada satu hari.
"Ibu akan pindah?" tanya Sinta tiba-tiba mengagetkanku saat baru saja memarkirkan motor.
"Ibu tidak jawab?" tanyanya gusar saat aku hanya tersenyum.
"Nanti deh kita cerita" jawabku untuk menghentikan kilatan emosi di matanya.
"Ndak usah!" jawabnya singkat sambil berlari meninggalkanku.
Hari itu, aku kembali ke sekolah setelah beberapa hari ijin tidak masuk karen mengurus banyak hal. Hari itu,aku akan berpamitan karena sebuah surat keputusan yang telah datang atas namaku untuk mengajar di tempat lain. Sungguh hari yang cukup menguras air mata.
Di tempat itu, banyak hal telah ku terima. Meski hanya sebentar, bahkan tak sampai setahun, tapi tempat itu mengajariku banyak hal. Disana, aku dipertemukan dengan banyak pribadi yang membuatku lebih mengerti tentang hidup dan belajar.
Proses berpamitan di kelas telah terlewati. Ku lihat Sinta yang tampak begitu marah dan membuang muka saat aku mengumumkan kepergianku secara resmi.
Aku mencarinya di akhir waktuku disana. Tapi dia menghilang tak ku temukan.Entah dimana dia bersembunyi.
Aku tak punya banyak waktu saat itu. Aku harus segera menyelesaikan banyak hal. Lalu ku putuskan untuk segera pulang.
" Bu Syifa!"
Teriakan itu menghentikanku untuk menghidupkan mesin motor.
"Sinta?"
"Ini!"
Ku terima sepucuk surat dengan amplop putih itu. Ya, aku yakin itu surat.
"Itu buat ibu. Baca di rumah, jangan sekarang. Aku benci ibu!"
Dia berlari meninggalkanku. Aku tahu dia menangis. Sama seperti aku yang sedih meninggalkan gadis kecil itu.
***
Surat itu adalah surat cinta pertama untukku dari seorang murid yang katanya sangat membenciku. Meski nyatanya tak kutemukan ungkapan kebencian di dalam suratnya selain kekecewaan akan kepergianku.
*Kenapa ibu pergi? Disaat aku merasa mempunyai teman untuk berbagi. Disaat aku temukan orang yang percaya aku baik. Lalu dengan siapa aku belajar? berbagi?
Aku benci ibu. Tapi aku tahu, Sinta tak mungkin menghentikan ibu. Meski aku gak rela.
Maaf,maafkan aku yang selalu kasar dan tak patuh. Terimakasih untuk persahabatan kita.
Tolong jangan lupakan aku*.
Ada butiran air mata yang selalu hadir ketika mengingat itu. Dan aku tak pernah melupakanmu.
Sama halnya seperti Sinta yang kuyakini mampu melakukan semua permintaan yang ku tulis di surat balasan yang ku titipkan pada satpam saat itu.
I love you, Sinta. Terimakasih untuk cinta dan kisah itu. Terimakasih karena selalu mengingatku sampai saat ini.
aku adalah aku
dia adalah dia
__ADS_1
jangan pernah meminta hal yang sama
karna kami berbeda