Alyssa & Mario : Sahabat Jadi Cinta

Alyssa & Mario : Sahabat Jadi Cinta
Bab 21 - Mulai bicara


__ADS_3

Awalnya Abram memang ingin mengabaikan Ashilla begitu saja. Namun, ia merasa kasihan juga, apalagi gadis itu masih duduk terdiam sendirian di taman dengan tangisan yang terus keluar dari matanya. Alhasil, Abram malah menghampirinya.


"Patah hati memang sakit. Tapi akan lebih sakit hati lagi jika memaksakan hati orang lain. Merelakan dan melupakan memang tidak mudah. Meski sulit tapi itulah yang seharusnya dijalani, 'kan?"


Abram berkata begitu supaya Ashilla berbesar hati menerima kenyataan bahwa kisah Ashilla dan Mario telah berakhir.


Ashilla menatap Abram dengan tatapan kesal, benci dan juga marah. Harusnya tidak ada orang yang tahu kalau dirinya putus. Dengan begitu ia akan mengarang bebas tentang alasan putusnya. Sangat tidak mungkin orang-orang tahu alasan yang sebenarnya kalau Mario lebih memilih Alyssa dibandingkan dia.


"Harusnya lo sadar sih, tatapan Mario ke lo dan Alyssa sangat berbeda. Apalagi ketika kalian berdua berada di antara para pria. Mario selalu menatapnya dengan cemburu bahkan selalu menatap tajam ke gue. Beda halnya dengan ke lo yang biasa saja seolah-olah tidak takut lo akan direbut oleh pria lain."


"Omong kosong macam apa itu! Jangan bicara sembarangan! Mario tidak mencintai Alyssa! Dia hanya berpikiran pendek ketika memilih untuk putus."


Abram terkekeh pelan sambil melihat ke arah Ashilla. Rupanya Ashilla berlagak tidak tahu dan tak ingin mengakuinya.


"Sepertinya lo udah sadar, siapa yang sebenarnya dicintai oleh Mario. Harusnya barusan lo menjawab. Mario mencintaiku, bukan Mario tidak mencintai Alyssa. Dari kalimat itu saja, gue bisa simpulin, kalau lo sendiri nggak yakin Mario benar-benar mencintai lo."


"Orang yang tidak tahu apapun. Seharusnya jangan ikut campur masalah orang lain. Lebih baik urus saja diri sendiri!"


Ashilla tidak mau menanggapi ucapan Abram barusan karena memang ia sadar akan hal itu, ketika Mario selalu gelisah dan resah Alyssa dekat dengan pria lain. Bahkan cuma karena sakit saja, ia malah memilih putus dengannya. Itu artinya di dalam hidup Mario, Alyssa lebih penting dari segalanya.


"Harusnya sih emang gitu. Tapi salah sendiri, kenapa menangis di tempat umum yang mudah dilihat oleh orang? Gimana nggak ikut campur lo terlihat menyedihkan."


Ucapan Abram barusan, membuatnya sadar. Memang tidak seharusnya ia menangis di tempat yang tidak tepat. Seharusnya ia menangis di tempat yang lebih tertutup. Bagaimana kalau ada orang selain Abram yang melihatnya?


Karena kesal, Ashilla pun pergi dari sana tanpa mengucapkan kata pamit ke Abram. Abram sih tak memperdulikan itu, ia hanya merasa kasihan saja ke Ashilla. Karena patah hati memang rasanya sakit.


*


*


Rupanya Mario tidak benar-benar pergi dari rumah Alyssa, laki-laki itu mengamati Alyssa dari kejauhan. Ia merasa lega karena Alyssa mau makan dan minum obatnya meski sambil menangis. Rasanya ia ingin sekali masuk lagi kesana, tapi ia coba untuk menahannya dulu. Karena pastinya, Alyssa akan malu ketika tahu Mario melihatnya menangis.


Setelah Alyssa tak terlihat menangis lagi, Mario masuk ke dalam kamar Alyssa lagi.

__ADS_1


"Lo kok masih disini? Kan gue udah nyuruh lo pergi!"


"Kan cuma nyuruh pergi bukan pulang. Kalau pergi mah ya gue emang pergi dari kamar lo sebentar," jawab Mario lalu menarik kursi yang ada di dekat meja belajar Alyssa ke dekat ranjang wanita itu.


"Eh, mau ngapain? Pulang aja sana! Gue udah makan dan minum obat seperti yang lo suruh! Jadi tugas lo udah selesai!" ucap Alyssa.


Namun, Mario tak beranjak sedikit pun. Laki-laki itu malah menatap Alyssa dengan begitu dalam dan tajam sampai membuat Alyssa merasa tidak nyaman.


"Ca, apa lo bener-bener nggak mau baikan sama gue?" tanya Mario.


"Nggak! Lo sendiri yang memutuskan persahabatan kita!" jawab Alyssa sambil memalingkan wajahnya.


"Tapi, lo juga nggak menolaknya! Dasar nyebelin!" Mario jadi ikut-ikutan kesal juga.


"Ngomong sama gue cuma bikin lo darah tinggi. Jadi, lebih baik lo pulang dan istirahat aja. Atau mungkin lo pergi jalan-jalan aja sama pacar lo."


Mario tiba-tiba menghela napasnya. Niatnya ingin memperbaiki hubungannya dengan Alyssa. Bukan ingin semakin memperkeruh keadaan. Tapi, Alyssa memang pintar sekali memporak-porandakan suasana hatinya.


"Kenapa nanya ke gue? Emang ada hubungannya ya?" tanya Alyssa balik.


"Ada, karena semenjak gue punya pacar hubungan kita jadi berubah Ca."


Alyssa mendengus kesal sambil menggerutu di dalam hatinya.


Memangnya karena siapa kita bertengkar begini? Karena lo, Mario! Dasar laki-laki nggak pernah mau ngaku salah!


"Daripada membicarakan itu, bukankah lebih baik lo pulang aja? Gue butuh istirahat," usir Alyssa sekali lagi.


Mario langsung menempelkan punggung tangannya di kening Alyssa untuk mengecek suhu badannya. Masih agak panas memang tapi melihat wajah Alyssa yang sudah tak sepucat ketika ia baru pertama kali masuk tadi. Mario tak mau pulang dan ingin meluruskan semuanya.


"Gue pergi pun lo nggak akan mungkin bisa istirahat. Bukannya lebih baik gue temani disini ya? Tante soalnya lagi keluar. Apa lo nggak takut kalau tiba-tiba ada hantu, atau tiba-tiba ada orang jahat yang masuk? Apalagi kata pak RT kemarin, maling jaman sekarang semakin berani dengan memasuki rumah orang di siang bolong."


Karena pada dasarnya Alyssa orangnya penakut, ia pun jadi kesal dan merasa takut sendiri. Bahkan ia jadi parno dan terus menatap ke sekeliling kamarnya. Bahkan terus menatap ke arah jendela kamarnya, untuk melihat pergerakan orang-orang yang lewat di halaman rumah.

__ADS_1


Mario yang melihat itu sebenarnya ingin sekali tertawa. Ternyata Alyssa memanglah Alyssa. Tak pernah berubah sedikit pun. Tak bersama dengan wanita itu membuatnya sadar kalau ia merindukan kebersamaan mereka. Apalagi yang paling ia rindukan adalah wajah konyol Alyssa, menjahili Alyssa serta membuat wanita itu kesal.


"Ih, jangan nakut-nakutin gue!"


"Siapa yang nakutin coba! Emang semalam pak RT cerita ke papa gue, dan pas nya gue ada disitu juga. Jadinya gue dengerin lah. Masih mau gue tinggal sendirian? Soalnya tadi Tante bilang keluarnya akan lama. Kalau lo maunya gue pergi, ya udah."


Ketika Mario akan beranjak dari duduknya. Alyssa berteriak dan meminta Mario untuk bersamanya sampai mamanya kembali. Mario tersenyum senang. Rencananya berhasil.


"Apa lo bahagia sama Abram?" tanya Mario.


"Ya, gue bahagia," jawab Alyssa.


"Tapi, kenapa dia nggak jenguk lo yang sakit kesini?" tanya Mario lagi.


"Gue larang."


"Begitu kah? Atau jangan-jangan ... "


Belum juga selesai bicara, Alyssa malah memotong pembicaraan itu dan mengalihkan ke topik yang lain.


"Gimana dengan Shilla? Lo kesini nggak bilang sama Shilla kan? Karena kalo lo bilang, dia pasti akan cemburu. Sejujurnya gue pun nggak enak biarin lo disini, tapi kalau sendirian pun gue takut."


Alyssa menghela napas setelah menyelesaikan ucapannya.


"Kenapa lo selalu mikirin perasaan orang lain? Asal lo tahu Ca, gue dan Shilla udah putus."


"Hah? Putus?"


*


*


TBC

__ADS_1


__ADS_2