
Waktu pulang sekolah pun tiba, Alyssa langsung keluar dari kelasnya dan berjalan menuju ke halte sendirian. Sementara teman-temannya yang lain menuju ke parkiran.
Di halte, Alyssa melihat Abram yang sudah duduk disana menunggu bus tiba. Ia pun menyapa Abram dan meminta maaf atas kebohongan yang ia buat ke Mario membawa-bawa nama Abram.
"Maaf ya, gue ngaku-ngaku kita pacaran. Padahal gue dengan jelas menolak lo waktu itu. Gue merasa bersalah dan egois."
"Nggak papa, gue paham kok. Lo pasti ngelakuin itu untuk kebaikan lo dan juga Mario. Lagian cinta kan emang nggak bisa dipaksain."
"Tapi, tetep aja, gue ngerasa nggak enak."
"Dibawa santai aja. Kan kita udah janji bakalan jadi teman. Tapi, kenapa lo nggak bareng Mario pulangnya? Apa kalian masih bertengkar?"
Alyssa menarik napasnya pelan. Lalu menatap lurus ke depan.
"Entahlah, gue nggak tahu gue sama Mario dalam fase apa. Rasanya gue masih kecewa aja sama dia."
"Ya kalau gitu, lebih baik tenangin diri lo dulu."
Di saat Abram dan Alyssa asik mengobrol, dari sebrang jalan Mario tampak memanggil-manggil Alyssa. Tapi Alyssa tak mau memperdulikannya. Pas nya bus yang akan ditumpanginya sudah terlihat. Ketika bus itu semakin dekat dan sudah berhenti di hadapannya, Alyssa langsung naik ke dalam bus dan Mario pun sudah menyebrang dengan motornya.
Abram yang duduk di sebelah Alyssa terus memperhatikan Mario yang mengendarai motornya tepat di belakang bus yang mereka tumpangi.
__ADS_1
"Alyssa, mungkin lebih baik nanti lo turun di halte yang sama dengan gue. Mario masih ngikutin dari belakang. Sepertinya ada hal penting."
"Udah, biarin aja. Sekali-kali gue liat dia berjuang. Orang suka ngingkarin janji itu harus diuji supaya kita tahu, dia beneran tobat apa nggak. Gue akan tetep turun di halte kedua."
Abram pun menghormati keputusan Alyssa. Namun ia masih tetap melihat ke belakang. Meski masih belum bisa melupakan Alyssa sepenuhnya, tapi ia juga salut dengan apa yang dilakukan Mario. Ia hanya bisa berdoa semoga Alyssa dan Mario akan bersatu. Meski hatinya terluka.
Di dalam bus, Alyssa menggunakan earphone nya untuk mendengarkan musik. Ia bahkan tidak mendengar teriakan Mario yang terus memanggilnya dari motornya yang sudah berada di samping bus.
Sampai di halte pertama, Abram turun dan Alyssa masih saja fokus ada kegiatannya. Bus masih melaju dengan kecepatan sedang. Hingga halte kedua pun sudah terlihat. Alyssa mencopot earphone nya dan mulai berdiri untuk turun di halte kedua.
Alyssa berjalan di jalanan kecil menuju ke area rumahnya. Mario ada bersamanya, di sampingnya dengan mengendarai motor kecepatan rendah.
"Ca, naiklah. Jalan kaki masih butuh waktu 8 menitan lagi untuk sampai rumah. Nanti kaki lo bakalan pegel. Mending naik ke motor gue aja."
"Haaah! Udah cukup lo selalu ngehindar terus dari gue, Ca, setelah pernyataan cinta gue waktu itu. Kalo lo nggak mau terima, ya nggak papa. Gue akan terus berusaha sampai lo terima gue. Gue yakin lo pun merasakan hal yang sama kaya gue."
"Cih! Kepedean banget lo!"
"Iya lah, gue harus menyemangati diri dengan kepercayaan diri gue. Kalau nggak begitu, mungkin gue bisa galau berhari-hari."
"Lebay!"
__ADS_1
Mario melajukan motornya sedikit lebih cepat dan menghadang jalan Alyssa. Laki-laki itu turun dari motornya dan berdiri di samping motornya sambil menunggu Alyssa ada di hadapannya. Namun ternyata Alyssa malah berjalan ke sisi kanan agar bisa terus berjalan. Mario menghela napasnya dan naik lagi ke motornya.
Keduanya sudah tiba di depan rumah masing-masing. Alyssa masuk ke dalam ruang tanpa mengatakan apapun ke Mario. Mario hanya bisa cemberut dan lalu masuk juga ke rumahnya.
*
*
Malam harinya, Mario datang bertamu ke rumah Alyssa. Ia beralasan ingin mengajari Alyssa bahasa Inggris. Namun sudah hampir setengah jam menunggu, Alyssa tak kunjung terlihat juga. Hanya mamanya Alyssa lah yang datang sendirian.
"Maaf ya Rio, Alyssa nya nggak mau ketemu kamu. Katanya dia juga nggak pernah minta diajarin bahasa inggris. Udah Tante paksa-paksa malahan."
"Ah, begitu ya Tante. Ya udah kalau gitu, Rio pulang ya Tante."
"Iya, salam dari Tante buat mama papa kamu ya. Kalau kalian ada masalah cepet selesain. Nggak bagus marahan lama-lama."
Mario mengangguk kemudian pergi ke rumahnya dengan perasaan yang kalut.
*
*
__ADS_1
TBC