
Setelah hampir seminggu lebih menghindar terus dari Mario. Alyssa bisa melihat sedikit kesungguhan Mario. Karena laki-laki itu masih terus membujuknya, mendatangi rumahnya, meskipun sudah ditolak untuk datang. Bahkan terkadang, Mario sengaja berangkat sekolah naik bus supaya bisa barengan dengan Alyssa.
Sampai pada akhirnya, Alyssa pun menyudahi acara menghindarnya. Tepatnya, di hari itu sepulang sekolah, keduanya naik bus bersamaan. Mario terus mengikuti kemana pun Alyssa pergi. Alyssa sengaja membawa Mario ke lapangan basket yang ada di dekat taman.
Langkahnya terhenti, karena Alyssa memilih untuk duduk dan matanya langsung menatap ke arah Mario.
"Mau sampai kapan lo jadi penguntit terus? Emang lo nggak cape?"
Mario menggeleng.
"Ini belum seberapa, dibandingkan lo yang udah suka lama sama gue. Tapi malah melihat gue jadian sama yang lain. Pasti rasanya sakit, udah bukan cape lagi. Apa yang lo lakuin ke gue, belum apa-apa."
"Dih! Kepedean banget! Emang gue pernah bilang gitu ke lo?"
"Meski nggak pernah bilang. Tapi omongan gue bener kan, Ca? Gue baru sadar sekarang. Gue baru sadar akan sikap lo selama gue jadian sama Shilla. Tatapan marah dan kesal lo ketika gue suka ingkarin janji. Gue sadar semuanya. Gue bajingan! Brengsek! Tapi gue bener-bener cinta sama lo, Ca. Please! Cukup menghindarnya."
"Gue juga udah cape. Cape banget malahan," ucap Alyssa sambil menundukkan kepalanya.
"Maka dari itu, kita baikan ya? Jujur, bertengkar sama nggak ngobrol sama lo selama akhir-akhir ini buat hati gue kosong Ca. Kaya ada sesuatu yang hilang disana."
Alyssa pun mengangguk. Ia menerima ajakan baikan dari Mario. Sejujurnya, ia pun sudah tak sanggup lagi. Di dalam hatinya juga terasa kosong. Bodo amat dengan dirinya yang belum puas memberikan pelajaran ke Rio. Karena di dalam hatinya, ia rindu akan kebersamaan mereka dan canda tawa bersama Mario.
"Beneran? Jadi kita baikan? Lo nggak akan hindarin gue lagi?"
Alyssa mengangguk untuk memastikannya.
"Janji?" ucap Mario sambil memberikan jari kelingkingnya untuk dibalas oleh Alyssa.
Keduanya saling tersenyum ketika jari kelingking mereka saling terpaut.
"Lalu soal pernyataan cinta gue? Gimana kabarnya?"
Alyssa mengangkat bahunya tidak tahu. Mario pun langsung berjongkok di depan Alyssa yang sedang duduk seraya memegang tangan Alyssa.
"Apaan sih pegang-pegang!"
Alyssa berniat untuk melepasnya, tapi genggaman Mario terlalu kuat.
"Kalo lo emang belum yakin, gue akan terus usaha sampai lo yakin sama gue Ca. Tapi, please jawab dengan jujur. Jangan bohongi hati lo sendiri. Gue tahu hati kita sama. Cuma gue nggak tahu, kenapa sepertinya kata iya dari mulut lo seakan sulit sekali. Tapi gue akan tetap menunggu."
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ketika genggaman tangan Mario mulai lengah, Alyssa melepaskannya dan bangun dari duduknya. Kemudian berjalan menjauh dari Mario.
"Sebenernya apa yang buat lo terus menggantung gue Ca? Padahal kalau lo nggak suka, tinggal bilang nggak. Tapi meski begitu gue akan terus berusaha. Kalau suka ya bilang iya."
__ADS_1
Mario menatap kepergian Alyssa. Ia pun mengikuti Alyssa di belakang dengan jarak yang agak jauh.
*
*
Esok harinya, ketika waktu istirahat kedua, yaitu di jam makan siang. Alyssa dan Mario sudah berbaikan. Kedua orang itu pun sudah kembali berkumpul di meja yang sama ketika makan siang di kantin dengan Jehana dan Alfonso.
"Syukurlah, kalian berdua udah baikan. Rasanya, kalau cuma gue sama Jeje, atau bertiga sama Ica doang rasanya ada yang kurang," ucap Alfonso.
Mario hanya menanggapinya dengan senyuman. Kemudian memasukan makanannya ke dalam mulut.
Dari kejauhan, tampak Ashilla yang merasa iri dan cemburu melihat Alyssa dan Mario terlihat bersama. Meski tidak berdua, tetap saja, ia kesal. Makanya ketika ia melihat Alyssa berjalan seperti ingin ke toilet, Ashilla langsung mengikuti Alyssa.
Ketika Alyssa keluar dari toilet, Ashilla menghadangnya di depan pintu.
"Jangan suka menghalangi jalan. Kasihan kalau ada orang yang tiba-tiba kebelet pengen boker," ucap Alyssa dengan nada santai.
"Apa lo udah jadian sama Mario?" tanya Ashilla karena ia benar-benar penasaran.
"Emangnya gue harus jawab? Mau jadian apa nggak, itu nggak ada urusannya sama lo. Lo kan udah mantan," jawab Alyssa.
Ashilla mengepalkan tangannya karena kesal dengan jawaban Alyssa. Ia memang sudah mantan, tapi ia masih belum bisa terima itu semua.
"Daripada ngurusin masalah orang lain. Mending lo tanya langsung ke Rio aja. Apa hubungan gue dan dia. Lama-lama gue malas ngeladenin lo."
"Sial! Awas aja kalau kalian berdua sampai benar-benar jadian. Aku akan menyebarkan rumor kalau kalian berselingkuh di belakang aku. Karena sampai sekarang orang-orang belum banyak tahu tentang putusnya hubunganku dengan Mario."
Ashilla mengepalkan tangannya. Ia benar-benar sudah bertekad demikian.
*
*
"Lama bener di toilet? Katanya tadi cuma mau pipis doang?" tanya Jehana.
"Ada sedikit masalah," jawab Alyssa.
"Masalah apa?" Kini Mario lah yang bertanya.
"Biasa masalah cewek, cowok mah nggak perlu tahu," jawab Alyssa lagi.
Mario pun mengerucutkan bibirnya karena kesal.
__ADS_1
"Rio apa bener lo udah putus dari Shilla?" tanya Alfonso.
"Tau dari mana lo? Perasaan gue belum bilang deh," jawab Mario.
"Dengar-dengar doang. Tapi kan gue nggak langsung percaya. Makanya gue tanya sama lo. Takutnya hoax kan?"
"Tapi emang bener, gue udah putus sama Shilla," jawab Mario membenarkan. Mata Alfonso membulat karena tak percaya. Ia ingin bertanya lagi apa alasannya. Tapi ia urungkan, karena melihat sikap Alyssa yang seperti tidak nyaman.
"Tapi, gue denger-denger lagi, Shilla menyangkalnya."
"Makanya, kalo nantinya ada orang yang tanya ke lo. Jawab aja gue udah putus. Oke?" pinta Mario.
Alfonso pun mengangguk.
Suara bel masuk telah berbunyi lagi. Alyssa dan Jehana pergi dari kantin lebih dulu. Alfonso tampak menatap Mario penuh tanya.
"Apa? Lo penasaran kenapa gue putus?"
Alfonso mengangguk.
"Nanti gue cerita."
"Oke deh."
Alfonso dan Mario pun pergi dari kantin ke kelas mereka.
*
*
Saat pulang sekolah, Ashilla menghampiri Mario ke kelasnya minta diantar pulang. Ia berakting seolah keduanya masih berpacaran. Apalagi tangan Ashilla yang bergelayut manja di lengan Mario. Membuat yang lain jadi tidak percaya dengan rumor putusnya keduanya.
Namun, Mario yang melepas tangan Ashilla membuat Ashilla tersentak.
"Kita udah putus," jawab Mario kemudian berjalan pergi.
Dan ucapan Mario itu membuat teman-teman Mario yang ada di kelasnya terkejut dan percaya kalau rumor itu adalah fakta.
"Arghhh!"
Ashilla berteriak karena kini putusnya hubungannya dengan Mario telah diketahui banyak orang. Apalagi validasinya langsung dari mulut Mario sendiri. Ashilla jadi langsung pergi dari sana sambil membawa kekesalan.
*
__ADS_1
*
TBC