
"Jadi, apa lo akan terus memilih untuk pura-pura nggak tahu isi hati lo? Gue nggak bisa Ca. Sekarang gue mau jujur sama hati gue. Gue mencintai lo. Gue menyayangi lo lebih dari sahabat. Gue nggak mau jadi sahabat lo lagi. Apa kita bisa memulainya dari awal lagi? Tapi bukan sebagai seorang sahabat, melainkan pasangan?"
Alyssa terdiam. Ia terkejut dengan setiap kata yang diucapkan oleh Mario. Sejujurnya ia senang karena cintanya terbalas. Tapi, rasanya terlalu mudah jika ia harus langsung menerimanya begitu saja. Apalagi, dirinya pernah dikecewakan oleh Mario sebelumnya ketika masih berstatus sebagai sahabat.
"Ca?" panggil Mario karena Alyssa tak kunjung menjawabnya.
"Hello ... " Mario menggerakkan jemarinya di depan wajah Alyssa.
Alyssa mulai bergeming dengan menatap lekat wajah Mario. Kemudian menarik selimutnya dan berpindah posisi memunggungi Mario. Entah ini keputusan yang tepat atau tidak, tapi Alyssa ingin melihat kesungguhan Mario apakah laki-laki itu benar-benar mencintainya atau tidak.
"Ca, hey! Kenapa malah munggungin gue? Lo belum jawab Ca!"
Alyssa menggelengkan kepalanya seraya tangannya dikibaskan mengisyaratkan Mario untuk keluar dari kamarnya.
"Tante belum pulang loh Ca. Nani lo sendirian di rumah."
"Bodo! Mending lo pulang ke rumah lo aja!" teriak Alyssa.
"Ya, tapi jawab dulu dong Ca. Gue diterima apa nggak?" tanya Mario lagi.
"Gue nggak mau jawab. Gue masih kesel sama lo."
Mario menghela napasnya pelan. Karena Alyssa terus saja mengusirnya dari sana, Mario pun akhirnya pergi juga. Takutnya, ada orang yang lewat terus mendengar teriakan Alyssa dan malah mengira Mario akan berbuat tak senonoh ke Alyssa.
Setelah keluar dari rumah Alyssa, Mario melihat ke kamar Alyssa sejenak lalu berjalan menuju ke rumahnya dengan raut wajah yang ditekuk.
Beda halnya dengan Alyssa yang yang senang bukan main. Bahkan ia tak bisa berhenti untuk tersenyum. Cintanya terbalaskan, padahal ia tak pernah berjuang sedikit pun. Hanya mampu menyimpannya dalam diam.
"Ya Tuhan, kenapa aku jadi sebahagia ini?"
Namun, sedetik kemudian, senyumnya menghilang ketika mengingat perlakuan Mario yang membuatnya kecewa.
"Huh! Tapi aku tidak bisa langsung menerimanya begitu saja. Takutnya dia malah hanya menjadikanku pelampiasan atas putusnya dia dengan Shilla. Lagipula aku juga tidak ingin dikira sebagai perebut pacar orang."
__ADS_1
*
*
Beberapa hari kemudian, Alyssa sudah diperbolehkan untuk sekolah oleh mamanya. Seperti biasanya ia pasti akan menaiki bus sebagai alat transportasinya.
Sesampainya di kelas, ia langsung duduk di belakang Jehana. Jehana menyapa Alyssa dan menanyakan keadaan wanita itu.
"Hai Ca. Emang udah mendingan? Lo udah berangkat sekolah aja."
"Udah kok. Gue kan cuma demam doang sama sakit kepala," jawab Alyssa dengan entengnya.
"Cuma demam kata lo? Lo tiga hari nggak masuk sekolah Ca. Itu artinya bukan demam biasa. Heran deh!"
Dibalas dengan cengiran oleh Alyssa.
"Yang penting sekarang gue udah disini dan siap menerima pelajaran lagi. Itu artinya gue udah baik-baik aja. Makasih ya udah khawatirin gue dan jenguk gue kemarin-kemarin."
Jehana mengangguk.
Sampai bel istirahat pertama pun berbunyi, Alyssa mengajak Jehana untuk ke perpustakaan. Disana mereka membaca buku kesukaan masing-masing dengan tenang dan damai.
*
*
Mario datang ke kelas Alyssa, berniat mengajak wanita itu ke kantin sekedar untuk membeli jajan atau minuman. Hanya saja Alyssa tak ada disana. Yang ada hanya beberapa teman sekelas Alyssa dan juga Ashilla.
Ashilla yang melihat Mario datang ke kelasnya, sedikit jumawa karena ia menganggap Mario menyesal dengan keputusannya beberapa hari lalu mengenai kandasnya hubungan keduanya. Ketika Mario hendak keluar dari kelasnya, Ashilla menahannya.
"Kamu ke kelasku karena mau memperbaiki hubungan kita kan?" tanya Ashilla dengan suara pelan karena tak ingin di dengar oleh teman kelasnya yang lain.
Mario menggeleng.
__ADS_1
"Gue cari Alyssa. Karena katanya dia sudah masuk sekolah hari ini. Gue mau memastikan itu."
Tampak raut wajah kecewa, Ashilla perlihatkan di depan Mario. Kini Mario kembali menyebut dirinya sebagai 'gue' bukan 'aku' lagi. Membuat Ashilla harus benar-benar sadar dengan hubungan mereka yang telah usai.
"Jadi kamu datang karena Alyssa bukan karena aku dan hubungan kita?" tanya Ashilla lagi memastikan.
"Iya, semuanya karena Alyssa. Apalagi yang mau dibahas? Bukannya kita sudah berakhir? Lo sendiri yang meminta putus."
Karena tak mau pembahasannya didengar oleh teman-temannya lebih jauh. Ashilla menarik tangan Mario lalu membawanya ke taman sekolah.
"Apa sih? Kenapa bawa gue kesini?"
"Aku nggak mau putus Rio. Permintaan putus aku yang waktu itu nggak beneran. Aku mengatakan itu karena emosi. Kumohon," ucap Ashilla sambil meraih tangan Mario.
Mario mulai melepaskan tangan Ashilla dari tangannya. Ia menghela napas terlebih dulu untuk mulai memberikan pengertian ke Ashilla.
"Shilla, kita sudah putus. Tak ada lagi yang bisa kita rajut. Maaf karena gue mencintai Alyssa. Jangan pernah salahkan dia atas putusnya hubungan kita. Dia bukan orang ketiga. Karena gue disini yang b*jingan. Kalau hubungan kita terus dipaksakan. Yang ada nanti lo malah semakin sakit."
"Aku tidak merasa begitu Mario. Aku akan buat kamu jatuh cinta lagi sama aku," kekeh Ashilla.
"Bahkan gue sendiri nggak tahu. Perasaan gue kemarin ke lo, beneran cinta apa bukan. Gue nggak merasa kehilangan ketika lo nggak terlihat di mata gue. Gue bahkan nggak merasa cemburu ketika melihat lo bercanda tawa dan ngumpul-ngumpul sama temen cowok lo. Gue nggak merasakan itu semua Shill. Tapi, dengan Alyssa gue merasakannya. Bahkan rasanya tersayat-sayat. Gue ... "
"Cukup! Aku nggak mau dengar lagi! Jangan katakan apapun!" teriak Ashilla yang merasa cemburu ketika Mario mengungkapkan isi hatinya tentang Alyssa. Ia tidak bisa jika harus disandingkan dengan Alyssa. Rasanya tidak sebanding.
Ashilla pergi meninggalkan Mario, dengan rasa sakit yang dibawa wanita itu. Sejujurnya, Mario pun merasa bersalah, tapi mau bagaimana lagi. Ia juga tak mungkin akan berbohong terus-menerus soal petasannya. Nyatanya ia memang mencintai Alyssa. Bahkan merasa takut akan kehilangan wanita itu.
"Semoga lo mendapatkan laki-laki yang lebih baik dari gue, Shill. Maaf karena gue hanya memberi luka. Tapi, ini lebih baik, sebelum hubungan kita terjalin lama."
Mario pun melangkahkan kakinya pergi dari taman ke kelasnya karena bel masuk sudah berbunyi lagi.
*
*
__ADS_1
TBC