Ana Uhibbuka Fillah, Gus!

Ana Uhibbuka Fillah, Gus!
Kemarahan Abi


__ADS_3

..."Tidak apa-apa, semuanya akan baik baik saja. ...


...Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan."...


...(Q. S. Al-Insyirah :5-6)...


...-----------------------------------------...


Jarum jam menunjukan angka sepuluh malam. Tadi saat Rania memutuskan untuk pulang ia tak benar benar pulang, melainkan singgah di tempat yang biasa membuatnya tenang. Cafe sederhana diatas bukit yang jika dari sini semua sisi kota bisa terlihat. Gemerlap lampu dibawah sana semakin memanjakan mata yang melihatnya, suara desiran angin dan alat musik yang dimainkan serasa menyatu, menjadi alunan nada yang menenangkan.


"Baru pulang rania?"


"Iya abi"


"Perempuan itu tidak seharusnya pulang malam,ini lagi rambut warna warni udah kaya gulali aja."


"Abi ih,ini kan hak rania,jadi abi harus menghargai."


"Iya tau, tapi kamu juga harus tau diri,abi ini ustad rania,tolong juga hargai abi. "


"Sudah abi, sabar. Besok dibicarakan lagi, sekarang sudah malam. Kamu rania masuk kamar. "


"Iya umi"

__ADS_1


Fatih, abi rania tidak tau lagi harus bagaimana mendidik anak perempuannya itu. Dirinya merasa sangat tidak becus mendidik anaknya. Rania sangat berbeda dengan kakanya, Azzam. Azzam adalah laki laki sholeh yang selalu menuruti apa kata abinya,berkebalikan dengan rania yang selalu ingin seenaknya sendiri.


"Umi kenapa belain rania terus? Sesekali dia perlu dihukum,atau ngga dia akan abi nikahkan"


"Maksud abi?"


" abi ngerasa rania perlu imam yang baik biar jadi bener."


"Tapi abi"


"Umi tenang saja, percaya sama abi. Bagaimanapun abi ini juga sayang sama rania, ngga ada ayah yang ngga sayang sama putrinya."


"Aku gamau nikah abi,belum siap"


"Siap ngga siap kamu harus siap rania. Abi tidak menerima penolakan."


"Diam rania"


"Kenapa si semua orang jahat sama aku? Andra baru aja selingkuhin aku ,ini tiba tiba abi mau nikahin aku sama cowo pilihan abi? Kenapa dunia ini ga adil buat aku?!"


"Nah itu kamu putus kan, pacaran itu bisa menimbulkan zina rania."


"Abi egois! Abi cuma mentingin harga diri abi itu! Abi jahat!"

__ADS_1


"Rania!"


Rania yang dipanggil tetap berlari menuju kamarnya. Ia merasakan beban dihidupnya bertambah. Setelah putus dari andra kemudian dijodohkan, mantap sekali bukan? Cihh. Rania mendecih kesal.


Kamar nuansa putih yang kental dengan ornamen biru itu sekarang sudah tidak dilengkapi pigura foto rania dan andra. Semua barang yang berhubungan dengan laki laki itu sudah ia buang ditempat sampah. Benar benar membuat sakit mata, begitu kata rania.


"Rania, buka pintunya sayang umi mau bicara. "


"Bicara apa lagi umi? Aku cape"


"Jangan gitu sayang, dengerin umi dulu. "


Rania yang sudah bersiap untuk tidur ia urungkan niatnya karena kedatangan uminya.


"Apa umi?"


"Kamu putus sama andra?"


"Iya umi, aku sakit hati banget,bener bener sakit hati. Dia selingkuh dibelakang aku bahkan selingkuhnya di rumahnya dia. Kurang apa lagi coba mi?" Rania menjelaskan semua yang ia lihat tadi sore pada uminya itu. Umi yang mendengar itu segera membelai rambut putri kesangannya.


"Sabar sayang. Kamu harus bisa lupain laki laki kaya gitu,ngga ada gunanya kamu terus mengenang laki laki yang tidak tau diri."


"Sabar gimana mi? Aku ini lagi sakit hati,terus kenapa abi malah mau aku nikah? Sama orang yang sama sekali ngga aku kenal." Buliran air mulai jatuh dadi mata rania. Ia terlihat sangat menyedihkan sekarang, menangis dipelukan uminya adalah hal yang menenangkan.

__ADS_1


"Umi paham apa yang kamu rasain, sakit hati itu hanya bisa diobati oleh waktu. Nggapapa rania, semuanya pasti baik baik saja,buktinya sampai sekarang ngga kejadian apa apa kan padahal kamu nggamau pake jilbab? Ingat sayang, abi ingin yang terbaik buat kamu. Jangan merasa kamu manusia paling tersakiti didunia ini, percaya kalo janji Allah itu pasti. Sesudah kesulitan pasti ada kemudahan. Kamu mungkin sulit menerima kenyataan ini, tapi kami, abi dan umi juga lebih sulit mencari laki laki yang baik buat kamu, yang baiknya lebih dari abi umi, yang curahan kasih cintanya juga imannya lebih dari abi umi. Tidak ada orang tua yang tidak sayang sama anaknya, begitu pula abi dan umi yang selalu sayang sama kamu rania "


Sekali lagi rania memeluk wanita didedepannya itu,mau bagaimanapun ucapan umi ada benarnya,ralat,banyak benarnya.


__ADS_2