
..."Nikmat Allah itu luas, jangan kamu persempit dengan kata kata aku tak bisa melupakannya"...
...----------------------------------------------...
Rania melangkahkan kakinya keluar rumah, orang orang di kompleks rumahnya sudah terbiasa dengan gaya berpakaian dari dirinya. Dari mulai pakai celana jeans robek,kaos oblong, dress yang kurang bahan, sampai rambut warna warninya yang kata abi seperti gulali. Ia mengedarkan pandangan ke segala arah,menghirup udara sedalam dalamnya,dan kemudian mulai berlari kecil keluar dari pekarangan rumah.
"Pagi pak Joko"
"Pagi neng rania"
"Pak joko kok sekarang keliatan kaya indra brugman ya"
"Aduh si eneng mah bisa aja, tapi bapak lebih suka dibilang kaya limiho"
"Lee min ho bapak bukan limiho apalagi baliho"
"Ahahaha iya neng bapak lupa"
Pak Joko adalah tukang kebun sekaligus supir pribadi di keluarga rania. Tapi meskipun begitu, rania dan keluarga tak memandang rendah siapapun asisten rumah tangganya. Bagi mereka, asisten rumah tangga sudah layaknya keluarga,manusia yang harus dimanusiakan juga, serta dihargai kehidupannya.
__ADS_1
Sayup sayup suara kicauan burung menemani olahraga paginya kali ini,udara yang sejuk dan earphone yang dipasang di telinga sebelah kirinya. Rania melirik arloji mahalnya dengan alis yang ditautkan, pukul lima lebih dua puluh menit dan sekarang dirinya sudah hampir selesai memutari satu kompleks perumahannya. Hebat sekali bukan?
"Ah maaf" rania tak sengaja menyenggol seseorang saat ia sedang membalas pesan dari sahabatnya, ifa.
"Ya"
Kemeja laki laki itu kotor akibat eskrim yang ia pegang tumpah, Rania yang mencoba membersihkannya langsung ditepis dengan kasar,membuat dirinya terlonjak kaget. Bagaimana bisa laki laki bersikap seperti itu padanya? Bagaimana pula pukul lima pagi seperti ini dia malah memakan eskrim sambil berjalan di sekitar kompleks? Rania mengernyit, matanya menginterupsi,melihat dari atas ke bawah sosok laki laki itu. Cih,sombong banget,makan eskrim warung aja pake jam tangan rolex, rania berdecih.
"Saya nggapapa,kamu pergi saja."
Rania sebal. Sekali lagi, ia sangat sebal. Jangan lupa ingatkan rania wajah laki laki ini agar ia bisa balas dendam nanti. Baru saja Rania akan pergi, langkahnya tertahan saat melihat gadis kecil menghampiri mereka. Gadis kecil yang cantik memeluk laki laki di hadapannya itu?
"Esklimnya zaza mana?"
Rania memperhatikan kedua manusia dihadapannya dengan heran. Laki laki yang ia klaim sombong ternyata sudah punya anak? Hebat sekali! padahal jika diperhatikan, laki laki ini terlihat seperti masih melajang,ah bukannya semua laki laki seperti itu? Berlagak masih sendiri padahal sudah punya kekasih hati.
Ponselnya bergetar lagi, menampilkan peringatan alarm yang sudah ia setting sebelumnya. Desahan panjang lolos dari gadis itu tatkala membukanya, Hari jadi Rania dan Andra. Seketika mukanya tertunduk lesu, ingatan ingatan menyakitkan itu muncul kembali, berputar jelas di otaknya. Ia benar benar tak menyangka,ulangi, sangat tidak menyangka bahwa Andranya itu akan setega ini pada dirinya. Seharusnya sekarang adalah peringatan hari jadi ke lima tahun,sekali lagi, hanya seharusnya karena nyatanya sekarang andra sudah bersama perempuan lain,perempuan yang tak ia sangka sebelumnya akan hadir sebagai duri dalam hubungan mereka.
Yang sedang dalam pikirannya ternyata melintas didepan matanya sendiri, sebuah mobil bmw hitam dengan andra dan perempuan itu didalamnya. Rania menengadah, untuk kesekian kali hatinya dibuat hancur kembali oleh kesakitan yang sama dan orang yang sama. Jangan tanya bagaimana rasanya,karena sungguh,ini sangat menyakitkan.
__ADS_1
Mau bagaimanapun rania masih belum bisa melupakan andra. Lagipula siapa yang bisa melupakan hubungan selama bertahun tahun dengan begitu mudah? Atas semua kenangan yang sudah ia lewati dengan andra,atas semua kejadian kejadian dan kisah kasih yang juga ia lewati bersama andra, rania belum mampu melupakan.
Katakanlah ini sangat klise,tapi bukannya semua perempuan seperti itu? Meski sudah diberi kesakitan dan kekecewaan, hatinya masih akan tetap memaafkan, meski sudah berkali kali pasti akan tetap kembali.
"Sekarang bagaimana?" Ucap Rania lirih.
"Tentu saja harus dilupakan."
"Ifa? Sejak kapan lo disini?"
"Sejak lo liat andra sama perempuan itu"
"Kok gue ngga tau?"
"Ya gimana lo mau tau,orang lo ngelamun kaya orang bego dipinggir jalan"
"Sialan lo"
"Gue mohon sama lo ra, lupain cowo kaya andra. Lo buta apa gimana? Bukannya ini bukan yang pertama buat lo ya?"
__ADS_1
"Ngomongnya mah gampang, ngelakuinnya yang susah."
"Masih banyak cowo diluar sana kalo lo mau, please banget, dunia ini luas jadi jangan lo persempit dengan lo yang ngga bisa lupain andra. Gue duluan ya, ada urusan." Rania mengangguk, melambaikan tangan pada ifa. Kata kata dari ifa sangat benar, dunia itu memang luas tapi apa ifa tau seberapa luas sabar yang ia berikan pada andranya dulu?