Ana Uhibbuka Fillah, Gus!

Ana Uhibbuka Fillah, Gus!
Ikut Abi


__ADS_3

"Umi, Rania gamau ikut abi. Rania kan mau pergi sama ifa."


"Kalo begitu ajak ifa sekalian."


"Abi ih kan aku lagi ngomong ke umi."


" Rania ih abi kan suaminya umi, jadi terserah abi." Ujar abi sambil menirukan suara Rania. Rani yang mendengar itu mendengus kesal, berbeda dengan uminya yang tertawa akibat ulah abinya.


"Iya rania, betul kata abimu. Kamu ajak ifa aja sekalian."


"Assalamualaikum, raniaa ifa cantik dan solehah datang."


"Nah itu dateng si ifa. Waalaikumsalam ifa, kamu sama rania ikut abi ya."


"Kemana umi?"


"Hari ini ada kajian."


"Wihh boleh juga umi, siapa tau ketemu gus tampan dan beriman. Paket komplit buat jadi imam keluarga."  Ifa tersenyum, matanya memandang ke atas, pikirannya berkelana.


"Wuihh apaan dah lo, halu aja kerjaannya." Rania menarik tangan ifa agar mendekat.


"Serah gue dong, iya ga umi?"


"Iya iya, sudah jangan ribut. Ifa, kamu ajari anak ini pakai jilbab."


Rania memandang uminya, sebenarnya ia sangat malas untuk ikut pergi, tapi mau bagaimana lagi? Sahabatnya, ifa juga sudah ada disini, masa iya dia mengajak ifa kabur? Bisa bisa dia diusir dari rumah.


" Diem lo, duduk disini. " ifa menepuk pinggiran ranjang kemudian mengedarkan pandangan untuk mencari baju apa yang cocok untuk rania. Pilihannya jatuh pada gamis warna lilac dengan jilbab abu abu. Diambilnya gamis itu dan diperlihatkan pada Rania.


"Gimana? Cakep kan? Ifa gitu loh! Hahaha"


"Be ajalah. Gue males fa, masa lo ngga si? Heran gue."


"Ikut aja siapa tau kan ya dapet jodoh."


"Halu mulu lo. Gue pengennya sama mas mas yang gaul gitu, cakep tajir melintir tiada akhir dan yang ga kaku! Kayanya kalo orang orang kaya gus itu kaku banget dah, gue ga suka."


"Mulut lo ra kalo ngomong dijaga, gue sumpahin lo berjodoh sama gus gus!"

__ADS_1


"Lehhhhhhh apaan lo" rania mendengus, menatap tajam lawan bicaranya tajam. Gue ngga akan berjodoh dengan gus gus kaku begitu, Rania membatin.


"Aamiin, pokoknya amin paling serius gue doain lo"


"Ngga amin ya allah"


"Orang aneh dasar"


"Yang penting ngga halu kaya lo"


"Lo juga halu kali, ngapain ngebayangin berjodoh sama Edward Cullen!"


Perdebatan mereka berhenti setelah ponsel ifa berbunyi, dilihatnya ponselnya yang menampilkan pesan dari temannya. Ifa terkejut, bukan pesannya yang membuat ia terkejut, tapi jam pada ponselnya yang menunjukan angka 08.30. Itu artinya setengah jam lagi ia harus turun membawa rania yang sudah berhijab!


"Oh my god rania! Setengah jam lagi. Cepetan lo ganti baju."


"Iya bawel!"


"Bawel bawel gini juga lo betah sama gue." Ifa benar, sangat benar. Meskipun sering terjadi perbedaan pendapat diantara mereka, ifa adalah teman terbaik. Begitu kata Rania. Tak ada yang lebih baik dari ifa yang selalu ada untuknya, selalu ada saat senang maupun susah, saat putus cinta dan saat mendapatkan cinta.


Sekarang pukul sembilan lebih lima belas menit, ifa,rania dan abinya sampai di Hotel Lili, tempat dimana abinya diundang menjadi pembicara seminar pemuda bahagia dan beriman. Rania dan ifa turun dari range rover, rania cantik dengan gamis lilac dan jilbab abu abunya, sedangkan ifa dengan gamis mocca dan jilbab warna senada dengan gamisnya. Tak ada yang sepesial disini, semuanya berjalan biasa biasa saja sampai ada seorang pria yang tak sengaja menyenggol punggungnya dari belakang.


"Maaf, saya ngga sengaja."


"Om?" Rania dan ifa kompak terkejut, pria ini adalah pria yang mereka temui di mall.


"Kalian? Ngapain disini? Mau bikin rusuh? Saya panggilkan security ya."


" eh om jangan suudzon dong, dosa tau!"


"Tau dosa ternyata kamu ya"


Rania mengernyit, alisnya menyatu, bisa bisanya om om ini berucap seperti itu pada dirinya? Memangnya mukanya kriminal sekali atau bagaimana?


"Idih om kok nyolot si"


"Udah udah ga baik ribut kaya gini." Ifa memang yang terbaik, mau dimanapun dan kapanpun ia adalah penengah yang baik.


"Om om ini dulu fa."

__ADS_1


"Iya tau, om kita permisi." Ifa menarik tangan rania untuk berlalu, meninggalkan pria tadi yang masih terpaku ditempatnya. Bukan apa apa, ia hanya malas ribut, apalagi ini acara abi rania. Tidak lucu bukan anak seorang ustad ribut di hotel? Bisa bisa jadi headline viral di koran!


Rania masih kesal atas kejadian tadi, kata kata pria itu menusuk hatinya. Bagaimana bisa laki laki dengan jas mahal dan kopyah yang ia yakini berpendidikan tinggi itu mengatai rania seperti itu?


"Gue ke toilet dulu"


"Balik lagi kesini, acaranya bentar lagi mulai."


"Iya"


Rania melewati beberapa kursi didepannya, langkahnya ia percepat saat sudah menggapai pintu ruangan. Matanya menyapu  ke seluruh penjuru ruangan, ditariknya napas panjang sebelum kakinya ia langkahkan lagi.


Drttt..drtt..


Ponselnya bergetar, menampilkan satu panggilan masuk dari Rasya, teman sekelasnya.


"Kenapa?"


"Ngga, cuma nawarin tiket nonton gratis."


"Ih mau dong, gue mau"


"Sekarang kesini, tempat biasa nongkrong"


"Sekarang banget dah? Gue lagi ikut abi kajian"


"Yaudah dehh gue kasih ke yang lain aja. Sorry to say rania"


" hangus ah, gapapa btw makasih udah nawarin loh."


Rania mematikan telponnya, membalikan tubuhnya dari jendela besar yang sedari tadi ia tatap. Betapa kagetnya ia saat hendak menaruh ponsel ke handbagnya ada lelaki yang menabraknya, sekali lagi dia ditabrak laki laki. Hells yang ia kenakan tak sengaja menendang meja, membuat tubuhnya limbung dan terjatuh ke atas tubuh laki laki itu. Untuk beberapa saat rania menatap manik matanya kemudian bangkit berdiri.


"Kenapa si om, om lagi om lagi. Kaya nggada manusia lain aja."


"Saya ngga sengaja. Maaf untuk ini dan tadi,saya buru buru, permisi."


"Lah gimana? Gamis gue lecek, ponsel gue jatoh. Om gamau tanggung jawab?"


"Tanggung jawab gimana? Kamu yang jatuh diatas saya"

__ADS_1


Rania kesal, sangat kesal. Ia sudah dua kali ditabrak oleh orang sama.


__ADS_2